Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 103


__ADS_3

Danu meninggalkan area rumah sakit. Tepat di depan pintu gerbang rumah sakit terbesar di kota Bengkulu Danu melihat sosok wanita duduk sambil melamun. Sosok wanita yang dulu pernah singgah di hatinya. Danu mencoba cuek dengan apa yang dia lihat. Sekarang dia sudah punya Mila, wanita yang berhasil menggantikan Kirana di hatinya.


Mungkin benar kata orang kalau jodoh tidak akan kemana. Seperti itu yang dia alami saat jatuh cinta pada Mila di masa putih biru. Di mana berawal dari rasa keprihatinan atas apa yang dialami Mila. Hingga rasa yang tumbuh dengan sendirinya.


Saat masa putih abu-abu hingga kuliah, Danu di pertemukan oleh Kirana. Gadis manis yang sempat membuatnya move on dari Mila. Gadis yang selalu ada dalam suka dan duka. Hanya saja saat Danu menyatakan keseriusannya, Kirana meminta Danu menjauhi orang-orang panti. Dengan ancaman akan menerima lelaki pilihan orangtuanya.


Danu Bukan orang bodoh, hanya karena perihal wanita harus meninggalkan keluarganya. Saat itu dia yakin kalau jodoh tidak akan kemana, Danu memilih melepaskan Kirana daripada meninggalkan orang-orang panti.


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Sudah terlalu lama dia meninggalkan istrinya. Apalagi dalam kondisi berbadan dua. Tepat di depan area parkiran dia menancapkan motornya, meninggalkan rumah sakit tempat dia bekerja.


Baru saja dia akan meninggalkan rumah sakit, Danu merasa kantong celananya bergetar. Sejenak dia mematikan motornya lalu mengangkat telepon dari ibunya.


"Kamu kapan jadi ke rumah?" Ibu Rubiah langsung pada pokok permasalahannya.


"Untuk beberapa hari ini belum bisa,Bu. Soalnya Lala masuk rumah sakit,"


"Lala adik iparmu? sakit apa?"


"Demam tinggi, Bu. Nanti kalau Lala sudah mendingan aku akan nginap ke tempat ibu. Tapi sekarang memang aku mau kesana, ketemu sama Ammar," kata Danu.


"Ammar dan Ando ke Kepahiang, jenguk mamanya. Katanya Diana sudah lumayan ada kemajuan,"


"Alhamdulillah kalau begitu, semoga ibu Diana bisa kembali kumpul bersama anak-anaknya,"


"Amin. Kamu kesini sebentar, Nak, Buka bersama disini, ibu sendirian di rumah,"


"Iya, Bu. Saya kesana sekarang," Danu pun menutup komunikasi dengan ibu Rubiah.


Danu melajukan motornya menuju daerah Citarum. Area yang terletak masih di keramaian kota. Hanya untuk sekedar silaturahim dengan ibunya. Nanti menjelang magrib dia pasti pulang ke rumah sakit.


Pada akhirnya motornya sudah berdiri di depan pintu rumah yang di tempati Makwo Rubiah. Rumah dimana ibunya bernaung saat ini. Danu mengetuk pintu menandakan dia sudah datang.


Tak lama suara pintu terbuka menandakan kalau si empunya rumah sudah menyambutnya.


"Ibu," Danu memeluk ibunya penuh kerinduan.

__ADS_1


"Akhirnya anak ibu datang," Rubiah membalas pelukan putranya.


"Masuk, Nak," Rubiah mengajak Danu masuk ke dalam rumah.


Danu mengamati setiap sudut ruangan. Sejak dia drop, sejak saat itu pula dia berhenti menjadi perawat Ammar. Padahal belum satu bulan dia membantu penyembuhan Ammar.


Danu masuk kamar Ammar yang memang tidak di tutup. Beberapa barang momen bersama Mila masih terpajang di kamar Ammar. Danu memandang sebuah photo, lama dia meresapi makna di balik photo itu.


"Maaf, Mas. Aku tidak mau berurusan lagi dengan Ammar. Begitu banyak hal yang menyakitkan kalau berurusan dengan dia. Bukan aku tidak bisa move on, tapi aku harus menjaga hati kamu. Seribu kali dia bilang amnesia aku tetap tidak percaya,"


"Sepertinya Ammar akan sembuh jika di dekat Mila," batin Danu.


