
"Maksud ibu bagaimana?" Mila masih tidak paham.
"Mila, ibu akan menemani kamu dan Danu untuk kemoterapi disini sampai kamu selesai melahirkan. Soal usaha ibu di Padang, ibu sudah serahkan pada orang kepercayaan. Setelah kamu melahirkan ibu akan memboyong kamu, Danu dan anak kalian ke Padang. Melanjutkan pengobatannya disana,"
Mila melongo mendengar ucapan ibu mertuanya. Di sisi lain dia senang kalau memang ibu Rubiah tidak menjauhkan dirinya dan Danu. Tapi di sisi lain masih sangsi apakah ucapan ibu mertuanya tulus atau ada maksud tertentu. Bukan mau suudzon, tapi yang sudah sebelumnya ibu Rubiah ramah, tidak lama ketus lagi. Mila masih was-was.
Bu Rubiah meraih kedua tangan menantunya. Dia paham respon Mila masih datar kepadanya. Dia menebak Mila masih belum percaya kepadanya.
"Maafkan ibu, Mila. Ibu tahu banyak sikap saya yang menyakiti perasaanmu. Sebagai ibu awalnya saya sudah menyiapkan seseorang untuk calon istri Danu. Cukup kaget saat menemukan anakku sudah beristri. Lebih kaget istrinya bekas kekasih sepupunya Danu.
Jujur ibu, melihat apa yang dialami Diana membuat saya was-was sama kamu. Sehingga entah kenapa kebencian itu terbentuk sendiri,"
Mila menundukkan kepalanya. Ternyata memang benar kata orang,power orang kaya sangat berpengaruh. Masih lekat dalam ingatannya bagaimana Ammar tidak datang ke pernikahan dengan Vika. Dampaknya dia yang di cap buruk oleh orang-orang di sekitar.
"Bu, saya juga minta maaf. Beberapa waktu yang lalu saya sempat bicara nada tinggi ke ibu Rubiah. Itu juga karena saya mau melindungi rumah tangga," terlalu ceplas-ceplos itu baru saja Mila rasakan dari kata-katanya barusan.
Danu melihat pemandangan itu sangat terharu. Dia berharap ini bukan mimpi belaka, bukan sekedar topeng ibunya saja.
"Bu," Danu mendekati ibu kandungnya.
"Danu, minta maaf sempat kasar sama ibu. Aku hanya ingin mempertahankan rumah tanggaku, Bu. Mana ada suami yang mau meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Itu yang aku rasakan selama menikah,"
"Mila, Danu," Rubiah membentang tangannya meminta pelukan dari anak dan menantunya. Danu dan Mila mendekati Rubiah.
"Kalian adalah anak-anak ibu. Ibu punya anak lelaki yang tampan dan sayang istrinya. ibu punya menantu yang bisa mengurus suaminya. Dunia ibu lengkap sekarang,"
__ADS_1
"Kok ibu baru sadar sekarang," sahut Danu.
"Sadar apa,Danu,"
"Sadar kalau anak ibu ternyata tampan," Danu meringis ketika cubitan mendarat di pinggangnya.
"Nggak lucu, Uda. Orangtua kok diajak bercanda,"
"Hey, sayang justru ini resep anak dan ibu biar harmonis. Dan kamu harus banyak belajar dari ibu," Danu menjentik hidung Mila.
"Sudah, ah. Kalian jangan mesra di depan Wisnu. Kasihan sama yang jomblo," goda ibu Rubiah.
Wisnu hanya menyengir kuda.
"Ratna sudah nikah, dan sekarang dia di boyong sama suaminya ke Palembang," kata Danu. Otomatis raut muka Wisnu sedikit berubah mendengar nama Ratna. Gadis yang pernah dia tolak. Dulu Ratna pernah mendekati dirinya saat gadis itu magang SMA di rumah sakit. Karena Ratna mengambil SMK jurusan keperawatan.
Berdamai dengan masa lalu, diri sendiri atau pun seseorang yang pernah menyakiti kita, artinya kita menerima semua itu. Kita menerima apa pun yang terjadi di masa lalu dan menyadari bahwa tak ada yang bisa kita lakukan untuk merubah kejadian yang terjadi di masa lalu.
Terkadang, kita akan dihadapkan pada sesuatu yang kurang menyenangkan atau di luar harapan. Tentu wajar apabila kemudian kita merasa sedih atau kecewa.
Memang tak mudah menerima suatu kenyataan, apalagi itu adalah hal yang menyedihkan atau mengecewakan. Namun, menerima apa yang ada di hadapanmu adalah cara terbaik supaya bisa lekas sembuh dari luka dan mampu berdamai dengan keadaan.
Tak perlu menyangkal kesedihan atau emosi negatif yang muncul. Biarkan dirimu merasakannya sehingga kemudian hati menjadi lega.
Beberapa saat kemudian setelah dari rumah sakit, Mila dan Danu diajak main ke restoran ibu Rubiah. Pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di resto tersebut.
__ADS_1
Beberapa orang berkumpul di ruang tengah restoran yang terletak di jejeran jalan Suprapto. Mila berjalan mengelilingi setiap sudut restoran. Berubah, benar-benar berubah. Dulu tempat ini dia mengais rejeki. Suka duka dia alami bersama orang-orang seperjuangan.
Di tempat ini begitu banyak kenangan dia dan Ammar. Tempat dimana ada kisah yang hanya jadi kenangan saja.
Dari jauh sepasang mata memandang Sarmila. Pemilik mata menatap penuh kerinduan.
"Andai tidak ada benteng diantara kita, Mila. Mungkin kita saat ini sudah jadi pasangan bahagia. Andai aku bisa lebih kuat mempertahankan kamu, Andai ...."
Ammar hanya bisa bermonolog dalam hati. Jika waktu bisa di ulang kembali, dia masih ingin memperjuangkan gadis yang sampai kini masih bertahta di hatinya.
Ammar memilih berbakti meninggalkan ruang depan.
"Mar, Kita jadikan pergi ke ...."
Fera sudah janjian sama Ammar untuk menemui Vika. Berjalan tanpa melihat ada petugas sedang membersihkan lantai resto. Kaki Fera tergelincir bersamaan saat Ammar mencoba menolong temannya. Suara orang terjatuh tentu terdengar oleh beberapa staf pegawai restoran.
"Ya Allah, Mar! Mar!" Fera membangunkan Ammar persis berada di bawah tubuhnya.
"Tante Bia, Ando! Tolong!" pekik Fera.
Semua yang ada di restoran pun menolong Ammar. Terlebih Fera sudah bangkit dari tubuh Ammar. Mencoba mencari pertolongan.
"Ammar kenapa, Fera?" tanya Mila.
"Ammar tadi menyelamatkan aku yang hampir terpeleset. Sekarang malah dia yang jatuh," Fera masih gemetar atas kejadian tadi. Mila membawa Fera duduk di kursi restoran. Memberikan satu gelas air putih pada adik sambungnya.
__ADS_1
"Tuh kan kalau ada Mila, pasti ada kejadian. Lagian dia ngapain disini? bawa sial tuh," kata Sandra pada teman-temannya.
"Apaan sih, Sandra!" semua pegawai restoran tidak memperdulikan Sandra. Mereka memilih kembali bekerja daripada mendengarkan rumpian Sandra.