
TIGA HARI YANG LALU
"Ayah, kalau kita pergi semua bagaimana dengan nenek Seruni?" tanya Mila.
"Kan ada Tulang Boro yang jaga nenek kalian." Kata Boro yang sudah ada di rumah nenek Seruni.
"Tapi apa nggak merepotkan Tulang? tulang ini sudah tua,Lo." kata Mila.
"eh, enggaklah, aku ini masih bujangan. Bedanya aku punya amanah yang di titipkan kakakku yaitu Eva."
"Makanya Boro, kau carilah istri. Apa perlu aku ikut carikan." goda Rohim.
"Eleh, aku bisa cari sendiri!" semua yang ada di dalam tertawa melihat lelaki 55 tahun tersebut.
Tulang Boro adalah keponakan nenek Seruni. Entah dari bagian mana hubungan keluarga itu tidak ada yang tahu. Karena sejak kecil Mila sudah mengenal Eva yang tinggal bersama Tulang Boro. Katanya waktu itu Tulang Boro dibantu neneknya Eva. Saat Eva usia tiga tahun, Neneknya Eva meninggal dunia. Sejak saat itu Tulang Boro lebih fokus untuk kebutuhan Eva ketimbang untuk dirinya sendiri
Setelah memasukkan barang ke dalam mobil. Rohim pamit pada Tulang Boro dan Eva. Rohim hendak pamit sama nenek Seruni. Bagaimanapun nenek Seruni adalah tuan rumah. Rohim masih menghormati mantan mertuanya, apalagi dia diizinkan tinggal disana selama tiga hari ini.
Mereka akhir berangkat ke kaur, Bengkulu Selatan. Ide itu di minta Sarah pada ayahnya untuk menghibur Mila yang sedang patah hati. Lala juga ikut, meskipun dia belum bisa menerima Rohim sebagai ayah. Tetap dia senang jika diajak jalan-jalan. Apalagi bagi rapot telah selesai. Rohim menyewa mobil yang mirip travel. Karena dia akan membawa keluarga besarnya.
Pantai merupakan salah satu destinasi wisata alam yang menakjubkan. Sebab ada banyak kegiatan yang bisa kamu lakukan di sana. Mulai dari menikmati suasana angin sepoi-sepoi, menghirup aroma air laut yang asin, gemerisik daun kelapa yang tertiup angin, dan deburan ombak yang menenangkan. Selain itu kamu juga bisa melihat timbul dan tenggelamnya sang surya hingga menikmati kuliner ikan bakar.
Pantai, memiliki dua makna yang berbeda. Yang pertama, bagi mereka yang hidup berdampingan dengan pantai. Bagi mereka, pantai adalah halaman rumah mereka. Langkah kaki mereka di atas pasir halus menjadi catatan keseharian mereka. Ada yang pergi melaut, ada yang pergi bermain, ada pula yang pergi menenangkan hati dan pikirannya.
Yang kedua, adalah mereka yang menjadikan pantai sebagai pelabuhan mereka, pelabuhan segala kepenatan, kegalauan hidup, maupun luapan keceriaan. Pantai ibarat sahabat karib yang jauh, selalu ada waktu luang dan kesempatan untuk bersua.
Langkah kaki menyusuri deretan pantai, seperti rentetan kenangan indah.Setiap tetes keringat yang keluar tidak akan pernah sia-sia dan akan berbuah manis pada waktunya. Deburan ombak yang menentramkan hati, menemani waktu bersantai setelah hari yang panjang.
Sore itu. Langit jingga tampak cerah. Garis cakrawala terlihat anggun terbentang diangkasa. Semburat cahaya sore sangat mempesona. Cantik sekali membuat mata ini terasa sulit untuk terpejam.
__ADS_1
Burung-burung terbang beriringan dengan segala formasi yang dibentuk. Riuh bersenandung bersama terbang kesana kemari. Angin lembut semilir, membelai rambut sangat menyenangkan.
Pantai Linau menjadi pantai pertama yang dapat ditemukan pada Kabupaten Kaur ketika melintasi Pelabuhan Bintuhan hingga Jalan Lintas Barat Sumatera. Tepat berada di Desa Maje yang merupakan jalur antar provinsi, tempat wisata tersebut mudah sekali dijangkau dikarenakan berdekatan dengan jalan raya.
