
Mila duduk di samping suaminya. Tangannya telaten mengompres dahi Danu. Berharap suhu badan Danu segera membaik. Mila jadi ingat kalau Danu punya adik angkat seorang dokter. Dia bangkit dari tempat duduknya mencari handphone suaminya. Mila tidak menyimpan nomor Wisnu. Akan tetapi lebih bagus dia menghubungi lewat nomornya Danu. Mila masih canggung untuk berkomunikasi langsung dengan orang terdekat Danu.
Baru saja dia hendak menelepon, tiba-tiba layar handphone Danu berbunyi. Ternyata dari ibu Nurmala. Secepatnya Mila mengangkat telepon ibu mertuanya.
"Assalamualaikum, Danu, kamu kapan main ke panti? anak-anak pada nanyain kamu. Ajak Mila main ke sana. Kalau perlu Mila tinggal sama kita biar ibu ada temannya.
Ini ibu masak rendang ayam kesukaan kamu. Kamu main kesini ya nanti malam."
"Bu," suara Mila melembut
"Loh, jadi kamu yang angkat, Mila. Danu-nya mana?"
"Bu, Mas Danu pingsan di kamar. Hidungnya mimisan. ini tadi saya mau telepon Wisnu. Maaf ya Bu saya lancang angkat telepon ibu."
"Danu, pingsan? mimisan juga? Ya Allah, sekarang bagaimana keadaan Danu?"
"Masih belum sadar, Bu. Badannya panas sekali. Mungkin dia kecapekan karena tadi pulangnya hampir subuh"
"Ibu kesana, ya. Kamu pasti kewalahan ngurusin Danu. Ya Allah, kok dia tiba-tiba kumat, ya?"
Ucapan Bu Nurmala menjadi pertanyaan bagi Mila. Apakah suaminya sering drop seperti ini. Berarti ini bukan yang pertama Danu pingsan begini. Banyak hal tentang Danu masih misteri bagi Mila. Mungkin karena kedekatan mereka terbilang singkat. Belum saling mendalami satu sama lain.
Mila baru saja hendak berdiri merasakan tangannya ada yang menahan. Dia berbalik melihat Danu sudah sadar. Dia kembali duduk di samping suaminya.
"Alhamdulillah, mas sudah sadar," lirih penuh rasa syukur.
"Mila," lirih Danu.
"Iya, Mas. Mas mau minum," Mila mengambil air putih yang di letakkan samping ranjang.
"Terimakasih,"
"Mas, mau makan apa? biar aku ambilkan" Tangan Mila di tahan oleh Danu.
"Aku cuma mau kamu disini menenami. Aku nggak lapar, aku cuma mau kamu di dekatku saja" Danu mengelus jemari Mila lalu menciumnya.
__ADS_1
"Kamu ini, Mas. Genting begini masih saja menggombal. Yasudah, kamu istirahat sebentar aku mau ke belakang, eh..." Mila di tarik Danu hingga terduduk di atas paha suaminya.
Danu menelisik setiap sudut wajah Mila. Tangannya memindahkan helai rambut Mila yang menutupi indera pendengaran. Setiap tiupan yang di hembuskan Danu menjadi sensasi tersendiri bagi Mila. Seketika jantungnya berdetak kencang. Di barengi dengan kecupan mendarat di dahinya.
"Mas, kamu makan, ya. Lihat wajah kamu pucat begini? Makan, ya. Biar ada energi sedikit," Danu akhirnya menuruti keinginan istrinya untuk mengisi perutnya. Memang benar kata istrinya kalau tidak makan pasti lemah tenaganya.
"Pesawat terbang meluncur....." Satu sendok nasi plus lauk pauk mendarat ke mulut Danu.
"Anak pintar, makan yang banyak biar cepat sehat. Kan kalau kamu sakit aku juga ikut sedih" Mila mencubit kedua pipi Danu.
"Mau lagi.." rengek Danu.
Danu meminta Mila lebih dekat jarak dengannya. Mila pun menunduk malu. Deru nafasnya sangat terasa, di tambah Danu mendaratkan kecupan di dahinya. "Mas ini masih siang?" bisik Mila.
