Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 90


__ADS_3

Di sebuah rumah yang sederhana, tampak seorang wanita sedang asyik menikmati pergantian antara siang dan malam. Menunggu waktu magrib tiba, sambil mengucapkan rasa syukur pada yang maha kuasa. Bersyukur masih di beri nafas sampai hari ini, bersyukur karena masih berkumpul dengan anak cucunya.


Selama hidup di dunia, manusia selalu mendapatkan nikmat dari Allah SWT. Tak melulu dalam bentuk rezeki melimpah, nikmat juga muncul dalam bentuk lain seperti kemudahan dalam hidup. Jadi sudah semestinya, sebagai insan yang bertakwa, kita mengucap rasa syukur.


Selama dia hidup ada banyak rasa syukur atau mungkin hal patuh dia syukuri. Sambil memandang pergantian waktu seperti terbenamnya matahari di ufuk timur.


"Bu, sudah Maghrib," sapa Fera menyapa ibu sambungnya.


"Iya, Fe," Dahlia pun beranjak dari teras depan rumah.


"Bu, tadi Tante Ida kirim video ini," kata Fera menunjukkan video orang yang sedang mengaji.


"Ini Vika?" Fera mengangguk kecil.


"Alhamdulillah ya, Fera. Dia banyak perubahan setelah pindah ke Jakarta,"


"Iya, Bu. Alhamdulillah. Aku senang kalau Vika sudah banyak mengalami kemajuan. Semoga ini menjadi pertanda baik ya, Nak,"


"Kata Tante Ida, kalau Vika sudah membaik akan di bawa pulang ke Bengkulu. Tapi kalau saran aku sih nggak usah pulang. Nanti traumanya kumat lagi. Tante Ida kok nggak ikut pindah ke Jakarta, Ya. Malah membiarkan Vika hanya sama mbak Yuni saja,"


"Ibu juga tidak tahu, Fera. Dulu waktu mereka mau membawa Vika berobat ke Jakarta, ibu sempat nyaranin untuk ke rumah sakit lingkar barat. Ida marah karena aku menganggap anaknya gila. Padahal kan cuma ke psikiater saja. Bahkan dalam keadaan seperti ini pun Ida masih keras kepala. Ibu tidak bisa memberi saran lebih lanjut,"


"Yasudahlah, Bu. Yang penting kita sudah ingatkan. Mama tahu sendiri kan bagaimana karakter mereka, mana pernah mau mendengarkan apa kata kita, yuk kita sholat. Intan sudah menunggu, nanti abis magrib dia mau mengaji di rumah pak haji," ajak Fera.


"Fera, ibu mau pulang ke Bengkulu. Ibu rindu sama Mila, sepertinya ibu lupa mengabari kalau handphoneku hilang di pasar. Ibu belum sempat membeli yang baru,"


"Waktu itu aku sempat nawarin sama ibu. Mau nggak beli yang baru. Ibu malah bilang mau nabung dulu," kata Fera.

__ADS_1


"Waktu itu kan buat persiapan Intan masuk SD perlu biaya banyak. Jadi saat itu memang lebih penting. Sekarang ibu harus nanya kabar Mila saja harus pinjam handphone kamu. Ibu malu ngerepotin kamu terus,"


Fera menggenggam erat jemari Dahlia. Perempuan yang masuk dalam kehidupan ayahnya ketika Fera usia taman kanak-kanak, dan Kakaknya Dian sudah SD kelas 3. Perempuan yang memberikan kasih sayang penuh pada mereka seperti anak sendiri.


Dian sempat mulai menolak Dahlia karena ada pengaruh dari famili mendiang ibu kandungnya. Tentu saja dengan cerita kalau ayah mereka tidak ada sikap Dahlia akan berubah. Tapi nyatanya Dahlia mematahkan semuanya. Dia tetap perhatian pada mereka berdua, tetap memberikan kasih sayang utuh di tambah saat rencana pernikahan Dian dan Fabel di tentang oleh ayah mereka.


Ibu Dahlia juga ikut berjuang saat Dian hamil tapi kena penyakit jantung. Karena memang ayah mereka juga punya sakit jantung. Apalagi Dian dalam keadaan baru di talak suaminya. Tentu itu sangat mempengaruhi kondisi jantung dan janinnya. Kata orang, ibu hamil tidak boleh banyak pikiran. Tapi orang-orang terdekatnya malah memberikan beban itu di pundak Dian.


"Bu, lusa sudah masuk beberapa hari lagi sudah masuk Ramadan. Kita ziarah yuk ke makam kak Dian dan Papa. Sudah lama nggak nengokin mereka. Kita ajak Intan. Biar dia tahu makam ibunya," Dahlia mengangguk menyetujui rencana anak bungsunya


"Fera, Ramadan ini ibu mau di Bengkulu. Berkumpul bersama Mila. Boleh kan?"


