Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 137


__ADS_3

Mila dengan perut besarnya sekarang berdiri di depan pintu resto. Entah kenapa ibu mertuanya meminta datang ke sana. Kehamilan enam bulan yang membuat aktivitasnya terhambat. Bergerak saja susah. Walaupun Danu tetap menjadi sopir setianya.


Sejak fokus kemoterapi Danu mengajukan resign dari rumah sakit. Berat hati dia harus melepaskan pekerjaan yang sudah dia geluti hampir lima tahun. Status honorer yang entah kapan gajinya datang pun menjadi alasan. Adapun penghasilan yang dia dapat karena sering diajak Wisnu dan rekan-rekannya untuk ikut penyuluhan di berbagai daerah provinsi Bengkulu. Paling jauh dia pernah ikut ke daerah Seblat, Perbatasan Bengkulu dan Jambi.


"Ada apa ya, ibu menyuruh kita datang?" tanya Danu.


"Aku juga tidak tahu, Uda. Kita masuk saja dulu, kalau urusannya selesai aku mau ke rumah sakit menengok Sarah."


"Apa Sarah belum ada perubahan?" tanya Danu di balas gelengan kepala Mila.


"Kasihan Sarah kehilangan calon bayi dalam hitungan minggu. Tidak ada yang tahu bagaimana hari esok. Semalam ibu cerita apa yang di jelaskan sama Anjas. Ternyata Anjas sudah pernah menalak Sarah. Alasannya ada sikap Sarah yang tidak bisa di tolerir lagi." jelas Mila.


"Jangan mikir yang sedih-sedih, ingat ada bayi kita yang ikutan sedih. Aku sudah nambah beban pikiran kamu dan aku juga tidak mau kamu semakin kepikiran. Yuk ah, kita ke dalam." Danu menggandeng sang istri dengan mesra.


"Itu si Mila ngapain kesini sama mas perawat?" kata Sandra menampakkan ketidaksukaannya pada Mila.


"Tidak tahu, San. Mungkin ada urusan sama ibu Rubiah," tebak Esti. Dua pekerja dapur tersebut berbalik menyelesaikan tugas mereka masing-masing.


"Kalian sudah datang," sambut Rubiah penuh ramah pada anak dan menantunya.


"Baru sampai kok, Bu. Maaf agak lama kami sampai. Soalnya Lala masih pemulihan harus menunggu ibu Dahlia datang. Supaya ada yang jaga Lala." jelas Danu.


"Lala kenapa? pingsan lagi?" tebak Rubiah. Dia tidak salah menebak karena beberapa waktu yang dulu Lala sempat pingsan di makam ibunya. Jadi wajar kalau dia menebak hal yang sama.


"Lala donorkan darah untuk Sarah semalam. Sarah di temukan pingsan di kamar mandi. Dan harus kehilangan calon anak mereka." cerita Mila.


"Ya Allah, kalian yang sabar, ya. Lalu bagaimana keadaan Sarah?"


"Belum ada perkembangan, Bu." jawab Mila sambil merapikan cara duduknya. Mungkin bawaan hamil membuatnya serba tidak enak. Apalagi duduk di kursi kayu. Danu langsung mencari insiatif mengambil sofa bantal dari ruang mushola.

__ADS_1


"Halo cucu Oma. Wah sudah mau masuk tujuh bulan ya sebentar lagi. Perut kamu bulat Mila, tebak Oma pasti perempuan."


"Perempuan atau laki-laki tidak masalah, Bu. Yang penting dia dan ibunya sehat serta selamat." kata Danu sambil mengusap perut istrinya.


Dan aku harap Allah masih memanjangkan umurku agar bisa mendampingi persalinan Mila.


"Oke, ibu mau instruksi sama yang lain supaya resto kita tutup dulu. Ada yang ingin ibu sampaikan ke kalian semua."


Setelah semua staf dan pegawai lainnya memberi tanda close pada pintu restoran. Mereka pun berkumpul untuk mengetahui apa yang akan di umumkan atasannya. Ada Ando, Ammar, Danu dan juga Sarmila. Sementara Rubiah menuntun mama Diana yang duduk diatas kursi roda. Rubiah pun meminta semua berdoa sesuai keyakinan masing-masing.


"Sebelumnya saya berterimakasih kepada kalian semua menyempatkan waktu untuk berkumpul disini. Alhamdulillah restoran kita sudah berjalan sekitar delapan bulan lamanya. Dari saya membuka di belakang PTM untuk sementara. Hingga bisa mengembangkan sayap di tempat ini.


