
"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanya Tulang Boro.
Dokter muda yang bernama Iqbal itu dengan ramah menjelaskan kalau nenek Seruni hanya kelelahan saja. Semua yang mendengar penjelasan dokter tampan itu mengucapkan Alhamdulillah. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Setelah penanganan dari rumah sakit, nenek Seruni di minta di inapkan selama satu hari.
Sementara Lala diminta menginap di rumah Eva selama nenek masih di rumah sakit. Lala sangat sedih mendengar neneknya sakit, dia juga sedih karena kedua kakaknya tidak ada di dekatnya. Lala pun tak mau keluar kamar.
Eva menatap iba pada gadis 12 tahun itu.
"Kakak Mila kok nggak pulang-pulang. Lala takut kalau nenek kenapa-kenapa. Lala tidak punya siapa-siapa."Isak tangisnya.
Eva memeluk Lala yang masih bersedih. Membujuk gadis kecil itu agar sholat dan mendoakan neneknya.
"Lala, kakak tahu kamu pasti merindukan kedua kakakmu. Kak Eva nanti akan temui Sarah supaya dia pulang."
"Aku nggak mau kak Sarah. Gara-gara kak Sarah nenek jadi sakit. Aku mau kak Mila saja yang pulang."
"Kamu bilang gara-gara Sarah nenek jadi sakit."
"Gara-gara aku juga, kak. Kalau aku tidak mengadu sama nenek soal uang yang diambil kak Sarah. Mungkin nenek tidak akan sakit. Mungkin nenek masih sehat, kak Eva."
"Apa yang di lakukan Sarah?"
Lala akhirnya menceritakan pada Eva kalau Sarah mengambil uang yang di berikan Mila. Lala juga tahu kalau neneknya melabrak Sarah di kontrakan. Maka itu dia merasa bersalah sudah menceritakan pada nenek Seruni. Eva merasa geram pada Sarah. Padahal semalam Sarah datang bersama Anjas membicarakan soal kepergian Mila ke Lampung.
"Dasar labil!" kata Eva dengan geram.
"Sudah Lala tenang saja. Nanti biar kak Eva marahi kak Sarah. Ini bukan salah nenek Seruni, tapi Sarah yang tidak tahu diri."
Eva menghubungi Mila mengabari soal yang terjadi sama nenek Seruni. Eva awalnya sangsi untuk memberitahukan soal nenek Seruni. Mengingat bagaimana nenek Seruni memperlakukan Mila selama ini.
Eva mendengar suara nada handphone. Sebagai tanda kalau yang di hubungi tersambung. Lama Eva mencoba mencoba menghubungi, tapi tetap tidak diangkat.
"Sudahlah, aku yakin kalau Mila ..."
Kriiiiing kriiiiing ...
Eva senang kalau ternyata Mila meneleponnya kembali. Dengan cepat dia langsung menyerbu handphone yang tadi di letakkan di nakas.
"Halo, Mila. Ya Allah aku pikir kamu nggak mau mengangkat teleponku." kata Eva dengan nada riang.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Va? senang banget dengarnya."
"Bagaimana aku nggak senang. Aku kangen sama kamu, Mila. Kamu sejak di Lampung nggak pernah ngabarin aku ataupun Lala. Lala sering nanyain kamu, Mil."
"Ya ampun, Eva. Aku sekarang sudah kerja di tempat saudaranya Vika. Aku mengasuh cucu. Kadang tidak sempat buka handphone. Bagaimana keadaan disana. Baik-baik saja kan?"
"Kami baik, Va. Tapi sebenarnya ada yang mau aku sampaikan."
"Kenapa, Va?"
"Nenek Seruni masuk rumah sakit. Tadi pagi kedapatan pingsan di ruang tamu. Sekarang masih di rumah sakit, Lala ada di tempatku. Kamu bisa pulang kan?"
"Lihat sikon dulu."
"Aku tahu kamu tidak akan mudah memaafkan nenek. Tapi tolong, Mila. Lala butuh kamu. Dia down banget karena dia yang menemukan nenek pingsan."
"Lalu Sarah?"
"Please, kamu jangan andalkan adik kamu yang bucin itu. Nggak ada gunanya, dia nyari kamu, dia menemui Lala pas lagi ada maunya. Please, Mila."
