Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 39


__ADS_3

Satu minggu setelah meninggalnya nenek Seruni. Semua kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Lala kembali bersekolah, Sarah tetap menjalankan aktivitas sebagai mahasiswa. Eva dan Mila membuka usaha menu sarapan di teras rumahnya. Rohim tetap kembali bekerja sebagai sopir truk angkutan barang.


Beberapa hari yang lalu Sarah sudah dilamar oleh Anjas. Dengan acara yang sederhana keluarga besar Sarmila, acara lamaran pun berlangsung lancar.o Meskipun dulu lelaki itu pernah membawa keluarganya untuk melamar Mila. Sekarang mereka kembali datang melamar untuk pernikahan adiknya.


Setelah melepaskan Ammar untuk Vika. Mila pun kini di dekatkan dengan Danu. Walaupun keduanya mengaku hanya berteman saja. Tetap saja doa agar mereka berjodoh tetap di kencangkan dua adiknya.


Mendekati pernikahan Sarah dan Anjas semua di sibukkan dengan berbagai kegiatan.


Bude Lia mencoba menghubungi Mila tapi di urungkan, dia tidak enak dengan keluarga disana. Bude Lia yakin Mila adalah putrinya yang dia titipkan ke Rohim dan Aminah.


"Apa mama ada rencana pulang ke Lampung?" tanya Fera.


"Tidak. Mama mau disini Fera. Mama mau mengajak Mila ikut sama kita. Kamu disini kan sampai acara pernikahan Vika minggu depan."


"Entahlah, Bu. Kita sibuk sama urusan Vika. Tapi kayak jahat sama kak Mila. Kasihan Mila kehilangan nenek sekarang kekasihnya mau nikah sama perempuan lain."


"Tapi Mama salut sama Vika, mau jadi bawahan, padahal anak orang kaya"


Fera kaget lalu kembali mendekatkan posisi duduknya di samping mamanya "Bawahan gimana?"


Bude Lia meletakkan majalah yang tadi di bacanya ke meja, lalu memposisikan tubuhnya menghadap Fera. "Vika itu pegawainya Amar"


"Kok bisa. Amar kan cuma buka usaha counter handphone doang"


"Ya, itulah. Kan Vika sarjana teknik elektro"


"Tapi, ma. kata Ammar, Vika kerja disana berkat koneksi Tante Ida dan Tante Diana.


Fera masih tidak paham pemikiran Vika, segitunya pengen kerja tapi nggak harus kerja di bengkel hp kecil yang stafnya cuma 7 orang. Ah, paling gajinya kecil, apalagi Vika katanya pernah ikut berbagai kontes kecantikan, kalau bagi Fera mikir kalo mau kerja di sana.


Dulu Vika dan Fera lumayan akrab, apalagi Vika sempat sekolah di Lampung waktu SMP dan SMA, saat tamat SMA orang tua Vika pindah ke Bandung. Cuma Vika mulai jaga jarak dengan keluarga Fera semenjak sudah jadi orang kaya. Fera tahu Vika bukan perempuan yang sombong, cuma mungkin keadaan yang membuat dia dan Vika jadi tidak akrab lagi.


Yang Fera tahu, ibunya Vika tidak suka dengan ibunya, entah apa sebabnya Fera tidak tahu. Walaupun statusnya ibu tiri, bude Lia bukanlah sosok yang seperti sering di ceritakan orang orang tentang jahatnya ibu tiri. Bude Lia ibu yang baik bahkan super baik, Ashanti kalah deh.


Fera ingat waktu kak Dian sering sakit sakitan, karena kakaknya emang fisiknya lemah, bude Lia yang telaten merawat dian. Bude Lia rela keluar dari kerja cuma buat fokus sama kak Dian dan dirinya( Fera), apalagi semenjak ayah meninggal. Bude Lia berjualan apa saja mulai dari kuliner, souvernir, alay rumah tangga. Yang penting bisa berpenghasilan untuk kebutuhan dan biaya berobat kak Dian. Fera tidak melihat keburukan dalam diri bude Lia.


...****...

__ADS_1


Pov Mila


Malam ini aku diajak jalan-jalan sama bude Lia. Nggak kebalik ya, mungkin sebagai tuan rumah aku harusnya yang mengajak mereka jalan jalan, tapi karena mau mencari seragam untuk resepsi vika dan itu inisiatif Fera.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, eh Abang perawat. Lagi nggak dinas bang" Lala menyapa Danu


"Nggak. Buktinya Abang ada disini adek cantik" muka gadis 13 tahun itu memerah.


"Mau pada kemana?"


"Mau cari gaun buat pesta nikah ponakan bude Lia" kataku


"Oh, boleh ikut kan"


"Boleh, dong. Biar Anjas ada temennya" Sarah nimbrung


"Ini pacarnya,ya" tanya Danu


"Sarah boleh kasih saran nggak?"


"Saran apa?"


"Buat yang mau nikah nih Yee. Jangan sering berduaan, ntar nggak jadi"


Sarah diam. Semua orang malah ngeledek Sarah


"Dengar tuh, sar" kata Fera


"Au ah, gelap"


Di sebuah butik


Semua asyik memilih baju, terutama Fera yang mau modelnya seragam dengan intan


"Mbak ini ada model dewasanya nggak?"

__ADS_1


"Nggak ada mbak" jawab mbak pelayan toko.


"Fer, kamu udah berapa model di tanyain?" bude Lia melihat Fera belum dapat yang cocok, kasihan mbaknya di ribetin sama Fera.


"Ini,Ma. Aku mau coupel sama intan"


"Sama mama nggak mau coupel. Lagian kita semua seragam kok makanya perginya bareng"


Akhirnya Fera manut saja sama pilihan bude Lia.


Mataku tertuju pada sebuah gaun cantik berwarna putih. Mirip gaun Cinderella tapi berbentuk kebaya.


"Cantik ya" Danu tahu-tahu sudah di sebelahku.


"Iya cantik. Pas banget buat nikahan Sarah nanti"


Aku belum bisa melepaskan pandangan ke gaun itu.


"Emang kamu nggak kepengen pake gaun itu?"


"Apaan sih, Danu!" Aku pergi meninggalkan Danu yang masih memperhatikan gaun itu.


"Ya, siapa tahu kamu pengen mengenakan gaun itu. Andai aku punya pasangan pasti akan aku belikan."


"Mila aku boleh nanya?"


"Iya, kenapa?"


"Jika kita mencintai seseorang tapi tidak mendapat respon, apa yang harus dilakukan?"


"Kejar dia. ceweknya nggak tahu kamu suka sama dia kalau diam saja."


"Tapi aku takut dia menolakku"


"Cinta itu harus diperjuangkan. Semangat"


"Mila, kamu mau nggak aku perjuangkan?"

__ADS_1


__ADS_2