
Suara MC pertanda acara sudah di mulai. Vika pun berdiri mencoba berbaur dengan penonton lainnya. Tapi sayangnya dia di tahan sama beberapa temannya entah apa maksudnya dia pun tak tahu.
Bengkulu indah mall adalah salah satu pusat perbelanjaan di kota Bengkulu yang paling besar. Di banding Mega Mall yang dekat dengan pasar tradisional. Bengkulu Indah Mall tempatnya strategis lebih dekat area pantai panjang.
Kemajuan kota Bengkulu kian hari tampak nyata. Bengkulu Indah Mall yang megah telah berdiri dipinggir pantai panjang nan elok, menambah sejuknya kehidupan di Kota Bengkulu, yang terkenal dengan julukan "air kecik buayo banyak".
Bengkulu Indah Mall menjadi Salah satu Mall terbesar di Bengkulu, Bengkulu Indah Mall menawarkan begitu banyak kemudahan dalam berbelanja. Bengkulu Indah Mall menyediakan banyak vendor-vendor yang sudah besar di Indonesia, hanya untuk Anda Bengkulu Indah Mall ini berada di tengah kota, dengan berbagai kemudahan untuk dapat mengaksesnya.
Banyaknya pilihan yang bisa kita lihat di Bengkulu Indah Mall, mulai dari Food Market, Fashion Market, Handcraft dan masih banyak lagi. Di Bengkulu Indah Mall memiliki konsep one stop shooping with family.
"Terakhir aku kesini belum ada tempat ini. Masih fun city yang di belakang. Terus dulu kalau masuk lewat depan sama di gerbang hipermart. Sekarang makin keren tempatnya," ucap Vika berdecak kagum.
Tepatnya pagi menjelang siang, salah satu promotor acara ternama mengadakan audisi untuk kontes masak di jakarta. Tentu akan ada satu atau dua orang yang terpilih. Termasuk Mila yang ikut acara tersebut. Apalagi keinginannya di dukung suami dan keluarga besarnya.
"Uda, aku grogi sekali," Mila masih berada di belakang panggung berkumpul diantara para peserta yang menunggu.
"Sayang, kamu jangan grogi, semangat dong. Ada aku, ada ibu Rubiah, ada yang lainnya. Kamu berdoa semoga lombanya lancar. Nggak masalah kalah atau menang. Yang penting kamu sudah berani," Danu mengecup kening Mila lalu beralih ke perut buncit istrinya. "Anak ayah bantu ibu, ya. Biar ibu makin semangat lombanya,"
"Iya, ayah. Terimakasih sudah dukung aku dan ibu," Mila menirukan suara bayi.
Bengkulu Indah Mall ramai dengan orang-orang yang ingin refreshing tanpa harus berpanas-panasan. Udara kota Bengkulu yang tropis terkadang membuat sebagian orang enggan keluar rumah. Tepat pukul sebelas siang acara pun di buka oleh pembawa acara.
Kaki terhenti saat pembawa acara menyebutkan nama-nama juri. Ada yang membuat dirinya bangga, meskipun di panggil terakhir, Vika senang kalau Revo di kenal orang banyak. Chef muda yang sedang naik daun. Kini pemuda itu berdiri berjejeran dengan chef senior lainnya.
"Kamu pemuda yang hebat, Vo. Walaupun aku belum lama kenal sama kamu, tapi aku tidak akan melupakan jasa kamu membantu penyembuhan sakitku,
Seandainya mama lihat ini, aku yakin pendiriannya runtuh juga. Apalagi mama mau iodohin aku sama lelaki bercucu. Astaga sepertinya bukan perjodohan melainkan aku di jual sama mamaku sendiri,"
"Selanjutnya untuk para peserta diminta untuk berdiri dekat peralatan masaknya. Saat ini audisi hari pertama ada lima belas peserta yang lolos masuk ke babak selanjutnya, kita panggil sebagai chef pengawas, Revolusi!"
Vika berdiri di dekat kerumitan penonton. Matanya membulat saat melihat perempuan hamil berdiri di salah outlet lomba. Netranya makin memanas saat sosok Ammar ada di antara para penonton. Perlahan-lahan dia berjalan mundur. Rasa sakit yang hampir di lupakannya kembali terkuak.
__ADS_1
"Sandra," Vika kaget saat temannya menahan dirinya untuk pergi.
"Aku juga lihat ada Mila dan juga Ammar. Kamu pasti masih sakit kan dengan kebersamaan mereka," Vika hanya menunduk lemas.
