
Acara buka bersama berlangsung dengan baik. Baik Mila maupun keluarga yang lain menikmati masakan buatan ibu Rubiah. Mila memuji masakan ibu mertuanya. Bukan pujian basa-basi tapi memang enak masakannya.
"Masakan ibu enak sekali, lebih enak dari masakan buatan saya," puji Mila.
"Masakan kamu juga enak sayang. Sepertinya kamu belajar masak sama ibu, biar belajar masak yang bersantan," sahut Danu.
"Iya, Mas. Aku akan sering main ke sini, belajar masak sama ibu. Eh, kalau aku main ke resto boleh nggak, Bu?"
"Boleh Mila, Waktu kecil Danu suka sekali kalau ibu goreng paru sapi,"
"Pantas saja kalau aku bikin sambal paru lahap sekali, ternyata ini kesukaan kamu juga, Mas,"
"Mila, kami ini keluarga Minang, kamu jangan panggil Danu dengan sebutan, Mas. Itu khusus orang Jawa, coba panggil Uda?"
"Nggak apa-apa, Bu. Lagian sebutan Mas itu sekarang sudah umum bukan harus orang Jawa saja. Lagian kita kan tidak hidup di Padang, seperti kata orang di mana kita berpijak di situ langit dijunjung. Kita sesuaikan dengan kebiasaan tempat tinggal kita," bela Danu.
"Nggak apa, Mas. Aku akan belajar ikut adat kalian. Bukankah istri kiblatnya suami. Jadi aku akan berusaha belajar jadi orang Minang," kata Mila.
"Satu lagi yang harus kamu lakukan kalau mau dianggap jadi keluarga, kamu harus punya julukan dalam adat kami. Kami ini masih darah Pariaman tahu kan dalam adat Pariaman perempuan harus membeli lelaki,"
"Sayang, kita pulang," Danu berdiri menarik Mila dari acara buka bersama.
"Mas, kita kan masih acara buka bersama. Kok malah pulang?"
"Buat apa kita tetap disini kalau tuan rumah tidak menghargai tamunya. Waktu ibu bilang mau undang kamu untuk buka bersama, aku berharap bisa membuka silaturahmi antara kita semua. Tapi ternyata dia malah mau menindas istriku dengan aturan yang dia buat.
Satu hal yang ibu tahu, aku tidak ada darah Minang. Karena ayahku bukan dari Minangkabau. Bukankah darah Minang bisa di turunkan pada anak perempuan bukan laki-laki,"
__ADS_1
Danu kecewa atas sikap ibunya yang dianggapnya rasis. Tadinya dia berpikir permintaan ibunya untuk buka bersama agar bisa mendekatkan diri dengan Mila. Tapi nyatanya malah sebaliknya, dia bukan orang bodoh yang tidak paham atas kode yang di berikan untuk Mila.
"Nak, ibu hanya ingin menjalani tradisi keluarga kita, adat kita, apa pun yang terjadi kamu tetap keturunan Minang. ibu hanya ..."
"Danu benar, Makwo. Apa yang makwo lakukan barusan sudah di luar batas? Mila sudah menerima Danu apapun keadaannya, apalagi dengan kondisi penyakitnya. Kalau perempuan lain belum tentu, Makwo! saya bukan membela karena pernah dekat dengan Mila. Tapi saya berbicara berdasarkan apa yang saya lihat tadi," Ammar ikut bersuara.
Rubiah hanya diam saja. Dia sudah terpojok semua membela Mila. Wanita yang sudah berkepala lima keatas itu pun memilih pergi ke kamar.
"Bu, saya tahu sejak awal ibu tak suka sama saya. Entah apa alasannya saya pun tak tahu. Tapi satu hal yang harus ibu tahu, saya menerima mas Danu bukan karena kondisi penyakitnya, saya bahkan baru tahu penyakitnya belum lama ini. Saya pernah dekat dengan Danu saat kami masih SMP. Saya cinta sama mas Danu, kalau tidak saya sudah pasti menolak saat mas Danu mengajak menikah di depan penghulu pernikahan Sarah,"
Danu langsung mengajak Mila dan Lala pulang. Ando pun menawarkan jasa untuk mengantarkan kakak sepupunya serta iparnya. Bahkan Danu tanpa pamit dengan ibu Rubiah terlebih dahulu.
"Mas," Mila menahan suaminya.
