
Baru selesai sholat ashar, Anjas pun menyalakan motornya dan berencana pulang ke rumah. Setelah mampir ke toko roti terkenal di kota Bengkulu, oleh-oleh untuk keluarga besarnya. Termasuk untuk istrinya. Anjas berjalan menuju ke kuda besi berwarna merah tersebut. Menatap satu kantong besar berwarna putih sambil menyunggingkan senyum.
"Sarah pasti senang sekali kalau aku beli kue ini." ucapnya sambil menunggangi kuda besi tersebut.
Anjas mengendarai motor dengan penuh bahagia. Dulu hubungannya dengan Sarah di selimuti sikap was-was. Apalagi dengan sikap istrinya yang tidak bisa di tolerir saat itu. Dia juga manusia, ada batas kesabaran menghadapi istri seperti Sarah. Atas usulan mamanya dia pun memberanikan diri menalak Sarah.
"Menikah itu sekali seumur hidup, Jas. Sarah adalah pilihan kamu, baik dan buruknya harus kamu terima. Memang ada sifat Sarah yang tidak kita sukai. Apalagi saat dia memperlakukan adiknya seperti pembantu. Mungkin benar kata Sarah tujuannya mendidik. Hanya saja momennya yang salah.
Tapi Sarah juga masih muda, pengalamannya dalam rumah tangga juga belum ada. Ayah mengenal Sarah sejak dia masih SMP karena dekat dengan Rudi. Dia memang rada bar-bar dan manja. Karena apa? dia tidak punya sosok ayah di keluarganya."
"Tapi Sarah sudah keterlaluan, Yah," ujar Anjas.
"Kamu baru beberapa bulan menikah sudah menyerah begitu saja, Jas. Sarah dan mama kamu itu sebelas dua belas. Api di lawan sama api tidak akan dapat solusinya.
Jika kamu ingin di hargai oleh pasanganmu, maka kamu harus terlebih dahulu menghargai dia. Ayah tahu perasaanmu, tapi pernahkah kamu mencoba membimbing istrimu.
Misal nya begini, Jas. Kamu ingin istrimu bisa masak maka coba terlebih dahulu melakukan bersama. Di bumbui obrolan kecil yang di jamin tidak akan membuat istrimu merasa jenuh dengan rutinitasnya sebagai istri rumah tangga. Hal kecil itu dulu yang harus kau tanamkan.
Satu lagi, Jas. Tidak ada sejarah mertua dan menantu bisa akur. Kalau saran ayah kalian pulang ke rumah yang dulu."
Anjas menundukkan kepalanya. Memang benar kata ayahnya kalau selama ini dia hanya tahu beres. Tidak pernah berinteraksi khusus dengan istrinya.
"Terimakasih, Yah," ucapnya lirih.
Anjas terus saja tersenyum senang mengingat apa yang terjadi dalam rumah tangganya. Bukan mengingat masa kelam mereka dulu. Tapi dia senang perubahan sikap Sarah sedikit lebih baik dari sebelumnya.
Baru selangkah dia berdiri di depan gang komplek rumahnya. Merasa kantongnya bergetar dia pun menghentikan mesin motornya.
"Ada apa, Ma?" tanya Anjas mengangkat telepon dari mamanya.
"Jas tolong ke Raflesia sekarang?" suara mama Melani terdengar panik.
__ADS_1
"Ada apa, Ma? siapa yang sakit?" tanya Anjas.
"Sarah pendarahan, dia pingsan di kamar mandi." Adu Bu Melani.
"Pendarahan! Ya Allah!" Anjas menutup teleponnya. Di dera rasa panik dia pun melajukan motornya menuju rumah sakit Raflesia.
Sesampainya di depan gerbang rumah sakit Anjas sudah di sambut Rudi. Keduanya langsung menghambur masuk ruang gawat darurat.
"Rudi apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Anjas dengan raut wajah penuh kecemasan.
"Aku nggak tahu, kak. Tadi mama menelepon sudah di rumah sakit katanya Sarah pingsan di kamar mandi." jelas Rudi.
"Mama mana, ya?" matanya mencari keberhasilan mama Melani di depan ruang gawat darurat.
"Iya, kan dia yang ngabarin. Sekarang orangnya entah kemana?" Rudi pun ikut heran.
"Suami dari ibu Sarah." suara suster membuat Anjas memajukan dirinya.
"Saya, dok. Bagaimana keadaan istri saya dong?"
"Calon bayi kami meninggal, sus?"
"Iya, Mas yang sabar, ya. Istri anda juga banyak kehilangan darah," Anjas langsung lemas, Rudi dengan sigap menenangkan kakaknya.
Rudi pun menuntun Anjas duduk di kursi. Masih berusaha menghibur sang kakak. Anjas tadi merasa sebahagianya. Ada pisau yang menusuk tajam ke ubun-ubun kepalanya. Rudi pun mengabari keluarga Sarah.
Sore ini di kejutkan dengan kabar Sarah masuk rumah sakit karena terpeleset dari kamar mandi. Mila dan Danu yang rencana akan memulai kemoterapi harus menunda terlebih dahulu. Bukan hanya Mila dan Danu saja yang datang. Ibu Dahlia dan Fera baru pulang menjemput Intan pun menyusul ke rumah sakit. Lala juga pun menyusul ke rumah sakit.
" Apa yang terjadi?" Tanya Danu pada Anjas.
"Saya tadi masih di loket mendapat kabar ini dari mama Melani. Ternyata Sarah sedang hamil muda," suara Anjas terbata-bata.
__ADS_1
" Bayinya gimana?"tanya Mila.
"Meninggal dunia, kak. Dan Sarah kehilangan banyak darah. Padahal dia baru kemarin bilang sudah dua minggu jadwal haidnya lewat. Padahal kami ada rencana periksa ke dokter kandungan. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain."
"Siapa meninggal dunia, Om?" intan bersuara di tengah ketegangan para orang dewasa.
"Adek bayinya meninggal,nak."
" Kata pak ustadz, kalo adek bayi meninggal artinya dia langsung masuk surga, Om."
“Ya Allah, jadikanlah kematian anak ini sebagai pahala dan simpanan bagi kedua orangtuanya dan pemberi syafaat yang dikabulkan doanya. Oh Allah, dengan musibah ini, beratkanlah timbangan perbuatan mereka dan berilah pahala yang agung" intan memulai doanya.
"Ya Allah, anak mama pintar sekali." Fera menghujani kecupan di dahi anaknya. Ada rasa bangga pada Intan.
"Pasien membutuhkan donor darah golongan AB." Kata salah satu petugas medis.
"Saya AB pak" Lala menyahut
"Jangan la, kamu ada riwayat mag" protes Mila
"Nggak papa,kak. Kak Sarah lebih membutuhkan."Jawab Lala.
Mila takjub Lala mau mendonorkan darah untuk Sarah. Padahal Sarah sering judes pada Lala.
Anjas mendekati adik iparnya. Sungguh hati gadis muda itu sangat mulia dimatanya. Belum lekang dari ingatannya bagaimana perlakuan Sarah pada Lala.
"Terima kasih kamu sudah mau mendonorkan
darah kamu untuk Sarah." Anjas langsung
memeluk tubuh Lala.
__ADS_1
"Lala, kakak bangga sama kamu. Seandainya darah kakak sama dengan Sarah sudah pasti aku yang pertama maju."
"Kan kakak yang selalu bilang sama aku. Saudara itu darah yang tidak bisa di pisahkan. Satu saudara sakit, kita sakit sama-sama. Satu saudara bahagia kita pun kecipratan juga."