
"Ini rumahnyo, yuk?" tanya Yuda setelah berhenti di depan pagar rumah nenek Seruni.
"Iyo, iko rumah Ayuk, Yuda. Rumah kecik kami." kata Mila.
(Iya, ini rumah Ayuk, Yuda. Rumah kecil kami)
"Oh, mertua ambo yang warung di depan gerbang merawan, yuk. Ibuknyo Yanti, kakaknya Aris."
(oh, mertua saya yang warung di depan gerbang merawan, ibunya Yanti, kakaknya Aris)
"Ah iyo. Dunia ini sempit nian. Masuk dulu." tawar Mila.
Yuda pun mengikuti Mila sampai di depan pintu. Paling tidak sampai gadis itu bertemu keluarganya.
Mila berdiri di depan pintu menanti sambutan.
Ceklek!
Decitan suara pintu terbuka dan suara langkah membuat Mila penasaran. Tampak sosok lelaki paruh baya berdiri di depan pintu membuat Mila terdiam sejenak. Sosok yang bertahun-tahun meninggalkan dirinya dan ibunya. Kini berdiri di depan mata.
Ayah!
Rohim mematung ketika gadis itu. Tak ada reaksi yang ketika ayah dan anak itu bertemu. Mila hanya bisa membatin ketika menyebut sosok lelaki di depannya. Sementara Rohim masih asing dengan gadis di hadapannya. Walaupun hati kecilnya seperti dekat dengan gadis itu.
Mila berbalik menatap Yuda. Meminta lelaki yang sudah menolongnya untuk segera pulang.
"Yuda, saya berterimakasih karena kamu dan Yanti sudah menyelamatkan saya. saya sudah sampai di rumah dengan selamat."
"Alhamdulillah, Yuk. Saya pamit dulu. Yanti pasti sudah menunggu di rumah."
"Sekali lagi saya berterimakasih sama kalian berdua. Nanti kalau ada waktu saya pasti nongkrong di warung kalian." Yuda mengangguk dan pamit pada Mila.
Setelah Yuda pamit. Mila pun kembali bertatapan dengan Rohim. Sesaat dia menarik nafas dalam-dalam. Mila menunggu reaksi rohim memeluk dirinya, ataupun memanggil dirinya dengan sebutan putriku.
"Kak Mila," gadis remaja itu langsung berlari memeluk kakak sulungnya.
"Lala, maafin kakak ya. Kakak sudah buat kamu cemas."
"Kakak kemana saja, Lala takut terjadi sesuatu sama kakak. Kata kak Danu kakak tidak bisa di hubungi." rengek Lala.
Rohim begitu mengetahui bahwa gadis di depan adalah putri sulungnya. Langsung mendekati Mila, anak yang selama ini dia rindukan. Tangan yang sudah menampakkan uratnya kini memegang wajah Mila.
"Ini Mila, anak ayah." Mila menggangguk.
__ADS_1
Ayah dan anak bertatap dan berkaca. Baik Rohim maupun Mila tidak menyangka bakal kembali bertemu. Rohim tadinya merasa kepulangannya akan sia-sia sebelum bertemu dengan Mila.
"Ayah, ini Mila, Sarmila." Rohim mendekap tubuh Mila dengan erat.
"Maafkan Ayah, Mila. Maafkan ayah, karena sudah membuat kamu dan ibu kamu menderita selama ini. Seharusnya ayah tidak meninggalkan kamu disini. Seharusnya ayah membawa kamu kembali pada ibu kandungmu." ucap Rohim.
"Sudah 20 tahun ayah meninggalkan kalian. Sudah selama itu ayah pergi terpisah dari Aminah dan ketiga putriku. Akhirnya ayah bisa bertemu dengan kalian." sambung Rohim.
"Ayah,"
Mila mencium tangan ayahnya lalu kembali memeluk ayahnya. Sebegitu rindunya Mila pada ayah kandungnya. Tangis bahagia Mila dan Rohim sebagai ayah dan Anak.
Eva yang melihat adegan itu ikut terhanyut dalam suasana. Selama ini Mila sudah banyak menderita. Eva berharap setelah ini akan datang kebahagiaan untuk Mila.
"Sudah pulang rupanya, aku kira kamu tidak akan pulang lagi, Mila. Kamu itu sudah menyusahkan orang banyak. Lihat Danu sampai dia nyari kamu hujan-hujanan. Sarah dan Anjas juga nyari kamu sampai calon cucu menantuku demam. Dasar pembawa sial!"
"Ibu!" pekik Rohim.
Eva segera menengahi, dia membawa Mila ke dalam kamar. Rohim dan Lala mengikuti Eva. Mereka lebih memilih Mila daripada nenek Seruni.
"Mila, kamu ikut ayah ke Lampung, ya. Tinggal sama ayah. Lala juga ikut."
"Sarah nggak diajak, yah." sahut Sarah depan pintu.
