
Di Rumah Sakit M. Yunus
Danu baru saja sampai di tempat kerjanya. Beberapa hari ini wabah DBD menyerang anak-anak. Danu pun sempat kewalahan menghadapi beberapa pasien. Namun ada satu pasien yang membuatnya fokus, seorang gadis kecil terus menangis. Ada beberapa perawat yang kewalahan membujuk anak itu.
Danu berjalan menuju ruang anak di rumah sakit nomor satu kota Bengkulu. Beberapa perawat masih mencoba menenangkan anak itu. Tapi tetap saja mereka kewalahan.
"Adek kecil kenapa menangis?" Danu duduk di samping gadis kecil itu.
"Mama ... mama ..."
"Mama kamu kemana?" tanya Danu lagi.
"Mama .. mama .." Danu memandang kearah perawat yang bertugas menangani anak itu.
"Bisa kita bicara di luar?" kata suster yang bername tag "Emi Mulyatin"
"Adek cantik, Om keluar dulu, ya. Adek jangan menangis lagi. Nanti cantiknya hilang." Danu menjentik hidung.
Danu mengikuti langkah suster Emi. Setelah menjauh dari ruangan tersebut, akhirnya suster Emi buka suara.
"Namanya Alisia. Dia itu keponakan dokter Ramlan. Baru tadi malam di rujuk kesini. Dari tadi malam memang cuma dokter Ramlan yang membawanya tidak ada orangtuanya." jelas dokter Emi.
"Jadi kamu tidak tahu dimana orangtuanya" Suster Emi menggelengkan kepalanya. Danu menghela nafas dalam-dalam. Dia kira dapat jawaban dari suster Emi. Lelaki itu mereka handphone nya bergetar lalu pamit dari hadapan suster Emi.
"Assalamualaikum, istriku sayang." sapa Danu setelah mengangkat telepon dari Mila.
"Waalaikumsalam, Mas. Kamu jadi pulang? aku sudah masak nih. Kalau kamu jadi pulang sekalian jemput Lala, ya. Tadi Lala SMS katanya sekolahnya cepat pulang."
"Maaf, sayang. Aku nggak bisa pulang, ini masih ada kerjaan. Bagaimana kalau kamu yang kesini antarkan bekal. Aku mau kenalkan kamu sama Wisnu adik angkat ku. Kita makan bersama disini, maaf bisakah kamu bawakan bekal yang double buat Wisnu sekalian. Aku lihat dia tadi sibuk sekali, kayaknya belum sempat makan. Nggak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa, tapi Wisnu mau kan makan masakan aku. Secara aku kan..."
"Wisnu itu nggak pemilih kalau makan. Nasi Padang saja dia lahap. Apalagi masakan istriku yang terenak."
"Kamu tuh, Mas. Bisa saja. Yasudah aku mau siap-siap. Tapi tunggu Lala pulang dulu, ya."
"Iya, sayang. Aku tunggu pokoknya" Danu dan Mila saling menutup komunikasinya.
__ADS_1
Danu berjalan mengitari ruangan demi ruangan. Rumah sakit yang baru satu tahun ini menjadi tempat kerja tetapnya. Sebelumnya dia pernah berpindah-pindah tempat kerja. Dari puskesmas salah satu daerah kompleks kota Bengkulu, terus bekerja pada rumah sakit swasta yaitu Raflesia hingga terakhir di M.Yunus. Setiap habis kontrak dia selalu mencari tempat baru, tentu saja untuk menambah pengalaman kerja.
"Danu!" suara bariton seperti memanggil namanya. Danu langsung menoleh dan tersenyum pada teman sejawatnya.
"Ada apa?"
"Kamu dapat tugas jadi perawat orang lumpuh lagi" lapor temannya.
"Dimana?"
"Kamu pergi ke ruang dokter Eni dulu, lah. Orangnya sudah menunggu disana"
"Oke, terimakasih." Danu berlalu meninggalkan temannya. Mereka pun berpisah dengan arah jalan yang berbeda.
Danu akhirnya sampai di ruang kerja dokter Eni. Tampak wanita yang usia lima tahun diatas dirinya mempersilahkan lelaki itu masuk. Danu melihat seorang wanita berhijab duduk di kursi.
"Danu, ini ibu Rubiah. Dia mau cari perawat untuk kakaknya yang sedang sakit." Jelas dokter Eni.
