Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 144


__ADS_3

DUA BULAN KEMUDIAN


Sebuah motor berhenti di sebuah hamparan pasir pantai. Seorang lelaki turun lalu menuntun wanita di belakangnya. Dengan perut yang membesar memasuki sembilan bulan. Tentu dia harus berhati-hati.


Langit masih gelap, sengaja dia meminjam motor milik salah satu satpam yang berjaga di rumah sakit. Ini kemoterapi terakhir dan mungkin puncak akhir dari terapinya. Danu pun menuntun sang istri menelusuri beberapa batang pohon Cemara.


Abrasi pantai kurang mendapat perhatian. Sekian tahun lalu, saat masih single, pantai ini sering menjadi tempat kunjungan favorit.


Dia juga sering ajak anak-anak panti berjalan-jalan ke pantai yang termasuk jarang di jamah para wisatawan. Masih terasa sejuk pada waktu itu, karena di tepi pantai banyak tumbuh pandan-pandan laut, yang sekarang telah tidak ada lagi.


Berada di sekitar muara sungai Bengkulu, jadi jarang digunakan untuk berwisata. Banyak sampah yang terbawa oleh aliran air sungai, sehingga perlu usaha lebih untuk mempercantik & memperindah pantai ini.


"Kenapa kesini?" Mila berjalan mendahului suaminya.


"Aku mau lihat pantai." sahut Danu menarik tangan istrinya.


"Bukankah kita sering kesini? kamu tidak capek? kita semalam menginap di rumah sakit. Lebih baik kita pulang saja. Jujur aku capek sekali, kita istirahat di rumah. Tidak enak kalau menyusahkan orang lain terus." cerocos Mila.


Semalam setelah ikut kemoterapi, Danu di sarankan menginap dulu di rumah sakit. Mila mau tidak mau ikut menemani suaminya. Meskipun dia sebenarnya ingin bawa suaminya pulang ke rumah. Memikirkan Lala yang sering di titip sama keluarga yang lain.


Entah ada angin apa setelah shalat subuh Danu merengek minta pulang ke rumah. Dan anehnya dalam perjalanan dia minta diantar ke pantai panjang.


"Sudah beberapa hari ini kita meninggalkan Lala, Uda. Aku tidak enak sama Eva, Fera, dan ibu Dahlia. Apalagi Fera beberapa kali menjaga Lala menginap di rumah. Sementara kita malah pulang ke rumah ibu Rubiah." keluh Mila.


"Kamu keberatan kalau kita pindah ke rumah ibu Diana. Tinggal di sana sementara karena ibu menemani adik Iparnya berobat di Padang. Ando menemani kakaknya berobat. Apa kamu keberatan?" ucap Danu.


"Sudah hampir tiga bulan ya mereka meninggalkan Bengkulu. Ammar apa kabar ya? bagaimana pengobatannya?" tanya Mila.


"Kamu merindukan Ammar?" selidik Danu.

__ADS_1


Mila tertawa sejenak. "Sedikit tapi sebagai sahabat."


"Ando sebenarnya sudah pulang. Ammar di temani salah satu kerabat mereka selama di Singapura. Kata Ando ada urusan penting yang harus dia selesaikan. Tapi kata Ando dalam minggu ini Ammar akan pulang.


Apa istriku ini keberatan tinggal di rumah ibu Diana?"


"Aku tidak keberatan, Uda. Cuma ya aku tidak enak merepotkan orang lain terus. Aku takut lagi-lagi Lala merasa kita abaikan. Dia ngambek lagi seperti waktu itu."


"Bisakah sesekali menyenangkan aku, Mila. Sejak beberapa hari ini setiap kamu mendampingi aku terapi. Pasti kamu selalu merisaukan orang lain. Bisakah sesekali kita meluangkan waktu berdua saja. Tanpa harus memikirkan hal yang lain.


Aku hanya ingin menciptakan momen yang mungkin belum tentu kita dapatkan untuk masa mendatang."


Mila menundukkan kepalanya. Rasa sesak mendera di dadanya. Dari nada suara suaminya seperti tidak mendukung keresahannya. Dia juga ingin quality time bersama suaminya. Tapi untuk saat ini banyak hal yang harus dia pikirkan.


"Apakah waktu yang kita ciptakan, yang kita lalui selama ini masih kurang? aku bahkan sampai mengabaikan adikku hanya untuk fokus sama kesehatan kamu. Dan kamu malah bilang aku terlalu memikirkan orang lain. Sesibuk apapun kegiatanku,tak pernah aku melupakan kamu, Danu. Aku berhenti jualan itu demi siapa? Demi kamu.


Dan sekarang kamu bilang seperti itu. Egois!"


Mila melemaskan otot-otot tubuhnya. Entah kenapa dia gampang tersinggung dan kali ini dia meluapkan apa yang selama ini di pendamnya. Dia iri pada Sarah yang dapat perhatian ekstra, dia iri pada Vika yang mendapat lelaki seperti Revo. Tatapannya beralih pada perempuan hamil yang berjalan tanpa alas di dampingi suaminya. Ingin sekali berada di posisi itu.


