Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 25


__ADS_3

"kak Mila! kak Mila!" Suara Lala adik bungsunya.


"Ada apa, La?"


"Itu ada dua cowok ganteng nungguin kakak."


"Dua?"


"Iya, Kak Ammar dan kak Danu."


"Kakak emang ada janji sama kak Danu, La."


"Ciyeeee...."


Mila melepaskan mukenanya. Dia baru selesai melaksanakan sholat Dhuha. Mila menyisir rambutnya. Sesaat menatap cermin lalu meninggalkan kamarnya.


"Ehmmm ... " Mila menyapa dua lelaki yang saling diam-diaman.


"Mila!" Kedua lelaki itu serempak memanggil gadis itu.


"Ammar ada apa? tumben jam segini kamu sudah keluyuran."


"Emang kenapa kalau aku kesini? nggak boleh? ya kan aku kangen sama kamu."


"Mar, kita ini bukan anak kecil lagi. Kita ini sudah tua. Jadi tidak usah lebay. Aku ada kegiatan posyandu dengan Danu. Jadi tidak bisa berlama-lama."


"Oh, jadi kamu mau jalan dengan Danu? sampai ngusir aku, gitu?"


"Bukan begitu, Mar. Aku ..." Mila selalu kehabisan kata jika di dekat Ammar.


"Danu, kamu duluan saja. Nanti aku susul. Tolong sharelock alamatnya."


Ada rasa berat Danu membangkitkan tubuhnya. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak bisa memaksa. Padahal ini kesempatan dia untuk bisa dekat dengan Mila.


"Oke, nanti aku sharelock alamatnya. Jangan lama-lama. Aku nggak enak sama panitia yang lain."


"Iya, aku bakal ontime. Cuma saat ini aku perlu ngomong sama Ammar dulu. Nggak apa-apa kan?" Danu mengangguk kecil.


Setelah Danu pergi Mila meminta Ammar menjelaskan maksud kedatangannya. Dia tidak mau di cap wanita yang membuat Ammar mengabaikan pekerjaannya. Pasalnya bukan pertama Ammar datang di saat jam kerja. Jam dimana orang-orang mengais rezeki. Tapi lelaki yang ada didepannya memilih mengapeli dirinya.


"Mila, nanti sore Vika adain pengajian."


"Kamu mau ajak aku? bukannya Vika tidak suka sama aku. Pengajian apa sih? kalian mau merid?"


"Bukan sayang. Aku sendiri nggak tahu acara apa. Kita datang saja. Mama minta aku datang ke acara bawa kamu."


"Mama kamu? kok bisa bukannya dia nggak suka sama aku. kenapa dia malah minta kamu bawa aku ke acara Vika."


"Ya, mana aku tahu, sayang. Kamu itu coba positif thinking dulu. Siapa tahu mama sudah luluh dengan hubungan kita?"


"Entahlah, Mar. Aku merasa banyak sekali tembok untuk kita. Kamu sendiri paham bagaimana ibu Diana sangat menentang hubungan kita. Dan semalaman aku sudah berpikir, kalau ..."


"Kamu mau menyerah? padahal aku sudah berusaha mendekatkan kalian. Tapi kenapa sih kamu tidak menghargai usahaku. Kamu bersikap seolah ingin mengatakan sudahlah kita selesai saja."


"Bukan begitu, Mar."


"Tidak. Aku merasa kamu yang mau meninggalkan aku perlahan-lahan. Kejadian malam itu bukan yang pertama, Mila. Waktu kamu aku ajak ke rumah, kamu malah pulang padahal kita belum lama sampai. Seakan kamu tidak ada etikanya dalam bertamu.


Kamu mau bilang diusir mamaku, iya! tidak mungkin mama ku langsung mengusir kamu."


"Tapi faktanya, mama kamu memang mengusir aku, Mar. Dari sikap mama kamu dan adikmu saja sudah jelas. kalau mereka memberikan jarak dalam hubungan kita. Dan kamu bilang aku nggak punya etika.


Siapa yang tidak punya etika dalam hal ini. Kamu atau aku, Mar. Kamu bahkan tidak memberikan ketegasan antara aku dan Vika. Kamu bahkan tidak pernah mau membaur dengan keluargaku. Setiap kamu datang kesini, kamu bersikap hanya untuk mengapeli aku. Apakah itu yang namanya etika?


