Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 126


__ADS_3

"Vika!"


Mila hanya bisa membatin dalam hati. Dia mana berani mendekati wanita yang dulu menjadi orang terdekat selain Eva. Rasa trauma amukan Vika saat di pesta saat itu masih membekas. Di permalukan banyak orang. Di tuduh pelakor saja sudah membuatnya sakit.


"Syukurlah kamu sudah sembuh," ucap Mila dalam hati.


Mila berbalik meninggalkan area acara. Cuma sebagai peserta dan tidak menjadi pemenang bukan masalah. Sudah memberanikan ikut saja sudah bersyukur.


"Sayang," sapaan itu membuyarkan lamunannya. Tak ada lagi sosok Vika dari pandangan matanya.


"Aku mau ketemu Vika, Uda," Mila masih mencari keberadaan Vika. Memperbaiki hubungan dengan sahabatnya.


"Sayang, menurut aku momennya tidak tepat. Vika sedang bahagia, dan aku takut kehadiran kita malah memperkeruh suasana. Tadi kata ibu, Ammar mau menyelesaikan masalahnya dengan Vika. Kalau kalian menemui Vika bersamaan yang ada malah bikin salah paham. Jadi menurut aku, kita cari waktu yang tepat untuk hal ini," Mila menganggukkan kepalanya. Ada benarnya kata suaminya. Ini bukan momen yang tepat.


"Ya, Uda, sekarang kita mau kemana?"


"Masuk hipermart aja sayang, aku mau lihat perlengkapan bayi," kata Danu langsung mengiring istrinya menuju hipermart.


"Uda, kita lihat perlengkapan bayi di bunda baby shop saja. Disana lengkap," Mila ingat saat menemani Eva membeli kado untuk menjenguk bayi temannya.


Bunda Baby Shop menyediakan perlengkapan bayi dengan harga yang ekonomis di Bengkulu. Semua kebutuhan bayi tersedia, antara lain makanan bayi, diapers, baju bayi, baju anak-anak dan masih banyak perlengkapan serta produk lainnya. Toko perlengkapan bayi terlengkap di kota Bengkulu.


"Bukannya disana mahal semua, Yang," Danu pernah menemani ibu Nurmala saat mencari kado disana.


"Kalau nggak salah Eva pernah beli set kotak makan bayi nggak sampai lima puluh ribu deh, mungkin ada yang bagus ada juga yang harga biasa, kan ada harga ada kualitas,"


"Yasudah, nanti kita lihat disana, kamu lapar nggak? aku lapar sekali, kita makan di food court yuk," ajak Danu.


"Ayo," Mila berjalan lebih dulu melewati suaminya.


Mereka tiba di food court yang berada di pinggir jalan mall. Danu masuk ke resto menyediakan aneka makanan Palembang. Tentu saja masuk ke resto yang menyediakan bermacam empek-empek dan sebagainya.


"Kamu mau pesan apa, sayang?" tanya Danu.

__ADS_1


"Model saja, sama minumannya es tebu," Danu langsung ke tempat pemesanan.


"Es tebu nya kosong, apa mau yang lain?"


"Disini menyediakan es campur kayaknya, aku mau yang itu saja. Yang ada kacang merahnya,"


Selesai memesan makanan Danu kembali ke meja bersama Mila. Sambil menunggu pesanan datang mereka memulai berbagai cerita dari tentang kehamilan Mila sampai masa kecil Danu selama di panti.


"Sayang, aku mau ke toilet dulu, ya?" pamit Danu.


"Uda nggak apa-apa, kan?" entah kenapa dia takut terjadi sesuatu pada suaminya. Bukan pertama Danu pingsan di kamar mandi. Dan apalagi dalam kondisi kesehatan suaminya membuat Mila selalu was-was.


"Enggak, aku mau buang air kecil. Apa kamu mau temani aku di dalam sana?" Mila menggeleng. Danu langsung pamit meninggalkan Mila di meja.


Mila membuka handphone, membaca informasi tentang pengobatan tradisional. Ada satu obat yang katanya ampuh menyembuhkan kanker yaitu daun bajakah.


Bajakah mengandung senyawa flavonoid yang membantu tubuh mengatur aktivitas sel dan melawan radikal bebas yang menyebabkan stres oksidatif pada tubuh Anda. Dalam istilah yang lebih sederhana, flavonoid membantu tubuh Anda berfungsi lebih efisien sekaligus melindunginya dari racun dan stres sehari-hari.


