Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 95


__ADS_3

Masih dalam perjalanan menuju makam ibu Aminah. Tiba-tiba Mila meminta Danu mengantarnya ke pangsit Tris. Pangsit legendaris di bumi Raflesia. Sebenarnya Danu merasa punya feeling mereka harus ke makam. Entah kenapa dia bisa punya feeling seperti itu, Danu sendiri tidak paham.


Keinginan Mila yang mendadak mau ke pangsit Tris dianggap sebagai tanda lapar atau mungkin salah satu gejala ngidam. Kata orang kalau ngidam tidak di turuti anaknya jadi ileran. Entah benar atau tidak dia juga tidak begitu paham, yang pasti dia hanya menjaga perasaan istrinya.


Orang hamil biasanya sensitif atau gampang tersinggung. Berbagai perubahan yang terjadi dalam kehamilan bisa membuat perasaan ibu hamil menjadi lebih sensitif. Wajar saja bila ibu hamil jadi lebih mudah marah, sedih, atau tersinggung terhadap berbagai perkataan yang ditujukan kepadanya.


Perasaan ibu hamil yang sensitif bisa terjadi akibat perubahan hormon selama kehamilan. Hal ini membuat neurotransmiter yang mengendalikan suasana hati menjadi terganggu. Selain itu, stres, kelelahan, dan perubahan metabolisme tubuh juga bisa menjadi penyebab lain munculnya perasaan sensitif pada ibu hamil.


Makanya Danu menuruti semua keinginan Mila, selama yang diminta istrinya masih dalam tahap wajar.


"Itu baru awal pertama kak, belum melihat di bulan-bulan berikutnya," kata Wisnu kala itu.


"Semoga tidak minta yang aneh-aneh. Cuma manjanya itu Lo," Danu teringat Mila sejak di vonis hamil berubah jadi sosok yang manja. Tidak mau jauh dari suaminya. Padahal saat awal menikah Danu lah yang lebih manja.


"Yaelah, kakak juga duluan lebih manja sama kak Mila. Satu sama dong," Wisnu terus menggoda Danu.


Danu mengkeplak kepala adik angkatnya. Dua saudara itu mengakhiri pembicaraan dengan tertawa bersama. "Aku ketemu Ratna, Wisnu. Kayaknya dia masih single,"


"Kak aku seperti ada yang mau di kerjakan, nanti kita lanjut obrolannya.


"Kamu masih malu ketemu sama dia, Wisnu. Ya kakak tahu dulu dia suka sama kamu, ngejar-ngejar kamu. Tapi setelah dia berhenti, kamu yang malah minder ketemu dia. Kayaknya bidan sama dokter cocok kok,"


"Dia jadi bidan, ya kak?"


"Nah, kamu kepo juga," Wisnu kembali dingin dan meninggalkan Danu dengan alasan masih banyak pekerjaan.


Danu terkejut saat Mila menepuk pundaknya. Ternyata mereka sudah berhenti di depan pangsit Tris. Danu akhirnya turun dari motor melepaskan helm.


"Mas, kita ke makam saja. Kayaknya sebentar lagi bakal gelap," Danu melongo melihat istrinya yang kembali berubah haluan.


"Mas, aku sudah nggak minat lagi ke sini. Ayo kita ke makam terus ke tempat Sarah buat jemput Lala," rengek Mila.


Danu hanya mencelos. Benar-benar dia harus ekstra sabar pada kemauan Istrinya. Tadi mau ini sekarang mau yang lain.


"Oke, kita pergi ke makam. Ini sudah mau gelap," Danu kembali melanjutkan perjalanan menuju makam ibu Aminah.


Kapan lagi mereka bisa berziarah sebab besok sudah masuk bulan Ramadhan. Motor pun berjalan terasa santai memasuki area perkampusan. Sawah Lebar tak pernah sepi, area yang dekat dengan kampus, di pinggir jalan terdapat beraneka macam jajanan pasar maupun modern.

__ADS_1


Memasuki area kompleks Merawan, suasana kembali sepi. Di tambah dengan sisa hujan yaitu tanah yang becek. Motor menuruni tanjakan. Danu mengingatkan istrinya memegang pinggangnya. Mila pun memeluk erat pinggang Danu. Mila melihat mobil ambulans beserta kerumunan warga disana. Ketika mereka sampai mobil ambulans itu meninggalkan area pemakaman.


"Kok ada ambulans ya, Mas?" tanya Mila penasaran.


"Mungkin baru selesai mengantarkan jenazah," kata Danu yang langsung memasuki area pemakaman.


Mila mengerutkan dahinya. Kenapa banyak orang yang berdiri di depan makam ibunya.


"Mas kenapa orang-orang rame di makam ibu?"


