Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 34


__ADS_3

Setelah Maghrib, tampak beberapa rombongan sudah berada di depan rumah sakit. Mila dan keluarga besarnya sudah selesai berlibur. Mereka sudah pulang ke Bengkulu sehari yang lalu. Ini malam kedua dia menemani nenek Seruni. Belum ada instruksi dari rumah sakit mengizinkan nenek Seruni pulang ke rumah.


Saatnya mereka pulang karena harus menjaga nenek Seruni. Sampai di depan pintu kamar rawat nenek Seruni, ada Danu yang menyambut tiga dara cantik tersebut. Terlebih ke Mila, gadis pujaan hatinya.


Tak menampik kalau renggangnya Mila dan Ammar memberi kesempatan buat Danu. Terlebih sejak kecil dia sudah punya perasaan sama Mila. Mila duduk di kursi besi yang di sediakan rumah sakit. Tangannya menggenggam erat seakan merasakan kesedihan yang mendalam.


Tak ada orang yang benar-benar baik di dunia ini. Begitu pun sebaliknya; tak ada manusia yang benar-benar jahat.


Sebaik-baiknya orang baik, adakalanya ia tergelincir dan kalah oleh hawa nafsunya sehingga dalam keadaan sadar atau tanpa sadar ia pun berbuat dzolim baik kepada RabbNya, kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain.


"Kalau kamu capek, saya antar pulang ya?" tawar Danu.


Mila hanya mendongak menatap kearah Danu. Lelaki yang hampir satu bulan selalu ada untuk keluarganya. Lelaki yang selalu ada dalam suka dan duka.


"Terimakasih, Danu. Saya cukup beristirahat disini saja. Rasanya rumah sepi karena orang pada fokus dengan nenek Seruni." jawab Mila.


" Yang niannyo ambo ko nyemen. Nak ngajak kau makan di luar. Tapi cak nyo ambo harus pai cari makan dewek."


(Sebenarnya saya lapar, pengen ajak kamu cari makan. Sepertinya saya harus pergi sendiri cari makan)


"Yasudah, aku ikut. Kasihan sama teman aku yang jones semua serba sendiri." kata Mila sambil tertawa lepas. Danu melihat Mila tertawa merasa senang. Paling tidak dia bisa membuat gadis di depannya tidak dirundung kesedihan.


"Mil, kamu sudah tidak apa-apa?" tanya Danu.


'Ya, kan saya memang tidak apa-apa. Sehat wal Afiat. Apa kamu mau periksa saya juga?"


"Soal kamu dan Ammar..." Danu melihat sosok Ammar berdiri di belakang Mila. Danu mencoba memancing Mila mengungkapkan hubungannya dengan Ammar.


"Aku dan Ammar sudah selesai, Danu. Terserah dia menganggapnya lain. Tapi aku sadar, sejak awal aku pacaran dengan Ammar, banyak sekali dinding besar yang menghalangi kami. Salah satunya tidak tegasnya Ammar memilih aku dan Vika. Tapi aku juga salah, karena terlalu percaya sama cinta. Sehingga lagi-lagi aku serasa penikung." Mila mencoba menahan air mata yang hendak keluar. Tapi dia cuma manusia biasa, yang tak luput di rundung rasa kesedihan.


Danu memberikan sapu tangannya. Dia tidak tega melihat kesedihan di wajah Mila. Lelaki itu menghapus air mata di wajah Mila. Sontak Mila dan Danu saling bertatapan lama. Seakan ada sesuatu yang aneh di rasa Mila.


"Maaf," Danu menghentikan aksinya. Lelaki duduk di samping Mila. Menghembuskan nafas dalam-dalam, mengenyampingkan perasaan groginya.


"Kenapa minta maaf? emang kamu salah apa?" Mila masih bingung. Belum sempat Danu bicara ada Sarah dan Eva yang menghampiri keduanya. Eva mengelus rambut Mila, menguatkan temannya.


"Terimakasih, aku tidak apa-apa." jawab Mila.

__ADS_1


Danu menatap wajah Mila lekat. Dia tahu Mila bukan orang yang terbuka pada siapapun.


"Apapun yang kamu rasakan saat ini jangan ragu untuk cerita sama aku. Bukankah kita sudah berteman sejak kecil?'


"Mila lebih baik kamu dan Danu cari angin di luar. Kamu juga belum makan kan? kamu harus isi perutmu. Masa pada sakit semua." bujuk Eva.