"Kita pulang, Mila. ini sudah malam tidak baik ibu hamil kena angin malam,"
"Mas, aku tahu kamu bukan tipe orang berbicara seperti tadi pada orangtua. Aku kenal bagaimana kamu memperlakukan keluarga sangat baik. Tapi kita juga tidak bisa menyalahkan pemikiran Ibu Rubiah. Dia punya keyakinan dengan adat yang kental, mungkin benar yang dia bilang, aku harus biasakan untuk memanggil kamu dengan sebutan Uda.
Mungkin di adat kalian perempuan membeli laki-laki. Tapi kan kita sudah menikah, jadi adat seperti itu sudah tidak perlu kita ungkit atau di bahas lagi.
Kita perlu perjuangan meyakinkan ibu kamu untuk semua ini,
Aku akan berusaha mengambil hati Ibu Rubiah, kamu juga tetap menjalin silaturahmi dengan ibu kandungmu.
Jadi aku mohon sama kamu, jangan seperti ini sama ibu kita. Pahami apa yang dia mau, aku yakin dia seperti itu agar bisa dekat sama kamu sebagai anaknya," Mila menatap Danu yang masih kesal.
"Aku tahu itu, Mila. Tapi aku tidak suka dia bersikap seperti itu sama kamu. Perempuan yang aku cintai harusnya bahagia dengan kehamilannya, bukan di intimidasi seperti tadi,"
__ADS_1
"Iya, Mas. Aku tahu, bahkan sangat berterimakasih kamu masih membela aku di depan Ibu Rubiah. Tapi bukankah segala sesuatunya kita perlu perjuangan. Seperti kata pepatah berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Nggak ada yang instan, Mas," Mila menyelipkan tangannya di pinggang Danu. Kepalanya sudah bersembunyi di balik dada kekar Danu.
Dari jauh ada sepasang mata memandang dua sejoli penuh kebahagiaan. Pemilik mata itu tampak datar, tak ada sedih ataupun wajah licik. Meskipun api cemburu masih menguasai dirinya.
"Kau tidak ingin mengejar apa sudah di rebut?" suara Ibu Rubiah.
"Tidak. Kalau mereka bahagia aku sudah ikhlas, seharusnya makwo juga begitu,"Ammar memutar kursi rodanya masuk ke kamar.
"Kamu yakin, Mar? Makwo bahkan merasa reaksimu berbeda dengan lisanmu,"
"Insyaallah, Makwo. Justru aku yang merasa action Makwo berbeda dengan lisan. Harusnya Makwo belajar dari yang pernah mama lakukan dulu. Tapi ternyata kepekaan Makwo sangat tumpul. Tidak sesuai dengan covernya,"
"Saya cukup mengambil kesimpulan apa yang terjadi sama kamu gara-gara Mila. Saya pun perlu antipasi kalau hal serupa menimpa anak saya yaitu Danu,"
"Terkadang kita bisa berencana tapi Tuhan yang menakdirkan segala sesuatunya. Saat saya membawa motor keinginan saya untuk membawa Mila ke KUA, tapi seperti tadi Tuhan menggagalkan rencanaku melalui kecelakaan itu. Saat ingatanku kembali aku berencana mengejar kembali cinta Sarmila. Namun aku melihat Danu bisa membahagiakan Mila, membuat dia lebih banyak tersenyum daripada bersedih. Itu sudah menjadi poin mengikhlaskan Mila,
Dan aku harap Makwo juga begitu," Ammar menutup pintu kamarnya.
"Jangan memaksakan kehendakmu apabila tidak diterima semua orang. Hidup itu selalu penuh dengan misteri yang menghantuhi diri tanpa ada yang tahu. Jadikan masalah sebagai pelajaran yang berarti untuk hidup ini," sambung Ammar.
"Apa aku salah lagi?" batin Rubiah.
Saat seseorang menikah, dia tidak hanya menikahi pasangannya namun juga seluruh keluarganya. Secara otomatis, meski kadarnya berbeda dalam setiap budaya, keluarga juga akan ikut andil dalam memperlancar urusan pernikahan bahkan hubungan ke depannya.
Menjadi istri atau suami juga secara otomatis menjadi daya tarik dari orang tua keduanya. Menjalin hubungan harmonis akan membuat komunikasi menjadi mudah dan meminimalisir pemahaman yang tak berarti.
Namun terkadang kala apabila mertua tidak suka dari awal, akan cukup sulit menjalani hubungan menantu-mertua ini ke depannya. Jika tidak ada pihak yang menengahi hal ini akan menjadi konflik yang berkepanjangan.
__ADS_1