Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 150


__ADS_3

Ku ingin bersama lebih lama


Hidup bersama denganmu


Mila melangkahkan kakinya menuju teras rumah. Langit mulai menghitam menandakan akan turun hujan. Langit mendung sering kali identik dengan kegalauan dan kemuraman karena warnanya yang hitam. Bahkan saat mendung, ada juga warna awan yang hitam begitu pekat. Hal itu kerap menandakan hujan deras akan segera turun.


"Assalamualaikum," suara sapaan di depan pintu.


Mila langsung meninggalkan kamar. Hanya dia dan Sada sedang di rumah. Sementara Danu tadi diajak sama Ayah Rohim yang katanya urusan laki-laki. Entah apa urusan itu Mila juga belum paham. Mungkin ayahnya butuh teman bertukar pikiran. Selama bukan dengan perempuan lain tidak masalah.


"Waalaikumsalam," Mila membuka pintu. Tampak sepasang anak muda berpakaian putih biru.


"Lala." Dua bersaudara itu saling berpelukan.


"Kakak, adek Sada mana?" tanya Lala.


"Sada lagi tidur, La. Aris wah terimakasih atas hadiahnya." Mila mengambil hadiah yang di berikan Aris, sahabat dekat Lala.


"Sama-sama, Kak. Lala mana?" Aris kehilangan jejak temannya.


"Kayaknya Lala di kamar mau nengok adek Sada. Aris mau lihat juga? Yuk ikut kakak ke dalam." Ajak Mila.


Aris mengikuti Mila masuk ke kamar melihat Sada. Tampak Sada sudah bangun sedang di gendong sama Lala. Gadis muda itu telaten bernyanyi bareng Sada. Entah kenapa Aris merasa jantungnya seperti berdegup kencang. Apa dia ada penyakit jantung? Aris merasa risih saat melihat Lala.


"Ris, kamu mau kemana?" tanya Mila.


"Mau ke kamar mandi, Kak. Dimana ya?" tanya Aris. Mila menunjuk arah kamar mandi.


"Ya Allah aku kenapa, ya?" ucap Aris ketika sampai di kamar mandi.


"Tapi kalau di perhatikan Lala itu oke juga." Aris senyum-senyum sendiri.


Tidak tahu berapa lama Aris berada di kamar mandi. Dia pun bingung mau kabur kemana lagi. Suara Lala dari balik pintu terdengar. Mungkin karena dia sudah terlalu lama di dalam sana. Bak seorang buronan yang terkepung oleh pihak aparat. Padahal tidak ada yang mau menangkap buronan tersebut. Dan itu yang membuat Aris semakin bingung. Keringat dingin mengucur dari wajahnya.


"Kamu kenapa, Ris?" Lala kaget Aris muncul dengan wajah yang sudah pucat.


"Aku ... Aku kayaknya kurang enak badan, La." elak Aris.


Lala memegang dahi temannya. Tidak ada yang aneh dengan suhu badannya. Hanya pucat dan berkeringat. Bak seperti baru saja melihat setan. Apa mungkin di rumah kakaknya memang ada setan penunggu.

__ADS_1


"Yasudah, aku cuma bisa antar di depan gerbang. Kak Mila sendirian tidak ada temannya. Aku tidak bisa ikut pulang."


"Nggak usah, La. Aku bisa pulang sendiri." Elak Aris.


"Sudah, nurut saja. Kamu tadi antarkan aku, jadi timbal balik. Aku antar, ya?" Aris mengangguk kecil.


Lala pamit mengantarkan Aris ke depan gerbang. Dua anak remaja berjalan beriringan di gang. Tak ada yang memulai pembicaraan seperti biasanya. Hanya Lala masih heran kenapa temannya jadi pendiam saat ini.


"Mungkin karena kurang sehat kali, ya?" batin Lala.


Lala dan Aris berdiri di depan gerbang. Menunggu angkot kuning yang akan mengantarkan sahabatnya. Nanti setelah sampai di jalan Suprapto. Naik ke angkot hijau dengan tujuan Sawah Lebar.


"Suprapto, Bang." sapa Lala di depan abang angkut.


"Iyo. Masuk, Lah!"


"La, aku pulang, Ya." gadis itu mengangguk kecil. Tak berapa lama angkot pun menghilang dari hadapan Lala.


Lala berjalan kembali ke rumah Mila. Suasana kompleks sepi suara menggelar dari langit membuat langkahnya di percepat.


"Kak," panggil Lala.


"Ketika hatiku mulai tidak karuan, apa ini kah namanya jatuh cinta."


Lala tersedak ketika membaca status Aris. Sejak kapan temannya suka update terbaru di Facebook. Beberapa komentar menebak kalau Aris suka sama Lala.


( Paling juga sama Lala )


( Hahaha ... Aris akhirnya suka sama cewek ).


( Cewek yang selalu di bela Aris kan cuma Lala)


"Bagaimana, Aris sudah pulang?" Lala mengangguk menjawab pertanyaan kakaknya.


