Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 59


__ADS_3

Mila dan Danu sudah tiba di kamar milik Danu. Keduanya pun melakukan shalat isya berjamaah. Selesai sholat isya, Mila membuka gawainya. Begitu banyak panggilan tak terjawab dari bude Lia. Dan sebuah pesan yang menohok perasaannya.


"Anakku Sarmila, kalau kamu membaca pesan ini mungkin ibu sudah tidak berada di Bengkulu lagi. Ibu harus pulang ke Lampung meneruskan kehidupan di sana.


Ibu minta maaf kalau selama di sini masih menjaga jarak sama kamu. Ibu takut kamu akan menolak. Karena ibu lihat kamu cukup bahagia di lingkungan sekarang. Melihat kamu tumbuh dengan baik disana sudah cukup buat ibu.


Maafkan ibu yang selama ini tidak pernah ada di sampingmu. Bukan maksud ibu membuang kamu, Nak. Hidup ibu saat itu sudah cukup pelik. Dan ibu tidak ingin kamu ikut menderita. Maka ibu mengembalikan kamu pada ayah kandungmu. Ibu kira kamu akan di terima mereka, ibu melihat Aminah sangat sayang sama kamu membuat semakin yakin untuk menitipkan kamu pada mereka. Maafkan ibu, Nak,"


"Kenapa sayang?" Danu melihat kesedihan istrinya.


"Ibu Lia mau pulang ke Lampung, Mas," Mila menyerahkan pesan singkat yang di kirim Dahlia padanya.


"Besok kita ke Bandara menemui ibu. Tapi kalau kamu mau ke tempat Bu Lia juga tidak apa-apa. Sekaligus kamu bisa jenguk Vika,"


"Kenapa Vika, Mas?"


"Beberapa hari yang lalu ada teman sejawatku dapat pekerjaan mengasuh Vika. Dari keterangan dia aku baru tahu Vika mengalami depresi berat, dia bahkan melukai temanku itu,"


"Ya Allah, Vika. Kasihan Tante Ida mengurus Vika sendirian,"


Waktu terus berjalan, matahari pun sudah menyapa langit kota Bengkulu. Udara Bengkulu yang cerah dan lumayan terik tak membuat anak-anak kehilangan semangat di pagi ini. Mila dan Danu sudah berdiri di hadapan anak-anak sambil mempersiapkan musik untuk senam pagi. Anak-anak panti yang rata-rata usianya 5- 15 tahun pun berjejer membentuk barisan sesuai usia mereka.


"anak-anak kalian sudah siap?" seru Danu.


"Siap, kak Danu," suara anak-anak panti berseru dengan lantang. Sebagai tanda semangat mereka di pagi hari.


Mila menggendong Rara sambil menonton suaminya memandu senam minggu pagi ini. Senam SKJ yang di namakan Germas Bengkulu.

__ADS_1


"Mama sudah siap?" Fera muncul setelah mempersiapkan semua barang untuk pulang ke Lampung.


Fera menemukan mamanya masih duduk termenung di kamar. Dia paham mamanya masih berat hati meninggalkan kota Bengkulu. Ibu mana yang sanggup jauh dari putri yang baru saja dia temukan. Berat sudah pasti, sama seperti Fera yang kadang berat lama-lama meninggalkan Intan. Meskipun intan anak kakaknya, tapi mereka tetap sedarah.


"Kalau mama belum mau pulang, biar Fera sama Intan saja yang berangkat. Mama pasti masih ingin bersama kak Mila kan. Fera paham perasaan mama saat ini,"


"Maafkan mama, Nak. Mama memang masih berat untuk meninggalkan kota ini, terutama dengan Mila. Semalam mama mau pamit tapi Mila sedang berada di tempat mertuanya. Mama tidak enak menyamperin Mila di sana," Dahlia memandang kearah langit luar.


Ida masuk ke dalam kamar milik Fera dan Dahlia. Tampak wajah wanita itu sudah tak secerah dulu lagi. Semua hartanya terkuras untuk pengobatan Vika.


Fera sudah beberapa kali mengajak Ida untuk bawa Vika ke pesantren terdekat. Sayangnya masih di tolak sama Ida.


"Vika itu depresi bukan kesurupan! jadi buat apa rukiyah dan sebagainya," protes mama Ida.


