
Dalam kehidupan nyata, pernikahan bukan hanya perihal bersatunya dua insan yang saling cinta dan sayang. Melainkan juga menyatukan dua keluarga besar dari pihak perempuan dan laki-laki.
Terkadang hal tersebut menjadi tantang tersendiri, ketika pasangan yang akan menikah harus memperkenalkan karakteristik keluarga masing-masing.Tak hanya keluarga besar, jika nantinya pernikahan sudah terselenggara, masing-masing pasangan pun akan memiliki orangtua baru yang disebut dengan mertua.
Ketika menikah, sering sekali kita melihat orangtua kandung atau mertua yang ikut campur dalam urusan rumah tangga. Hal ini wajar terjadi, apalagi pada dasarnya mereka merasa lebih berpengalaman dalam hidup, tetapi sayangnya cara yang digunakan tidak tepat.
Suara orang melantunkan ayat suci Al-Quran menggema di kompleks jalan Merpati daerah Rawa Makmur. Di gerbang kompleks mereka memang ada mesjid. Namanya Masjid Baitul Jannah. Kalau dari rumah mereka memang sedikit jauh. Tidak masalah jauh atau dekatnya yang penting tidak menyurutkan. niat untuk beribadah.
Pak Ahmad membangunkan Rudi untuk ikut salat di Masjid. Sementara Anjas masih berada di rumah sakit karena Sarah belum sadar. Bu Melani sudah bersiap-siap hendak ikut ke Masjid tapi di acuhkan sama pak Ahmad dan juga Rudi. Itu bentuk kekecewaan mereka atas sikap Bu Melani pada Sarah. Berimbas apa yang dialami Sarah saat ini.
"Pak sudah siap ke Masjid," suara Bu Melani terdengar menggema di dalam rumah. Ciri khas dirinya bersuara lantang.
"Kok nggak ada yang jawab?" batin Bu Melani.
"Ya Allah, kok di kunci rumahnya!" Bu Melani yang hendak ke Masjid kaget suami dan anaknya pergi duluan. Lebih kaget lagi dia seperti sengaja di kunci di dalam rumah.
"Mereka kenapa, Sih?" Gerutu Bu Melani.
Sudah sejak tadi malam suami dan juga anak sambungnya mengacuhkan dirinya. Melani menebak pasti ada hubungannya dengan Sarah. Sesekali wanita paruh baya itu mengutuk menantunya. Menganggap wanita muda itulah yang menghasut orang-orang di rumahnya.
"Sarah datang dengan penyesalan dan aktingnya jadi istri penurut. Sikapnya yang berbalik malah membuat keluargaku berantakan. Harusnya aku dapat menantu lebih berkualitas dari Sarah.
Aaaaaargggh!"
Melani membanting mukenanya diatas tempat tidur. Moodnya untuk sholat subuh hancur seketika. Di hempaskan tubuhnya ke kamar Anjas. Tatapannya semakin menjalar melihat pakaian wanita di kamar putranya.
__ADS_1
Di teras belakang rumah ibu Melani sudah berdiri bersama tumpukan barang milik Sarah. Senyumnya mengembang sembari memercikkan bensin diatasi tumpukan barang. Bukan hanya baju saja, tetapi tas dan juga barang kuliah Sarah sudah siap bermandikan bensin. Dengan cepat Bu Melani menjatuhkan korek api diatas tumpukan barang.
"Kamu bukan hanya tidak punya apa-apa lagi, Sarah. Kamu tidak akan bisa mendapatkan Anjas lagi. Anjas itu anakku dan aku yang berhak atas hidupnya." kata Bu Melani sambil tertawa di depan kobaran api.
Angin kencang bertiup ke arah barat. Membuat api semakin membesar, Melani meninggalkan teras belakang. Langit sudah mulai terang, Melani menjalankan tugas seperti biasa. Rudi dan pak Ahmad sudah pulang kaget melihat asap mengepul di belakang rumah.
"Itu sampah, saya bakar. Dari pada numpuk di belakang." Sahut Bu Melani dari pintu penghubung dapur dan teras.
