Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 61


__ADS_3

Pernikahan adalah awal baru dari sebuah kehidupan. Kehidupan yang sesungguhnya. Menjalani biduk rumah tangga  bersama seseorang yang tadinya hanya kita ketahui sisi baiknya saja. Menyatukan dua hati dalam satu cinta. Menyatukan pola pikir dan sudut pandang yang berbeda. Melebur keegoisan dan belajar meredam amarah.


Pernikahan bertujuan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis semata tetapi menyempurnakan separuh agama. begitu juga denganku, sudah 10 hari ini aku menyandang status sebagai seorang istri.


Cahaya matahari sudah berada diatas kepala. Menandakan sudah waktunya beraktivitas. Anjas melirik jam dinding di kamarnya, sudah mau jam tujuh pagi. Tapi wanita itu masih asyik bersembunyi di balik selimut.


"Sayang, bangun dong. Ini sudah siang." Anjas membangunkan istrinya.


"Jas, istrimu belum bangun juga?" Bu Melani menggelengkan kepalanya melihat menantunya masih tidur.


"Belum, Bu. Biarkan saja. Tadi malam Sarah mengerjakan tugas baru tidur juga lama. Biarkan saja dulu"


"Tapi, Jas masa tiap malam mengerjakan tugas. Terus dia bangun siang terus. Kamu harus tegas sama istrimu" omel ibu Melani.


"Ibu sabar kenapa? bukannya ibu yang dulu ngotot mau jadikan Sarah sebagai menantu. Sekarang ibu harus terima Sarah apa adanya. Nggak bisa instan,Bu." kata Anjas.


"Iya, ibu terpesona karena dia cantik. Tapi ternyata dia tidak bisa apa-apa. Sekarang kamu langsung kerja. Biar Sarah ibu yang gembleng." kata Bu Melani.


Anjas hanya menghirup nafas dalam-dalam. Saat ini dia masih maklum sama istrinya. Karena Anjas paham selama ini hanya Mila yang turun tangan urusan rumah tangga.


Pernah Anjas bertanya pada Mila,kenapa Sarah tidak pernah di libatkan dalam pekerjaan rumah tangga. Mila hanya bilang kalau dia mau adiknya fokus belajar. Begitu juga dengan Lala. Apalagi masih ada ibu Aminah.


Sebenarnya beberapa malam sejak mereka tinggal di rumah orangtua Anjas. Sarah sering nonton drakor hingga larut malam. Alasannya karena insomnia, susah tidur. Anjas pun akhirnya memaklumi phobia istrinya.


Anjas dan Sarah pun ternyata belum melakukan malam pertama. Mereka hanya sebatas bercinta biasa. Bercinta mereka pun tidak sampai membobol gawang milik Sarah.


"Maaf, bang. Aku belum mau hamil. Aku takut kalau nanti menghambat kuliah. ingin kita menunda momongan. Aku ingin fokus kuliah. Iya mungkin kamu akan bilang aku istri yang zolim. Tapi untuk saat ini tolong ngerti posisi aku, bang"


Anjas membuang nafasnya dengan kasar. Itu permintaan Sarah di hari pertama mereka pindah ke rumah orangtuanya. Tadinya Anjas sudah memboking satu kontrakan usaha orangtuanya. Tapi ternyata ibu Melani malah menyerahkan pada orang lain.


"Kamu punya rumah, nak. Buat apa kontrak. Ibu jadi punya teman kalau kalian semua sibuk di luar." kata ibu Melani.


"Tapi kan aku cuma sekamar sama Rudi."

__ADS_1


"Kamu lupa, ada kamar almarhum eyang kosong melompong. Biar ibu suruh Rudi pindah kesana. Jadi kamar kamu sama Sarah akan ibu lebarkan lagi. Bagaimana?"


"Terserah ibu!" kata Anjas kesal.


Pagi ini Anjas sudah duduk di meja makan diikuti Ayah dan adik sambungnya, Rudi. Tiga pria beda generasi itu sudah di suguhkan menu andalan pagi mie goreng buatan ibu Melani. Rudi melihat di sekelilingnya, tak ada kakak iparnya.


"Kak Sarah mana?" tanya Rudi.


"Belum bangun, tadi malam dia mengerjakan tugas. Sampai baru tidur jam 11 malam." jelas Anjas


"Tugas?" Rudi sedikit kaget. Dia dan Sarah kan sekelas tentu harusnya paham tugas apa yang di berikan.


"Oh, iya. Aku lupa kak. Memang kami ada tugas." jawab Rudi meskipun dia harus bohong.