"Nak," Rubiah melihat putranya di kamar Ammar.


"Iya,Bu,"


"Maaf kalau ini pendapat ibu. Waktu di rumah sakit ibu memperhatikan chemistry antara Ammar dan Mila. Sepertinya Mila masih ada rasa sama Ammar, dari gesture keduanya terlihat," kata Rubiah.


"Aku tahu, Bu. Tapi aku percaya sama Mila. Dia bukan perempuan yang gampang berpindah hati. Dia orangnya setia,"


Suara adzan ashar pun berkumandang. Danu masuk ke kamar mandi untuk melaksanakan shalat ashar. Bangkit meninggalkan kamar Ammar yang membuatnya sesak.


"Maafkan ibu, Nak. Ibu bukannya tidak suka sama Mila, tapi dia bukan tipe menantu yang kita cari. Ingat, nak jika kamu menikah di luar suku Minang, maka garis keturunan kamu akan selesai," batin ibu Rubiah.


Dalam budaya Minang pernikahan adalah satu peristiwa penting dalam membentuk kehidupan dan membentuk kelompok baru.


Maka dari itu, dalam budaya Minangkabau sangat mengatur tentang hal ini, bahkan ada larangan yang harus dipatuhi saat akan memilih calon istri atau suami.Salah satu larangannya adalah ternyata laki-laki dari suku minang dilarang untuk menikahi wanita dari luar suku.


Dalam susunan masyarakat matrilineal Minangkabau, seorang anak yang dilahirkan menurut hukum adat hanya akan mempunyai hubungan hukum dengan ibunya.


Dengan demikian, anak akan menjadi atau masuk klan atau suku ibunya sedangkan terhadap ayahnya anak secara lahiriah tidak mempunyai hubungan apa-apa walaupun secara alamiah dan rohaniah mempunyai hubungan darah.


Begitu pula sebaliknya, seorang ayah tidak akan mempunyai keturunan yang menjadi anggota keluarganya.


Oleh sebab itu, seorang ayah tidak perlu bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya untuk memelihara anak-anak dan membesarkannya, juga wewenang untuk mengawinkan.

__ADS_1


Sayangnya Rubiah lupa kalau sebenarnya Danu sudah terputus dari garis keturunan Minang. Dimana garis keturunan bisa tersambung kembali berasal dari anak perempuan.


"Bu, saya mau sholat dulu," pamit Danu.


"Iya, Nak. Ibu mau shalat juga. Kalau kamu mau berjamaah di mushola depan saja," Rubiah menunjuk mushola tepat di depan rumah.


"Disini saja, Bu," kata Danu.


Danu pun memulai shalat. Khusyuk dalam doa.


"Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri.


Tuhan, jika aku boleh meminta tolong panjangkan umurku. Agar aku bisa melihat anakku lahir. Agar dia tahu siapa ayahnya. Agar aku bisa menemani Mila menjalani masa kehamilan, melahirkan, serta melihat anakku tumbuh,"


...****...


"Bang aku mau bicara," kata Sarah saat Anjas datang menyusul ke rumah Mila.


"Kamu mau bicara apa?"


"Abang masih marah sama aku?"


"Sejujurnya aku kecewa sama kamu. Selama kita menikah aku sudah berusaha memahami kamu. Berusaha menerima sifat kamu yang kekanak-kanakan. Tapi aku merasa kamu tidak pernah peka. Aku juga manusia, Sarah. Aku juga punya batas kesabaran,"


"Jadi abang nyesal menikah dengan aku?" suara Sarah seperti bergetar.


"Sejujurnya, Iya," jawab Anjas tegas.


"Jujur aku takut menanyakan hal ini, jujur mendengar ucapan abang barusan rasanya sakit sekali. Tapi kalau abang punya keputusan sendiri, aku terima. Aku terima kalau hanya empat bulan bisa bertahan," Sarah mencoba tidak menangis. Tapi sepertinya dia menangis pun tidak akan merubah keputusan Anjas.


"Kamu kenapa?" Rohim baru saja datang mendapati anak keduanya pucat.


"Aku enggak apa-apa, yah. Kepala Sarah pusing. Ayah tolong temani bang Anjas dulu," kata Sarah masuk ke dalam kamar.


"Yah, aku pulang dulu," Anjas mencoba menghindari ayah mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2