
"Ada yang bisa saya bantu,Bu?"
Dokter Wisnu baru saja keluar dari bangsal pasien. Membeludaknya pasien dengan berbagai macam penyakit membuat beberapa dokter kewalahan. Sehingga dokter yang beda spesialis pun harus turun tangan.
Wisnu sudah empat tahun kerja di rumah sakit ternama di Bengkulu. Setamatnya dari fakultas kedokteran universitas Bengkulu, dia pun menjadi dokter magang di sana. Kalau kata orang zaman sekarang dokter honorer.
Wisnu bisa kerja di sana pun berkat koneksi dari Danu, kakak angkatnya. Lelaki yang usianya terpaut dua tahun diatasnya. Saat Danu di bawa kedua orangtuanya ke rumah, dia sudah sekolah taman kanak-kanak. Kata ayahnya mereka sengaja mengadopsi Danu supaya Wisnu ada temannya.
Wisnu juga mendengar dari sang mama, setelah dia lahir mamanya di pastikan tidak akan bisa hamil lagi. Karena faktor usia mama yang tidak memungkinkan untuk hamil lagi. Wisnu lahir saat usia sang mama 47 tahun. Setelah pernikahan dengan papanya menginjak 17 tahun belum juga di berikan keturunan.
Kembali ke masa sekarang
Wisnu memasuki ruang kerjanya setelah mengontrol pasien wabah di salah satu bangsal. Dia ingin meregangkan otot-otot tubuhnya. Rasanya dia mau minta setengah jam saja untuk beristirahat. Sayangnya hal itu di urungkannya ketika melihat seorang wanita duduk di kursi tunggu nya. Bukan hanya seorang wanita tapi ada dua lelaki yang bersama wanita tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?"
"Perkenalkan saya Rubiah, dan mereka keponakan saya Ando dan Ammar,"
"Oh, oke ibu Rubiah, apa ibu ada keluhan? atau mas-mas ini juga punya keluhan," tanya dokter Wisnu.
"Saya mau tanya soal leukimia yang di idap Danu? berapa persen kesempatan sembuhnya? apa yang harus kami lakukan agar Danu tetap bertahan hidup,"
Wisnu mengerutkan dahinya, "Danu? ibu siapanya kak Danu?"
"Saya ibu kandungnya Danu, saya dan Danu baru bertemu beberapa hari ini. Saya kesini mau menebus kesalahan di masa lalu karena sudah teledor membuat Danu hilang di tangan orang lain, dan salah satunya membantu penyembuhan anak saya," jelas Rubiah.
"Jadi anda ibu kandung kak Danu? kenapa baru sekarang anda muncul selama ini kemana?" cerca Wisnu.
"Panjang ceritanya, Dok? yang pasti saya kesini karena Danu bilang anda yang menangani penyakitnya. Dia bilang anda menawarkan kemoterapi di Malaka, kalau boleh berapa biayanya? atau langkah lain untuk penyembuhan Danu," mohon Rubiah.
__ADS_1
Wisnu tidak serta merta langsung percaya cerita wanita tersebut. Dia harus tahu dari Danu apa benar wanita ini adalah ibu kandung kakak angkatnya. Tidak mudah dia langsung membeberkan catatan medis pada orang yang dia anggap masih asing.
"Kenapa kak Danu tidak ikut?"
"Dia masih pemulihan setelah pulang dari rumah sakit, Dok," Ando yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Oh, begitu? begini saja, Bu. Saya harus mempersiapkan datanya dulu. Nanti sekitar satu minggu lagi anda kesini. Karena saya akan ada seminar kesehatan di Jakarta dan baru selesai di perkirakan tiga hari di sana,
Satu hal yang saya mau tanyakan pada anda, jika memang mau kemo kak Danu apa sudah ada persetujuan kak Mila selaku istrinya, karena tanpa itu. Prosedur tidak akan berjalan lancar,"
"Kenapa harus Mila, saya bisa kok menyetujui pengobatan Danu, saya adalah ibu kandungnya. Jadi tidak perlu menunggu Mila," suara ibu Rubiah terdengar gusar.
Wisnu menarik nafas dalam-dalam. Bagaimana dia bisa percaya pada wanita itu kalau sikapnya seperti ini. Terkesan memaksakan kehendaknya, Wisnu mencoba profesional.
