
Lala masih harus menginap semalam di rumah sakit. Itu kata dokter setelah memeriksa gadis kecil usia 14 tahun.
"Lala, besok kamu sudah bisa pulang ke rumah," kata dokter muda nan tampan.
"Terimakasih, Dok. Asyik aku sudah bisa pulang," seru Lala.
"Tapi Lala jangan puasa dulu sampai obatnya habis," kata dokter. Lala ikut menganggukkan kepalanya.
"Baik, dok," jawab Lala.
Dokter langsung meninggalkan kamar rawat Lala. Mila dan Danu langsung mendekati adik bungsu mereka. Layaknya keluarga kecil, mereka saling memeluk.
"La, maaf kakak boleh tanya sesuatu?" Danu memulai interogasi.
"Soal apa,kak?"
"Soal kamu pergi ke makam tanpa di dampingi Sarah dan Anjas. Kenapa mereka tidak mengantar kamu, Dek? bukan apa-apa, kamu tahu itu daerah sepi, banyak sawangan. Kalau sendiri takut ada orang jahat yang ganggu kamu," kata Danu.
"Tapi pas Lala kesana nggak ada apa-apa, kak. Aman-aman saja. Tadinya Lala ke rumah dulu terus pintu ternyata di kunci. Sementara rumah kak Eva juga sama. Akhirnya aku pergi sendiri, Lala pikir lewat daerah sana sudah biasa," Lala terpaksa berbohong pada kedua kakaknya. Dia tidak ingin jadi tukang pengadu yang pasti akan ada keributan kalau cerita soal Sarah.
"Iya, kak Mila tahu kalau kamu biasa main kesana. Tapi tetap saja kita harus waspada, apalagi sekarang musim hujan, Dek. Tapi kenapa kamu tidak cari tempat berteduh? kenapa bisa sampai pingsan di makam ibu?"
"Maafkan Lala, Kak Mila, kak Danu. Lala jadi merepotkan kalian lagi. Lala cuma kangen sama ibu. Lala kesal sama kalian baik kak Mila sama kak Sarah sibuk sama urusannya sendiri. Lala merasa tidak punya teman, tempat bertumpu dan bersandar. Maafkan aku, kak,"
Mila langsung memeluk adiknya. Ada rasa bersalah karena seperti mengabaikan kehadiran Lala. Padahal sebagai anak tertua, dia harusnya bisa menengahi kedua adiknya.
"Enggak, Dek. Kamu nggak pernah merepotkan kakak, justru ini memang tugas kakak mendampingi kamu hingga sampai menikah nanti. Maafkan kakak kalau memang terkesan lalai sama kamu dan juga Sarah.
Oh, ya apa Lala tahu kalau rumah Sarah terkepung banjir. Sekarang Sarah di bawa kak Danu pulang ke rumah kita,"
"Tahu, Kak. Kenapa dia nggak kesini saja. Jadi kan kamar Lala rame,"
"Ya tidak bisa dek. Kan yang jenguk di batasi. Walaupun covid sudah mereda tapi tetap saja peraturan masih ketat,"
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Udara kota Raflesia yang terkenal tropis membuat sebagian orang memilih tetap di dalam rumah. Sama seperti Mila dan yang lainnya memilih tetap di dalam ruangan kamar rawat Lala.
__ADS_1
"Sayang, kamu disini dulu sama Lala, barusan Wisnu telepon katanya dia dapat sumsum tulang belakang yang cocok," kata Danu agak menjauh dari Lala.
"Alhamdulillah, Mas. Siapa?"
"Nggak tahu, sayang. Nanti pasti Wisnu yang menjelaskan, nggak apa-apa, kan kalau aku tinggal dulu,"
"Nggak apa-apa, Mas. Kamu temui Wisnu saja dulu, biar aku yang menemani Lala. Toh kalau ada apa-apa, ada dokter dan suster. Apalagi ada dokter yang tadi ganteng," Danu menyipitkan matanya mendengar pujian Mila ke lelaki lain.
"Aku kalau dengar itu kok jadi malas pergi, ya?" Mila tergelak ketika rasa cemburu menyerang suaminya.
"Sudah, Mas. Sekarang berangkat saja, nanti keburu sore. Kamu kan puasa,"
Danu menjongkok searah dengan perut istrinya. Tangannya mengelus perut ratanya istrinya. Sekedar menyapa atau berkomunikasi dengan calon anak mereka.
"Anak ayah, ayah mau pergi sebentar. Nanti ayah
balik lagi. Kamu baik-baik disana, jangan bandel. Kasihan ibu nanti kewalahan. Ayah sayang sama kamu, ayah cinta sama ibu," Danu mencium perut rata Mila.
"Iya, ayah. Aku janji nggak akan bikin ibu kewalahan. Tapi ayah jangan lama-lama, ya. Kasihan ibu nanti nggak ada temannya," ucap Mila menirukan suara anak kecil.
