Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 156


__ADS_3

“Tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Luqman [31]: 34).


****


Tidak ada yang tahu kapan kematian itu tiba. Bahkan yang sehat pun tidak menutup kemungkinan akan di datangi malaikat maut karena sudah tiba waktunya. Kematian merupakan hal yang pasti terjadi dan tidak bisa diketahui atau dihindari oleh siapapun.


Malaikat yang bertugas untuk mencabut nyawa manusia adalah malaikat izrail. Tidak ada yang tahu kapan malaikat Izrail ini akan mencabut nyawa manusia.


Suasana di kediaman ibu Diana sudah ramai di kunjungi sanak saudara. Termasuk ibu Rubiah beserta anak buahnya dari restoran Umi Bia. Sementara Danu dan beberapa keluarga besar mama Diana sudah mengurusi jenazah Ammar. Semua tampak sibuk menggelar acara tahlilan menyambut jenazah Ammar.


Ando masih berada di kamar menangisi nasib abangnya. Dulu Ammar terpaksa menikahi Vika karena mama Diana mengancam akan bunuh diri jika tidak menuruti. Beberapa kali dia mendapati abangnya menangis di kamar memeluk photo Mila. Saat itu Ando masih sepemikiran dengan sang mama. Karena menuduh Mila yang tidak mau diajak berjuang bareng Ammar.


Dan sekarang dia yang sedang menangisi sambil memeluk photo sang kakak. Ando tahu kalau dulu tujuan Ammar membawa motor untuk menemui Mila, pamit karena akan menikah dengan Vika. Tapi nyatanya, Mila datang bersama seorang lelaki. Lelaki yang dia yakini adalah Danu. Ando yang saat itu di desak menggantikan posisi Ammar. Karena dia punya Dini yang sudah lama dia pacari.


"Bang, kenapa pergi meninggalkan aku. Sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi. Bang, aku harap ini cuma prank, bangun bang!"


"Do," suara dari balik pintu.


"Do, Makwo tahu perasaan kamu. Tapi kamu saat ini tuan rumah, sudah banyak tamu yang datang. Sambut mereka. Semua yang datang mau mendoakan Ammar." bujuk Makwo Rubiah. Ando langsung memeluk Makwonya. Tubuhnya bergetar hebat, tidak menyangka kalau akhir hidup abangnya seperti ini.


"Tidak ada yang tahu masa itu datang, Do. Kalau Tuhan sudah berkehendak kita tidak bisa berbuat apa-apa." Rubiah masih mencoba menenangkan keponakannya.


Pembicaraan mereka terputus saat Rubiah menerima telepon dari Danu. Mereka menspeaker agar bisa mendengar berita yang di sampaikan Danu.


"Assalamualaikum, Bu. Kami sedang dalam perjalanan." suara Danu terdengar serak-serak basah. Bia belum bisa menjelaskan pada Danu kalau Ammar lah yang mendonorkan sumsum tulang belakang. Karena itu adalah permintaan dari Ammar.


"Biarlah itu jadi amal yang aku bawa nanti." kata Ammar kala itu.


"Makwo juga tidak menyangka kalau batas umur Ammar sampai segini. Makwo termakan ucapan mama kamu yang ikut menyalahkan Mila saat itu. Sampai-sampai terbawa saat tahu anak Makwo ternyata sudah menikah dengan Mila. Tapi Ammar masih membela Mila mati-matian ketika saya mencoba menghasut Danu. Itu yang Makwo rasa sampai mati cinta Ammar masih untuk Mila."


"Ini ada surat dari bang Ammar untuk kak Mila." kata Ando. "Apa Makwo bisa berikan pada kak Mila? Kata kak Danu, kak Mila belum bisa keluar rumah karena belum 40 hari."


"Surat?" Ando mengangguk kecil.


"Makwo aku siap-siap dulu. Bentar lagi bang Ammar sampai." Ando beranjak dari tempat tidurnya. Lalu memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


Rubiah melihat begitu banyak tetangga datang silih berganti. Sungguh dia merasa terharu dengan respon positif mereka. Yang Bia tahu, Diana jarang berbaur sama tetangga. Mungkin Ammar punya sisi baik di mata mereka. Apalagi Ando sangat aktif setiap kegiatan komplek.


Minah, kamu kan kerja di tempat rumah sakit itu. Ammar sakit apa sih sampai harus di rawat di sana." tanya Bu Ijah.


"Aku malah baru tahu kalau kak Ammar di rawat. Selama aku di sana malah nggak pernah lihat ada keluarganya mondar-mandir. Tapi mungkin bukan kloter bagian aku." jelas Minah.


"Lah, emang beda ya?"


"Ada beberapa ruangan yang punya suster bertugas. Aku kan di ruang Kamboja. Jadi kalau untuk cluster Kamboja mah aku hapal. Kalau di luar itu nggak tahu."


"Oooooo..." jawab para ibu yang ngerumpi di ruang depan.

__ADS_1


"Kalian ini bukannya tenang malah ngerumpi." protes bu Nining.


