Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 60


__ADS_3

Mila langsung berhambur mendekati Dahlia. Keduanya masih saling memandang dari kejauhan. Lia terharu karena putri sulungnya datang ke bandara menyusul dirinya.


"Mila,...!"


Dahlia langsung mendekat ke arah Mila. Lalu memeluk Mila penuh cinta. Tangis haru Dahlia ketika Mila memanggilnya ibu. Pertemuan ibu dan anak pun tak terelakkan. Mila sesenggukan di pelukan ibu kandungnya. Fera, Danu dan intan pun ikut terharu.


"Akhirnya kamu datang, Nak. Ibu pikir tidak akan bisa melihat kamu yang terakhir kalinya."


"Iya, Bu. Aku datang, aku rindu sama ibu."


"Kamu tidak marah lagi sama ibu?"


"Aku sebenarnya akan lebih marah kalau ibu pergi. Aku baru saja menemukan ibu kandungku."


"Ibu tidak meninggalkan kamu lagi, Mila. Tapi ibu menyelesaikannya urusan ibu disana."


Suara operator bandara memecahkan keheningan keduanya. Dahlia mengecup kening Mila sebagai tanda sayangnya pada Mila. Keduanya saling melepaskan pelukan dan rasa bahagia.


"Ibu harus pulang, nak. Kamu jaga diri baik-baik. Nurut sama suami. Ibu yakin Danu bisa membahagiakan mereka" Mila terus mengangguk mendengar wejangan Ibu Dahlia.


"Kak Mila," ujar Fera berjalan mendekati kakak tirinya.


"Mbak Fera," jawab Mila.


"Jangan panggil aku mbak karena aku muda di bawah kakak, Panggil aku Fera saja. Selamat datang kembali dalam keluarga kami"


Mila hanya tersenyum kecil. Rasa bahagia yang luar biasa. Momen ini tidak akan bisa tergantikan. Mila mencium tangan ibu Dahlia diikuti Danu sebagai menantunya.


"Danu, saya titip Sarmila sama kamu. Aku hanyalah seorang ibu yang ingin berbicara atas nama diriku sendiri dengan melihat putriku sebagai istrimu, dan engkau sebagai menantuku.


Saya ingin kamu berjanji untuk tidak menyakiti hati anak saya. Saya juga ingin kamu berjanji bisa membimbing Mila menjadi istri yang shalihah."


"Saya janji akan membahagiakan Mila. Menjadi suami yang baik untuk Mila," ujar Danu.

__ADS_1


"Tenang hati ini mendengarnya. Kalian tidak ada rencana mau ke Lampung buat bulan madu?" Mila dan Danu saling bertukar pandang. Mereka ingin sekali bulan madu tapi sayangnya tidak ada dana.


"Kalau ada rezeki nanti kami ke Lampung,Bu," ucap Mila di amini.


"Tante Mila kalau nanti ke Lampung bawa adek untuk intan, ya."


"Insyaallah, ya intan."


"Kak Danu, saya punya satu permintaan sama kamu."


"Apa itu?"


"Tolong kasih saya cucu." ucap ibu Lia sambil tersenyum.


"ehmmm .." Keduanya sedikit malu-malu saat di bahas soal anak.


"Secepatnya,Bu " Jawab Danu dengan santai.


"Kenapa, sayang? apakah kamu mau kejar setoran?" Mila menunduk karena Danu membahas di depan ibu dan Fera.


"Wah, kenapa aku makin semangat, ya?"


"Mas sudahlah, malu tahu kalau di dengar ibu. Apalagi ada intan."


Detik-detik perpisahan pun terjadi antara ibu dan anak. Mila memandang ibu Lia yang menghilangkan masuk dalam bandara. Danu pun menguatkan istrinya.


