Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 20


__ADS_3

POV DAHLIA


Rumah adalah tempat di mana kita memulai perjalanan hidup. Rumah menjadi tempat terindah dan ternyaman karena adanya orang-orang tercinta seperti orang tua dan keluarga lainnya, membuat rumah makin menenteramkan. Mungkin rumah bukan bangunan yang megah, tetapi di dalamnya tersimpan banyak kisah yang tak ternilai.


Untuk sebagian orang, rumah adalah tempat ternyaman untuk kembali. Baik saat pulang membawa suka atau pulang membawa luka, pintu rumah senantiasa terbuka lebar menyambut kedatangan penghuni rumah.


Sejauh apa pun melangkah, seberat apa pun berjuang dan selelah apa pun beraktivitas di luar rumah, inilah lima alasan bahwa rumah tetap menjadi andalan terbaik untuk kembali kesana.


Namaku Dahlia, anak-anakku sering memanggil ibu Lia, ya mungkin mereka tau kalo statusku cuma ibu tiri jadi mereka nggak mau manggil aku dengan sebut ibu. Seiring dengan waktu mereka pun mulai memanggilku dengan sebutan mama.


Aku sebenarnya bukan seorang gadis sewaktu menikah dengan papanya Fera, dibilang gadis aku belum menikah tapi aku sudah punya anak. Entahlah apa yang pantas kalian sebutkan aku ini apa.


Dulu perkenalan ku dengan Rohim, kami saling jatuh cinta, dan kami sempat merencanakan menikah. Tapi ternyata Aminah juga menyukai Rohim, selisih usiaku dengan Aminah sekitar 6 tahun. Dan gayung bersambut, ibu tiri ku langsung menikahkan Rohim dengan Aminah. Aku kecewa keluargaku menikungku, padahal mereka tahu kalo Rohim pacarku.


Aminah sebenarnya orang yang baik, tapi aku terlanjur sakit hati dengan keluarga ini, apalagi saat aku mendapati tubuhku ada benih dari Rohim. Ya Allah mau ku apakan janin ini, apa ku gugurkan saja.


Percuma nak kamu hidup dengan status tanpa ayah.


Pada akhirnya ku besarkan anak ini, ku beri nama rohalia artinya Rohim dan Dahlia. Setiap orang menanyakan ayahnya kubilang saja ayahnya sudah punya istri baru, tidak peduli lagi sama kami berdua. Jadi mereka tidak banyak kepo tentang kehidupanku, malah banyak yang kasihan sama kami berdua.


Saat usia Alia 5 tahun, ku datangi keluarga Rohim untuk meminta pertanggungjawaban. Saat itu mereka masih berdomisili di Curup.


Aminah kulihat welcome dengan Alia, tapi tidak dengan Rohim dan ibu Seruni, aku merasakan Rohim belum siap dengan kehadiran Alia. Kalau Bu Seruni, sejak ayahku meninggal dia tidak pernah baik sama aku.


"Kak Lia, ini siapa ayahnya?" Tanya Aminah padaku


"Tanya sama Rohim, dia kenal kok dengan ayahnya Alia"


Aminah melihat Rohim seolah minta di ceritakan soal identitas Alia. Tapi Rohim tetap bungkam.


"Kenapa kamu diam, him? Malu kamu mengakui Alia?"


"Lihat wajahnya, mirip siapa?" Kataku mulai meninggi


Rohim masih tetap membisu. Aku tak tahan lagi.


"Alia anakku dan Rohim. Anak kami berdua"


Akhirnya tangisku keluar, aku capek ya Allah. Capek menyimpan rahasia ini.


Aminah yang tadi ramah dengan Alia mendadak menjauhi Alia. Kulihat ada guratan kekecewaan di wajahnya. Seolah meminta penjelasan dari Rohim, tapi tetap Rohim bungkam. Akhirnya aku pergi dari rumah, dan meninggalkan Alia di rumah itu.


Maafkan mama nak


Maafkan Mama nak


Aku sempat memantau kondisi anakku melalui seseorang yang kupercaya, kudengar mereka mengganti nama Alia. Entah nama apa yang mereka sematkan ke identitas Alia. Dan yang pasti aku akan ambil kembali putriku.


10 tahun kemudian aku kembali mencari tahu tentang putriku lewat seseorang yang kupercaya. Tak mudah bagiku melewati semua ini, meski kupercaya Aminah bisa menjaga anakku dengan baik. Tapi aku juga takut yang kualami dulu juga menimpa putriku, karena ibu tiri ku juga tinggal di sana.

__ADS_1


Ida, itulah temanku yang mendampingiku saat hamil Alia dulu. Ida tahu banyak rahasiaku. Sampai saat kakak suaminya yang berstatus duda ingin melamarku, idalah yang menentang hubungan kami. Suamiku tahu aku punya anak di luar nikah, tapi kubilang saja anakku sudah bahagia dengan ayah kandungnya.


"Dahlia!" Aku menoleh ke arah suara, ternyata Boro yang memanggilku.


