Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 123


__ADS_3

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa- dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun- daunnya”. (HR.Bukhari no 5660 dan muslim no 2571)


Setiap manusia pasti pernah mengalami sakit, baik sakit ringan ataupun yang berat. Ketika sakit badan akan merasakan tidak nyaman bahkan harus menahan rasa sakit. Terkadang yang mengalamai sakit bisa menjalankan aktivitas dan tetap bekerja seperti biasanya. Namun, ada dalam kondisi tertentu, tidak dapat beraktivitas harus beristirahat total untuk menjalani pengobatan secara intensif.


Saat mendapat anugerah sakit tak selamanya harus disesali, karena terkadang dengan sakit kerap kali mendatangkan beberapa hikmah. Allah menciptakan sakit agar bisa merasakan nikmat sehat, makan dengan leluasa dan dapat beraktivitas serta beribadah dengan baik. Insya Allah sakit dapat menyucikan dosa, menutupi kesalahan, dan mengangkat derajat.


"Sayang, aku berangkat kerja dulu, ya. Anak ayah harus baik-baik biar ibu bisa beraktivitas. " Danu pamit kerja pada istri dan calon anak mereka.


"Uda, jangan lupa obatnya di bawa. Nanti malah drop lagi," Mila meminta suaminya memeriksa barang bawaan.


"Sudah kok sayang. Sekalian aku bawa berkas untuk operasi sumsum tulang belakang. Katanya Ammar dalam waktu dekat ini mau Singapura buat berobat,"


"Alhamdulillah, Uda. Ammar mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya. Semoga kamu bisa sembuh dan bisa hidup normal pada umumnya. Dan anak kita bisa merasakan kasih sayang seorang ayah utuh," Danu melabuhkan kecupan di dahi istrinya.


"Semua berkat doa kamu, doa ibuku juga. Doa orang-orang yang sayang sama aku dan juga sama keluarga kecil kita,"


"Amin, sudah kamu berangkat kerja nanti kesiangan,"


"Aku berangkat, ya" Mila mengangguk setelah menyalami suaminya.


Mila menemani Danu hingga lelaki itu naik ke kuda besi. Senyum merekah di bibir wanita itu sambil memandang punggung lelaki yang sudah delapan bulan menghalalkan dirinya.


"Mila," sapa ibu Dahlia.


"Ibu," Mila menyalami ibu kandungnya.


"Kamu sendirian?" Mila mengangguk kecil.


"Kamu mau ikut ibu ke pasar, yuk," ajak ibu Dahlia.


"Masuk dulu,Bu. Masa ngobrol di luar," Dahlia dan Mila bersamaan masuk ke dalam rumah.


Mila meminta sang ibu untuk duduk di kursi ruang tamu. Sementara dia mau membuat minum untuk sang ibu.


Mila baru saja membuka toples berisi teh celup. Pekerjaannya harus dia hentikan saat getaran handphone terasa di kantong celananya.

__ADS_1


"Iya, Sayang," sapa Mila sudah pasti di tebak siapa yang menelepon.


"Sayang, maaf mengganggu kamu. Coba kamu cek di kamar apakah berkas soal tranpalansi tinggal di rumah. Perasaan aku sudah masuk ke dalam tas tapi kok malah nggak ada,"


"Mau aku antar kesana?" tanya Mila.


"Nggak usah. Aku biar cari alasan lain sama Wisnu. Kalau memang tinggal di rumah nggak masalah. Takutnya tercecer di jalan. Tadi aku sempat kasih makanan kamu sama anak kecil di sekitar Prapto. Kasihan dia cari makan di sekitar tempat sampah. Aku tungguin dia sampai selesai makan. Maaf ya, sayang,"


"Sayang, kayaknya ada di meja depan. Aku lihatnya ada map kuning," kata Mila.


"Alhamdulillah kalau memang di rumah. Yasudah, aku kerja lagi. Tolong di simpan map nya,"


"Iya, sayang. Aku pasti simpan,"


"Assalamualaikum, anak ayah," Mila mendekatkan telepon di pusar perutnya.


"Waalaikumsalam, ayah sayang," Mereka menutup komunikasi.


Mila membawa satu nampan berisi teh hangat untuk sang ibu. Tampak Dahlia memandang photo keluarga di ruang utama.


"Sewaktu ibu seruni mau menikah dengan ayahku, senang sekali aku bakal punya ibu. Apalagi aku dan Aminah dekat sejak kecil. Dari ayah aku tahu kalau ayah kandung Aminah sudah lama kerja dan mengabdi di pabrik sawit kakek kamu.