"Rukiyah itu bukan berarti harus orang kesurupan. Tapi membersihkan seseorang dari berbagai gangguan salah satunya yang dialami Vika,"


"Apa itu?"


"Tante harus menemui Mila, minta maaf sama dia. Tante juga harus menemui Tante Diana serta menyelesaikan masalah kalian. Kemarin Ando kesini buat menyelesaikan masalah, Tante malah mengusirnya,"


"kenapa aku harus minta maaf sama mereka. Sudah jelas ini salah di pihak lelaki. gara-gara anak mbak Lia, anakku jadi gagal nikah dan seperti ini. Gara-gara Ammar tidak datang, Vika jadi seperti ini. Dan kalian masih suruh saya minta maaf sama mereka."


Fera tidak bisa banyak komentar lagi. Dia sudah mengingatkan Tante Ida soal permintaan maaf. Apalagi beberapa hari yang lalu dia bertemu dengan Ando. Ando mengatakan kalau Ammar hanya ingat cintanya pada Fera, bukan pada Mila ataupun Vika. Darisana Fera menyimpulkan kalau Ammar mengalami kecelakaan saat menuju acara pernikahannya.


"Bang Ammar amnesia kak Fera.Saat dia baru bangun yang dia ingat tentang kedekatan kalian. Dia tidak ingat Vika atau Mila. Ando minta tolong sama kak Fera untuk datang menemui bang Ammar. Bantu dia mengingatkan kembali."


"Maaf, Do. Aku turut berdukacita atas apa dialami Ammar. Tapi untuk menemui dia sungguh aku tidak bisa. Saat ini aku sedang berada di rumah Vika. Kondisi Vika seperti yang pernah kamu lihat saat kesana waktu itu. Sudah banyak harta yang terkuras untuk mengobati depresinya Vika.

__ADS_1


"Iya, *kak aku paham. Tidak mudah memaafkan setelah semua yang terjadi. Aku juga akan menemui kak Mila, siapa tahu dia bisa membantu."


"Jangan, Do. Mila sudah menikah. Kalaupun Ammar nantinya sembuh dengan bantuan Mila. Sudah pasti mereka tidak akan bisa bersama. Kasihan Ammar nantinya."


"Kak Mila sudah menikah? Dengan siapa?"


"Yang pasti dengan seseorang yang menerima dia apa adanya. Maaf, do saya harus pulang. Semoga Ammar dan Tante Diana cepat sembuh"


Dahlia dan Fera serta intan sudah masuk ke dalam mobil. Penerbangan siang pukul 12.00 akan membawa mereka kembali ke Lampung.


Dari kediaman Vika di daerah Gunung bungkuk, menuju ke bandara lumayan menempuh waktu 20 menit. Apalagi sopir travel bandara membawa mobil dengan kecepatan sedang.


Mobil akhirnya sampai di bandara Fatmawati Bengkulu. Sopir travel pun turun mengeluarkan barang-barang penumpangnya. Diikuti oleh turunnya tiga penumpang wanita dan beberapa penumpang lainnya.


Fera mengajak mamanya untuk duduk di kursi tunggu. Masih jam sembilan pagi. Fera mengajak mamanya dan Intan, apalagi di rumah belum ada yang mau sarapan.


"Mama, kita langsung masuk ke dalam. Aku harus check in tiket pesawat. Ya walaupun masih 3 jam lagi" kata Fera mengingatkan.


"Ah, iya. Tapi bentar lagi, ya," kata Dahlia.


Ibu menunggu siapa? kak Mila?" Dahlia menggangguk. Walaupun dia sebenarnya pesimis Mila akan datang. Tapi apa salahnya kalau mencoba.


"Yasudah, Ma. Kita tunggu beberapa menit saja," kata Fera sambil melihat jam. Nyatanya sudah jam sepuluh lewat. Bukan jam sembilan seperti tebakanya tadi.


Dahlia mengangguk mereka kembali duduk di kursi tunggu.


Sudah hampir 15 menit berlalu, tak ada tanda Mila akan datang. Dahlia terpaksa meninggalkan kursi tunggu dan akan memasuki bandara untuk mengambil boarding pass.

__ADS_1


"Ibu!"


__ADS_2