"Sampah? seingat saya semalam sudah saya buang bareng Ujang. Tadinya saya mau tunggu tukang sampah keliling terus ketemu Ujang yang juga mau buang sampah ke sungai." kata pak Ahmad sambil menggaruk kepalanya.
"La iya, Ujang semalam balikin sampahnya. Dia bilang nggak jadi ke sana. Makanya aku tumpuk di belakang. Ada apa, Pak?" Bu Melani melihat gelagat beda dari suaminya.
"Anjas bilang Bu Siti sudah menyerahkan diri ke polisi. Terus kata Anjas ada satu lagi yang akan di bawa polisi." kata pak Ahmad meninggalkan istrinya dari dapur.
Melani kaget mendengar kabar Bu Siti sudah menyerahkan diri.
"Assalamu'alaikum" suara sapaan terdengar dari pintu luar. Pak Ahmad langsung berjalan menuju pintu depan. Tak dua orang pria berseragam coklat berdiri.
"Waalaikumsalam, maaf, Pak. Ada keperluan apa kesini?" sapa pak Ahmad sebagai tuan.
"Saya kesini mau membawa surat penangkapan ibu Melani atas kasus yang menimpa ibu Sarah."
"Siapa yang melaporkan istri saya?" tanya pak Ahmad.
"Saudara Anjas yang sudah melaporkan ibu Melani. Saya minta anda semua harus bekerjasama dengan kami. Jangan ada yang kalian sembunyikan." kata pak polisi.
__ADS_1
"Anjas yang melaporkan saya? nggak mungkin saya kenal sama Anjas. Dia sangat sayang sama ibunya. Dari kecil dia anak yang penurut. Jadi rasanya ..." batin Bu Melani masih tidak percaya.
"Bu," Pak Ahmad memanggil istrinya.
"Pak, ada apa polisi datang kesini?" Bu Melani pura-pura bersikap santai.
"Apakah anda Bu Melani?" tanya salah satu polisi.
"Iya, benar saya. Ada yang bisa saya bantu?"
"Ibu Melani bisa ikut kami ke kantor polisi untuk memberi keterangan terkait kasus ibu Sarah di rumah ibu Siti."
"Apa yang terjadi antara Bu Siti dan Sarah, Bu?" tanya pak Ahmad.
"Itu, anu .... " Bu Melani bingung harus menjelaskan pada suaminya.
"Pak saya tidak masalah kalau memang istri saya harus di bawa ke kantor polisi. Biar dia tahu bagaimana rasanya jauh dari orang-orang tersayang. Biar dia tahu kalau sudah melakukan pembunuhan pada janin yang tidak berdosa."
"Saya tidak membunuh siapapun, Pak. Salah Sarah sendiri tidak mengatakan kalau dia sedang hamil. Otomatis dia juga ingin bayinya mati. Dia mau adu domba antara aku dan Anjas. Kalian tidak lupa kalau Sarah itu jahat dan licik.
Pak tolong bilang sama Anjas, bantu bebaskan aku. Dia sekarang sedang di pengaruhi keluarga Sarah. Pak, Tolong!" Pekik Bu Melani ketika di giring ke dalam mobil polisi.
Warga banyak berdatangan melihat Bu Melani di bawa oleh polisi. Bisikan demi bisikan lolos dari bibir mereka. Ada yang mengatakan wajar dengan sikap Bu Melani, punya menantu arogan seperti Sarah. Ada juga yang kasihan dengan nasib Sarah. Semua yang disana berspekulasi sesuai pemikiran masing-masing.
"Yah," Rudi melihat ekspresi ayahnya sendu.
__ADS_1
"Ayah gagal jadi suami, Di. Selama ayah menikah dengan Melani harapan agar kamu dapat kasih sayang seorang ibu. Bukan masalah dia lebih kaya dari kita." Rudi memeluk ayahnya dengan erat.
"Ayah tidak gagal sebagai suami dan ayah bagi aku. Ayah adalah lelaki terbaik yang pernah aku temui. Kalau soal Bu Melani, mungkin suatu saat hatinya akan terbuka dengan sendirinya. Dan aku harap kejadian ini bisa membuka mata ibu Melani."