"Iya, nanti aku bicarakan sama atasanku."
Malam ini Mila menemui bude Lia dan Fera. Tentu saja membicarakan soal neneknya yang sakit. Dia sudah mulai nyaman di keluarga itu. Tapi di hati kecilnya mengkhawatirkan adik bungsunya. Bude Lia dan Fera sedang asyik makan malam di ruang makan. Mila yang sedang menemani Intan bermain di ruang tengah.
" Walaupun kamu tidak memiliki kecocokan dengan nenekmu, sekarang inilah kamu membuktikan padanya kalau kamu sayang sama nenekmu. Bude yakin hati nenekmu akan luluh melihat kesungguhan kamu, nak. Kamu itu orang baik."
"Terimakasih, bude."
"Kenapa aku merasa sesayang ini sama Mila. Aku jadi ingat anakku dengan rohim. Dimana mereka sekarang?"
Bude Lia pernah mendatangi kediaman ibu tirinya di desa Sindang Sari, kabupeten Rejanglebong. Dimana dia tinggal disana dari kecil hingga remaja. Tentu saja dia mencari keberadaan anaknya. Mau mengambil anaknya kembali. Tapi kata orang sekitar kalau keluarganya sudah lama pindah ke Bengkulu.
"Lalu bagaimana dengan pencarian ayahku, bude." suara Mila mengagetkan lamunannya.
"Urus yang pasti dulu,nak. Nenekmu dan adik adikmu lebih membutuhkanmu nak."
"Kamu siap siap biar bude dan Fera yang urus tiket pesawatnya."
Pesawat? Alhamdulillah akhirnya aku naik pesawat.
__ADS_1
"Makasih bude, kita baru kenal tapi bude dan Fera sudah baik banget sama aku."
****
Ammar mendatangi kediaman bude Lia. Tujuannya hanya sekedar bersilaturahmi. Tapi dia juga mau bicara empat mata dengan Mila.
Sejak mengantarkan intan bersama Mila. Ammar dan Mila tidak perlu waktu yang lama untuk menjadi akrab. Sosok Ammar yang dingin dan jutek kini sedikit mencair. Tidak ada jarak antara dirinya dan Mila. Ammar pun tak sungkan menceritakan soal perasaannya pada Vika. Mila pun tak sungkan menceritakan soal Anjas pada Ammar. Anjas yang sebentar lagi bakal jadi adik iparnya.
Malam ini keduanya berjalan di sekitar komplek perumahan. Alasannya mencari makanan. Ammar pun mengiringi langkah kaki Mila. Entah kenapa Ammar merasa deg-degan saat berjalan bersama Mila.
"Mila," suara Ammar terdengar lirih.
"Iya,"
"Aku ..."
"Kamu kenapa?"
"Aku ...."
"Oh kamu lapar kan? pucuk cinta ulam tiba. Itu ada Abang nasi goreng. Kayaknya enak,Yuk."
Mila berjalan meninggalkan Ammar yang masih terbengong-bengong.
Kenapa susah sekali bilang cinta sama kamu Mila?
Kamu tahu Mila sejak beberapa hari kedekatan kita. Perasaanku pada Vika sudah terkikis. Untuk apa aku mengharapkan cinta wanita yang jelas tak punya rasa padaku. Aku tahu mama sangat suka sama Vika. Tapi yang menjalani adalah aku bukan mereka.
Tapi aku harus pastikan kalau Mila punya perasaan yang sama. Aku tidak mau bertepuk sebelah tangan lagi.
Ammar melihat Mila sedang asyik bertelepon. Entah pada siapa yang pasti Mila tampak riang. Ammar duduk di salah satu kursi di yang di sediakan Abang nasi goreng. Sambil menyantap nasi goreng memulai strategi mengungkapkan perasaannya pada Mila.
"Senang banget kayaknya?" timpal Ammar
"Tentu saja. Kalau temanku bahagia. Aku pun ikut bahagia."
"Oh ya, teman yang mana?" tebak Ammar.
"Ceilehhhh, pura-pura nggak tahu. Selamat ya, pak." Mila menyodorkan tangannya.
__ADS_1
"Selamat apa?" Ammar makin bingung.
"Tadi Vika bilang dia menerima lamaran bapak jadi calon istrinya. Bapak senang dong bakal jadi sama gadis pujaan."