"Saya kayaknya pernah lihat ibu tapi di mana ya?" Danu mencoba mengingat.
"Dia mirip sama siapa,ya? kenapa wajahnya seperti tidak asing." batin makwo Bia.
"Saya juga rasanya pernah lihat kamu, nak. Tapi saya lupa dimana?" tebak Rubiah.
"Ah, lupakan saja. Saya langsung dengan tujuan kesini yaitu meminta kamu menjadi perawat kakak saya. Dia stroke sudah satu bulan lebih."
"Maaf kalau kakak ibu perempuan saya tidak bisa. Biasanya orang stroke perlu ekstra penuh dari memandikannya sampai dia tidur malam."
"Soal memandikan atau memakai bajunya, itu biar urusan saya saja. Saya juga perlu waktu kamu untuk mengurusi makanannya, obatnya dan kontrol kesehatannya." Danu menganggukkan kepalanya saat mendengar perintah dari keluarga pasien.
Danu putra sudah lama menjadi perawat di rumah sakit tersebut. Dia sudah beberapa kali menjadi perawat orang lumpuh. Termasuk saat menangani nenek Seruni, dari situ dipertemukan kembali dengan Mila.
Rubiah pamit setelah pertemuannya di ruang kerja dokter Eni. Dia tidak lupa meminta nomor telepon Danu. Alasannya untuk mengingatkan lelaki itu soal kapan mulai kerja. Walaupun sebenarnya dia ingin mengenal dekat lelaki yang membuatnya tidak karuan. Hatinya mulai tergerak pada sosok itu.
"Kenapa aku seperti merasa dekat dengan anak itu?" Rubiah terus bertanya-tanya dalam hatinya.
Langkah kakinya terhenti saat menerima telepon dari Ando. Tapi ternyata yang menelepon bukan Ando melainkan Ammar.
__ADS_1
"Assalamualaikum makwo, ini Ammar. Bagaimana keadaan mama?"
"Mama kamu masih tetap sama, Nak. Belum ada perubahan. Entah kenapa dia seperti tidak punya kemauan sembuh. Kamu bagaimana, Mar?"
"Minggu depan di suruh datang lagi, Makwo. Ammar mau bicara penting sama Makwo. Bisa?"
"Bentar Makwo sedang di rumah sakit. Makwo cari tempat supaya kita bisa leluasa bicara." Bia duduk di tempat yang lumayan jauh dari keramaian.
"Apa yang mau kamu jelaskan?"
"Makwo, Ammar dan Ando mau pulang ke Bengkulu. Keluarga Dini ingin Ando melamarkan anaknya. Seingat Ammar, Ando dan Dini sudah lama menjalin hubungan. Jadi Ammar minta ..."
"Makwo mau bicara sama Ando, bisa?"
"Tapi Makwo.."
"Tolong panggil Ando, Ammar."
"Baiklah Makwo"
Beberapa saat kemudian suara bariton pun sudah beralih. Bia pun menyampaikan keberatannya untuk melarang Ando dan Ammar pulang ke Bengkulu.
"Cak ini yo, Do. Makwo minta dak usah pulang dulu. Makwo la susah payah cari dokter yang bagus untuk Ammar. Iyo paham kalau kau endak memperjuangkan cewek. Tapi kondisinya tidak memungkinkan, Do. Kalau nyo jodoh kau Idak akan kemano."
(Begini ya, Do. Makwo minta kalian tidak usah pulang dulu. Makwo sudah susah payah mencari pengobatan yang tepat untuk Ammar. Iya saya paham kamu mau memperjuangkan gadis itu. Tapi kondisinya sedang tidak memungkinkan. Kalau kalian jodoh tidak kemana.)
"Iya, Makwo Ando paham. Ando minta maaf kalau sudah membebani makwo."
"Bukan gitu, Do. Makwo cuma mau kalian fokus untuk berobat. Apa kata dokter?"
"Maaf makwo, kata dokter wajah bang Ammar harus di operasi." jelas Ando.
"Lalu kakinya?"
"Minggu depan baru di periksa" lapor Ando.
"Yasudah kalau begitu. Tapi kalau kata makwo jangan di ganti wajahnya. cukup diobati luka bakarnya. Jaga diri kalian di sana. Kalau ada apa-apa kabari Makwo. Besok ada perawat yang bantu makwo"
__ADS_1