Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 149


__ADS_3

Ridwan dan bersama keluarganya sampai di tempat acara. Orang-orang mengira Ridwan adalah salah satu tamu yang di undang. Panitia mempersilahkan Ridwan untuk duduk di tempat tamu. Tidak ada yang kalau lelaki kisaran kepala enam itu adalah calon suami Vika. Salah satu lelaki muda menyikut lengan Ridwan.


"Pa, kita kesini untuk bicara sama mereka kan. Cepat, Pa. Kami tidak bisa lama." kata lelaki muda itu. Ridwan melirik anaknya dengan tatapan tajam.


Baru saja dia akan beranjak menuju ruang acara akad, langkahnya pun tertahan saat deringan telepon bergetar di sakunya.


"Iya, Nia." jawabnya.


"Abang sudah bertemu mereka. Kalau abang tidak berani bicara biar aku yang akan memberitahukan yang sebenarnya, mumpung sekarang di gerbang tenda." suara Nia.


"Ini aku baru mau masuk."


"Jangan lupa kalau Ida yang membuat Ayuk Devi mati jantungan. Bahkan anaknya Ayuk Devi yang kecil sempat trauma." Ridwan menyunggingkan senyum penuh arti. Dia tidak lupa apa yang di lakukan Ida pada adik tengahnya. Sayangnya Ida tak mengenal dirinya. Itu yang memudahkan Ridwan bisa masuk ke keluarga Ida.


"Bu pihak mempelai pria sudah sampai." Seru Mbak Yuni.


Ida yang sedang di make up sama penata rias pun meminta asistennya mengecek Vika. Mbak Yuni mengiyakan perintah atasannya. Padahal dia berharap Vika sudah pergi bersama Revo.


"Bu, pak Ridwan mau bertemu dengan anda." sapa salah satu yang panitia acara pernikahan.


"Iya, sebentar. Saya sedang merias," kata Ida.


"Tapi katanya penting. Dan sepertinya pak Ridwan tidak membawa keluarganya, malah ada dua orang lelaki muda yang ikut dengannya." kata orang tersebut.


Ida pun meminta perias untuk berhenti sejenak. Padahal bulu mata masih belum sempurna dan hanya sebelah saja. Sasakan masih belum di pasang. Langkah Ida tergesa-gesa menuju ruang depan.

__ADS_1


"Mas Ridwan kalau mau siap silahkan masuk ke ruang pengantin." Ajak Ida menarik tangan lelaki, calon menantunya.


"Saya kesini bukan sebagai mempelai pria." kata Ridwan duduk melipatkan kaki di depan para tamu undangan.


Langkah Ida terhenti. Apa tidak salah dia mendengar? lelaki itu membatalkan pernikahan putrinya setelah semua yang di persiapkan. Gampangnya lelaki itu datang mengatakan dia datang sebagai mempelai pria.


"Apa maksud kamu? bukan sebagai mempelai pria? kita sudah sepakat atas rencana pernikahan ini. Kenapa anda berubah pikiran?"


"Ya karena memang kamu yang terobsesi sama saya. Bukan anak kamu, tapi kalau anak kamu mau saya tidak masalah. Tapi kalau sama kamu? Maaf ya kamu bukan selera saya." tawa Ridwan.


"Apaan sih, Ridwan! Kamu sendiri yang datang ke keluarga saya. Kamu yang menawarkan untuk menikah dengan anak saya, tertarik sama Vika, sekarang malah kamu yang tuduh saya yang tidak-tidak. Mau kamu apa, Ridwan!"


"Mau saya kamu merasakan apa yang kak Devi rasakan!" suara perempuan masuk di antara Ridwan dan Ida.


"Owh, masih ingat? Kirain sudah lupa. Bagaimana kabar kamu? Pelacur apa pelakor? Oh ya nggak ada bedanya sih. Sama saja. Well, kamu kaget kan kenapa saya disini? Bang, jelaskan!"


Ida terkejut saat Nia memanggil Ridwan memanggil sebutan bang.


"Bang?"


Nia berjalan mendekati Ida, senyum penuh kemenangan terbit di bibir merah merona. Tubuh Nia yang masih body guitar walaupun sudah kepala lima. Dress senada dengan lipstik, memegang pundak wanita di hadapannya. Wanita yang menghancurkan rumah tangga kakaknya.


"Dulu kamu bilang sama aku, Dahlia itu perempuan tidak benar. Punya anak tanpa suami, padahal aku tahu Dahlia perempuan yang baik. Dan lebih parahnya kamu malah menjadi duri dalam rumah tangga kakakku sendiri."


"Heh! dengar, ya. Kakakmu si Devi dan mas Jalaluddin sedang proses cerai. Dan aku sedang mengandung anak dari bang Jalal. Jadi wajar kalau dia milih aku."

__ADS_1


"Saya dengar anak kamu sempat jadi gila karena di tinggal kabur sama calonnya. Mana ada lelaki yang mau sama anak kamu. Hahahaha ...."


"Jadi Ridwan ini siapa kamu?" tanya Ida.


"Saya kakak tertuanya Devi. Sengaja saya masuk keluarga kamu agar bisa membalaskan dendam kematian adik saya. Kematian Devi yang tidak wajar! Kematian yang di saksikan anak bungsunya membuat trauma. Dan kamulah penyebabnya!" tubuh Ida melemas hampir menabrak dinding. Yuni yang melihat kejadian langsung memapah tubuh majikannya. Wajah Ida langsung pucat seketika.


Sungguh dia saat ini sedang di kepung oleh orang dari masa lalu dari suaminya, ayahnya Vika. Ida langsung teringat Vika. Memikirkan bagaimana perasaan anaknya yang gagal menikah kedua kalinya.


"Ya Allah bagaimana mungkin Vika bisa gagal menikah untuk yang kedua kalinya. Persetan dengan Nia dan Ridwan, aku harus buat Vika menikah lagi." batin Ida.


"Vika anakku ..." pekik Ida.


Pintu kamar putrinya terkunci. Ida mengira kalau Vika pasti merasa down setelah semua yang terjadi untuk kedua kalinya.


"Buuuu ..." pekik Yuni.


"Ada apa, Yuni? Ada apa!"


"Non Vika ..." Yuni memberikan photo yang di update di sosmed milik Revo.


Ida melihat photo yang di serahkan Yuni. Dimana putri semata wayangnya sudah melakukan ijab kabul di KUA. Ida merasakan kepalanya mulai berat. Putri yang dia sayang menikah dengan lelaki yang di yakininya tidak punya masa depan.


BRUUUUKKK!


"Ibuuuu ..." suara Mbak Yuni berteriak membuat heboh acara pernikahan. Tubuh Ida sudah tergeletak di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri. Yuni meminta pertolongan pada orang sekitar untuk membopong majikannya ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2