
Malam ini Mila kembali menginap di rumah sakit. Sendirian sambil memandang langit-langit dinding rumah sakit. Sesekali pandangannya beralih pada wanita paruh baya yang masih terpejam. Tadi saat neneknya sadar Sarah yang menjaga. Setelah nenek Seruni tidur, dia yang menggantikan Sarah. Mengingat Sarah besok harus kuliah lagi. Mila tidak peduli kalau nenek bangun dan mengamuk lagi.
Ting!
Mila membuka ponselnya. Melihat sebuah pesan yang masuk.
Danu
"Sudah tidur ya, Mila."
Mila
"Sudah."
Danu
Kok bisa balas pesan? ini Mila apa bukan?
Mila
bukan ini qorinnya.
Danu
Qorinnya aja udah bikin adem. Apalagi aslinya.
Mila
Hahahaha .... ternyata kamu pintar merayu juga.
Danu
Yalah, namanya juga cowok.
Mila
Yayaya... Kamu lagi apa?
Danu
Lagi merem siapa tahu ketemu sama cewek cantik.
Mila
Emangnya yang di rumah sakit nggak ada yang cantik?
Danu
Banyak! Tapi hatinya yang cantik susah dapatnya. By the way, besok di XII ada film horor baru. Mau nonton nggak?
Mila
Enggak!
Danu
Kenapa? kamu malu ya jalan sama saya.
Mila
Enggak kok. Tapi karena emang belum bisa saja. Saya kan harus jaga nenek. Oh ya besok nenek Seruni pulang ke rumah. Jadi maaf saya tidak bisa menerima ajakan kamu.
Danu
Nggak apa-apa. Next time aku boleh kan ajak kamu jalan? nggak ada yang marah kan?
Mila
__ADS_1
Hahahaha... apaan sih! enggak lah.
Selesai berkirim pesan dengan Danu. Mila pun memejamkan matanya. Dia sangat lelah, besok harus segar.
Ting!
Vika
Mila besok kamu datang ke rumah. Ada Bude Lia juga kok.
Mila
acara apa?
Vika
Nggak ada, cuma acara keluarga saja. Ammar juga
datang sama mamanya dan adiknya. Kata bude Lia dia mau ajak kamu. Bisa kan?
Mila
Maaf Vika besok nenek pulang dari rumah sakit. Aku titip salam saja sama bude Lia dan Ammar. Semoga acara kalian sukses.
Mila dan Vika kembali menonaktifkan ponselnya. Sedari tadi dia tidak bisa istirahat karena sibuk melayani pesan singkat orang lain.
...*****...
Sejak bude Lia memilih tinggal dengan familinya. Mila tidak pernah mendengar kabarnya lagi.
Padahal Mila cuma ingin mengembalikan duit tiket kemarin. Mila seperti kehilangan sosok yang sudah seperti ibunya sendiri. Mila juga tidak tahu kenapa bude Lia tidak pernah mengangkat telponnya.
Mila mendengar kabar kalau bude Lia belum mau bertemu dengan nenek Seruni. Masih ada rasa penasaran kenapa bude Lia menghindari nenek Seruni.
"Mila apa kamu tahu tentang bude Lia?" tanya Eva.
"Kenapa?" Mila belum paham.
"Eva," suara Tulang Boro membuyarkan konsentrasinya bercerita.
"Iya, Tulang."
"Kau bilang tadi mau pergi ke Balai Buntar. Ini sudah mau jam 3 nanti kau telat."
"Acara apa, Va?"
"Aku ikut acara Tupperware, Mil. Nanti kalau jadi aku mau buka online."
"Wah, keren Eva. Kamu tidak mau ajak aku?"
"Aku sudah daftar, mil. Bayar itu. Nanti kalau buka lagi aku ajak kau kesana." kata Eva sudah menenteng tas kecilnya.
Sepeninggalan Eva, Mila bersiap berangkat ke rumah sakit. Tentu saja karena nenek Seruni akan pulang siang ini. Bersama Tulang Boro, mereka pun meninggalkan kediaman neneknya. Sementara Lala, katanya akan di jemput sama Anjas.
Mila sudah tidak peduli lagi soal Anjas dan Sarah. Kalau mereka tetap akan menikah dia tidak bisa memaksa. Yang pasti Anjas harus menunggu sampai ayah mereka kembali.
Nenek Seruni sudah berada di rumah. Danu ikut mengantar nenek Seruni pulang ke rumah. Sebelum pulang dokter mengatakan kalau seminggu sekali nenek harus check up. Belum boleh banyak kegiatan. Danu pun berjanji akan sering menengok nenek Seruni untuk mengontrol keadaannya.
Sore ini nenek Seruni hendak buang air kecil. Tubuhnya masih sudah berdiri, Mila dengan sigap menuntun neneknya untuk ke kamar mandi. Nenek Seruni susah jongkok, Mila pun mengambil baskom kecil. Baskom yang di gunakan untuk menampung air seni.
"nenek kalau mau apa-apa panggil Mila saja." kata Mila setelah membersihkan neneknya.
Nenek Seruni tidak menanggapi ucapan Mila. Akan tetapi dia tidak melawan saat Mila yang sigap pada dirinya. Selesai mengurusi sang nenek Mila kembali ke kamar. Membuka handphone siapa tahu bude Lia ada memberi kabar.
