
"Alhamdulillah kalau ibu sudah menemukan anak kandung anda. Tapi apakah dia masih anak panti?" tanya Bu Nurmala.
"Iya makanya saya dan keponakan saya mau kesini. Ternyata Danu lah anak kandung saya. Dia bekerja sebagai perawat adik dan keponakan saya yang sedang sakit."
"Kenapa ibu bisa tahu kalau Danu anak ibu? apakah sudah tes DNA?" Bu Nurmala masih bingung. Pasalnya saat dia baru pertama kali kerja di panti. Bu Mutia bilang Danu itu yatim piatu. Di titipkan sama Tante nya karena mau pindah rumah. Tapi nyatanya Danu masih punya orangtua kandung.
"Sudah, Bu Nurmala. Ini hasilnya. Saya meminjam rambut nak Danu untuk tes DNA. Dan hasilnya cocok. Saya sudah lama mencari keberadaan Abdi. Dan ternyata dia tidak jauh dari saya."
"Alhamdulillah, Bu. Tapi ibu tahu kalau Danu punya penyakit kronis. Sejak kecil dia sering bolak-balik masuk rumah sakit. Maaf kalau saya cerita sekarang."
"Apakah dia masih kambuh? anakku menderita leukimia sejak umur dua tahun. Dokter sempat bilang kesempatan sembuh nya sangat besar karena masih dini. Alhamdulillah anakku masih bertahan sampai sekarang."
"Makwo, apa sebaiknya kita langsung bilang sama kak Danu tentang yang sebenarnya. Jangan di tunda lagi." kata Ando mengingatkan.
Bu Nurmala hanya bisa mengucapkan Alhamdulillah jika memang Bu Rubiah adalah ibu kandung Danu. Sejak kecil Danu selalu minder kalau melihat teman sekolahnya diantar sama ibu mereka. Makanya Nurmala selalu ada buat Danu. Supaya anak asuh nya tidak merasa kekurangan kasih sayang seorang ibu.
Setiap ada acara sekolah Bu Nurmala selalu menyempatkan datang. Walaupun Danu sudah punya orang tua angkat. Silaturahmi Bu Nurmala pada keluarga baru Danu tidak pernah putus. Bahkan ketika Danu drop, ibu Nurmala bergantian dengan ibu angkat Danu menjaga anak asuhnya.
"Bu, tadi kak Mila telepon katanya kak Danu semalam masuk rumah sakit M. Yunus." Meta melaporkan pada ibu pantinya.
"Ya Allah, kok Mila nggak kabari dari semalam?"
"Kata kak Mila harusnya hari ini kak Danu pulang ke rumah. Tapi ternyata tidak jadi." Meta masih melaporkan apa yang di sampaikan Mila.
"Terimakasih, Meta." Meta meninggalkan ruang kerja Bu Nurmala. Apalagi dia tidak bisa bicara banyak karena ada tamu di ruangan tersebut.
Bu Nurmala kembali mendatangi Bu Rubiah dan Ando. Tentu menyampaikan apa yang dia dengar dari Meta barusan.
"Maaf, Rubiah. Tadi saya rencananya mau mengecek berkas milik Danu. Tapi sepertinya ini lebih penting dari soal berkas tadi."
Bia dan Ando bertukar pandang. Apa yang akan di sampaikan oleh ibu panti itu.
"Danu sekarang di rumah sakit M. Yunus. Sepertinya dia drop lagi. Kalau anda mau, bisa ikut saya untuk datang ke rumah sakit."
"Makwo saja yang pergi. Aku harus pulang, tidak mungkin aku ikut. Bang Ammar sendirian di rumah." jelas Ando.
"Ya Allah, makwo lupa. Kita sudah lama meninggalkan Ammar di rumah. Yasudah biar makwo pergi sama ibu Nurmala." Ando pamit meninggalkan panti.
__ADS_1
"Saya siap dulu, Bu Rubiah. Sambil menginstruksikan yang di dapur takutnya saya lama pulangnya." Rubiah mengangguk kecil. Dia pun kembali fokus dengan gawainya sementara di tinggal sendirian oleh ibu Nurmala.
"Do, kalau bisa kamu bawa Ammar nengok Danu ke rumah sakit. Sekalian kontrol." Rubiah mengirimkan pesan singkat pada keponakannya.
...****...
"Bisakah saya bertemu dengan dokter Wisnu?" tanya Mila saat memasuki ruang jaga.
Beberapa suster masih asyik dengan handphonenya. Mereka hanya duduk tanpa melihat orang yang datang.
"Sin, coba kamu check dokter Wisnu?" Kata suster yang bername tag Susi.
