Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 92


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar, Sarah mengunci pintu kamarnya. Menangis setelah mendapat ancaman dari suaminya. Apa salahnya dia tidak bisa di dapur? statusnya sekarang memang seorang istri, tapi dia juga harus belajar supaya menjadi wanita karier setamat kuliah. Tidak bergantung pada gaji suaminya.


Banyak wanita di luar sana yang berstatus menikah tapi menjadi pekerja kantor. Harapannya saat pindah adalah bisa mengatur rumah tangganya sendiri. Bebas dari tekanan mertua. Bukan menjadi perempuan budak dapur dan kasur. Itu yang dia tanamkan sejak awal kuliah. Dan hanya nenek Seruni yang mendukungnya, bukan ibu Aminah, bukan Mila, bukan juga saudaranya yang lain.


"Aku tidak mau diinjak-injak oleh mereka. Aku harus jadi wanita mandiri, bukan kak Mila yang selalu di elu-elu kan ibu, Tulang Boro, dan mereka yang berpihak pada Mila, termasuk Rudi dan juga Kak Anjas," Sarah menyeka air matanya, menutup bantalnya untuk meredam tangisannya.


Suara gedoran pintu yang keras membuat dia enggan beranjak. Biarkan saja suaminya tidur di luar, sayup-sayup dia mendengar kata-kata ibu Melani.


"Kan sudah ibu bilang dari awal, kalau kamu tidak bisa mendidik istrimu, biar ibu yang mendidiknya. Kalian malah pindah rumah dengan alasan mandiri. Kamu lihat, Jas, dia bahkan tidak mengurus kamu selayaknya seorang istri pada suaminya. Sudahlah pulangkan saja dia pada keluarganya,"


"Mama bisa diam tidak! aku sedang berusaha mendidiknya, Ma. Tidak usah melalui tangan Mama, aku akan mendidiknya dengan caraku sendiri,"


"Mama tidak yakin kamu bisa. Kamu saja masih lembek mendidik dia, masih terlalu nurut sama istri. Dan sekarang kamu lihat dia jadi besar kepala. Masa suruh adiknya yang urus keperluan suaminya, sementara dia masih asyik berlindung di bawah selimut,"

__ADS_1


"Mama sebaiknya pulang. Tolong bilang sama Wak Sani dan keluarganya untuk tidak kesini sementara waktu. Saya mau bicara empat mata sama Sarah. Anjas minta tolong pengertiannya sama Mama," mohon Anjas.


Bu Melanie menarik nafas dalam-dalam. Ada rasa bersalah karena tertarik pada Sarah yang paras nya cantik. Memaksa Anjas melamar Sarah karena dia sudah kepincut punya memantu terpelajar seperti Sarah.


Nyatanya sekarang terpelajar saja tidak cukup. Harus adab dan perilaku yang baik pula. Ya, Bu Melani juga meminta Anjas secepatnya menikahi Sarah karena sudah terlanjur malu akibat perdebatan heboh antara Sarah dan nenek Seruni. Menjadi perbincangan warga kompleks hingga di datangi oleh RT setempat.


Mereka mendesak Bu Melani segera menikahkan keduanya supaya tidak menjadi bahan gunjingan. Tentu saja demi menutupi rasa malu dia pun mendesak Anjas segera menikah dengan Sarah. Walaupun berbulan-bulan di tunda dengan alasan nenek Seruni sedang sakit. Belum lagi pihak RT masih mendesak supaya Bu Melani membagikan makanan untuk cuci kampung. Sungguh hal itu membuatnya sakit kepala.


Rudi sudah sampai di depan rumahnya kembali membawa Lala. Dengan alasan di rumah tak ada orang baik rumah Mila maupun rumah Tulang Boro. Karena tak tahu tujuan terpaksa Lala kembali di bawa ke rumah Sarah.


"Ma, Lala nginap sama kita di rumah dulu,ya. Besok aku antar lagi ke rumah kak Mila," kata Rudi di sambut anggukan dari Bu Melani. Dia pun sedikit iba pada Lala.


"Kita pulang, Di. Ibu pusing lihat kakak ipar kamu," Bu Melani berjalan ke arah Anjas.

__ADS_1


"Jas, tolong antar Lala ke rumah mama ya, Nak. Kalau disini yang ada bakal ada yang besar kepala. Tapi Lala kenapa kamu tidak menghubungi kakak kamu,"


"Lala nggak punya handphone, Bu Melani. Kak Mila bilang kalau Lala boleh pakai handphone kalau sudah tujuh belas tahun,"


"Sebenarnya bagus cara didik Mila. Anak zaman sekarang terlalu maniak handphone. Tapi kalau ada apa-apa kan bisa saling berkabar dan itulah gunanya mempunyai handphone," batin Melani.


Setelah Melani serta Rudi pamit. Lala pun duduk menunggu Anjas mempersiapkan motor. Suara perempuan menangis pun terdengar dari dalam kamar. Lala ingin tahu apa yang membuat Sarah menangis. Bukankah harusnya kakaknya senang kalau Lala pulang ke rumah Mila.


Lala mengira kakaknya menyesal, tapi ekspetasinya salah. Terdengar suara mengumpat menyalahkan dirinya.


"Sepertinya memang tidak ada yang peduli sama aku. Kak Mila bahkan tidak pernah mencoba jenguk aku. Kak Sarah sepertinya merasa terbebani dengan kehadiran aku. Aku tidak akan merepotkan kalian lagi," batin Lala berjalan meninggal rumah Sarah.


"La, kita berangkat...." Anjas kaget Lala sudah tak nampak lagi. Lelaki itu berlari mencari adik iparnya di setiap sudut gang. Sayangnya dia tidak menemukan Lala.

__ADS_1


__ADS_2