Saya Rubiah mau memperkenalkan anak kandung saya yang bernama Danu Putra. Anak yang saya cari selama ini, dulu sempat hilang karena keteledoran saya. Dan ini wanita cantik di sebelah saya adalah Sarmila, istrinya Danu. Saat ini saya menantu sosok kecil yang akan memanggilnya sebutan amai.


Amai dalam bahasa Minang artinya nenek.


Danu dan Sarmila, mereka yang akan mengelola restoran ini selama saya mendampingi Diana untuk berobat ke Padang. Sedangkan Ammar akan ke Singapura untuk melakukan pengobatan."


"Sekarang kamu harus baik-baik sama Sarmila, Sandra. Karena dia adalah atasan kita." bisik Tata.


Sandra tersenyum penuh arti. Dia akan berusaha rajin dan nurut sama Mila juga Danu. Tentu supaya bisa bertahan kerja. Zaman sekarang cari kerja saja susah.


"Bu Mila selamat bergabung di restoran ini. Kalau Bu Mila mau sesuatu tinggal bilang sama saya." Sandra mendatangi Mila penuh percaya diri.


"Oh, terimakasih, Sandra." jawab Mila.


Setelah pengumuman dari ibu Rubiah, semua karyawan di minta untuk pulang ke rumah masing-masing. Hari ini dinyatakan libur kerja.


...***...

__ADS_1


"Assalamualaikum!"


Orang-orang di kamar rawat Sarah menoleh kearah suara. Anjas mengerutkan dahinya ketika tahu siapa yang datang. Semua yang ada di dalam menjawab salam kepada tamu tersebut.


"Bu Siti?" Anjas tentu mengenal tukang urut langganan mamanya. Lelaki itu berjalan ke arah wanita paruh baya berpakaian daster motif Raflesia.


"Iya, nak Anjas ini saya." wanita itu terus menundukkan kepalanya.


"Bu Siti mau jenguk Sarah, Ya?" Bu Siti lagi-lagi mengangguk.


Anjas mempersilahkan Bu Siti masuk lalu berdiri di samping ranjang pasien. Wajah Sarah tampak pucat. Akan tetapi tidak menyurutkan kecantikannya.


"Bagaimana kondisinya, Jas?"


"Kata dokter sudah tidak ada masalah. Tinggal tunggu dia sadar. Cuma dia harus kehilangan calon anak kami. Jujur baik aku dan Sarah juga tidak tahu kalau ada janin di perutnya."


"Kamu yang sabar, Ya, Jas. Sebenarnya saya kesini bukan hanya sekedar menjenguk Sarah. Ada hak lain akan saya sampaikan terkait penyebab Sarah seperti ini."


"Apa itu, Bu?"


"Sebelumnya saya minta maaf sama kamu. Terkait apa yang saya sampaikan mungkin membuat kamu pasti marah dan mau menuntut. Saya terima kalau memang itu konsekuensinya. Saya sudah sejak semalam di rundung rasa bersalah."


"Maksud Bu Siti?"


"Sarah dan Bu Melani sudah tiga minggu rajin urut di tempat saya. Alasannya simpel bu Melani ingin punya cucu. Makanya Sarah sering di bawa ke tempat saya." Bu Siti menarik nafas dalam-dalam setelah itu melanjutkan pembahasan utama.


"Kemarin yang ketiga kalinya Sarah dan Bu Melani datang ke tempat saya. Sarah malas sempat nolak di urut, tapi bu Melani maksa. Saya kasihan sama Sarah, dia seperti enggan cari ribut sama Bu Melani. Akhirnya nurut, setelah saya urut, Sarah seperti merintih kesakitan. Dan Bu Melani bilang Sarah pintar akting."


Di dalam ruangan bukan hanya Anjas saja, ada juga ibu Dahlia ikut menemani Sarah. Sebagai seorang ibu darahnya berdesir mendengar penuturan Bu Siti.

__ADS_1


"Anda tahu, ini jatuhnya sama dengan pembunuhan. Kamu dan juga si Melani harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah kalian lakukan. Itu sama saja dengan pembunuhan! Mama kamu sudah keterlaluan, Jas. Saya sebagai keluarganya akan menuntut mama kamu!" amuk ibu Dahlia.


__ADS_2