"La, kalau kamu makan itu ada lauk di bawah tudung saji. Kakak mau ke dalam kamar sebentar."


"Iya, Kak."


Lala kembali berfokus pada gawainya. Mila sempat melarang Lala menggunakan handphone dengan alasan takut tidak fokus belajar. Namun, lambat laun Mila memperbolehkan Lala menggunakan handphone asal nilainya tetap stabil. Walaupun Lala belum pernah juara, akan tetapi nilai sekolahnya tidak pernah mengecewakan.

__ADS_1


Kembali ke soal update status milik Aris. Lala mengepalkan tangannya.


"Maksudnya Aris apa sih? Ngapain dia bikin status kayak gitu. Aku juga yang kena, kan! Dia yang jatuh cinta aku yang keseret.


Lagian nggak mungkin aku mau sama Aris. Masih kecil, masih mau sekolah. Awas saja kalau masih panjang beritanya aku cincang tuh anak."


"Kenapa aku harus marah? Kan dia yang buat status. Nggak suka dia bikin status kayak begini sampai orang bawa-bawa nama aku!


Jangan sampai deh aku suka sama Aris, kayak tidak ada cowok lain saja!" omel Lala.


Mila mendengar omelan Lala hanya menggelengkan kepalanya. Dia ingat saat SMP Sarah ada yang suka. Anak lelaki itu malam minggu datang ke rumah. Di sambut ketus oleh adiknya. Bahkan Sarah menginspirasi panjang lebar pada temannya.


"Lala kalau ngomel lama-lama mirip Sarah." ucap Mila.


Masa-masa menyusui sangat di nikmati oleh ibu seperti Mila. Langkah kakinya menuju ke dapur. Membuka tudung saji, ada beberapa lauk pauk tersedia, salah satunya opor ikan gabus. Katanya ikan gabus bagus untuk ibu menyusui.


Ikan gabus merupakan salah satu ikan air tawar yang direkomendasikan untuk dikonsumsi segala usia di setiap kondisi, termasuk ibu hamil dan menyusui. Jenis ikan satu ini cukup populer karena nilai gizinya yang tinggi dan lengkap sehingga dianjurkan untuk ibu menyusui.Sama seperti daun katuk, di dalam ikan gabus mengandung bahan yang bisa meningkatkan prolaktin dan oksitosin yang bagus untuk ibu menyusui. Kedua hormon tersebut memang berperan penting dalam proses menyusui sehingga dapat meningkatkan ASI.


Ting!


"Sayang, tadi aku masak opor ikan gabus. Nggak tahu apakah rasanya pas atau enggak. Semoga kamu suka ya. Dari suamimu yang mencintaimu. Danu Putra."


Mila tersenyum membaca pesan yang di kirimkan Danu kepadanya. Sikap Danu yang terkesan romantis dan masih manja menjadi mood booster bagi Mila. Apalagi dia harus menjaga kewarasan demi buah hati.


Kenapa dengan menjaga kewarasan. Kelelahan yg dirasakan biasanya dipicu oleh kondisi fisik yang menurun karena jam tidur yang secara signifikan berkurang, sebagian mama yang masih merasakan sakit pasca operasi Caesar, kesulitan untuk duduk, berjalan, dan saat menyusui bayi. Belum lagi kesulitan menyusui di awal kelahiran, atau banyaknya kunjungan tamu sehingga waktu istirahat menjadi berkurang.


Itulah yang Mila rasakan saat ini. Dukungan moril dan suami serta keluarga besar lainnya. Dukungan yang membuatnya semangat menjalani hari-hari sebagai ibu baru. Ibu Dahlia yang selalu menawarkan ajaran tempo dulunya, ayah Rohim yang selalu membela dirinya.


Mila menyantap hidangan yang kata Danu adalah masakannya. Sejak beberapa hari pindah rumah dia belum pernah terjun langsung ke dapur. Atau bekerja yang berat. Semua di kerjakan sama Danu, kecuali membereskan rumah seperti menyapu atau cuci piring. Bahkan Danu sudah menyiapkan mesin cuci untuk memudahkan pekerjaan. Padahal dulu saat di rumah yang lama, Mila dan Danu masih pakai cuci manual. Cuci baju pakai tangan.


"Kak Mila makannya banyak banget?" Lala muncul dari kamar samping.


"Lapar, La. Sudah menyusui butuh tenaga banyak."


"Tenaga banyak? kata orang kalau sudah melahirkan tidak boleh kerja berat. Kata temanku ibunya sempat di larikan ke rumah sakit padahal baru pulang setelah melahirkan."


"Kenapa ibu teman kamu di larikan ke rumah sakit?"


"Pendarahan katanya. Ibunya kerja berat membereskan rumah sendiri. Temanku bantu ala kadarnya. Sampai angkat gas pun di lakuin ibunya. Pas hari ketiga langsung drop plus keluar darah." kata Lala.

__ADS_1


__ADS_2