Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 97


__ADS_3

"Marhaban ya Ramadhan, bulan suci penuh berkah telah tiba. Saatnya untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya, menjauhi keburukan, memperbanyak ibadah. Dengan segala kerendahan hati, mohon maaf lahir dan batin. Marhaban ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa.”


Ucapan itu terdengar dalam operator rumah sakit, dimana Lala sedang di rawat. Mila, Eva dan juga Danu pun merasa bersyukur masih bisa bertemu dengan bulan Ramadhan.


Bagi Mila dan Danu, ini tahun pertama mereka melewati Ramadhan dengan status baru, yaitu suami istri. Di tambah mereka di berkahi benih yang tertanam di rahim Mila.


Bagi Danu, dia bersyukur karena masih berumur panjang. Melewati Ramadhan di sisa usianya, Danu tahu kalau waktunya hanya sebatas satu tahun. Dulu saat masih kecil dia belum paham kalau kematian bisa saja menyapanya. Dia hanya tahu kalau sering


sakit-sakitan. Tapi seiring bertambah usianya Danu berusaha menjalani hidup sehat, menjauhi rokok, dan sejenisnya. Bahkan dia membatasi pertemuannya. Danu hanya bergaul dengan beberapa teman, rata-rata ya alumni panti.


Akan tetapi justru Wisnu lah yang sering bersamanya mengingatkannya akan berharganya kesehatan. Saling mendukung satu sama lain meskipun bukan sekandung. Setelah ibunya Wisnu tiada, Danu memilih pulang ke panti. Wisnu sempat menahan sang kakak angkat untuk tinggal bersamanya. Hanya saja, bagi Danu separuh nyawanya sudah berada di panti. Dia juga tidak betah pulang ke rumah Wisnu yang sepi.


Dan sekarang dia sudah berada di angka 3 untuk usianya. Angka yang harus menajamkan kepekaannya untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang dia sayang. Angka dimana harus memundurkan waktu hidupnya di dunia.


"Sayang, kamu besok jangan puasa dulu," kata Danu.


"Kenapa, Mas? aku mau puasa, rasanya rugi meninggalkan puasa hanya karena sedang berbadan dua," jawab Mila.


"Kalau kamu masih morning sick, lebih baik jangan dulu. Atau aku ikut nggak puasa biar bisa menemani kamu. Lagian aku juga harus minum obat yang di berikan Wisnu, sama Lala juga besok belum bisa puasa, jadi ada temannya," kata Danu.


Eva mendengar Danu harus menghabis obat, merasa heran. Bukankah Danu hanya demam karena imunnya menurun. Kenapa masih harus minum obat sesuai dosis? pertanyaan itu hanya dia pendam dalam hati. Untuk banyak bertanya dia pun merasa segan.


Sudah lama ingin dia tanyakan hal itu pada keduanya. Bukan maksud ingin tahu urusan keluarga Mila. Akan tetapi jika ada hal yang mendesak siapa tahu mereka bisa bantu.


Eva pun meluapkan rasa penasarannya pada Mila dan Danu.


"Sebenarnya aku mau tanya sesuatu pada kalian? terutama kamu, Danu? apa yang sebenarnya terjadi sama kamu? sakit parahkah atau sekedar sakit biasa?


Bukan maksud aku mau tahu urusan kalian. Tapi ini demi Mila, jika kamu menyembunyikan sesuatu di belakang Mila, katakan yang sejujurnya. Jangan buat Mila bersedih lagi," Eva terus mencerocos tanpa memberikan jeda untuk Danu berbicara.


"Tidak ada, Va. Tidak ada yang dia sembunyikan dari aku, Va," jawab Mila.


"Yakin tidak ada, dia dua kali pingsan dalam keadaan mimisan. Apakah kamu tidak curiga kalau dia punya penyakit lain? Jangan-jangan dia leu ...."