Aku dan ayahmu pacaran sejak zaman SMA, saat itu umurku 16 dan ayahmu 18 tahun. Aku di berhentikan sekolah, sementara Aminah tetap melanjutkan sekolah. Hanya waktu naik kelas tiga Aminah memilih berhenti sekolah.


Dan kagetnya saat Aminah memutuskan berhenti, ibu dan orangtua Rohim malah berniat menikahkan mereka, .."


"Bu..." Mila memeluk sang ibu.


"Jika memang itu pahit untuk diingat jangan lakukan. Anggap saja kenangan itu tidak pernah ada. Atau kita doakan nenek Seruni di tempatkan yang layak,"


"Maafkan ibu ya, Nak,"


"Soal?"


"Soal ibu lambat memberitahu soal jati diri kamu. Ibu terlalu banyak berpikir sehingga kamu malah membenci ibu,"

__ADS_1


"Aku nggak pernah benci sama ibu. Cuma waktu itu aku masih kaget, Bu,"


"Jadi kita ke pasar?" Mila mengingatkan rencana semula.


"Ibu sudah malas ke mana-mana, Mila. Sepertinya panas udaranya," Dahlia menengok ke pintu. Matahari sudah tinggi.


"Bentar, Bu. Mila ke kamar mandi dulu," Dahlia mengangguk.


Dahlia berjalan menuju kursi tamu. Pandangannya berpusat pada map kuning di meja. Dahlia awalnya enggan membuka apa yang ada di dalam map tersebut. Rasa penasaran semakin besar saat catatan itu menuliskan surat izin operasi transplantasi sumsum tulang belakang. Wanita paruh baya itu mengatupkan kedua tangannya. Dia terkejut apa yang dialami menantunya.


Mila terpaku saat ibu nya membaca isi map tersebut. Buru-buru dia mengambil map tersebut. Dahlia merasa curiga ada yang disembunyikan anak dan menantunya. Sesaat dia menepis rasa curiga mungkin berkas itu bersifat rahasia. Dahlia merasa terlalu lancang sudah membuka catatan itu. Tapi dia juga enggan bertanya lebih lanjut.


"Bu,"


"Mila maaf ibu tadi sudah lancang baca berkas itu. Tapi kalau kamu tidak mau cerita juga tidak apa-apa. Itu rumah tangga kalian, ibu yakin kalian juga punya privasi,"


"Maaf, saat ini memang tidak ada masalah yang besar, jadi masih bisa kami atasi sendiri," jawab Mila.


"Yasudah, kamu sudah makan? ingat kamu lagi hamil. Jangan di tahan-tahan kalau mau sesuatu,"


"Kamu nggak ngidam apa gitu?" Mila menggeleng.


"Bu aku pengen tidur di pangkuan ibu, boleh?" Dahlia mengiyakan permintaan Mila. Tanpa menunggu lama dia merebahkan kepalanya di atas paha ibu Dahlia.


"Cerita dong, Bu. Masa-masa ibu hamil aku. Kata ayah ibu bawa aku kesini pas aku usia empat tahun. Berarti sebelumnya ibu punya kenangan bersamaku dulu,"


"Padahal waktu ibu hamil kamu dulu pengen banget main ke pantai. Tapi ya gitulah ibu terkendala sama minimnya biaya. Ibu juga melahirkan kamu nggak di rumah sakit. Tapi pakai dukun beranak, di bantu sama Ida urus akte kamu. Ibu bilang sama petugas di sana kalau ayahmu meninggal dunia saat kami masih di kandungan.


Kamu lahir di Lampung, kita tinggal di perkampungan kecil. Kalau di bilang kampung sih enggak, masih ramai karena dekat pasar. Masih bisa lihat kota cuma lima belas menit perjalanan.


Ibu cuma punya teman yaitu Ida, mama nya Vika. Kami sama nasibnya, kere,"


"Tapi sekarang Tante Ida jadi orang sukses," sahut Mila.


"Iya karena dia nikah sama duda, usianya juga jauh lebih dewasa dari ayah kamu. Vika punya adik cewek. Meninggal over dosis saat pesta bareng teman-temannya,

__ADS_1


Ya Allah, kok ibu malah ngomongin orang. Padahal ibu sendiri bukan orang baik,"


Mila mendengarkan cerita sang ibu tentang masa saat hamil dan melahirkan dirinya. Kisah pelik yang menyayat hati. Sungguh tidak menyangka sang ibu berjuang sendiri tanpa bantuan siapa-siapa.


__ADS_2