"Oh iya. Kamu kok tadi malam malah keluyuran?" tanya Bu Melani


"Aku ngerjain tugas, Ma. Kan laptopku tadi malam di pinjam Sarah. Aku biar Ardi saja yang buat tugas." Elak Rudi.


"Oh, ya sudahlah. Eh, tapi kamu dan Sarah kan sekelas. Kok dia belum siap ke kampus?"


Rudi sangat mengenal Sarah. Gadis manja yang pernah ada di hatinya sejak SMA. Hanya saja saat itu ibunya Anjas dan ayahnya Rudi belum menikah. Mereka menikah saat Rudi kelas tiga SMA.


Sejak pertama memacari Sarah masih kelas satu SMA, dia sudah tahu kalau kekasihnya itu tak pernah turun tangan urusan rumah. Seperti misalnya kalau Mila atau ibu Aminah pergi ke dapur. Sarah pasti lebih memilih cuci piring atau membersihkan rumah. Itu juga kalau moodnya lagi bagus. Tapi kalau malasnya kumat, pasti Sarah akan memintanya ajak jalan-jalan. Yang pasti dia tidak akan betah di rumah.


Makanya dia tidak kaget saat tahu Sarah belum bangun tidur padahal sedang ada di rumah mertuanya. Sesaat kepalanya menggeleng saat wanita yang ada di pikirannya sedang berdiri di depan pintu.


"Tuan putri sudah bangun?" sapa Rudi.


Sarah belum terlalu loading dengan sapaan adik iparnya. Gadis itu berjalan melewati Rudi lalu membuka tudung nasi. Matanya seketika membulat melihat menu yang tersaji di bawah tudung nasi.


"Mandi dulu, Sarah. Masih kucel gini malah makan" Rudi menarik Sarah hingga di depan kamar mandi.


"Bang Anjas mana?" Sarah tidak menemukan suaminya.

__ADS_1


"Sudah berangkat kerja"


"Oh. Kamu cepat banget sudah siap?"


"Kan mata kuliah pak Heru, gimana sih? sudah cepat mandi aku tunggu di depan."


"Rudi!" suara menggelegar terdengar dari dekat mereka.


"Ibu," Rudi baru sadar kalau dia terlalu dekat dengan Sarah.


"Kamu lupa dia itu kakak ipar kamu. Jangan terlalu akrab!"


Rudi tersadar dia masih membawa kebiasaan saat bersama Sarah dulu. Melihat sikap mamanya dan juga Sarah yang menatap tajam kepadanya. Rudi memilih pamit pada mamanya. Sungguh dia tidak ada maksud untuk tidak sopan pada Sarah.


"Maaf, Ma. Rudi cuma mau ngingetin mata kuliah nanti ada ujian. Takut Sarah lupa. Rudi berangkat dulu." Rudi langsung menyalami mama Melani. Beberapa saat punggungnya sudah tak terlihat lagi.


"Sarah kamu kuliah jam berapa?" tanya ibu Melani.


"Jam sepuluh,Bu." Sarah menjawab dari dalam kamar mandi.


"Kalau begitu bantu ibu masak, ya." kata Bu Melani.


Sarah menelan salivanya. Masak? sedangkan dia saja tidak pernah menyentuh alat dapur.


"Iya, Bu"


Selesai mandi Sarah pun sudah rapi dan berjalan menuju ke dapur. Melihat ibu mertuanya sangat sibuk mempersiapkan masakan untuk makan siang. Sarah jadi ingat kakaknya yang sebelum subuh sudah bangun. Menyiapkan sarapan untuk ibunya dan juga dua adiknya. Dia menyadari kalau yang di bilang ibunya memang benar.


"Sarah mau belajar yang baik,Bu. Nanti kalau Sarah sukses, ibu tidak perlu kerja. Nanti kalau Sarah punya uang banyak, aku carikan pembantu buat di rumah kita." kata Sarah kala itu.


"Nak, kalau kamu pilih mana? suamimu di layani pembantu apa di layani istri?" tanya Bu Aminah.


"Istri dong, Bu."

__ADS_1


"Nah itu kamu tahu jawabannya. Seorang istri itu harus serba bisa. Akademik dia bagus, menjadi panutan anak-anaknya. Tapi kamu harus ingat sesuksesnya perempuannya tapi tetap utamakan suami dan anak. Pintar masak buat suami, di sayang mertua. Itu sudah poin cukup dalam rumah tangga."


"Cari suami yang kaya saja, Bu. Kayak kak Mila dan Anjas. Itu calon kak Mila sudah sukses walaupun usaha juragan ojek pengkolan." sahut Sarah.


__ADS_2