
"Bagaimana persiapannya?" tanya Revo saat membantu membereskan barang milik keluarga Vika.
"Alhamdulillah, sudah hampir selesai nak Revo, terimakasih, ya," kata mbak Yuni.
"Alhamdulillah mbak kak Vika sudah banyak kemajuan," Revo memandang sosok cantik yang ikut bantu selesaikan pekerjaannya.
"Iya, makanya Bu Ida mau bawa pulang kembali ke Bengkulu. Nak Revo kapan-kapan main kesana, ya,"
Revo hanya tersenyum kecil. Netranya beralih ke wanita paruh baya tak jauh dari dekat Vika. Wanita yang sejak awal tidak suka dengan dirinya. Tapi itu tidak membuat Revo pantang menyerah. Dia bertekad menghapus sosok Ammar yang selalu diingat Vika. Entah sejak kapan dia mulai jatuh cinta pada wanita yang lebih tua di banding dirinya.
"Jadi kapan berangkatnya?" tanya Revo mengalihkan atensinya.
"Lusa nak Revo, tadinya mau dekat lebaran berangkatnya. Cuma Bu Ida mau ada teman semasa di rumah. Non Vika itu anak perempuan sendiri, sebenarnya bukan anak tunggal, dulu ada adeknya cewek tapi meninggal dunia karena over dosis," Mbak Yuni menurunkan volumenya mendekati indera pendengaran pemuda itu.
"Biasa anak orang kaya, hidupnya bebas,"
"Oh," Revo hanya mengulum senyum.
"Yasudah, Mbak kalau perlu sesuatu bilang sama saya, ya. Saya permisi dulu," pamit Revo.
"Iya, Mas Revo," jawab mbak Yuni.
Revo tadinya hendak pamit juga sama Vika dan Ida. Akan tetapi melihat sikap Ida yang ketus padanya membuat dia urung. Bukan karena dia tidak punya nyali, tapi orang yang hatinya panas jangan di pancing dulu. Tunggu momen yang tepat.
Sore Vika dan Ida berencana berangkat ke Cibubur karena ada keluarga disana. Tapi di urungnya karena semua yang di rumah kelelahan akibat berberes untuk pindahan.
Sejak kejadian dulu, Vika dan keluarga pindah ke Jakarta. Dan kembali hidup dari awal lagi, uangnya habis untuk berobat vika. Bukan keluarga sih, hanya dia dan mbak Yuni asisten rumah tangga, masih memiliki hubungan kekerabatan dengan orangtuanya.
Saat ini Vika masih sendiri, entah apa yang membuat dirinya enggan mengenal yang namanya cinta.
Ammar, sosok ini sudah tak diingat lagi. Keluarga juga berusaha tidak mengungkit soal Ammar. Takut berdampak pada psikologis Vika.
__ADS_1
Selesai kerja Vika merebahkan tubuhnya di atas kasur kecil kamarnya. Kasur busa yang hanya beralaskan karpet tebal. Kehidupannya juga tidak sama seperti dulu.
Tangannya meraih benda pipih berada di samping tempat tidurnya. Senyumnya merekah saat membaca pesan dari lelaki muda itu.
"Hai, Noona. Tadi sibuk banget kayaknya,"
"Hai juga oppa, iya namanya juga mau pindahan,"
" Aku tadi melupakan sesuatu,Vika,"
"Apa ada barangmu yang ketinggalan?"
"Enggak!"
"Terus?"
"Aku lupa menanyakan bagaimana kabarmu hari ini"
"Alhamdulillah saya masih di berikan umur panjang. Masih sehat selalu,"
"Alhamdulillah juga," balas Revo.
"Besok Vika sibuk nggak?" tanya Revo.
"Enggak kayaknya, emang kenapa?"
"Aku ada acara undangan juri kontes masak. Kamu mau ikut? paling tidak aku ada yang menyemangati,"
"Loh, kan kamu juri nya. Kecuali kalau kamu kontestannya baru bisa di semangati,"
"Ini pertama kali aku jadi juri lomba masak. Rekomendasi dari tempat kerja. Ya kan aku takut grogi pas kasih penilaian. Yah kalau ada kak Vika punya transferan energi,"
__ADS_1
"Insyaallah, ya. Lihat sikonnya,"
"Halooooowww apakah disana sudah bangun. Tuh, mataharinya sudah bintitan nunggu Puteri tidurnya belum bangun. Apa perlu pangeran kesana. "
tetapi tidak ada balasan.
Vika tahu perhatian Revo tertuju padanya. Tapi Vika sadari dia dan Revo jauh sekali. Revo masih muda baru berusia 23 tahun. Sedangkan dirinya, berusia 25 tahun. Vika yakin Revo bisa mendapatkan yang lebih sejajar atau sepantaran. Bukan dirinya yang pernah mengalami depresi akibat gagal nikah.
Pria yang di panggil oppa bernama Revo. Sebetulnya Revo bukan orang Korea atau face mirip oppa Korea, wajah Revo lebih mirip orang Jawa, hanya saja Revo ini penggila KPop.
Kehadiran Revo mengobati luka hati yang di rasakan Vika. Revo yang slengean, yang alay menjadi daya tarik Vika untuk mengenalnya.
"Yuni," Ida memanggil mbak Yuni
"Iya, Bu,"
"Saya boleh nanya sesuatu?"
"Inggih, Bu. Ada yang bisa saya bantu,"
"Sudah berapa lama lelaki itu mendekati Vika?" tanya Ida.
"Sejak kami pindah kesini, Bu. Mas Revo itu orang baik. Dia selalu bantu saya dalam pengobatan non Vika. Dari berobat medis sampai ke ustad juga, Bu," cerita mbak Yuni.
"Ustad? Vika itu bukan kesurupan kenapa di bawa ke ustadz segala!" protes Ida.
"Kan kalau ke ustadz nggak harus karena kesurupan,Bu. Banyak kok yang mengalami gangguan seperti ..."
"Dia bukan gangguan jiwa, dia hanya masih syok karena gagal menikah. Lebih baik kita percepat keberangkatan pulang ke Bengkulu. Saya tidak suka anak itu dekat-dekat dengan Vika,"
Vika mendengar ucapan mamanya dari dalam kamar. Gadis itu hanya menunduk lemas, sudah pasti mamanya akan menentang hubungan pertemanannya dengan Revo. Sama seperti dia dekat dengan Ilham dulu. Vika mengunci kamarnya, sesaat tubuhnya sudah selonjoran di depan pintu. Kaki panjangnya di lipat sejajar dengan dagu.
__ADS_1
"Mama jahat!"