
Lonceng sekolah sudah berbunyi, empat kali. Pertanda kegiatan belajar mengajar sudah selesai. Para siswa-siswi pun berhambur keluar dari kelas. Menenteng tas sekolah mereka meninggalkan ruang belajar mereka.
Tak terkecuali Lala, gadis muda itu semangat sekali memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Menaikkan kursi pertanda kalau dia sudah mau pulang. Berjalan dengan santainya meninggalkan kelas.
"La," sapa Aris.
"Iya," Lala dengan santai menjawab sapaan Aris, teman baiknya sejak kecil.
"Kamu kenapa nggak mau bareng aku lagi sih?"
"Kan kito idak searah, Ris. Ambo kini tinggal kek kak Sarah. Soalnya kato kak Sarah, Kak Mila lagi hamil terus suaminya lagi pemulihan. Jadi Idak pacak gabung kek tobo kak Mila,"
( kita nggak searah lagi, Ris. Aku sekarang tinggal sama kak Sarah. Kata kak Sarah, kak Mila sedang hamil apalagi suaminya baru pulang dari rumah sakit. Makanya aku belum bisa pulang kesana)
"Maso, Ayuk Yanti beberapa hari yang lalu nengok kak Mila karena dapat kabar laki nyo pingsan di kamar mandi. Sekarang sudah sehat kayaknya, cuma kata Ayuk Yanti, ado mertua Kak Mila. Caknyo kak Mila agak kewalahan. Kau pulanglah nengok kak Mila.
( Masa sih? Ayuk Yanti beberapa hari yang lalu jenguk kak Mila. Setelah dapat kabar suami Kak Mila pingsan di kamar mandi. Sudah sehat mereka, dan sekarang ada mertuanya nginap disana, seperti nya kak Mila lumayan kewalahan. Pulanglah,La jenguk kak Mila,"
"Iya nanti aku pulang. Pasti kak Anjas sudah nunggu di depan. Biar minta kak Anjas untuk antar ke tempat kak Mila. Aku juga kangen sama kak Mila, Kak Danu, kak Eva dan juga Tulang Boro. sudah seminggu aku nginap di rumah kak Sarah," Lala menatap langit-langit yang masih terlihat cerah.
Seperti biasa jam dua siang sekolah pun mulai bubar. Pembelajaran berlangsung dua jam dari pukul 07.00 hingga 09.00 WIB yang diisi tiga mata pelajaran.
Seperti biasanya, kelas dibubarkan setelah jam dua siang. Dengan jam pelajaran per harinya, kegiatan belajar-mengajar mendapatkan beberapa jam pelajaran dan jatah dua kali jam istirahat.
Lala memperhatikan orang-orang yang menjemput para siswa. Tak ada nampak kakak iparnya, kakinya melangkah lebih ke pinggir jalanan. Toh, tinggal sedikit memutar bisa menemukan angkot tujuan rumah Sarah.
"Lala," suara bariton tinggi terdengar dari kejauhan. Dalam hatinya riang karena rencananya mau pulang ke tempat Mila berhasil. Tubuhnya berbalik menyapa sang penjemput, wajahnya yang riang langsung berubah.
"Kak Rudi, kenapa kakak yang jemput? bukannya kak Anjas yang seharusnya jemput aku,"
"Kata Sarah Anjas lagi banyak kerjaan mungkin pulang sore. Jadi dia minta kakak yang jemput kamu, sekalian kita belanja katanya di rumah bakal ada tamu. Sarah minta kamu masak bakwan jagung. Dia bilang buatan kamu enak,"
Lala menarik nafas panjang dalam-dalam. Rencana dia buat kabur ke rumah Mila gagal total. Di tambah dia harus masak buat tamunya Sarah.
"Kak Sarah mana?"
__ADS_1
"Di rumah mama, tamunya mau main ke rumah abis magrib. Jadi kamu ..."
"Aku mau pulang ke rumah kak Mila, aku rindu sama kak Mila. Beberapa kali aku mau pulang kesana di tahan terus sama kak Sarah. Katanya aku akan merepotkan mereka. Sejak aku tinggal sama kak Sarah, mereka nggak ada nanyain kabar aku," Lala menunduk meratapi nasibnya.
Rudi mendengar keluh kesah adik iparnya merasa iba. Ada benarnya kalau sesekali Lala pulang dan bertemu dengan keluarganya.
"Begini saja, nanti kakak bawa beberapa teman perempuan untuk bantu kamu masak. Setelah selesai, kakak antar kamu ke rumah kak Mila, bagaimana?" Lala yang tadi muram seketika menaikkan kepalanya. Wajahnya kembali berbinar sembari menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih, Kak Rudi!" Lala memeluk Rudi dengan penuh semangat.
