Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 41


__ADS_3


Mobil berhenti di sebuah alun-alun kota Bengkulu. Lokasi yang berdekatan dengan pantai tapak paderi dan Benteng Marlborough tersebut menjadi pusat keramaian pada malam hari. Beberapa anak-anak berlari memasuki area pasar malam tersebut.


Mila menggendong Rara yang berusia dua tahun. Gadis kecil itu tampak riang melihat lampu-lampu kelap kelip. Layaknya seorang ibu, Mila terus bercengkrama bersama Rara. Danu melihat keakraban Mila dan Rara merasa sangat lega.


Dulu dia pernah dekat dengan seorang gadis, dimana gadis itu teman satu kampusnya. Sosok gadis yang lembut dan ramah, itu yang menjadi poin Danu menerimanya. Tapi ternyata saat Danu menyatakan keseriusannya, gadis itu ingin Danu jauh dari panti. Malah meminta agar lebih baik tinggal dengan rumah pemberian orangtuanya. Danu tentu saja menolak. Bagaimana mungkin dia bisa memisahkan diri dari keluarga panti. Keluarga yang membesarkan dirinya. Danu memilih melepaskan gadis itu, merelakan kekasihnya menikah dengan pria lain.


Sekarang dalam diri Mila ada seperti gadisnya yang dulu. Tapi bukan itu yang Danu cari, dia menerima Mila apa adanya. Tanpa peduli bagaimana latar belakang keluarga gadis itu. Untuk apa melihat latar belakang, toh dia pun juga tak tahu latar belakang keluarganya seperti apa. Bisa jadi dia lebih menyedihkan daripada Mila.


"Rara mau apa?" tanya Mila sambil menggendong gadis kecil itu.


"Okat, Ra au okat, (coklat, Rara mau coklat)" tangan Rara menunjuk gerobak bergambar es krim berwarna coklat.


"Rara jangan makan coklat. Nanti giginya tinggal dua." Danu ikut menimbrung.


"Cama pelti agu, ulung akak ua. Ulung akak ua igal deya. enek uah ua igi iyal ua.


(Sama seperti lagu burung kakak tua. Burung kakak tua tinggal di jendela. nenek sudah tua. giginya tinggal dua)


"Rara mau jadi nenek-nenek?" Danu terus menggoda Rara.


"Ak au, Ra au Adi ices ojen (dak mau, rara mau jadi princess Frozen).


"Rara ini ngegemesin. Umurnya berapa sih?" tanya Mila.


"Dua tahun 3 bulan. Tapi dia ada teman sepantaran bicaranya lebih lancar dari Rara. Kalau kata teman sejawat aku, Rara itu termasuk progres yang lambat. Mungkin karena tidak ada yang dewasa khusus anak panti."


"Tapi kamu termasuk paling dewasa disana, Danu. Kenapa kamu nggak mulai ajak komunikasi sama Rara. Apalagi kamu itu perawat, harusnya lebih paham dong."


"Itu masalahnya, aku masih honor di dua tempat kerja. Di klinik kesehatan Muhammadiyah sama rumah sakit M. Yunus. Itu juga kadang bisa libur buat kontrol nenek Seruni. Aku kan di kontrak selama satu tahun buat ngerawat nenek Seruni. Tapi sekarang nenek Seruni sudah tidak ada. Jadi aku mulai aktif lagi di rumah sakit."


"Segitu padatnya kegiatan kamu, Danu. Kapan istirahatnya? pantas saja waktu kamu ke rumah nenek aku melihat kamu seperti pusing. Kamu terlalu padat kegiatannya. Buat apa?"


"Buat biaya kemoterapi aku, Mila." batin Danu.


Tahapan berbicara Si Kecil merupakan salah satu proses yang perlu diperhatikan orang tua. Sebagai informasi untuk orang dewasa di sekitarnya, setiap anak memiliki kemajuan perkembangan yang berbeda termasuk dalam hal bicara dan tak sedikit anak yang mengalami keterlambatan berbicara atau yang biasa disebut dengan speech delay.

__ADS_1


SPEECH DELAY merupakan salah satu gangguan komunikasi yang wajar terjadi pada Si Kecil di masa pertumbuhannya. Namun jika hal ini dibiarkan, speech delay dapat menjadi gangguan serius yang berpengaruh pada kecerdasan dan juga perilaku Si Kecil di masa depan.


"Apa Rara sama aku saja kalau kamu sibuk. Di rumah kan rame, banyak temannya. Iya aku tahu kalau di panti juga rame. Tapi kan, namanya anak-anak kan punya kesibukan sendiri. Mereka bergaul dengan teman sepantaran. Jadi perlu sekali orang dewasa yang menangani masalah keterlambatan Rara." usul Mila.


"Apa tidak merepotkan kamu, Mila? bukankah kamu pagi sibuk jualan sampai siang."


"Ya kan aku batas jualan sampai jam 10. Karena setelah jam segitu nggak akan ada lagi yang cari sarapan. Ada Eva juga yang bantu aku. Sambil ngemong Rara. Lala kan juga suka anak-anak. Jadi klop kan?"


Mila dan Danu berjalan beriringan. Masih menggendong Rara yang menurut Danu belum lancar berjalan. Bobot tubuh Rara yang gempal menjadi kendalanya. Apalagi Rara suka sekali makanan manis.


"Kenapa sampai sekarang kamu belum menikah?" tanya Mila.


Danu menghentikan langkahnya. Dahinya mengkerut mendengar pertanyaan Mila. Itu hanya berlangsung sesaat, lelaki itu kembali berjalan memantau anak-anak panti yang berjalan di depannya.