"Ayah tahu darimana kalau Sarah mau nikah?" tanya Mila.
"Ayah sudah sampai di sini sudah dari kemarin. Sampai disini Sarah bilang dia mau nikah dan minta ayah jadi wali nikahnya." jelas Rohim.
Mila menatap Sarah dengan tatapan tajam. Bisa-bisanya Sarah langsung to the point pada ayah. Mila tidak bisa habis pikir.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Mila?" tanya Eva.
"Kak Eva gimana,sih? kak Mila itu baru sampai sudah di todong kayak polisi saja." sahut Sarah.
Eva akhirnya mengurungkan niatnya untuk mendengar penjelasan dari Mila. Ada benarnya kata Sarah, Mila perlu waktu untuk menenangkan diri. Semua yang orang yang ada di kamar pun meninggalkan Mila.
Tubuhnya di rebahkan diatas kasur. Matahari mulai menampakkan sinarnya. Mila memandang suasana pagi ini di dekat jendela. Menghirup udara segar pagi ini.
"Ya Allah, aku belum mandi. Setelah ini harus sholat Dhuha dulu. Terus kerja seperti biasa. Semoga mang Pardi nggak marah aku semalam tidak kerja."
Mila mengambil handuk hendak ke kamar mandi. Akan tetapi langkah kaki terhenti melihat Boneka angry bird. Boneka yang di belikan Ammar untuknya.
Flashback on
__ADS_1
"Kamu tahu kenapa aku kasih boneka ini?" Mila menggeleng.
"Pasti karena harganya murah,kan?" tebak Mila.
"Bukan. Ngapain aku cari yang murah. Kalau yang mahal bisa aku beli."
"Terus?"
"Waktu lewat di toko boneka di Prapto, aku lihat boneka angry bird. Ingat kamu yang suka ngomel-ngomel, jutek terus sama aku. Kayaknya kamu sama dia serasi deh."
"Dia siapa?" Mila masih bingung.
"Dia si angry bird. Nah kan kalau kamu melotot gini tambah mirip."
"Ooooh, mirip. Iya mirip ..." Mila mencoba mengejar Ammar di teras rumah. Dua anak manusia saling mengejar layaknya anak kecil berebut mainan.
Flashback off
Sekarang kita selesai Ammar. Maaf aku tidak mau berurusan lagi dengan kamu maupun Vika. Aku capek. Di jauhi sahabat di musuhi nenek sendiri. Mungkin ini yang terbaik untuk kita.
Mila langsung membersihkan diri karena akan melanjutkan sholat Dhuha. Shalat yang tidak pernah dia tinggalkan sejak dulu. Ibu Aminah selalu menanamkan agar tidak melupakan sholat apapun yang terjadi.
"Ya Allah, bahwasanya waktu Dhuha itu waktu dluhaMu, kecantikan ialah kecantikanMu, keindahan itu keindahanMu, kekuatan itu kekuatanMu, kekuasaan itu kekuasaanMu, dan perlindungan itu, perlindunganMu".
"Ya Allah, jika rizkiku masih diatas langit, turunkanlah .dan jika ada di dalam bumi, keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu dluha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaanMu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan
kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh".
Mila menyelesaikan sholat Dhuha nya. Lalu kembali melaksanakan aktivitasnya seperti biasa. Walaupun sedang patah hati, bukan berarti dia terkungkung dalam keterpurukan.
Tampak semua yang di ruang tamu menunggu dirinya. Langkah kakinya mendekati orang-orang yang menyayanginya.
"Aku dan Ammar sudah putus." jawab Mila singkat.
"Aku sadar, diantara kami terbentang jarak yang sangat besar. Tembok kasta yang sangat jauh. Aku Ikhlas kalau Ammar menerima wanita pilihan ibunya."
Eva dan Sarah memeluk Mila secara bergantian. Sebagai sahabat Eva selalu mendukung apapun keputusan Mila. Walaupun dari awal dia kurang setuju dengan Ammar. Tapi yang menjalani Mila. Temannya itu lebih tahu apa yang terbaik. Begitu juga dengan Sarah, meskipun dia sebenarnya merasa bersalah, karena yang membuat Mila dan Anjas gagal menikah. Sarah juga sejak awal kurang setuju dengan Ammar. Tapi karena kakaknya terlanjur cinta, Sarah tidak bisa memaksa.
"Kami ada disini,kak. Ada aku, ada Lala dan kak Eva. Kami ada untuk kakak."
"Terimakasih, kalian adalah keluargaku. Sekarang hidup kita sudah lengkap karena ada ayah."
"Ayah janji tidak akan meninggalkan kalian lagi. Tapi ayah akan cari kontrakan lain. Kita bisa berkumpul bersama." Rohim memeluk Sarah dan Mila secara bersamaan. Hanya Lala yang memilih menghindar dari ayahnya.
__ADS_1