Suara ambulans terdengar memasuki pelataran komplek perumahan Citarum. Semua yang ada di kediaman Diana berdiri menyambut kedatangan jenazah Ammar. Petugas kesehatan turun dari mobil membuka pintu belakang. Tampak Danu turun diikuti Rudi dan juga Anjas. Ada Fera yang di papah oleh Sarah. Tampak wanita masih terguncang oleh meninggalnya Ammar.


Keranda jenazah yang membawa Ammar pun turun. Keranda sudah siap untuk di bawa ke mesjid untuk di sholatkan. Ando menyambut kakaknya penuh air mata. Emir dan beberapa kerabat ikut menenangkan Ando, tatkala pemuda itu memeluk keranda abangnya.


"Do, istighfar! Ikhlaskan Ammar, dia pergi dengan tenang." bujuk Emir.


Mereka menyabarkan Ando yang merasa terpuruk efek kepergian ammar.


"Mas Ando yang sabar,ya. Semoga mas Ammar di terima di sisi Allah." Salah seorang pelayat menyabarkan Ando.


Ando cuma terdiam. Dia butuh seseorang untuk menguatkan dirinya.


"Abang, pulang bang. Jangan ngeprank aku, bang." Isak tangis ando saat semua tamu sudah pada pulang.


Ando membuka kotak yang di titipkan Ammar. Sewaktu dirinya akan pulang ke Indonesia karena Makwo Rubiah tidak ada yang membantu.


"Kalau ada apa-apa sama Abang. Tolong beri surat ini pada mereka."


"Abang ngomong apaan sih?"


"Pokoknya ini wasiat Abang."


Ando membawa beberapa surat dan barang milik Ammar. Rencana akan disumbangkan untuk yang lebih membutuhkan.


Ada 3 surat, untuk Mila, untuk Danu dan untuk Vika.


...****...


POV Mila


Dear Sarmila


Kamu ingat saat pertama kali dadaku bergetar padamu


Kamu ingat saat pertama kali aku Takut kehilangan mu


Kamu ingat saat aku melamarmu


Kan kamu saat aku membuat mu menangis karena aku menyakitimu


Yang aku ingat pertama kali tamparanmu yang membuat dadaku bergetar


Itu juga yang membuatku nekat mengikutimu ke Lampung


Ya, awalnya karena desakan Vika untuk mendekatimu

__ADS_1


Dan itu juga yang membuat aku melupakan perasaanku pada vika.


Saat kamu marah karena pertunangan kami, disitu aku merasa kamu lebih berhak di perjuangkan daripada Vika


Tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa saat ancaman mama mau bunuh diri kalo aku memilihmu.


Aku juga mencoba melupakan kenangan kita, dan mendekatkan pada Vika, tapi nihil karena cintaku lebih kuat padamu


Aku juga mencoba menjemputmu saat menjelang hari pernikahan kita, tapi Ando dan mama mengikuti ku dari belakang, saat aku mencari jalan pintas kecelakaan itu terjadi.


dan aku memaklumi saat keluargamu mengenalkan Danu sebagai calonmu.


Apakah kamu tahu...


Sampai saat ini rasaku masih padamu


Yaaaaaaa ....


Walaupun aku tahu kamu selalu kamu selalu bilang kita ini sahabat.


Ya


Walaupun aku tahu kamu berusaha melupakan kenangan kita


Aku tahu sudah lancang bicara ini padamu


Tapi tak bisa di pungkiri aku masih mencintaimu.


Aku menutup surat yang diberikan Ando. Tak kuat rasanya teruskan untuk membacanya.Aku minta maaf pada Ando kalo tidak bisa menghadiri pemakaman Amar. Aku yakin amar disana juga akan mengerti.


"Nggak nyangka, ya. Amar berakhir seperti ini." Kata Eva yang menemaniku di rumah.


Tadi ibu Rubiah datang mengantarkan surat untukku. Dia menyampaikan Ammar sudah di makamkan. Fera bahkan sampai pingsan melihat Ammar di masukkan ke liang lahat.


"Jodoh, maut, dan rezeki sudah ada yang ngatur. Kasihan Ando dia tidak punya siapa-siapa lagi." kataku pada Eva.


"Kamu yang kuat,ya. Sudah banyak cobaan yang kamu hadapi." Eva merangkul sahabat nya.


"Tapi, Mila. Yang aku heran kenapa Fera sampai down begitu?"


"Fera pernah menolak lamaran Ammar dulu saat mereka sama-sama di Lampung. Tapi Ammar kembali mengajaknya menikah lagi-lagi di tolak sama Fera. Dan mungkin ... mungkin Lo, Fera merasa bersalah atas apa yang pernah dia lakukan ke Ammar." tebakku.


"Mungkin Fera tahu kalau dia menerima Ammar tidak akan bahagia." kata Eva.


"Kenapa kamu berasumsi seperti itu?"


"Tadi di surat yang kita baca Ammar bilang masih mencintai kamu, Mila. Itu tanda jika dia masih hidup dan menikah dengan Fera, yang ada Fera yang berjuang bukan Ammar."

__ADS_1


"Tapi siapa tahu cinta itu bisa tumbuh seiring dengan waktu. Seperti aku dan Danu, walaupun aku dulu menerima Danu dengan harapan melupakan Ammar. Nyatanya aku bisa melewatinya."


Selamat jalan Ammar, semoga amal ibadah mu di terima di sisi Allah.


__ADS_2