"Kita kesana saja biar tahu," keduanya berjalan mendekati makam ibu Aminah.


"Assalamualaikum, pak,"


Beberapa warga menoleh kearah mereka. Danu pun memberanikan diri menanyakannya apa yang terjadi di makam mertuanya.


"Ini, Dek. Tadi ada anak gadis yang sepertinya pingsan di pinggir makam,"


Mila dan Danu bertukar pandang "Anak gadis?"


Mila terhenyak mendengar penuturan warga. Seperti mengenali ciri-ciri yang di sebutkan.


"Sekarang dia di bawa kemana, Pak?" tanya Mila mulai panik.


"Mas, itu ciri-cirinya kayak Lala. Aku yakin itu Lala, kenapa dia bisa disini tanpa pengawasan dari Sarah atau Anjas," Mila mulai menangis takut terjadi sesuatu pada adik bungsunya.


"Di bawa kemana, Pak?" tanya Danu.


"Ke rumah sakit Raflesia kayaknya,"


"Sayang, kita ziarah sebentar terus ke Raflesia," kata Danu diikuti anggukan kepala Mila.


Danu masih berusaha menenangkan Mila yang masih panik tentang Lala. Wanita usia 30 tahun tersebut terus mendesak suaminya untuk mengurungkan ziarah.


"Kita sudah di makam, Sayang. Jadi harus menyesuaikan dengan niat semula, kita berdoa untuk ibu Aminah. Setelah itu langsung ke rumah sakit,"


"Aku harus bicara sama mereka. Bisa-bisanya mereka lalai menjaga Lala. Mas, aku telepon Sarah dulu," Wajah Mila bak mendung di serang halilintar saking cemasnya. "Nomor Sarah tidak aktif!" rutuk Mila.

__ADS_1


Ziarah pun menjadi kacau karena Mila terus kepikiran sama Lala. Sepulang ziarah, Mila terus terdiam. Tak ada celotehan seperti biasanya. Pandangannya terus ke punggung suaminya. Ada marah pada diri sendiri, ada marah pada Sarah dan ada rasa cemas pada adik bungsunya.


"Tadi, saat hujan reda beberapa warga ada yang melintas kearah kuburan, mereka melihat ada sosok perempuan tertidur di atas makam. Sempat membaut warga takut karena ini sudah sore. Tapi ada yang memberanikan diri untuk melihat apakah adek tadi orang atau bukan. Ternyata pas di cek masih hidup dan mungkin sedang demam. Wajahnya pucat, mbak," kata salah satu warga menjelaskan kronologi yang sebenarnya.


Mila dan Danu pamit pada warga sekitar. Tentu saja mereka langsung menuju rumah sakit Raflesia, dimana Lala di bawa kesana.


Tak berapa lama mereka pun tiba di rumah yang jarak waktunya tidak sampai sepuluh menit. Danu pun menghambur ke arah resepsionis.


"Sus, apa ada pasien yang di bawa barusan. Yang katanya pingsan di kuburan," tanya Danu.


"Namanya siapa?" tanya suster


"Lala, sus. Atau mungkin Sahila, ada nggak?" suster itu menggeleng karena memang tidak ada yang mendaftar dengan nama yang disebut.


"Maaf, mbak bukannya yang di makam tadi?" Mila yang tadinya panik di pertemukan lagi dengan bapak tadi.


"Iya, pak. Tadi itu adik saya yang bungsu. Sekarang dia dimana?"


"Sedang di UGD di tangani dokter,"


"Sayang tadi aku mengabari soal Lala pada ibu Nurmala, Ibu Rubiah dan keluarga yang lainnya," lapor Danu.


Sementara Mila masih terduduk di kursi tunggu depan UGD. Pikirannya melayang entah kenapa. Hanya air mata yang membasahi wajahnya.


Danu duduk di samping istrinya. Menenangkan perasaan wanita yang sudah hampir empat bulan di nikahinya. Kepala Mila di pindahkan ke bahu lelaki itu, tangan itu tak pernah lepas dari genggaman sang pemilik hati.


"Jika aku pergi suatu saat nanti, siapa yang akan menjaga kamu dan anak kita. Menenangkan kamu di saat seperti ini.


Lala? mungkin suatu saat nanti dia juga punya kehidupan sendiri.


Sarah? sekarang saja dia juga tidak pernah peduli sama yang lain.


Ammar? apa aku bicarakan ini sama Ammar. Aku tahu dia amnesia, tapi aku merasa dia masih mencintai Mila,


Ya Allah, kenapa aku malah berpikiran seperti ini?"


Danu terus bermonolog, membayangkan jika dia memang sudah habis waktunya serta pergi untuk selamanya.

__ADS_1


__ADS_2