Obat herbal juga relatif lebih aman dibanding obat kimia. Dikarenakan sifat bahan obat tradisional yang alami sehingga dapat dicerna oleh tubuh.


Revo baru selesai dengan acara di BIM. Tadi dia meminta Vika menunggunya di depan hipermart. baru selangkah dia pun di kagetkan dengan telepon dari kakak sepupunya di Sukabumi.


"Vo, kamu kapan pulang?" tanya teh Ema.


"Sepertinya aku belum bisa pulang,Teh," jawab Revo santai.


"Rena mau nikah, dia sangat berharap kamu pulang dan mencegahnya menikah dengan pilihan orangtuanya,"


"Aku sudah bilang sama Rena. Terima saja si Asep. Dia lelaki yang baik. Dari perilaku juga dari segi materi,"


"Rena maunya kamu, Vo. Yang dia cintai cuma kamu. Jangan bilang kamu masih mengejar gadis ODGJ itu,"


"Namanya Vika, Teh. Dia bukan ODGJ. Dia hanya pernah sakit karena gagal menikah. Itu saja,"

__ADS_1


"Terserah,Vo. Teteh cuma menyampaikan pesan Rena. Kasihan dia tersiksa karena kamu tidak memberi ketegasan dalam hubungan kalian," Teh Ema menutup teleponnya.


Revo menarik nafas dalam-dalam. Ingatannya beralih saat dia sempat pulang ke Sukabumi untuk mengambil ijazah kerjanya. Revo memutuskan ke Bengkulu untuk menyusul Vika. Hingga malam itu, pak Hadar menemui dirinya, meminta Revo membujuk Rena menerima Asep sebagai calon suaminya.


"Saya percaya kamu adalah lelaki yang baik. Tapi maaf untuk jodoh Rena saya lebih percaya sama Asep. Saya melihat Asep bisa menuntun Rena dunia dan akhirat. Jadi saya mohon kamu bilang sama Rena untuk menerima Asep,"


"Saya sudah ikhlas Rena bersama Asep, pak," jawab Revo legowo.


"Terimakasih, nak Revo. Tidak salah saya membantu sekolah masak kamu.Saya. Senang kamu cukup tahu diri. Bukan saya mempermasalahkan soal status sosial kamu dan Rena. Tapi sebagai orang tua saya hanya ingin yang terbaik untuk anak saya. Saya pamit dulu nak Revo, saya harap kamu menepati janji untuk tidak mengusik hubungan Rena dan Asep," Revo tercenung setelah kepergian pak Hadar.


Belum selesai dia menata hatinya. Ucapan pak Hadar jelas menamparnya. Padahal Rena bukan dari kalangan kaya raya. Akan termasuk cukup mampu di desanya. Beda dengan Revo yang berasal dari anak seorang buruh kebun teh.


Rena sudah berdiri di hadapannya. Meminta penjelasan atas apa yang di bicarakan Revo dan ayahnya. Rena jelas mendengar semuanya, rasanya sakit di tusuk sampai ke tulang. Dia sudah berusaha menggagalkan rencana pernikahan dengan Asep.


"Kang, dulu bukannya akang ke Jakarta untuk membuktikan pada bapak kalo akang akan jadi orang sukses dan melamar saya."


" Maaf,na. Tapi akang sudah jatuh cinta pada orang lain."


" Akang jahat!"


Rena pergi dari hadapan Revo sambil menangis. Rena tidak menyangka kalo Revo mudah jatuh cinta pada wanita lain. Padahal Rena rela menolak lamaran Asep yang di jodohkan orang tuanya.


Revo termenung teringat waktu pacaran dengan Rena. Cinta mereka bersemi saat masih duduk di sekolah menengah pertama. Rena yang saat ini kembang desa, banyak yang mendekatinya, tapi Rena tak pernah berpaling dari Revo. Sampai mereka tamat SMA, Revo hendak  melamar Rena, tapi di tolak oleh orang tua Rena karena Revo belum bekerja.


Dari Revo bekerja di dapur pak lehan sampai akhirnya revo merantau dan bertemu dengan Vika.


Di masa sekarang Revo berjalan menuju kearah Vika. Seperti permintaannya tadi, dia meninggal kekasihnya menunggu.


"Kita mau kemana?" tanya Vika.


"Ke rumah kamu, bertemu sama Tante Ida,"


"Astaga kalau mama tahu aku menerima lamaran Revo bagaimana?" batin Vika.

__ADS_1


__ADS_2