"Boleh dong, Bu. Besok Fera belikan ibu handphone supaya kita bisa berkomunikasi," lagi-lagi Dahlia hanya mengangguk.


Setelah sholat Maghrib, Intan pun pamit untuk mengaji. Fera mengantarkan Intan ke tempat mengajinya. Sementara Dahlia duduk di meja makan. Mempersiapkan untuk makan malam. Biasanya intan akan pulang menjelang waktu isya.


"Assalamualaikum,Bu. Ini rumah ibu Dahlia kan?" tanya seorang wanita berpakaian glamor.


Wanita itu terlihat ramah. Dahlia pun menyambutnya dengan ramah. Mempersilahkan wanita itu masuk, sayangnya dia sedang menunggu seseorang. Maka Dahlia pun mengajaknya duduk di kursi teras.


"Maaf, kalau boleh tahu ada apa anda mencari saya? apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Saya akan jelaskan setelah orang yang lebih berkepentingan itu datang," kata wanita itu. Dahlia memperhatikan jemari wanita itu memakai cincin. Sudah pasti di tebak kalau wanita itu berstatus istri.


"Dia siapa, Bu?" Fera muncul setelah mengantar Intan mengaji.


"Perkenalkan nama saya Tiara, saya kesini ingin bertemu kalian semua terutama, Intan. Bisakah saya bertemu dengan Intan?"

__ADS_1


"Anda siapa? kenapa ingin bertemu anak saya?" selidik Fera.


"Nanti suami saya yang akan menjelaskan. Tapi bisakah saya bertemu dengan Intan. Saya mohon mbak dan ibu, izinkan saya bertemu Intan," Tiara sedikit memaksa.


Suara mobil mengklakson di depan rumah. Perempuan yang bernama Tiara tersebut langsung berhambur menuju di ke mobil. Baik Fera maupun Dahlia masih bingung dengan tamu nya.


Dari dalam sebuah kaki bersepatu pantofel. Jam tangan yang di lansir bukan barang kaleng-kaleng. Fera dan Dahlia membulat melihat siapa yang datang. Dari rasa bingung kini menjadi luapan amarah. Bagaimana bisa lelaki yang sudah mencampakkan kakaknya kini datang tanpa beban.


"Ibu," sapa lelaki itu menyalami tangan Dahlia.


"Fadel, kamu kah ini nak?" Dahlia masih dalam kekagetannya.


"Iya, Bu. Ini aku, menantu ibu. Maaf, Bu. Baru bisa datang sekarang. Karena aku ..."


"Buat apa anda kesini tuan Fadel? apa anda kesini mau mengusik keluarga kami lagi. Sudah cukup anda membuat kakak saya makan hati. Dan sekarang anda muncul setelah membuat Intan tidak punya ibu," amuk Fera.


"Ibu, Saya kesini mau membawa Intan untuk tinggal bersama kami. Istri saya mengalami kecelakaan yang membuat rahimnya rusak. Harapan kami adalah Intan. Saya tahu atas kesalahan di masa lalu, saya tahu kalian tidak akan memaafkan kesalahan saya. Saat itu saya terpengaruh ucapan ibu saya,"


"Gampang sekali anda datang meminta Intan dari kami. Apa yang terjadi pada istri anda adalah karma. Dimana dulu anda dan keluarga anda memaksa kakak saya menandatangani surat perceraian. Padahal dia sedang hamil.


Sekarang anda datang meminta Intan kembali. Tidak akan saya biarkan! Bu kita ke dalam. Tinggalkan saja lelaki laknat ini," Fera mengajak ibu Dahlia masuk ke dalam rumah.


Tubuh Dahlia tertahan. Rupanya kaki wanita itu di tahan oleh Fabel. Lelaki itu bersujud di kaki Dahlia memohon pada mantan mertuanya untuk mengembalikan Intan kepadanya.


"Ibu seorang wanita kan? bagaimana perasaan ibu jika terpisah dengan anak ibu? sedih kan, Bu. Begitu juga dengan suami saya, dia di rundung rasa bersalah, rasa rindunya pada anak kandungnya,"


"Mbak tahu kenapa lelaki ini menceraikan kakak saya. Karena dia tahu kak Dian mengandung anak perempuan, sementara keluarganya meminta anak laki-laki. Hanya orang tidak punya hati yang bisa melakukan hal itu," amuk Fera lalu mendorong Fadel untuk lepas dari kaki ibu Dahlia. Lalu menutup pintu dengan keras.

__ADS_1


__ADS_2