Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 87


__ADS_3

Acara makan bersama pun selesai. Bu Nurmala dan tamu yang lainnya pun duduk bersantai di teras rumah Mila. Rubiah juga masih ingin meluangkan waktunya bersama Danu, akan tetapi anaknya masih sibuk di dapur bersama Mila.


Jujur ada terselip kagum saat melihat kegesitan menantunya. Walaupun jujur dia sempat berniat jika menemukan anak kandungnya dia akan menjodohkan pada sosok gadis di sana. Nyatakan anaknya sudah berkeluarga, bahkan wanita yang di nikahinya adalah mantan keponakannya, Ammar. Dia juga melihat bagaimana cinta Ammar pada Mila hingga kabur dari pernikahan dengan Vika. Hingga dia pun mendengar baik dari Diana maupun Ida, kalau Mila dan Vika itu dekat. Bahkan malah sudah dianggap anak sendiri oleh Ida.


Ida pernah bilang kalau dia kecewa pada Mila yang pacaran sama Ammar. Padahal sudah tahu kalau Ammar suka sama Vika.


Matahari semakin meninggi sinarnya masih menunjukkan eksistensinya. Meskipun waktu sudah mendekati waktu ashar, sinarnya hangat, sehangat suasana yang terjadi di kediaman milik Sarmila.


Bu Nurmala tadinya hendak ke dapur, memeriksa Mila yang sedari tadi tidak menampakkan diri. Entah kenapa ada perasaan tak enak pada menantunya. Tak berapa lama saat ibu Nurmala masuk dapur bersamaan dengan Mila keluar dari kamar mandi.


"Mila kamu pucat sekali?" Bu Nurmala hendak memapah Mila menuju kursi terdekat.


"Bu .."


"Ya Allah, Mila! Danuuuuuu," panggil Bu Nurmala.


Semua yang ada di ruang depan segera berlari ke dapur. Danu kaget mendapati istrinya tengah pingsan.


"Bawa dia ke kamar dulu, Danu," titah Bu Nurmala.


Danu langsung menggendong istrinya serta membaringkan di atas ranjang. Makwo Rubiah melihat hal itu menatap sinis, baginya apa yang terjadi pada Sarmila hanya drama mencari perhatian.


Rumah Mila menjadi heboh, Sarah baru saja datang sendirian pun kaget. Tujuannya hanya menjenguk keadaan suami kakaknya. Tapi malah kakak perempuannya yang ngedrop.


"Aku kenapa?"


Mila membuka matanya pelan-pelan. Di tatapnya semua yang ada di kamarnya. Tatapan cemas terpancar jelas. Mila masih bingung kenapa dia bisa di kamar.


Seketika dia ingin bangun kepalanya masih terasa berat. Danu memapah tubuh istrinya agar bisa bersandar di headboard ranjang. Setalah dengan posisi sempurna Danu memberikan segelas air putih.


"Terimakasih," suara Mila masih melemah.


"Mas, kenapa kepalaku masih pusing?" Mila memijit-mijit kepalanya.


"Seperti kamu kurang sehat. Tadi saat keluar dari kamar mandi kamu pingsan, sayang,"

__ADS_1


"Iyakah, Mas. Aku tidak tahu apa yang terjadi, kepalaku mulai pusing sejak semalam. Tadi aku bilang sama kamu kalau kepalaku pusing,"


"Apa mungkin karena kak Mila sibuk ngurusin kak Danu? makanya drop kayak gini," kata Sarah.


"Sarah, kapan kamu datang?" Mila kaget melihat kemunculan Sarah. Seingat dia, adiknya belum datang.


"Sarah belum lama sampai, sayang," kata Danu.


"Tadi aku sampai kakak sudah pingsan. Semua yang disini pada heboh karena kakak pingsan di depan kamar mandi. Sama kayak kak Danu kemarin. Jodoh memang aneh," ucapan Sarah terdengar sinis.


"Kamu kapan terakhir haid, Mila?" Bu Nurmala memberanikan diri bertanya pada istri anak asuhnya.


"Pertengahan bulan yang lalu, sekitar dua minggu yang lalu,"


"Apakah kamu pernah memeriksa ke dokter?" Mila menggeleng.


"Sepertinya kamu hamil, Mila. Se moga saja dugaan saya benar," Mila hanya terdiam. Dia belum siap hamil kalau pada akhirnya akan jadi janda.


"Sarah, tolong panggil bidan Ratna kesini," titah Danu.