"Bukankah mau siang atau pun malam tidak masalah. Kita sudah halal" jawab Danu.
"Tapi aku malu, mas ini masih jam 10 pagi" Mila masih menunduk malu-malu.
"Yasudah kunci saja pintu rumah" Mila menuruti perintah suaminya.
"Sudah, Mas"
"Mas," suara Mila mendesah, meracau terus.
"Sayang, semoga dengan ini kita bisa memberikan kebahagiaan di tengah keluarga kecil ini. Aku mencintaimu Mila." Bisik Danu.
Beberapa saat kemudian Mila dan Danu terbangun mendengar suara salam dari luar. Mila masih mencoba mengumpulkan nyawa. Membuka matanya pelan-pelan, suara panggilan masih terdengar.
Mila mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Tubuhnya terasa remuk redam. Meskipun bukan yang pertama, tapi sakitnya masih terasa. Kakinya masih terasa beku. Serta memunguti pakaian mereka yang berserakan.
...******...
"Hah!" Lelaki itu terbangun ketika mendapati mimpi yang menurutnya aneh.
"Bang, Ammar kenapa?" Ando ikut terbangun mendengar teriakan abangnya.
__ADS_1
"Dia lagi... dia lagi! siapa sebenarnya wanita itu?" racau Ammar.
"Perempuan? siapa bang?"
"Aku tidak tahu, yang pasti sepertinya dia sangat sederhana penampilannya. Parahnya aku barusan mimpi dia bercumbu di ranjang dengan seorang lelaki." Ammar menceritakan mimpinya dengan nafas terengah-engah.
"Kalau lihat dari gambaran bang Ammar sepertinya Mila yang dia sebut. Ya Allah kalau Mila bisa membantu abangku untuk sembuh akan aku lakukan"
"Do, aku pengen ke teras bisa tolong bawakan aku ke depan?" Ando mengangguk pelan. Dia memindahkan Ammar dari ranjang ke kursi roda. Saat ini Ammar sudah satu minggu pulang ke rumah. Sambil menunggu kabar berobat ke Jakarta.
"Mama bagaimana keadaannya?" tanya Ammar mengingat mama Diana tidak tinggal dengan mereka.
"Kata makwo Bia, mama belum ada perkembangan signifikan. Mama seperti kehilangan semangat hidup. Padahal abang sudah pulang. Tapi kenapa mama tidak mau berusaha sembuh."
"Apa karena mama masih tidak merestui aku sama Fera. aku sangat mencintai Fera, tapi kenapa mama malah melarang hubungan kami"
"Mama sudah menerima Fera, bang. Tapi sepertinya Fera yang mau mundur dari hidup, bang. Bahkan sebelum kecelakaan Fera sudah menolak Abang" cerita Ando.
Ammar dan Ando sudah berada di teras rumah mereka. Pandangan Lelaki itu menerawang ke langit cerah meskipun terasa terik. Ando sudah beberapa kali mengajaknya ke beberapa tempat. Tapi yang ada orang malah menjadikan dirinya sebagai tontonan. Wajah Ammar masih bersembunyi di balik perban.
"Ada mumi... ada mumi... ada mumi ..." teriak anak-anak melewati rumah mereka.
Emosi Ammar memuncak. Tangannya mengambil matu kecil tersusun di dalam pot. Ando melihat Ammar hendak melempari anak-anak langsung bergerak.
"Mumi gila ngamuk... mumi gila ngamuk..." anak-anak itu dengan santainya menjulurkan lidahnya untuk mengejek.
"Sudah, bang jangan di ladeni. Namanya juga masih anak-anak."
"Iya, masih anak-anak. Kecil saja sudah kurang ajar apalagi dewasa nanti." amuk Ammar.
Ando langsung memasukkan abangnya ke dalam rumah. Dia tidak mau nanti ada warga yang resah dengan kejadian tadi.
"Do, maafin abang. Aku sudah nyusahin kamu"
"Bang Ammar ngomong apa sih? kita ini saudara sudah seharusnya saling membantu."
__ADS_1
"Semoga ada secepatnya kita dapat panggilan ke Jakarta" ucap Ando.
"Amin"