Nama dari pantai ini sendiri tidaklah asing bagi masyarakat yang tinggal di Kaur. Destinasi tersebut selain dikenal dengan pasir pantainya yang hitam dan airnya yang jernih, populer juga dengan atraksi wisata kulinernya yang unik. Ketika mengunjungi Pantai Linau, maka liukan pasir hitam dan putihnya menjadi tempat main yang sangat asyik.
Siapapun yang ada disana pasti seperti merasa berada di surga. Dengan perpaduan atraksi unik dan menarik yang selama ini luput dari pandangan wisatawan nusantara. Pastinya akan terpukau dengan semua hal yang tersaji di sana.
Mila duduk di pasir pantai yang basah. Tadi ayah Rohim mengajak anak-anaknya jalan sore ke pantai Kaur. Itu juga atas ide dari Lala dan Sarah.
Jarak waktu perjalanan antara Bengkulu ke kota Kaur di tempuh enam jam. Tergantung cara pembawaan sopir. Rohim membawa ketiga anaknya diikuti Anjas dan sepupunya Anjas, bernama Tiwi.
Setelah sampai di sebuah perumahan kecil milik teman Rohim. Mila, Sarah, Lala dan Tiwi pun berada di satu kamar yang lumayan luas. Bahkan lebih luas dari kamar mereka.
"Kakak mau lihat suasana luar. Kalian mau ikut?" ajak Mila.
"Lala? Tiwi?" Keduanya pun menggelengkan kepalanya.
"Yasudah kalau tidak ada yang mau." Mila pun pergi meninggalkan mereka.
"Boleh duduk di sini" Ada Anjas yang duduk di dekat Mila, Mila celingukan takut Sarah ngeliat.
"Sarah mana?" Tanya Mila takut ada prangsaka yang tidak enak
"Di dalam" jawab lelaki itu.
"Boleh nggak? " tanya Anjas lagi.
"Silahkan"
__ADS_1
"Nih, aku bawain wedang jahe" Anjas menyodorkan satu gelas wedang jahe
"Kamu masih ingat saja dengan minuman ini. Terimakasih, ya."
"Tau dong, kita sempat ... "
Mila melirik Anjas, lalu kembali memalingkan wajahnya.
"Maafkan aku, Mila."
"Untuk apa?"
"Untuk yang dulu. Untuk yang pernah aku lakukan sama kamu. Juga sama Rudi. Aku tahu kalau ini salah. Awalnya aku nggak pernah kepikiran untuk membuka hati untuk Sarah. Nggak pernah kepikiran, Mila. Iya memang aku suka Sarah saat Rudi mengenalkannya padaku. Dan saat aku sedang patah hati, Sarah lah yang mengenalkan aku sama kamu, Mila."
"Sudahlah, Anjas. Itu semua sudah berlalu. Aku sudah maafkan kamu. Kalau memang kamu cinta sama Sarah. Perjuangkan! Kamu mengajak Sarah menikah. Bahkan katanya sudah menemui nenek untuk melamar Sarah. Tapi sampai sekarang kamu belum menikahi Sarah."
"Aku sudah beberapa kali membahas soal ini sama Sarah. Tapi Sarah selalu bilang tunggu ayahnya pulang."
"Sekarang ayahku sudah pulang. Kenapa kamu belum bilang sama ayah. Aku cuma nggak apa yang aku alami juga dialami Sarah. Itu saja."
Dari kejauhan Sarah melihat dengan perasaan kesal, Sarah takut Anjas berubah haluan kembali ke Mila.
"Kenapa?" Tiwi saudara Anjas tiba-tiba muncul di samping Sarah
"Nggak papa."
"Soal mereka?" Sarah cuma diam, dia tahu Tiwi kurang suka dengan dirinya.
"Biarkan saja, biar mereka menyelesaikan urusan mereka yang belum selesai. Kamu cukup percaya sama Anjas. Tapi aku aneh sama kamu, apa nggak malu, sudah pacaran sama Rudi. Sekarang ngegaet abangnya. Apalagi dia mantan kakakmu. Kayak tidak ada laki-laki lain di dunia ini." Tiwi pergi ke kamar. Tinggal Sarah yang berharap itu cuma pendekatan restu seorang adik ipar ke kakak iparnya.
__ADS_1