Seperti kata pepatah cintai orang tuanya dulu baru anaknya. Dan aku tidak melihat itu."


Mendengar kata Ammar, perasaan Mila sangat sesak. Rasanya dia ingin mencari pelabuhan untuk melepaskan rasa sesak itu. Ia berharap ada titik terang untuk hubungannya. Tapi rasanya semakin jauh. Dia butuh tempat berkeluh kesah.

__ADS_1


"Mar, antarkan aku ke tempat janjian dengan Danu. Aku tidak enak sudah janji membantunya."


"Kita sedang bahas soal kelangsungan hubungan kita. Dan kamu masih sempatnya ingat sama Danu." Ammar menggelengkan kepalanya.


Mila terpaku saat Ammar tengah gusar ketika meninggalkan rumahnya. Dia bingung sejak pacaran dengan Ammar banyak sekali masalah yang datang.


"Maafkan aku, Mar."


Mila pun meninggalkan rumah menaiki motor ojek yang mangkal di depan gang. Perasaannya gelisah karena kemarahan Ammar tadi.


Sesampainya di tempat posyandu, Mila pun langsung di beri tugas mencatat semua data pasien. Melihat anak kecil yang menangis ketika akan di berikan obat, Mila pun turun tangan membujuk anak-anak tersebut.


Waktu terus bergulir, kegiatan posyandu pun selesai. Mila menyerahkan bahan tugasnya pada panitia setempat.


"Mila," sapa Danu.


"Iya,"


"Kenapa kamu tidak diantar Ammar?"


"Tidak apa-apa, Danu. Dia ada kerjaan jadi tidak sempat mengantarkan aku." kilah nya.


"Kalian bertengkar lagi?"


"Ma... maksud kamu?"


"Maaf, Mila. Beberapa hari yang lalu aku melihat kamu berdebat sama Ammar di depan teras rumah. Aku tidak tahu apa yang kalian debatkan tapi yang pasti, aku melihat kamu sepertinya tertekan dengan semua ini.Aku tidak maksa kamu mau cerita.


Tapi satu, Mil. Jika kamu punya masalah dalam kehidupan cuma satu yang bisa kamu ajak curhat."


"Siapa?"


"Allah. Hanya Allah yang bisa membuat umatnya tenang. Tentu Allah Swt akan mendengarkan segala curhatan umatnya, terkadang petunjuk datang tidak semudah yang di inginkan. Oh salah, petunjuk tersebut sering ada namun kita tidak menyadari, malah menyepelekan. Jadi hanya kepada-nya kita bisa melepaskan semua uneg-unegnya."


"Terimakasih, Danu."


"Vika dan Zidan? kenapa dia cepat sekali berpindah hati?"


Mila membalikkan badannya. Dia urung mendatangi rumah Vika. Langkahnya tertahan saat ada suara memanggilnya. Mila pun menoleh, melihat ada Fera dan juga Bude Lia berjalan menghampiri dirinya.


"Bude kapan sampai?" tanya Mila.


"Semalam kami sampai. Ada intan di dalam, yuk masuk." ajak bude Lia.


"Enggak bude, aku nggak diundang. Tidak enak kalau masuk."


"Ini bukan pesta pernikahan. Tapi aku nggak nyangka sama calonnya Vika. Aku pikir dia suka sama kamu." cerocos Fera.


"Apa ini acara Vika dan Ammar?" batin Mila.


Mila ingat tadi sempat sama di temani Danu. Saat Mila kembali ke depan rumah, Danu sudah tidak ada di tempat. Entah kemana pemuda itu. Mila berusaha menghubungi Danu tapi tidak diangkat. Akhirnya Mila memilih kembali ke dalam.


Sementara di counter, Ammar baru saja selesai melayani pembeli. Dia saja hendak ke gudang mengecek barang, salah satu pegawai mendatangi. pegawai yang bernama Anang itu meminta izin atas perwakilan temannya yang lain untuk datang ke acara Vika. Mereka beralasan tidak enak karena sudah janji bantu-bantu disana.