"Aku malu bertemu mereka,"
"Kenapa kamu yang malu, harusnya mereka yang malu. Sudah tahu sejak awal pak Ammar suka sama kamu. Tapi masih juga nempel sama pak Ammar. Itu Mila lagi hamil kan pasti anaknya pak Ammar," Sandra terus memanasi Vika.
"Buktikan pada mereka kalau kamu juga sudah mendapatkan lebih dari Ammar. Kamu tahu pak Ammar itu cacat, itu karma dia! dan kehamilan Mila juga tidak berkah," Sandra terus memanasi Vika.
"Kenapa kamu sebegitu bencinya pada Mila. Bukannya kamu dulu ada di pihak Mila?"
"Nggak ah, siapa bilang? dulu memang aku dukung Mila. Tapi saat aku tahu yang sebenarnya, aku ternyata salah dukung. Lagian dia juga dulu sempat dekat sama perawat itu. Kamu tahu tidak, perawat itu cowok yang mau aku dekati, eh malah sering sama Mila,
Maruk si Mila, selama pak Ammar hilang dia dekat sama lelaki lain. Sekarang dia kembali dekat dengan pak Ammar,"
"Hilang?" Vika cukup kaget mendengar cerita Sandra.
"Dan aku rasa Mila memanfaatkan semua ini," Sandra terus mencerocos.
Penampilan Chef Revo di atas panggung pun mendapat perhatian penuh dari para hadirin yang datang. Sebagian besar di antaranya tampak sibuk mengabadikan momen dengan kamera.
Termasuk Vika yang berada di belakang panggung. Vika tampak bangga melihat keberhasilan Revo.
Revo berdiri di panggung memegang mic memberi sepatah kata.
"Hari saya sangat bahagia. Setelah berbulan-bulan saya bertahan disini mencari wanita yang selama ini memenuhi ruang hatiku. Kami di pertemukan saat di Jakarta, bertetangga pula. Dari situ kami dekat, saat itu dia sedang terpuruk efek di kecewakan seseorang.
Vika, kamu tahu saya tidak pernah main-main kalau mencintai seorang wanita. Saya pernah kecewa di masa lalu, begitu juga kamu. Kita dekat berawal dari problem yang sama. Vika maukah kau menikah denganku?"
Beberapa orang yang mengenal Vika menuntun gadis itu naik ke panggung. Di hadapannya Revo sudah bertekuk lutut mengeluarkan kotak merah.
__ADS_1
Revo duduk dan mengeluarkan cincin di hadapan Vika.
" Mau kah kau menikah denganku. Aku tidak perduli seberapa jauh usia kita. Walau badai menghadang, ingatlah aku kan selalu menjagamu, berdua kita lewati jalan yang berliku tajam."
Vika memandang kearah Mila dan berpindah ke Ammar. Senyumnya mengembang lalu berpaling ke arah Revo.
"Iya, aku terima kamu,"
Semua mata memandang kagum adegan ini. Tapi ada yang kaget dengan kemunculan Vika di panggung.
...***...
"Bu,. datang ya ke aqikah cucu keempat saya," Bu Asni memberikan undangan pada Bu Melani.
"Keempat?" Melani cukup kaget saat tetangganya punya cucu sudah empat.
"Iya, Bu, datang, ya? oh ya, menantu ibu sudah hamil belum?" tanya Bu Asni.
"Belum, Bu. Ya, kan mereka belum setahun menikah," Bu Melani mencoba legowo, walaupun dalam hatinya dia sudah panas kenapa Sarah belum juga hamil.
"Lah, mantu saya cuma tiga bulan kosong terus langsung hamil. Saya sering ajak dia urut terus kasih jamu kesuburan,"
"Aduh, gimana ya, mantu saja nggak bisa minum jamu. Ada alergi katanya,"
"Alah, itu pasti alasan mantu Bu Melani saja. Kan kalau saya dia kan tinggal di tempat saya. Ya harus nurut, Bu Melani. Ini rumah kita, mereka numpang," kata Bu Asni.
Bu Melani membenarkan apa kata tetangganya. Sarah sampai saat ini belum hamil padahal sudah delapan bulan menikah.
"Kamu mau kemana?" Bu Melani melihat menantunya sudah bergaya.
"Mau ke BIM, Ma. Mau lihat kak Mila lomba masak di sana. Bang Anjas suruh nyusul ke loket. Nanti berangkat ramai-ramai,"
__ADS_1
"Kamu nggak usah pergi. Sekarang kamu ikut mama ke tukang urut," Bu Melani menarik paksa Sarah.