
Subuh sudah menyapa lagi. Mila bangun langsung masuk ke kamar mandi di dalam ruang rawat. Mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat subuh. Saat mendengar nenek Seruni di rawat dia mengira neneknya berada di ruang rawat biasa. Tapi ternyata tidak. Nenek Seruni di rawat di ruang VIP. Ruang yang bahkan permalamnya saja bisa jutaan. Mengingat RS Tiara Sella tidak menerima BPJS.
Awalnya Mila kaget saat tahu nenek di tempatkan di ruang VIP. Tentu dengan biaya yang tidak sedikit untuk kalangan mereka.
Setelah mendapat penjelasan dari Eva dan Tulang Boro, bahwa biaya rumah sakit memakai tabungan milik ibu Aminah. Hati Mila lega, karena ada gunanya dia menitipkan tabungan tersebut pada mereka. Mila menitipkan tabungan ibunya untuk berjaga-jaga jika terjadi hal yang darurat pada nenek Seruni.
Suara adzan berkumandang, Mila langsung mengenakan mukenanya. Membentangkan sajadah di samping ranjang nenek Seruni. Matanya mengedarkan di sekelilingnya, hanya ada dirinya dan juga Rohim yang tertidur di tikar. Sementara Mila tadi tidur di sofa.
Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (menyebutkan persoalannya) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih”.
Artinya:
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kemampuan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon kepada-Mu dari anugerah-Mu yang Agung. Sesungguhnya, Engkaulah Yang Maha Kuasa sedang aku tidak kuasa, Engkau Maha Tahu sedang aku tidak mengetahui, Engkaulah Dzat yang Maha Mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini adalah baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akhir urusanku, maka tentukanlah untukku, mudahkanlah jalannya dan berkahilah aku di dalamnya. Dan apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini adalah buruk bagiku dalam agamaku, kehidupanku dan akhir urusanku, maka jauhkanlah dariku dan jauhkanlah diriku darinya, tentukan untukku apapun yang terbaik, kemudian jadikanlah aku ridha dengannya
Ya Allah jika memang Ammar jodohku. Maka dekatkanlah kami, tapi jika memang bukan untukku. Maka jauhkanlah kami. Berilah petunjuk seseorang yang memang kau pilihkan untukku. Amin."
Selesai sholat Mila kembali duduk di sofa. Kedua adiknya sudah pulang ke rumah. Tadi rencananya setelah liburan di Kaur Bengkulu Selatan, Anjas mau datang kerumah melamar Sarah. Tapi nyatanya mereka dapat kabar nenek Seruni drop.
Mila duduk di samping nenek Seruni, sambil meregangkan otot badannya. Ada selang kecil di masukkan ke tangan kanannya. Suara mesin pendeteksi jantung terdengar memecahkan kesunyian. Seperti apapun perlakuan neneknya. Mila tetap menghormati wanita paruh baya itu.
"Masya Allah," Mila melihat tangan nenek Seruni bergerak.
"Ayah! ayah!" Mila membangunkan Rohim yang masih mendengkur di lantai.
Rohim membuka " ada apa, Mila?" kata Rohim ketika putrinya mengganggu istirahatnya.
__ADS_1
"Nenek, tangan nenek bergerak." seru Mila.
Seruni membuka matanya pelan-pelan. "Aaaaah..." suara cadelnya terdengar. "Aaaahhh.." Seruni seperti memanggil tapi bibirnya tidak bisa bergerak.
"Dokter!" teriak Mila berlari ke luar kamar rawat. Mila baru ingat kalau ruang dokter jauh dari lokasi kamar. Gadis itu berlari mencari dokter. Tak peduli tatapan orang lain melihat aksinya.
BRUUUUUKKK!
Mila merasa menabrak seseorang. Gadis itu menoleh kearah orang yang dia tabrak. Tanpa peduli siapa orangnya Mila meminta maaf kembali berlari. Sayangnya lengan Mila di tahan oleh seseorang.
"Mila,"
Kakinya terhenti saat mengenal pemilik suara itu. Mila menoleh dengan adegan lambat. Sosok lelaki yang sebenarnya dia rindukan ada di depan mata. Lelaki berjalan menuju kearahnya, Mila memilih menghindar. Dia sudah bertekad tidak mau berurusan lagi dengan lelaki itu.
"Mila tunggu!" Tangan kekar itu menahan Mila. Bukan hanya menahan seketika Mila sudah berada di balik dada kekar itu. Keduanya saling bergetar, menangis, itu yang bisa mereka lakukan saat ini.
Pelan-pelan Mila melepaskan pelukan dari Ammar. Dia sadar apa yang terjadi pada mereka adalah kesalahan. Dia tidak mau di cap penikung lagi sama Vika. Kakinya berjalan mundur menghindari Ammar. Selama dia belum di beri petunjuk atas istikharahnya. Dia harus jaga jarak dengan lelaki itu.
"Mila, kamu mau kemana?" tanya Ammar.
"Panggil dokter. Nenek Seruni sudah siuman." kata Mila.
"Kamu tunggu disini. Please, tetap disini aku mau bicara penting."
"Mar," panggil Mila.
__ADS_1
"Iya, sayang. Aku akan bicara sama mereka tentang kita." Lagi-lagi jemari Ammar seakan menguatkan perasaan hatinya.
Setelah dokter memasuki ruang rawat nenek Seruni. Ammar menarik Mila meninggalkan rumah sakit. Suasana langit kota Bengkulu sudah mulai terang benderang.
"Kamu mau ngomong apa?" Mila berdiri sambil melipat kedua tangannya.
"Aku masih ada urusan lain ..."
"Mila dengarkan aku. Aku akan buktikan pada mereka yang menentang hubungan kita. Kalau aku dan kamu serius. Kamu juga buktikan ke Vika dan ke mamaku."
"Aku? aku yang harus buktikan sama mereka? terus kamu ngapain Ammar. Jadi penonton gitu? helllooowwww! kamu itu laki-laki. Kamu yang harus meyakinkan mereka. Kamu juga tidak berusaha meyakinkan keluarga aku. kamu terkesan masa bodoh dengan semua ini. Dan sekarang kamu minta aku yang datang pada mereka."
"Mila, kamu marah sama aku karena kejadian di rumah Vika. Bukankah kamu melihat semua terasa mendadak."
"Iya, mendadak aku tahu kalau kamu dan Vika sekongkol mempermainkan aku. Tega kalian, ya!"
"Mila biar aku jelaskan yang sebenarnya."
"Nggak perlu, Mar. semuanya sudah jelas bahkan sangat jelas."
"Aku mencintai kamu bukan Vika."
"Tapi dulu kamu sangat mencintainya. Kamu bahkan berjuang mendekati Vika setelah di tolak berkali-kali. Setelah Vika menolak kamu karena punya Ilham. Kamu datangi aku. Kamu tahu aku dan Vika berteman. Kamu yang mati-matian mengejar Vika. Tiba-tiba datang menawarkan cinta. Kamu yang tidak pernah tegas memilih aku dan Vika.
"Iya aku dulu cinta sama Vika. Tapi itu dulu Mila, itu dulu. Sekarang hati aku hanya punya kamu. Hanya kamu. Aku akan ..."
__ADS_1
"Cukup, Mar! Cukup! aku capek. Kalau kamu pikir aku masih bisa kamu dibodohi, kamu salah! salah"
"Apa salahnya dengarkan aku dulu! Mila... Sarmila!" Ammar masih berlari mengejar Mila.