"Va, sudah aku bilang. Tidak ada yang dia sembunyikan dari aku. Dari hal yang berat sampai yang sekecil apapun dia selalu terbuka. Jadi pikiran kamu berlebihan," Mila terus menyela ucapan Eva.


Dia tidak bohong. Memang tidak ada yang di sembunyikan oleh suaminya. Termasuk soal leukimia yang di idap Danu. Tapi untuk terbuka pada orang lain meskipun saudara sekalipun rasanya masih tabu buat Mila.


"Mila, aku pulang dulu, nanti gantian sama tulang Boro jaga Lala. Eh, tapi tulang Boro lagi ke Medan mau bicarakan soal pernikahannya," kata Eva.

__ADS_1


"Pokoknya sudah isya, Insyaallah aku balik kesini. Dan kamu harus pulang ke rumah. Lihat wajah kamu pucat sekali. Dan kamu Danu, temani Mila, sebab di rumah tidak ada orang. Kamu harus siaga di dekat Mila," titah Eva.


Danu menggangguk. Eva akhirnya pamit pada Mila, Danu dan Bu Nurmala.


"Ya Allah, ibu lupa. Nanti kan di panti ada acara. Maaf, Danu, Mila, ibu juga harus pulang, mana acaranya selesai isya. Walaupun itu sudah di persiapkan oleh ibu anggota Muhammadiyah, tapi kan tetap saja kita harus ontime,"


"Iya, Bu tidak apa-apa. Terimakasih sudah menyempatkan datang kesini. Maaf kami tidak bisa ikut acara di sana. Soalnya adik saya masih belum sadar,"


"Kamu yang sabar, ya Mila. Ini adalah ujian dari Allah. Ujian yang di berikan agar umat manusia tidak pernah lupa padanya," kata Bu Nurmala.


Pada akhirnya hanya mereka berdua tinggal di kamar rawat Lala. Danu pamit sebentar, tak lama dia pun kembali membawa mukena dan sajadah dua buah.


"Mas, besok kita konsultasi sama dokter saja. Siapa tahu ada vitamin untuk penguat janin. Supaya tahan puasa, rasanya rugi meninggalkan puasa," Mila tiba-tiba berlari ke kamar mandi. Perutnya terasa mual, pandangannya terasa berkunang-kunang.


Danu langsung sigap membimbing Mila duduk kursi dekat brankar Lala. Tangan kekar itu memijit leher istrinya, meskipun pada akhirnya kembali berlari ke kamar mandi.


"Mas, aku nggak kuat aroma rumah sakit. Nggak tahu kenapa? tapi aku akan berusaha tahan, tidak mungkin meninggalkan Lala sendirian di sini, Eva juga sudah pulang,"


"Kalau kamu tidak kuat, kita pulang saja. Kamu istirahat di rumah biar aku yang jaga Lala. Nanti aku telepon temanku buat menemani di sini,


Kan Eva sendirian di rumah. Jadi minta Eva menemani kamu,"


"Aku sholat dulu, ya. Kamu kalau tidak kuat duduk bentang tikar saja. Aku banyak kenalan disini karena pernah honor satu tahun. Jadi tidak masalah kalau aku pinjam beberapa alat disini,"


"Aku juga sholat, Mas," Mila berjalan gontai menuju kamar mandi.


"Pintu nya di buka saja, Sayang," panggil Danu.


Dia takut terjadi sesuatu pada Mila. Apalagi istrinya baru saja mengeluarkan isi perutnya.


"Iya, Mas,"


Mila dan Danu memulai sholat Maghrib berjamaah di dalam kamar rawat Lala. Tanpa sepengetahuan mereka Lala sedikit membuka matanya. Pandangan teduh dengan apa yang di lihatnya membuat air matanya menetes.


*****


Anjas pulang ke rumah setelah menenangkan diri di mesjid. Bukan pulang ke rumahnya bersama Sarah. Melainkan pulang ke rumahnya di rawamakmur. Tampak ibu Melani dan warga lainnya sibuk membersihkan sisa air yang masuk ke rumah.