"Bukannya tadi Vika bilang kalau bude Lia ada di tempatnya. Apa aku kesana saja, ya?
Ah, tidak. Aku tidak mau berurusan dengan Ammar lagi. Nanti saja aku telepon Vika. Sedari tadi bude Lia tidak bisa di hubungi." Mila duduk memandang langit dari jendela kamarnya. Dia teringat dengan jemuran teras depan. Mila berlari keluar rumah, meja depan dia menemukan jemurannya sudah tergeletak. Sosok yang duduk di teras tersenyum memandang Mila.
__ADS_1
"Ammar? ngapain kamu disini bukannya ..."
"Jalan yuk, aku pengen ngomong sama kamu."
"Maaf, mar. Aku tidak bisa. Nenek nggak ada yang jaga."
"Kak Mila kalau mau keluar tidak apa. Biar Lala yang jaga nenek. Kak Mila perlu refreshing. Sejak sampai hingga hari ini kak Mila sibuk sama nenek."
Mila dan Ammar pun berangkat menggunakan motor gede. Mila tampak segan memegang pinggang Ammar. Tak munafik jantungnya berdetak kencang ketika bersama lelaki itu. Tangan Ammar menarik lengan Mila hingga membelit di pinggang lelaki itu.
"Kita mau kemana, Mar?"
"Ikut saja."
Ammar membawa Mila jalan-jalan ke pantai panjang. Suasana pantai tampak rame. Para pengunjung tampak menikmati suasana sore di pantai.
melihat air laut yang jernih, pasir putih, serta jajaran pohon cemara dan pohon pinus yang bikin suasana makin sejuk.
Pohon pinus dan cemara di sepanjang pantai ini merupakan keunikan tersendiri. Hal ini karena lazimnya pohon yang tumbuh di sekitar pantai adalah pohon kelapa.Lokasi pantai ini tidak jauh dari pusat Kota Bengkulu dan tentunya sangat mudah dijangkau.
Pantai ini adalah pantai terpanjang di Indonesia, sesuai namanya. Panjang garis pantainya mencapai 7 kilometer! Garis pasang surutnya sekitar 500 meter. Hal ini karena Pantai Panjang sedikit memiliki karang, sehingga jangkauan air lautnya sangat jauh jika terjadi pasang.
Di sepanjang pantai ini, terdapat hamparan pasir putih. Para pengunjung bisa bebas bermain pasir, bermain air, dan berjemur sambil menikmati kesegaran air kelapa muda.
"Mila, aku mau ngomong." Ammar duduk di samping Mila dalam sebuah pondok angkringan pantai.
"Apa, Mar?" Mila hanya memandang hamparan laut.
Ammar sedikit terganggu saat handphonenya bergetar. Sebuah nama tertulis di layar pipih tersebut.
"Iya, Sandra. Ada apa?"
"Pak, ini ada pembeli hanya mau belanja sama bapak. Dia hanya mau di layani sama bapak."
"Shittt! ganggu saja." batin Ammar.
"Kenapa?"
"Ada sedikit trouble di counter. Kita kesana dulu, ya?" Mila menggangguk.
Mereka tiba di counter. Ammar langsung mendapati temannya sedang duduk di counter.
"Ya, ampun aku kira siapa, rupanya kau Aziz."
"Iyalah, kamu sukses sekarang, Mar. punya counter besar."
"Apanya yang besar, Zis? ini masih gabung sama counter lain."
"Pokoknya kau keren." Aziz mengacungkan jempol atas keberhasilan Ammar.
"Ngomong-ngomong siapa yang bersama kau itu. Kekasihmu, kah?"
"Iya, dia kekasihku." Jawab Ammar dengan lantang.
Mila yang mendengar ucapan Ammar ikut kaget. Bagaimana mungkin Ammar mengatakan bahwa dirinya adalah kekasihnya. Mila mengambil tas dan meninggalkan counter. Dia tidak enak Ammar bicara seperti itu.
Ammar berlari mengejar Mila yang sudah keluar dari area counter. Mencoba menggapai tangan Mila. Sayangnya Mila berjalan terlalu cepat.
"Mau kamu apa?" Mila merasa diikuti menghentikan langkahnya.
"Mila tolong dengar penjelasan aku dulu." Ammar masih berusaha mencegah Mila.
"Kamu mau apa, Mar? saya tidak mau berurusan sama kamu. Ada Vika yang harus di jaga perasaannya. Saya tahu perasaan kamu, tapi maaf saya tidak punya perasaan sama kamu. Kamu bukannya cinta sama Vika, kenapa malah mengungkapkan perasaan sama saya saat di Lampung."
Ammar terdiam. Bagi Amar ini dia lakukan semata mata karena ingin lebih dekat dengan Mila. Memang Vika dan keluarganya sudah sepakat tentang pernikahan tanpa meminta pendapat Ammar.
"MILA , SAYA CINTA KAMU. Itu sekali lagi saya ulangi setelah malam di Lampung. Saya sudah jatuh cinta sama kamu. Sarmila wanita yang selalu ketus sama saya. Sikapnya cuek yang dingin. Membuat aku jatuh cinta."
__ADS_1
"Nggak Mar, kamu jangan gila. Saya tidak bisa menerima kamu. Saya .."
"SARMILA, WILL YOU MARRY ME"