"Tulang kenal dengan bude Lia?" tanya Mila


"Ini budemu kakak ibumu Mila"


Mila langsung menyalamiku, memelukku dengan penuh hormat. Mila langsung memanggil adiknya yang bernama Lala memperkenalkanku.


Aku mencari boro dan minta penjelasannya


"Kenapa tidak bilang kalo aku..?"


"Ibu kandungnya maksudmu ... Itu bukan kapasitasku Lia, kalianlah yang harus jujur pada Mila"


"Ka .. kalian? Maksudnya apa?" Jawabku bingung


"Kamu dan Rohim yang harus bicara pada Mila, kalian orang tuanya"


"Sekarang dimana Rohim? kenapa aku sedari tadi tidak melihatnya?"


"Rohim sudah lama pergi dari rumah."


"Kenapa?"


0Terus kenapa kau tinggalkan Mila, dan menikah dengan pria lain, sementara rohim mencarimu dan rumah tangganya hancur karena kehadiranmu" tambah boro."


"Aku harus meneruskan hidup, Boro. ada lelaki yang menerimaku walaupun dia tahu keadaanku. Bukan lelaki yang memilih wanita lain, padahal dia pernah mengambil mahkotaku."


"Aku pulang, Lia. Tapi satu yang aku minta sama kamu. Jangan kamu usik kebahagiaan keluarga kami. Sudah cukup kamu pernah mengusik keluarga Minah dan Rohim. Gara-gara kamu, anakmu kena imbasnya."


"izinkan saya bertemu Alia, Boro."


"Lalu kamu akan bilang kalau kamu adalah orangtuanya begitu?"


Boro pamit pulang. Aku menemaninya sampai depan pintu. Masih tidak percaya aku pulang ke Bengkulu bertemu orang dari masa laluku.


"Bude, istirahat disini kan? saya sudah siapkan kamar untuk bude."


Aku mendekati gadis manis yang ada di depanku. Apakah dia anak kandungku? kalau iya aku sangat berterima kasih masih di beri kesempatan bertemu dengan putri kandungku. Tapi saat ini aku belum bisa jujur soal siapa diriku. Alia ah sekarang namanya Sarmila.


Izinkan aku memberikan kasih sayang padanya, tanpa dia harus tahu kalau aku adalah ibunya.


"Mila,"


"Iya, bude."


"Bolehkah saya memelukmu?" Mila mengangguk.

__ADS_1


"Ini ibu, nak. Maafkan ibu sudah meninggalkanmu selama ini. Ibu tidak menyangka kalau mereka memperlakukan kamu tidak baik." Aku hanya bisa bicara seperti ini di dalam hati.


"Mila senang masih punya keluarga seperti bude Lia, Fera dan juga Intan."


"Bude nginap disini, kan?"


"Maaf Mila bude sudah janji mau nginap di rumah Vika."


"Nggak apa-apa, bude. Tapi bude ikut Mila buat nengok nenek, ya?"


Nenek? ya Allah, aku harus bertemu dengan wanita jahat itu.


Aku belum siap.


"Bagaimana kalau besok saja? tadi Vika SMS kalau mau jemput bude kesini."


"Boleh juga. Tapi maaf, ya Mila tidak bisa mengantar bude ke tempat Vika."


"Tidak apa-apa, nak. Bude paham situasi sedang tidak memungkinkan."


...*****...


Pukul 19.30, Mila sudah berjalan di lorong rumah Sakit M. Yunus. Sebelum berangkat Eva sempat bilang soal Sarah yang menjaga nenek seharian di rumah sakit.


Sebagai kakak Mila tidak tega membebankan semua permasalahan ke adik-adiknya. Dia pun akhirnya berdiri di depan pintu kamar rawat nenek Seruni.


Pintu sedikit terbuka, Mila melihat betapa setianya Anjas berada di sisi Sarah. Mila memilih urung masuk dan duduk di kursi.


"Aku harus bisa move on! kamu jangan seperti ini, Mila."


Mila memilih bangkit dan memasuki kamar rawat neneknya.


"Alhamdulillah, nenek Seruni kondisinya sudah stabil" kata lelaki berbaju putih. Lelaki itu membawa catatan seputar kesehatan pasien.


"Wah, kak Danu kalau boleh tahu masih jomblo apa sudah menikah?" tanya Sarah.


"Alhamdulillah belum ada yang mau, dek Sarah."


"Kok Alhamdulillah? kak Danu masih suka sama cewek kan?" tanya Sarah.


"Alhamdulillah lagi, masih dong. Cuma saya kan hanya perawat gaji kecil."


"Ah Kakak bisa saja merendah. Tapi mau nggak aku kenalin sama kakak perempuanku?"


"Assalamualaikum," Mila pun masuk ke dalam kamar rawat.


"Pucuk di cinta ulam tiba, baru saja di omongin orangnya sudah datang."


"Itu Jodoh namanya, sayang." Anjas ikut menimbrung.

__ADS_1


__ADS_2