Sinta menoleh kearah Susi. Gadis muda itu pun berdiri tapi seperti setengah malas. Perempuan berhijab dan berbaju putih itu membuka lembaran catatan absen dokter rumah sakit.
"Dokter Wisnu tidak datang. Besok saja mbak kesini lagi." Jawab suster Sinta.
"Mbak saya mau ketemu dokter Wisnu. Dia yang biasa menangani suami saya. Kalau dokter lain juga bisa kok Mbak. Saya bisa ketemu dokter yang lain?"
"Mbak ini cerewet banget sih, emang suami mbak siapa? anak pejabat? sok bener minta di layani dokter Wisnu. Ada dokter Ramlan kalau mbak mau?"
"Neni, coba kamu check ke ruangan dokter Ramlan." Titah suster Sinta.
"Kenapa bukan kamu saja mbak Sinta. Kamu kan senior disini?"
"Justru karena saya senior makanya memberi perintah sama kamu. Atau saya laporkan sama dokter Evan."
Mila melihat para suster saling melempar tugas hanya menggelengkan kepalanya. Seharusnya mereka sigap melayani masyarakat yang membutuhkan informasi rumah sakit.
"Kasih tahu di mana ruangan dokter Ramlan. Biar saya yang kesana. Kalau kalian masih saling tunjuk nggak akan selesai."
"Kak Mila?" suara bariton menyapa dirinya.
"Wisnu? ya Allah akhirnya kamu datang juga. Aku bisa bicara sama kamu soal mas Danu."
Wisnu menghela nafas panjang. Dia beberapa kali di amanatkan untuk merahasiakan soal penyakit Danu pada Mila ataupun keluarga Mila.
"Kak, apa sudah cerita pada istrimu tentang penyakitmu. Jangan kakak pendam sendiri sepandai-pandai tupai melompat pasti akan ketahuan juga. Kak Mila juga tidak bodoh dia pasti akan curiga dengan kondisi kakak" Kata dokter Wisnu
__ADS_1
"Nggak Biar saja aku yang merasakan sakit ini. Saya tidak ingin Mila terbebani dengan penyakit ini. Kalo Mila sibuk ngurusi saya, lalu yang akan mengurusi anak kami nanti siapa? makanya aku mau ajak Mila program hamil."
"Dasar keras kepala banget." Wisnu menggeleng melihat kekerasan hati kakak angkatnya.
"Apa ada info soal kemoterapi?"
"Kakak mau kemoterapi? tapi syaratnya harus ada persetujuan keluarga yaitu kak Mila sebagai istri. Kalau sudah di setujui secepatnya akan aku kabari. Masalah biaya biar aku bantu. Kita akan berobat mahkota hospital di Malaka."
"Malaka? apa tidak bisa di Indonesia saja?"
"Ada sih di rumah sakit khusus kanker. Namanya Dharmais. Kalau kakak mau biar aku urus administrasinya. Kalau soal biaya biar aku yang
urus."
Saat ini Mila sudah berada di ruangan kerja dokter Wisnu. Lelaki yang menjadi adik angkat suaminya. Pandangannya mengedar ke setiap sudut ruangan.
Aroma wangi penyegaran ruangan serta AC yang hidup. Membuat Mila merasakan kesejukan. Apalagi udara kota yang terkenal panas.
Wisnu menyerahkan amplop kuning bata. Mila menerimanya dengan rasa penasaran. Apa yang ada di balik amplop tersebut. Apa ini yang menjadi jawaban pertanyaannya selama ini?
Pelan-pelan Mila membuka amplop tersebut. Masih bingung atas apa yang di jelaskan dalam surat.
"Kak Danu menderita kanker leukimia stadium akhir. Penyakit ini sudah lama dia idap sejak kecil. Kak Danu sudah beberapa kali konsultasi soal penyakitnya."
"Kenapa dia merahasiakan ini?"
"Karena dia cinta sama kakak. Dia tidak mau kakak terbebani dengan penyakit yang di deritanya. Dia hanya ingin melihat kakak selalu bahagia."
"Berapa lama, Wisnu?"
"Satu tahun, kak. Tapi kak Danu sudah bertahan sampai usia se dewasa ini itu mukjizat. Tolong bujuk kak Danu untuk secepatnya kemoterapi. Biar bisa cepat sembuh."
Mila masih berjalan di sekitar rumah sakit. Tubuhnya bergetar hebat. Seakan meratapi apa yang dialami suaminya. Masih merenung masalah penyakit yang di derita suaminya. Beban yang di rasakan sangat berat. bukan berarti Mila keberatan dengan keadaan suaminya, tapi Mila belum siap menjadi janda jika suaminya benar benar meninggal dunia.
Kaki Mila terhenti saat melihat seorang lelaki memakai kursi roda.
"Ammar!"
__ADS_1