Mila akhirnya ikut bersama Danu. Memang dia sudah merasakan lapar melanda. Masih dalam suasana malam. Keduanya jalan beriringan di bawah lampu temaram jalanan.


"Kamu mau makan apa?" tanya Danu tiba jalan simpang skip.


"Sate Madura" jawab Mila menunjuk gerobak yang mangkal tak jauh dari bakso simpang lima.


"Ini kan udaranya dingin. Mending makan bakso saja. Aku lagi pengen yang berkuah. Tapi kalau kamu mau sate aku temenin, ya. Nggak apa-apa nggak jadi bakso. Kita makan ..."usul Danu.


"Aku jadi pengen bakso. Bakso simpang lima favorit aku. Kita makan bakso saja." Kata Mila menarik tangan Danu menuju warung bakso. Mata Danu tertuju pada tangannya yang dipegang Mila. Degupan jantung kembali bergerak kencang.


Seandainya kamu tahu, Mila, sebahagia ini saat kita jalan bersama. Berduaan sama kamu saja sudah membuat aku bahagia. Meskipun aku tahu kamu tidak akan mungkin mau sama aku. batin Danu.


Ya Allah, aku kenapa ya? kenapa aku merasa berdebar seperti ini. Kenapa rasanya lebih dari saat di dekat Ammar. Ah, tidak Mila, itu hanya perasaanmu saja.


"Danu," Mila kaget melihat lelaki itu berjongkok.


"Naik di punggungku Mila, Nanti hujan semakin lebat." kata Danu.


"Tapi, aku berat lo." elak Mila.


"Jangankan kamu, Mila. Gendong dua anak saja aku kuat. Ayo, nanti keburu lebat." Mila langsung naik ke punggung Danu. Lelaki itu dengan cepat membawa Mila sambil berlari kecil.


Sampai di depan rumah sakit mereka sudah basah kuyup. Danu meminta Mila tunggu di depan pintu kamar. Entah apa yang di lakukan lelaki itu, tiba-tiba dia muncul membawa handuk untuk mengeringkan tubuh gadis itu.


Sepasang mata memandang keduanya. Tatapannya sangat nanar seakan sesak melihat keakraban keduanya.


...*****...


Fera," Bude Lia memanggil putrinya yang berada di teras bersama Vika.


Sejak acara lamaran Vika dan Ammar. Bude Lia, Fera dan juga Intan masih berada di kediamannya keluarga Vika.

__ADS_1


"Iya, ma." Fera duduk di samping mamanya.


"Intan sudah tidur?"


"Sudah, Ma. Lebih cepat dia tidurnya mungkin capek karena jalan-jalan ke pantai." kata Fera sambil melipat mukenanya.


"Mama boleh tanya sama kamu?"


"Boleh lah, Ma. Ada apa?"


"Mama mau bawa Mila tinggal sama kita. Mama tidak mau terpisah dari anak mama."


"Boleh, ma. Nggak apa kalau mama mau bawa Kak Mila. Kan itu saudara Fera juga."


Bude Lia memeluk Fera dengan erat. Tak di sangka dia menemukan keluarga yang menerima dirinya dan anaknya."Terimakasih, Fera."


"Malam ini kita jenguk neneknya Mila di rumah sakit." kata bude Lia.


"Jadi sekarang sudah siap bertemu ibu tirinya mama?" tanya Fera.


"Insyaallah,siap, Fera. capek mengulur waktu, siap tidak siap kami pasti akan bertemu."


"Walaupun bakal di usir lagi?"


"Itu sudah resiko, Nak. Mila pasti ada di sana. Mama Rindu sama dia. Kemarin pas dia hilang mama tidak tahu kabarnya. Tadi Danu bilang Mila sudah pulang."


"Ini sudah malam, Ma. Besok pagi saja." kata Fera.


"Iya, juga, nak."


...*****...


Maaf, ya. Kalau part nya masih kurang keren. Mood booster nya lagi turun. Anak sudah sekolah. Masih di tunggu sampai pulang.


Pulang sekolah ngadap kerjaan rumah tangga. Jaga toko terus beresin rumah. Di sekolah masih aku sempatkan curi-curi waktu buat nulis. Takut mengecewakan kalian sebagai pembaca.


Terimakasih sudah mau mampir ke karya remahanku. Ya kalau di bandingkan dengan yang pemes masih kalah jauh. Tapi aku akan berusaha tetap up demi pembaca disini.

__ADS_1


__ADS_2