"Kamu pulang, Nak," ibu Melani menyambut kedatangan putra sulungnya.

__ADS_1


"Iya,Ma. Sepertinya kedatangannya aku tidak tepat waktu," Anjas merasa tidak.


"Siapa bilang? ini rumah kamu, Nak. Kamu lahir dan besar disini. Jadi wajar kalau pulang kesini,"


Rudi yang mendengar ucapan ibu tirinya, hanya menarik nafas dalam-dalam. Mau iri? faktanya dia dan ayahnya lah yang menumpang di sini. Anjas memang lebih di sayang oleh ayah dan ibu Melani. Selain tampan, lelaki itu juga bekerja membangun usaha sendiri. Beda dengan Rudi yang masih meminta uang dengan ayahnya.


"Mama,. buatkan teh untuk kamu, ya, Nak," Bu Melani masih bersemangat dengan kepulangan Anjas.


"Biar aku yang buat teh nya, mama istirahat saja. Dari tadi mama tidak berhenti bekerja," sahut Rudi.


Beberapa saat kemudian Rudi kembali mendatangi Anjas yang duduk di ruang tamu.


"Bang, ini teh nya," sapa Rudi sambil duduk di depan kakak tirinya.


"Terimakasih,"


"Abang kok nggak sama Lala, kan tadi mama suruh bawa Lala,"


"Lala pergi dari rumah, entah apa yang membuat anak itu tiba-tiba meninggalkan rumah. Ini semua salah Sarah, dia sudah keterlaluan. Aku tidak tahu lagi bagaimana mengarahkan Sarah,"


"Abang shalat dan istikharah. Minta petunjuk pada Allah yang maha kuasa. Siapa tahu kalau abang berdoa bisa membuka hati Sarah.


Maaf, Bang. Bukan aku ikut campur. Selama aku kenal dengan Sarah saat SMP, hingga sebelum kalian menikah. Aku tahu kalau Sarah itu punya sisi baik,


Cuma satu kelemahannya, kalau cemburu dia akan membenci orang itu. Dulu ada Esta yang akrab sama aku, mungkin karena aku ingin Sarah banyak belajar sama Esta, membuat dia terlihat posesif sama aku. Jangankan Esta, yang berhubungan dengan Esta seperti temannya atau orang terdekat dia musuhi juga.


Begitu juga dengan kak Mila. Aku tahu kalau abang mau Sarah seperti kak Mila, dari sikapnya atau dalam mengurusi rumah tangga. Tapi coba abang ajak dia masak bareng, nyuci piring sama-sama. Atau bantuin dia ngerjain tugas. Aku rasa pelan-pelan dia akan paham,"


...****...


Sarah terbangun dari tidurnya, suara adzan pun terdengar sangat merdu. Pandangannya berputar ke sekelilingnya. Ternyata suaminya belum pulang. Lampu di rumah terlihat gelap.


Seingatnya, dia sudah menghidupkan lampu setelah sholat Maghrib. Tapi setelah makan masakan Lala dia merasa kenyang dan mengantuk. Tadinya dia mau ke rumah Mila untuk menemui Lala. Tapi nyatanya rasa kantuk pun tak bisa di kompromi. Hingga akhirnya tertidur kembali.


"Bang Anjas kok belum pulang? apa dia masih marah sama aku. Ini sudah jam malam. Ya Allah sepertinya mati, aku harus mengecek keluar," Sarah pun turun dari ranjang.


Namun yang bikin dia kaget bukan kepalang merasa air menggenang sebatas di bawah lutut kakinya. Sarah tentu ketakutan, mana dia sendiri di rumah dan mati lampu. Dia urungkan niatnya untuk keluar kamar. Meringkuk sendirian di atas ranjang.


"Bu, ibu ... Sarah takut," Isaknya.

__ADS_1


Sarah mau mengambil handphonenya. Baru dia ingat kalau handphonenya tertinggal di dapur. Sekarang dia hanya meratapi semua yang dialaminya.


__ADS_2