"Kamu selalu memanfaatkan kata-kata itu, Uda Danu. Kamu selalu menekankan kalau waktu mu tinggal sedikit. Pernahkah sesekali memandang ke depan. Pernahkah sesekali berpikir tentang kehidupan kita di masa depan. Yang kamu pikirkan aku harus kasihan sama keadaan kamu."


Mila berjalan meninggalkan Danu yang duduk di pasir pantai. Dia ingin menenangkan diri setelah meluapkan apa yang ada di pikirannya. Di sisi lain dia merasa bersalah dengan ucapannya barusan. Disisi lain dia juga ingin Danu mengerti posisinya sekarang. Dia tulang punggung keluarganya. Menggantikan ibu Aminah menjaga Lala, karena Sarah sudah punya Anjas.


Danu memandang punggung istrinya. Dia tidak mencoba mencegah langkah kaki Mila. Mungkin ada benarnya apa yang di ucap Mila. Dia seperti egois ingin di mengerti tapi tidak mencoba mengerti perasaan istrinya.


Tapi kenapa baru sekarang mengeluh. Bukankah Mila yang dia tahu selalu kuat dan menguatkan dirinya.


"Aku rasa itu hanya semacam hormon yang dialami ibu hamil. Wanita hamil biasanya pembawaannya sensitif." Danu mencoba positif thinking. Namun di sisi lain dia merasa Mila sepertinya mulai keberatan dengan keadaan penyakit Danu.

__ADS_1


Mila memejamkan matanya menikmati hembusan angin pagi. Pergantian waktu pun berjalan semestinya. Langit yang tadi gelap gulita perlahan menunjukkan sinarnya.


Tampak satu bintang yang bercahaya di langit. Kata orang itu adalah salah satu planet yang dekat dengan bumi.


"Nak, itu namanya planet mars. Planet yang menjadi bintang sebelum matahari terbit. Jika suatu saat kamu besar ibu ingin sekali kamu menjadi anak yang paling bersinar."


Mila merasakan punggungnya ada yang menutupi. Tebakannya pasti ulah suaminya. Aroma khas nafas lelaki itu tak membuatnya terganggu. Justru Mila mengeratkan jemarinya di sela-sela jemari suaminya.


"Aku tahu, mungkin kamu mencoba tetap kuat. Hanya demi tidak ingin membuat aku sedih. Aku juga tahu kalau mungkin apa yang kita jalani membuat beban hidupmu semakin berat. Tapi satu hal yang harus kamu tahu. Aku tidak pernah mau menjadi beban hidupmu, Mila. Aku juga tidak ingin sakit seperti ini. Tapi jika memang kamu sudah tidak kuat dengan semua ini, katakan saja walaupun terasa menyakitkan." ucap Danu lirih.


"Aku juga minta maaf atas ucapanku tadi. Entah kenapa aku bicara seperti itu, mungkin bawaan hamil dan mungkin karena aku kelelahan. Jujur tadi aku ingin sekali tidur dan kamu malah ajak aku keluar."


Danu menepuk pahanya dan meminta istrinya merebahkan diri. Mila tanpa sungkan sudah berada diatas paha suaminya. Belaian lembut menyapa pucuk kepalanya. Di tambah hembusan angin pagi bersambut naiknya matahari.


"Kenapa kita harus ke pantai UNIB. Biasanya orang mau di pantai panjang." tanya Mila.


"Karena momen lebih pas di sini. Tempat yang tidak terlalu ramai dengan pengunjung. Lebih romantis rasanya. Kalau di pantai panjang yang ada kamu pasti gengsi tidur disini." suara tawa kecil pun terdengar.


Di sepanjang jalan pantai UNIB depan, sepasang anak manusia tampak berjalan saling beriringan. Keduanya saling bercengkrama mesra. Memercikkan air pantai ke wajah istrinya. Saling melepaskan tawa tanda mereka bahagia.


"Ayo kejar aku, sayang" Danu berlari mendahului Mila. Sambil berlari tubuhnya berbalik memandang istrinya.


"Larinya jangan cepat dong! aku kan lagi hamil besar."


"Nggak apa-apa, sayang. Biar mancing bayinya cepat lahir."


Danu berlari semakin jauh. Gerakan Mila terhenti entah kenapa tubuhnya merasa tidak enak. Sementara itu, rasa nyeri pada kontraksi biasanya akan semakin menguat seiring waktu. Rasa sakitnya berpusat di perut dan punggung bawah, yang tidak hilang saat bergerak atau mengubah posisi.


"Udaaaa..." Mila memegang perutnya yang semakin terasa sakit.

__ADS_1


Danu berbalik melihat teriakan istrinya.


"Mila!"


__ADS_2