"Begini ibu siapa namanya?"
"Rubiah, nama saya Rubiah,"
"Saya mohon kasih tahu apa yang bisa saya lakukan untuk membantu Danu dan Mila. Kasihan Mila sedang hamil mengurus Danu sendirian," Wisnu sedikit terkejut mendengar kabar Mila sedang hamil. Tapi sewaktu Mila di rumah sakit, dia melihat kakak iparnya sempat mual dan muntah.
"Oke, langkah lain agar bisa menyelamatkan kak Danu selain kemoterapi adalah pencangkokan sumsum tulang belakang. Dan itu harus dari keluarga inti,"
"Saya bisa kok, dok. Ambil yang saya saja," kata Rubiah.
"Kami semua bisa kok ikut tes, dok," Ando pun tidak mau kalah.
"Saya juga mau," Ammar pun ikut menyahut.
"Oke, kalian semua akan ikut tes besok," kata Wisnu.
__ADS_1
Setelah keluar dari ruang praktek dokter Wisnu. Rubiah meminta keponakan mengantarkan ke rumah Mila. Sudah tiga hari Rubiah menginap disana, tentu saja untuk lebih dekat dengan anak kandungnya.
Danu lebih banyak di rumah karena memang di suruh libur kerja. Apalagi dia melihat putranya seperti bucin pada Mila.
"Makwo minta kalian jangan cerita soal kemoterapi ataupun soal donor sumsum tulang belakang pada Mila,"
"Kenapa Makwo, bukannya istri harus tahu."
"Aku melihat Danu terlalu bucin sama Mila. Bahkan terlalu menurut pada Mila. Takutnya kalau Mila menolak Danu pun ikut apa kata istrinya,"
Ando tidak bisa berkomentar banyak. Langsung membuka pintu memasukkan abangnya ke dalam. Tubuh Ando yang lebih kecil dari Ammar bisa mengangkut tubuh kakaknya. Setelah itu dia memasukkan kursi roda Ammar ke jok belakang mobil. Rubiah sudah berada di kursi samping sopir. Ando langsung melajukan mobilnya menuju rumah Mila.
"Bang, apa abang bisa tinggal sementara sama kak Danu beberapa hari. Aku mau jenguk mama di Kepahiang. Maaf aku tidak bisa bawa abang untuk sementara. Karena aku diantar sama Rifat. Kebetulan Rifat punya keluarga di sana dan ada urusan disana,"
"Do, kenapa kamu tidak ajak Ammar. Siapa tahu Diana mau ketemu anak kesayangannya,"
"Nanti aku ajak Makwo. Tapi sementara ini biar dia disini dulu," Rubiah tersenyum penuh arti. Seperti mendapat ide cemerlang.
...*****...
"Kamu ada kemajuan, La. Masakan kamu sama enak kayak punya Mila," puji Anjas pada adik iparnya.
"Alhamdulillah kak Anjas suka sama masakan Lala. Tadinya takut nggak enak. Kak Sarah sering bilang punyaku nggak enak," keluh Lala.
"Ya masih mending nggak enak paling tidak bisa belajar lebih baik lagi. Daripada nggak pernah mencoba sama sekali," kata Anjas.
Sarah baru saja pulang dari kampus mendapati suami dan adik kandungnya sedang asyik mengobrol di ruang makan. Anjas menyadari kedatangan istrinya melalui suara pintu yang keras. Setelah pamit pada Lala, Anjas masuk ke kamarnya. Sarah duduk di tepi ranjang versi merajuk. Sebisa mungkin Anjas membujuk istrinya.
"Kenapa kesini? nggak sekalian menemani Lala,"
__ADS_1
"Ya ampun sayang, kamu cemburu sama anak kecil. Kamu tahu, Lala tadi masak enak banget. Aku pikir dia nggak bisa masak, ternyata buatan dia enak sama kayak buatan Mila," Sarah mendengar nama Mila, wajahnya langsung memerah.
"Kenapa semua lelaki suka memuji kak Mila? Padahal aku lah yang jadi primadona di keluarga. Bahkan beberapa lelaki yang mendekati kak Mila lebih menyukai aku,"