"Udah dong, adik kakak jangan sedih. Kakak tahu sejak kecil kamu terbiasa dengan Mila daripada Sarah. Ya sesekali kamu dekat sama Sarah. Kan dia kakak kamu juga,"
"Lala nggak masalah kalau sama kak Sarah atau kak Mila. Lala cuma nggak suka cara kak Sarah memperlakukan kayak orang menumpang. Kak Mila nggak segitunya sama aku," kata Lala lirih.
"Yasudah, kita ke pasar panorama dulu, ya? beli bahan. Atau mungkin ke pasar Minggu," saran Rudi.
"Pasar Minggu saja kak. Dekat dari sini," Rudi langsung meminta Lala membonceng di belakang. Lala melingkarkan tangannya di pinggang Rudi.
Dari jauh ada mata yang tak suka melihat keakraban Lala dan Rudi. Tatapannya tajam kearah motor Supra-X tersebut.
...****...
"Ma, Sarah pulang duluan, ya. Mau siapin untuk kedatangan mereka," pamit Sarah pada mama mertuanya.
"Nah, iya dong, Nak. Apa perlu mama bantu?" tawar ibu Melani.
Sarah hanya tersenyum kecil. Dia sebenarnya hanya mau mengecek kerjaan Lala, bukan untuk bantu Lala. Sejak Lala tinggal bareng mereka, rumah selalu bersih. Tentu saja adiknya bekerja atas ultimatum dirinya.
Kadang Sarah membawa makanan hasil masakan Lala. Apa yang dia bilang pada mertuanya? kalau masakan itu buatan dirinya. Tentu saja Bu Melani percaya, karena dia melihat Sarah aktif di dapur bersama, Lala, adiknya.
Bu Melani tentu tidak akan percaya kalau masakan berat di buat oleh Lala. Karena dia menganggap anak semuda Lala tidak akan bisa masak seperti itu. Sarah langsung meninggalkan rumah mertuanya. Sekarang dia tidak akan di sambut sinis lagi sama mertuanya.
Waktu menunjukkan pukul lima sore, Sarah sudah sampai di depan rumahnya. Pandangannya fokus pada beberapa jejeran motor terparkir di depan teras. Belum lagi mendapati beberapa sepatu wanita berbaris di depan pintu.
"Assalamualaikum,"
__ADS_1
Salah satu teman Sarah yang berada di dapur pun menuju pintu depan.
"Sarah, kamu sudah pulang?" sapa Rudi.
"Kok rame banget, sih? kalian kenapa pada disini?" suara Sarah terdengar menahan amarah.
"Kami disini mau bantu Lala masak, Sarah. Kasihan anak sekecil itu di kasih tugas buat hidangan untuk tamu mertuamu,"
"Lala yang minta?" Sarah menatap Lala tajam.
"Aku yang suruh," ucap Rudi.
"Aku cuma suruh kamu jemput Lala, kenapa kamu malah bawa mereka kesini," nada suara Sarah semakin meninggi.
"Urusan rumah dan dapur biar dia yang kerjakan. Itu sudah ketentuan kalau tinggal di rumah orang,"
Mendengar nada amarah sang kakak, Lala bersembunyi di balik punggung teman perempuannya Rudi. Gadis muda itu seperti ketakutan pada Sarah. Teman Rudi yang bernama Atik pun membawa Lala ke dalam. Dia cukup kaget melihat reaksi Sarah.
"Sarah!" suara bariton itu muncul di belakang dirinya.
"Bang Anjas, ma...ma ...." Sarah menelan salivanya.
"Kamu keterlaluan, Sarah. Itu adik kamu sendiri! hati kamu terbuat dari batu. Anak sekecil itu kamu jadikan budak,"
"Bang, aku mau mendidik Lala. Sewaktu tinggal sama nenek dia didik untuk mandiri. Tapi saat sama kak Mila dia seperti kembali di manjakan,"
"Paling tidak Lala bukan kamu yang tidak bisa apa-apa, Sarah," Rudi ikut menjawab. Sedari tadi dia mencerna apa yang sedang terjadi.
"Di, bawa Lala pulang ke rumah kak Mila. Biar aku yang mendidik istriku!"
"Iya, kak," Rudi langsung memasuki kamar Lala. Mengajak gadis kecil itu untuk pulang ke rumah Mila.
"Mulai sekarang aku mau nya kamu yang mengerjakan pekerjaan rumah. Seperti nyuci bajuku, masak dan membersihkan rumah. Aku tidak mau ada alasan apapun lagi. Kamu itu sudah menikah, Sarah. Masa Lala yang siapkan sarapan buat aku, sementara istriku belum bangun.
Dan jika kamu keberatan, malam ini juga aku pulangkan kamu ke rumah kak Mila!"
__ADS_1