
Ada yang tidak memiliki pasangan, tapi dikelilingi dengan banyak orang baik dan tulus.
Ada yang memiliki pasangan yang toxic, tapi dia di kelilingi dengan orang baik yang tulus.
Dan yang
terakhir, ada yang punya pasangan yang baik. Namun sekelilingnya banyak orang-orang toxic.
Hidup itu plus minus, kita manusia hanya bisa menjalaninya. Mengeluh itu manusiawi, tapi menyerah pada sesuatu yang tidak bisa di gapai itu bodoh.
Karena tertutup rezeki dari 1 pintu, terbuka dari ribuan pintu lainnya.
Jangan pesimis, bahkan ketika tidak ada siapapun, ada Allah SWT yang selalu mengiringi langkahmu yang terjal.
Kata diatas hanya semacam petuah saja.
...**** ...
Sarah membelalakkan matanya, genangan air yang tadinya hanya sebatas di bawah lutut kini naik mendekati tingginya spring bed mereka. Seandainya saja handphonenya tidak tertinggal di dapur. Atau mungkin handphonenya sekarang sudah berenang bersama genangan air.
Tempat tinggal Sarah merupakan perumahan di tanah yang rendah. Kalau di bilang elit tidak juga, perumahan yang bisa di bilang masih berbentuk cicilan berukuran 36. Hanya memiliki tiga kamar tidur dan satu kamar mandi.
Teringat rengekan pada suaminya, karena tidak mau campur dengan mertua. Sikap Bu Melani yang menurutnya tidak semanis saat mereka belum menikah. Bahkan di matanya Bu Melani sama saja seperti mertua yang dia lihat di TV.
Sarah sadar kalau suami sangat sayang padanya. Terbilang dalam kurun beberapa bulan rumah tangga mereka, Anjas selalu menuruti semua kemauannya. Termasuk untuk pindah rumah. Anjas tidak pernah marah ke padanya. Berkata kasar pun belum pernah.
Tapi malam itu Sarah baru pertama kalinya melihat suaminya marah besar kepadanya. Kemarahan yang mungkin akibat sikapnya pada Lala. Sungguh dia hanya ingin mendidik Lala, tidak lebih.
"Banjir! banjir!" Sarah teriak di dalam kamar. Berharap teriakannya mendapat bala bantuan.
"Kak Mila, tolong aku," Isaknya.
"Ibu, Sarah takut" Sarah hanya bisa meringkuk diatas spring bed. Mau turun saja dia sudah takut.
Sementara di luar, beberapa warga sibuk dengan urusan rumah mereka yang tergenang air entah dari mana asalnya.
"Seumur-umur kita tinggal di sini ini pertama kalinya tempat kita kena banjir. Selama ini tidak pernah," oceh ibu Retno sambil menyelematkan barang berharganya.
"Bu, bawa berkas penting saja. Kalau barang-barang tidak usah," tegur pak Juned pada istrinya.
"Pak, itu rumah nya Anjas kok sepi, ya. Yang punya rumah tahu nggak kalau sekarang sedang banjir," kata Bu Retno.
__ADS_1
"Ya, kan mati lampu,Bu. Hujan memang sudah berhenti tapi airnya ya masih ngirim. Sudah jangan urus rumah orang. Rumah kita aja perlu di urus," kata pak Juned.
Bu Retno tidak bisa berbuat lebih jauh. Memang benar kalau dalam musibah tidak akan sempat menolong orang lain. Diri sendiri saja masih perlu bantuan.
"Pak Asep, coba periksa rumah Anjas, apakah ada orangnya. Siapa tahu cuma ada istrinya, kan kasihan," kata Bu Retno.
Pak Asep mengajak beberapa orang memeriksa rumah Anjas. Rumah yang berada dalam turunan tanah. Dengan sedikit tangga dari tanah. sambil membawa lampu senter Pak Asep akhirnya sampai di depan pintu rumah Anjas.
"Assalamualaikum, mbak Sarah, Mas Anjas, apa kalian ada di dalam," panggil pak Asep selaku Pak RT di kompleks itu.
"Mbak Sarah, Mas Anjas," panggil warga yang lain.