"Kamu mau tahu banget apa mau tahu saja?" Danu balik bertanya.


"Mau tahu saja sih, nggak banget amat." jawab Mila santai.


"Ya kalau begitu, kamu mau naik bianglala nggak sekalian aku kasih jawaban pertanyaan."


Mila membulatkan matanya. Mana berani dia naik bianglala. Yang ada kepalanya mendadak pusing nantinya. Dari dulu dia tidak suka ketinggian. Mila lebih memilih naik Komidi putar daripada naik bianglala.


"Anak-anak bagaimana? Kita tidak mungkin bawa Rara naik bianglala. Nanti dia takut." elak Mila.


"Rara waktu Tabot sudah naik bianglala. Dan dia suka." Danu menggenggam tangan Mila. Seketika jantungnya berdetak kencang. Lelaki itu berdiri lebih dekat dengan dirinya. "Kamu tidak usah takut. Ada aku disini. Dan aku akan membimbing kamu melawan ketakutan ini."


Anak-anak yang ikut bersama Danu berjumlah 8 orang termasuk Rara. Tempat untuk bianglala pun mereka tempati. Mila pun akhirnya naik bianglala bersama Danu dan Rara.


Mila terpaksa mengalah. Sesekali berdoa untuk menghilangkan ketakutannya. Beda dengan Danu yang sangat riang ketika di beri kesempatan duduk berhadapan dengan gadis pujaan.


Tiba diatas Mila diminta membuka matanya. Pelan-pelan dia pun membuka mata. Dari atas terlihat lampu kelap kelip. Tampak cahaya terang bulan yang membulat penuh. Hamparan laut luas terlihat terang dari atas sana. Lampu kelap-kelip dari mercusuar pun terlihat indah.


"Masya Allah, indah sekali." puji Mila takjub.


Danu pun ikut melihat pemandangan tersebut. Danu memegang tangan Mila dengan erat. Mila tidak menyadari hal itu masih asyik dengan apa yang dia lihat.


Gludug .... Gludug....

__ADS_1


Bianglala pun kembali hidup dan berputar. Danu segera melepaskan tangannya. Takut Mila menyadari sikapnya. Netranya beralih kearah Rara yang sudah tertidur. Danu melirik kearah gawainya ternyata hampir jam sembilan. Biasanya Rara jam delapan malam sudah tidur.


Setelah berputar di bianglala, mereka pun pulang. Beberapa anak merengek masih ingin main. Tapi Danu mengingatkan kalau Rara sudah tidur. Tidak bagus juga anak kecil terlalu malam tidurnya.


"Mila, aku mau antar anak-anak pulang dulu. Setelah itu baru antar kamu pulang. Nggak apa-apa kan?" Mila mengangguk. Tampak anak-anak sebagian sudah tertidur di mobil.


Kasihan anak-anak itu. Hidup di panti tanpa kasih sayang kedua orangtuanya. Seharusnya aku bersyukur masih punya keluarga yang sayang. Masih punya ibu walaupun bukan ibu kandung. Masih punya ayah serta adik-adik. Masih di kelilingi orang-orang yang sayang sama aku.


Ya Allah maafkan aku yang sering mengeluh padamu.


Mobil sudah sampai di panti asuhan kasih bunda. Panti yang masih satu gedung dengan universitas Muhammadiyah Bengkulu. Danu turun membuka pintu mobil. Anak-anak terbangun saat mobil berhenti. Satu persatu anak masuk ke dalam panti. Hanya tinggal Danu, Mila dan Rara.


"Ada Sarmila," sapa Bu Nurmala.


"Iya, Bu." Mila menyalami Bu Nurmala selaku pemilik panti.


"Sini, Rara biar ibu yang bawa kekamar. Dia masih satu kamar dengan saya. Danu, kamu ajak Mila menginap disini saja. Sudah malam, mungkin orang yang dirumah Mila sudah pada tidur."


"Saya pulang saja, bu. Takutnya mereka nungguin dirumah."


"Yasudah, oh ya Mila adik kamu menikahnya kapan?" tanya Bu Nurmala.


"Oh, Sarah menikah awal bulan Januari, bu. Pas tahun baru." jawab Mila.


"Wah, keren, tahun baru dapat suami. Coba saja Danu yang menikah. Umurnya sudah ..."


"Bu, sudah malam. Kasihan Milanya. Ibu malah ajak ngobrol."


Setelah pamit pada bu Nurmala. Mila dan Danu pun masuk ke mobil. Mila memilih diam tanpa memulai obrolan. Danu membantu Mila memasangkan sabuk pengaman mobil. Aroma tubuh Danu yang khas membuat Mila terhanyut.


Saat masih dalam satu tatapan, Danu mendaratkan kecupan di dahi Mila.


"Aku tahu Mila, sikapku barusan lancang. Aku minta maaf."


"Danu, aku ..."


"Aku minta maaf, Mila. Aku mencintaimu, sudah lama, sejak masih SMP. Dan sampai sekarang belum pudar. Dan aku mau kamu menjadi istriku. Aku tidak perlu pacaran, aku hanya cari istri yang menerima aku apa adanya. Karena aku bukan orang kaya seperti Ammar."

__ADS_1


Mila hanya terdiam mendengar penjelasan Danu. Dia bingung harus menjawab apa. Masih butuh waktu untuk menenangkan diri setelah masalah Ammar dan Vika. Tangan Danu yang menggenggam erat tiba-tiba merenggang. Danu sadar Mila tidak akan mau sama menerima dirinya. Apalagi dia sedang sakit saat ini. Yang ada Danu merasa akan menjadi beban buat Mila.


__ADS_2