"Yasudah, kita semua tutup toko saja. Saya juga diundang sama Vika." jawab Ammar.


"Kok pak Ammar di undang bukannya ...."


"Cepat tutup toko sebelum saya berubah pikiran." ucap Ammar tegas.


"Eh, iya, pak."


Setelah selesai menutup counternya. Ammar pun menaiki motor gedenya. Ada rasa penasaran, acara apa yang diadakan di rumah Vika. Jarak jalan Supratman dan tanah patah tidaklah jauh. Hanya saja rumah Vika masuk ke dalam gang besar. Dimana terdapat perumahan yang sudah modern berjejer di sana.


Sampai di depan rumah Vika, Ammar turun dari motor. Amar melihat keramaian di rumah Vika.


"Pak, ini acara apa?"

__ADS_1


"Lamaran neng Vika dengan mas Zidan" kata petugas di sana


"Lamaran?"


Ammar masuk ke dalam melihat suasana, banyak karyawan bengkelnya yang ikut membantu.


"Kenapa kamu nggak ngabarin kalo mau tunangan?"


Vika yang sedang di rias mendelik kearah  Ammar, mengkodekan para perias untuk keluar kamar.


"Maaf kak."


"Maaf soal apa, katanya bukan orang lain sudah seperti saudara, urusan seperti ini tidak cerita dulu." Ammar masih bersikap santai.


"Ya, maaf tidak memberitahukan kak Ammar"


Sementara Vika tahu kalau ada Mila yang diajak bude Lia. Dia bersikap sudah tidak ada masalah dengan Mila. Tanpa curiga Mila menerima permintaan maaf dari Vika.


"Ya, masuk" kata Vika


"Vik, sudah siap be ...." Mila kaget Vika di kamar berdua dengan ammar


"Maaf ganggu" Mila keluar ruangan


Ammar kaget melihat Mila juga ada di acara ini. Amar mengejar Mila tapi di tahan sama Vika.


"Nah, ini lelakinya" Mama Diana datang ke ruangan rias vika. Ammar kaget, ternyata ini rencana pertunangan amar dan Vika.


"Bukannya Vika mau tunangan sama Zidan?"


"Lupa, ya kalo nama kamu amar nur Zidan" kata mama Diana.


"Bu, ibu ini Lo calon menantu saya"


Kata mama Ida sambil menggandeng Ammar.


Mata amar mencari keberadaan Mila.


Mila terdiam, secara tidak langsung dia sudah merasa di permalukan, di depan keluarga Vika, di teman teman yang mendukungnya menerima lamaran amar, di depan teman temannya yang mencibir adegan lamaran amar pada dirinya.


"Kamu tau kan,mil. Siapa yang sebenarnya akan di pilih amar dan keluarganya" bisik Vika pada Mila


Vika dan amar pergi ke teras belakang, Mila mengambil tas dan akan pulang, dan mendengar percakapan mereka.


"Ngomong apa kamu sama Mila?" amar tiba-tiba datang


"ini bukan keinginan Vika. Vika  Juga sebenarnya tidak enak sama Mila"


"Nggak enak katamu.Setelah kacau begini kamu bilang nggak, enak!"


"Maksudnya kak ammar?"


"Kamu sendiri yang minta aku dekatin Mila, ambil hatinya dia, sekarang pas puncaknya kamu bilang nggak enak!"


"Maaf kak" Vika menunduk


"KAMU TAU AKU MENCOBA BELAJAR MENCINTAI MILA, WALAUPUN RASA CINTAKU LEBIH BESAR PADAMU, RAVIKA" gertak amar.


Mila kaget, jadi selama ini yang di lakukan Amar bukan tulus, tapi karena dorongan Vika. Mila pergi membawa rasa kecewa yang mendalam, bukan karena amar tapi karena menjadi kambing hitam urusan mereka.


Saat Mila sudah pergi. Amar melanjutkan ucapannya.


" Tapi sekarang,  rasa cintaku lebih besar pada Mila daripada sama kamu Vika."


Amar pergi meninggalkan vika yang hancur perasaannya. Seketika ada rasa benci pada vika.


"Mila, ini semua gara-gara kamu. DASAR TEMAN MAKAN TEMEN!"

__ADS_1


__ADS_2