Berpisah dengan orang yang disayang bukanlah hal mudah bagi siapa saja. Meskipun perpisahan tersebut hanya sementara waktu tetapi rasa berat melepaskannya pergi pasti ada. 11


Sama seperti Mila yang baru saja mengetahui kalau Dahlia adalah ibu kandungnya. Baru saja dia ingin merasakan kasih sayang seorang ibu. Dan sekarang mereka harus terpisah jarak.


"Benar kata orang, di mana ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Aku senang bisa mengenal bude Lia atau ibu Lia sebagai ibu kandungku. Walaupun aku baru tahu kenyataannya di akhir. Semoga ibu sampai dengan selamat di perjalanan pulang. Ya kan, Mas." Danu mengangguk setuju ucapan istrinya.


Netranya membayangkan jika itu di posisi dirinya. Banyak yang dia ingin tanyakan pada mereka, orangtua kandungnya. Kenapa dulu dia di buang? apa dia lahir tidak di harapkan. Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar di otaknya. Lagi-lagi Danu menepis pikiran itu.

__ADS_1


"Rasanya aku mau tanya sama ibu Nurmala. Siapa orangtua kandungku. Apa aku masih punya orangtua atau aku memang yatim piatu. Tapi kalau aku bertanya seperti itu apa tidak menyinggung perasaan Bu Nurmala. Meskipun aku anak panti, tapi hanya dia yang bersikap seperti ibu kandung." batin Danu.


"Sayang, kamu tunggu di sini. Aku mau ambil motor di parkiran dulu. Nanti kamu tunggu di depan tangga turunan."


"Iya, Mas. Nanti ke Pasar Panorama dulu. Stok sayuran panti lagi kosong." kata Mila.


"Itu biar Sari yang urus. Kita pulang ke rumah dulu."


Tak jauh dari posisi Mila berdiri, Ando dan Makwo Bia berjalan memasuki area bandara. Makwo Bia akan membawa Ammar untuk pengobatan di Jakarta. Sementara Ando mengecek tiket dan meninggalkan Ammar tak jauh di belakangnya. Makwo Bia menerima telepon serta menjauh dari posisi Ammar.


Lama Mila menunggu suamiku. Dia beringsut dari posisinya dan mencari tempat duduk. Dulu kalau ke bandara mengantar ibu Aminah kerja di luar negeri dia suka duduk di tangga. Tapi sekarang duduk di tangga sudah di larang karena sudah tersedia kursi.


Mila menoleh ke seorang lelaki dengan tubuh masih di perban.


"Maaf, Mas. Kenapa dengan tubuhnya?" entah kenapa pertanyaan itu meluncur dari mulutnya.


"Saya terbakar, Mbak. Sekarang saya akan di bawa ke Jakarta. Katanya kaki saya terancam amputasi. Keluarga minta pengobatan yang lebih baik di sana. Mbak sendiri mau kemana?"


"Saya tadi antar ibu saya mau berangkat ke Lampung. Semoga sembuh, ya. Maaf itu suami saya sudah menjemput." Mila pamit meninggalkan lelaki itu.


BRUUUUUKKK!


Mila merasa menabrak seseorang. Wanita yang di tabrak pun mengenali Mila. "Kau bukannya mantannya Ammar! gara-gara kamu pernikahan Ammar dan Vika gagal. Sekarang Diana sakit-sakitan, itu semua gara-gara kamu!" cerocos wanita itu.


"Makwo," suara panggilan terdengar dari jauh.


Bersamaan itu Danu langsung mengamankan istrinya yang di marahi orang lain.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Mila menggeleng. Dia masih syok dengan kemarahan wanita tadi.


Makwo Bia melihat kedatangan Danu tubuhnya langsung terpaku. Wajah lelaki yang membuat dirinya penasaran. Seperti ada magnet yang menarik ke arah lelaki itu. Namun langkahnya terhenti tatkala suara Ando mengingatkan tujuan utamanya.


"Makwo, kami berangkat ke Jakarta dulu. Ando titip mama, ya." pamit Ando yang menghilang ke dalam bandara bersama Ammar.

__ADS_1


__ADS_2