"Mungkin mereka tidak ada di rumah," kata warga yang lain.
Mereka memilih meninggalkan kediaman Sarah. Namun langkah mereka terhenti saat mendengar teriakan dari dalam kamar.
"Toloooong!"
"Itu suara mbak Sarah kayaknya," tebak pak Asep.
"Iya, ya. Kita dobrak saja pintunya!" beberapa warga yang ikut bersama pak Asep mendobrak pintu rumah Sarah.
Genangan air yang tinggi membuat mereka sedikit kesulitan. Di tambah tidak ada penerangan di dalam ruangan.
"Mbak Sarah tidak apa kami gendong," lagi-lagi Sarah menggangguk. Dia pasrah saja.
Malam ini harusnya mereka menjalankan teraweh di malam masuknya Ramadhan. Malah datang musibah di kompleks perumahan mereka, seperti beberapa tahun yang lalu kompleks ini juga pernah hampir rata dengan tanah, karena gempa dahsyat yang menerjang kota Bengkulu.
Sarah sudah berada di posko bencana. Tidak banyak yang ikut di dalam tempat itu. Ada sekitar 20 orang yang sudah tertampung. Semuanya rata-rata paruh baya, hanya dia sendiri yang masih muda.
Pemandangan itu seakan menampar dirinya. Mereka yang tua saja masih mau menyelematkan diri. Bahu membahu menyelematkan barang berharga. Sedangkan dirinya, hanya pasrah tanpa bisa melakukan apapun.
"Bu Sarah bagaimana kondisinya?" tanya salah satu wanita yang bertugas memeriksa kesehatan.
"Kakiku kram, mau berdiri susah," keluh Sarah.
Wanita muda itu mencoba memeriksa kondisi tubuh Sarah.
"Bu Sarah sepertinya tidak apa-apa. Kalau kakinya kram itu biasa, efek dari lamanya terbenam dalam banjir," kata wanita yang bername tag "Siti Hadjar"
"Terimakasih,Bu,"
__ADS_1
"Sama-sama bu Sarah," Bu Siti pun memanggil temannya.
"Ratna, coba kita ke tempat yang ada anak-anak. Di posko sebelah,"
"Kak Ratna?" sapa Sarah mengenali salah satu petugas kesehatan.
"Ya Allah, Sarah kamu tinggal disini?" Sarah mengangguk kecil.
"Suami kamu mana?" tanya Ratna.
"Bang Anjas lagi di rumah orangtuanya, ada tamu dari jauh katanya,"
"Jadi kamu sendirian di rumah, padahal Mila dan yang lainnya di rumah sakit," kata bidan Ratna.
"Rumah sakit? siapa yang sakit?"
"Lala, dia di temukan pingsan di makam ibu Aminah, maaf Sarah aku kesana dulu. Bidan Siti sudah menunggu," pamit Ratna.
Sarah terdiam mendengar cerita dari Ratna. Seingatnya, Lala diantar oleh Rudi untuk menginap di rumah ibu Melani, kenapa malah berakhir di makam ibunya. Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di pikirannya.
"Mereka sibuk dengan Lala, sementara aku di sini sendirian," kata Sarah.
...*****...
"Kak Mila," Lala terbangun di sepertiga malam.
Mila yang tadinya sudah mulai tertidur, terbangun karena panggilan alam. Wanita itu beranjak dari tikar tempatnya beristirahat. Sayup-sayup suara manis memanggil namanya terdengar jelas. Mila pun menghampiri ranjang tempat adiknya beristirahat.
"Lala kamu sudah bangun?"
"Aku kenapa bisa disini?" tanya Lala.
"Kamu pingsan di makam ibu," jelas Mila.
"Pingsan?" Lala belum bisa ingat dengan apa yang terjadi.
"Iya, kamu mau apa la, mau minum atau makan?" tawar Mila.
"Kakak hamil ya?" Lala mengusap perut kakaknya.
Mila mengangguk. Lala mencium perut Mila.
__ADS_1
"Halo ponakan Bucik, baik-baik kamu di dalam sana. Biar nanti pas keluar bisa main sama Bucik. Kamu kan anak baik, sama kayak ibumu dan ayahmu," sapa Lala.