Sarah meninggalkan kamar Mila dan berjalan menuju rumah bidan Ratna. Rumah yang hanya tinggal menyebrang saja. Tak berapa lama bidan Ratna sudah datang di dampingi Sarah.


"Jadi kak Danu suaminya kak Mila,?" Danu mengangguk.


"Dunia ini sempit, ya. Siapa yang ada disini bisa bantu kak Mila ke kamar mandi?" Tidak ada yang bergerak Bu Nurmala.


Danu menerima tongkat kecil yang di sodorkan Bu Nurmala. Wajahnya terlihat berbinar saat tahu hasilnya. Mila yang baru saja keluar dari kamar mandi berjalan dengan gontai. Tubuhnya masih terasa lemas, apalagi barusan dia kembali muntah kecil.


Tanpa menunggu respon Mila, Danu langsung menghambur ke arah Mila. Rasa bahagia atas hasil yang bergaris dia.


"Alhamdulillah ya Allah engkau titipkan anugerah terindah untuk kami,"


"Selamat, ya kak Mila. Kakak positif hamil," ucap bidan Ratna.


"Alhamdulillah, Mas," Mila tidak tahu harus bahagia atau bersedih. Mengingat waktu yang dimiliki Danu tidak lama lagi. Hatinya masih berperang dengan ketidaksiapan status dan keadaan.

__ADS_1


"Berapa bulan?" tanya Danu.


"Untuk lebih jelasnya, kak Danu langsung ajak kak Mila periksa di puskesmas terdekat. Atau bisa jadi ke rumah sakit terdekat,


Memang dua minggu yang lalu kak Mila sempat mengalami hal yang sama. Hanya saja saya tidak mendeteksi melalui testpack," kata Ratna.


Semua orang yang ada di ruangan memeluk Mila. Mengucapkan selamat kepada sepasang suami-istri tersebut.


"Makwo, apa masih lama disini?" tanya Ando.


"Sepertinya malam ini aku akan menginap disini. Bolehkan Mila?" Danu dan Mila bertukar pandang. Bagaimana mungkin mereka menolak permintaan wanita itu. Mila memahami kalau Makwo Rubiah ingin dekat dengan anak kandungnya. Tapi beda dengan Danu, dia sepertinya masih ingin meluangkan waktu untuk Mila. Kondisi istrinya yang tengah berbadan dua membuatnya ingin memberikan ekstra perhatian.


"Boleh, Bu," jawab Mila.


"Kalau begitu kami pulang dulu, Makwo. Bang Ammar harus banyak istirahat. Kesehatannya sedang tidak baik," kata Ando.


Sarah baru menyadari ada Ammar diantara para tamu. Wanita itu langsung mendatangi Ammar, tentu mengultimatum supaya tidak mengganggu rumah tangga kakaknya.


"Kamu kenapa disini? mau merusak rumah tangga kak Mila? saya minta kamu jangan pernah ganggu mereka. Kak Mila dan Kak Danu sudah bahagia, kamu dengarkan kak Mila hamil, itu sudah membuktikan kalau dia tidak akan berpaling ke kamu lagi," amuk Sarah pada Ammar.


"Sarah!" suara Danu meninggi.


"Sarah, lebih baik kamu pulang, kamu kesini sendiri tanpa membawa Lala. Itu artinya kamu meninggalkan Lala hanya berdua dengan Anjas. Nggak bagus, Sar. Kakak minta kamu pulang ke rumah," kata Mila lirih.


"Kakak usir aku, ini rumah nenekku,"


Sarah merasa di serang tanpa ada yang membela. Padahal yang dia lakukan adalah membela kakaknya. Sembari menyambar tas dia keluar dari rumah kakaknya.


"Sayang, maaf tadi aku membentak Sarah. Aku merasa makin hari dia makin gimana, gitu," ucap Danu merasa tidak enak.


"Sudah seharusnya Sarah di tegaskan, Mas," kata Mila.


Ando pun akhirnya pamit meninggalkan rumah Mila. Sejujurnya dia melihat Ammar sudah pucat sejak masuk ke rumah Mila. Ando yakin ada pundi-pundi memori yang mulai terasah.


"Bang, mau langsung pulang atau..."

__ADS_1


"Kamu bilang Makwo buka cafe di jalan Suprapto, ajak aku kesana. Aku mau jalan-jalan dulu,"


"Baik, bang,"


__ADS_2