"Coba tanya sama ibu, dia cinta nggak sama ayah. Kalau ibu kamu nggak mau jawab ayah nggak jadi pergi, nih!" kata Danu.
Danu membelitkan tangannya di pinggang istrinya. Mila menoleh ke kanan kiri, takut sikap suaminya jadi tontonan.
"Sebelum aku berangkat, bilang dulu kalau kamu mencintaiku,"
"Mas, malu, ah. Banyak orang ini,"
"Nggak apa-apa, kan sudah sah. Sudah ada calon baby, jadi orang biasa saja, ayo dong bilang dulu. Kalau nggak, aku batal ketemu Wisnu, batal ambil sumsum tulang belakang,"
"Ya kalau semua batal berarti kamu tidak sayang sama aku," Mila mulai ngambek.
"Kok gitu, apa susahnya bilang cinta dan sayang sama suami. Jatuhnya kan jadi pahala, sebagai bakti kamu sama suami,"
Mila menarik nafas dalam-dalam. Semakin dia mengelak semakin ngotot pula suaminya. Mau tidak mau dia harus mengalah.
__ADS_1
"Sayang, kamu itu sangat berarti dalam hidupku, Kamu tidak hanya berarti dunia bagiku, kamu adalah duniaku. Di seluruh dunia, tidak ada hati untukku seperti milikmu. Di seluruh dunia, tidak ada cinta untukmu seperti cintaku. Bagi dunia, kamu mungkin satu orang, tapi bagiku, kamu berarti segalanya."
Danu membulat saat mendengar rayuan istrinya. Selama ini dia tidak pernah mendengar Mila berucap kata-kata seperti mutiara.
"Dan aku akan jadi bingkai cinta dalam hidupmu Sarmila,"
Danu akhirnya pamit meninggalkan rumah sakit. Mila melepas keberangkatan suaminya di depan pintu gerbang rumah sakit. Dia tetap tegak berdiri sampai Danu dan motornya hilang dari pandangannya.
Mila melangkah memasuki rumah sakit. Tak jauh dari dirinya tak wanita sedang hamil besar menangis tanpa ada yang menenangkan. Mila langsung mengambil tisu dari kantong bajunya. Tisu yang selalu siaga jika dia morning sickness.
"Maaf, dek. ngapo nangis?" ( maaf, dek. Kenapa menangis?)
Wanita itu masih tidak merespons ucapannya. Mila pun duduk di dekat wanita hamil itu, mencoba menenangkan orang yang sedang sedih.
"Mbak kalau tidak mau cerita juga tak masalah. Tapi tidak baik sedih kalau sedang hamil. Kata nya bisa mempengaruhi janin kita. Saya juga sedang hamil mbak, baru masuk empat minggu, meskipun banyak masalah yang menerpa. Saya tetap berusaha positif thinking,"
Wanita itu menoleh kearah Mila. Sempat heran ada orang asing yang tiba-tiba nimbrung mau tahu urusan dirinya. Akan tetapi melihat aura sosok itu, ada energi baik terpancar dari wajah Mila.
"Mbak enak, karena punya suami. Sementara saya yatim-piatu tak punya saudara kandung. Begitu juga suami saya, dia juga yatim-piatu tak punya keluarga. Dan sekarang suami saya meninggal dunia karena kanker otak. Saya merasa hidup sudah terhenti saat ini. Tidak punya tumpuan atau orang untuk bersandar,"
Setelah mendengar cerita wanita itu, Mila melepaskan pegangannya. Pikirannya terbuka pada penyakit di derita suaminya. Ada ketakutan melanda pikirannya. Membayangkan membayangkan akan hidup sendiri tanpa suami. Membayangkan menjadi janda setelah satu tahun di tinggal suami.
"Tapi kamu punya anak yang akan menjadi penguat dalam menjalani hidup, kamu punya Allah yang akan selalu melindungi umatnya, percayalah akan ada secercah kebahagiaan yang datang ke padamu,"
Mila mencoba menguatkan hati wanita itu, walaupun sebenarnya dia sendiri sudah mulai galau. Galau akan masa depannya, galau akan nasib suaminya.
...*****...
"Ammar!" Danu kaget mendengar laporan dari Wisnu.
"Dari ketiga keluargamu, ibu Rubiah, Ando dan juga Ammar. Hanya Ammar yang cocok dengan punyamu," jelas Wisnu.
"Beberapa hari setelah kamu pulang dari rumah sakit. Bu Rubiah dan kedua keponakannya datang ke sini. Menemui aku untuk tahu seberapa persen kesembuhan abang. Awalnya aku tidak langsung percaya atas pengakuannya kalau dia ibu kandung bang Danu, hingga akhirnya ada kesepakatan kalau mereka akan mendonorkan sumsum tulang belakang.
Dan ini hasilnya,"
__ADS_1
"Tapi Ammar cuma sepupu, bukan saudara sedarah,"
"Kalau dia sepupu kandung abang, itu tandanya masih ada hubungan darah. Tidak harus satu orang tua," kata Wisnu kemudian.