Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 99


__ADS_3

Suara lantunan ayat suci Alquran terdengar merdu meskipun berasal dari speaker mesjid. Sarah dan para pengungsi lainnya terbangun. Ini adalah malam pertama sahur di penampungan. Walaupun banjir sudah surut, para pengungsi tetap di wanti-wanti untuk tidak pulang dulu ke rumah.


Di hadapannya ada satu kotak berisi nasi dan lauk pauk. Wanita muda itu duduk berbaur dengan para pengungsi lainnya. Menikmati sahur pertama sebagai istri tapi jauh dari suami. Tak terasa air matanya turun.


"Bang Anjas pasti sekarang makan yang enak-enak. Di layani sama mama Melani. Iya, sejauh aku mengenal bang Anjas, mama Melani memang sangat sayang padanya ketimbang Rudi. Wajar sih, karena itu ibu kandung bang Anjas, bukan ibunya Rudi.


Dulu Rudi selalu mengeluh karena abangnya selalu di utamakan. Di tambah posisinya menumpang bersama ayahnya, Dan mungkin bang Anjas akan mengikuti permintaan ibunya untuk ninggalin aku,"


"Sarah,"


"Ratna, kamu masih disini. Aku pikir kamu sudah pulang?"


"Enggak, Sarah. Aku kan tugas di daerah sini. Perumahan kamu itu memang paling parah dari semua tempat di kota Bengkulu yang rawan banjir," kata Ratna.


"Iyakah, tapi kenapa sedikit yang mengungsi?"


"Karena banyak yang bertahan di rumah mereka. Mempertahankan harta benda mereka. Jadi yang di ungsikan cuma anak-anak dan lansia. Cuma kamu kenapa tidak di temani suamimu,"


Sarah menghela nafas panjang dalam-dalam. Kalau dia cerita sama Ratna, otomatis nanti jadi bahan gunjingan sekompleks rumah orangtuanya. Sarah memilih tidak cerita sama sekali.


"Kan aku sudah bilang, bang Anjas lagi di rumah orangtuanya. Soalnya ada tamu keluarga jauhnya. Tadinya aku pikir dia bakal pulang. Pas aku bangun malah mati lampu dan kejebak banjir. Belum sempat aku kabari bang Anjas. Handphoneku raib. Mungkin berenang sama air banjir," cerita Sarah.


"Ini,..." Ratna memberikan handphone pada Sarah.


"Kamu hubungi suamimu, dia harus tahu keadaan kamu disini. Hubungi juga kak Mila, dia juga harus tahu apa yang kamu alami,"


"Kak Mila? dia mungkin sibuk urus Lala. Aku hanya jadi penambah bebannya saja," Sarah menempelkan benda pipih berwarna hitam ke daun telinganya. Kepalanya menunduk sesaat, netranya mengembun seakan menyimpan kesedihan. "Tidak aktif,"


"Kamu yang sabar, ya," Ratna menepuk pundak Sarah. Gadis usia 25 tahun itu meninggalkan Sarah.

__ADS_1


Setelah kepergian Ratna, banyak hal yang menjadi renungan Sarah. Termasuk ngambeknya Anjas pada dirinya. Sarah paham kalau sejatinya istri harus patuh pada suami. Sarah tahu betul Anjas sudah terlalu sabar pada dirinya. Bahkan mungkin ibu mertuanya yang dulu sayang pada Sarah, bisa jadi ilfeel pada dirinya. Kakinya menekuk sejajar dengan dagunya. Sarah melipat kepalanya menutup wajahnya di balik lipatan kaki. Hanya sesenggukan yang sekarang dia bisa lakukan.


"Maafkan aku, Bang," Isaknya.


Suara lantunan adzan menggema di langit subuh perumahan daerah Muara Bangkahulu. Dimana dia tinggal sekarang. Perumahan yang tak jauh dari perumnas dosen universitas Bengkulu. Hanya saja tempat Sarah berada di gang kecil turunan. Bukan komplek perumahan elit.


Panitia tempat pengungsian menyediakan mukena untuk para pengungsi. Termasuk Sarah yang ikut dalam barisan. Pengungsi yang 50 persen wanita dan sebagian kecil laki-laki. Berjejer rapi di belakang imam yang di pandu oleh salah satu petugas.


Sholat yang di pimpin oleh salah satu petugas kesehatan pun berlangsung dengan khidmat. Setelah imam mengucapkan salam sebagai penutup sholat. Beberapa orang masih tetap menutupi tubuhnya dengan mukena. Tangisan kecil karena sebagian dari mereka rumahnya hancur di terjang banjir. Sama dengan Sarah yang ikut menangis karena apa yang dialaminya.


"Tidaklah seseorang berbuat dosa lalu ia beranjak bersuci, melakukan shalat kemudian beristighfar meminta ampun kepada Allah kecuali Allah mengampuninya."


Itu yang pernah Sarah dengar saat mengikuti pengajian di rumahnya dahulu. Saat itu mereka masih menumpang tinggal bersama Mila. Saat itu dia masih menjadi istri yang tak tahu diri.


"Jika ingin berubah jangan dengan kata, tapi melalui sikap dan perilaku,"


Itu yang pernah Rudi katakan padanya saat berada di kampus. Walaupun mereka sekarang sudah mantan, tapi Rudi tetap bersikap baik kepada Sarah, padahal Sarah sadar dia sudah banyak menyakiti perasaan Rudi.


Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan selama hidupnya. Bagi seorang muslim ketika melakukan perbuatan salah dan dosa, Islam memerintahkan untuk bertaubat dengan meminta ampun kepada Allah SWT. Pelaksanaan taubat harus dibarengi dengan keikhlasan, keseriusan, menyesali perbuatan, serta tidak akan mengulangi dosa kesalahan yang sama.


Waktu terus berjalan, air pun sudah surut. Beberapa orang sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Termasuk Sarah, dia pun pulang ke rumahnya. Tampak turunan tangga bedengan masih penuh sama lumpur. Tanah yang becek membuat dia harus hati-hati berjalan.


Pintu rumahnya terbuka, tampak beberapa barang sudah di letakkan di tempat yang agak tinggi. Sarah mengambil alat untuk membersihkan rumah. Walaupun dia harus mengerjakannya sendiri.


"Bu Sarah mau di bantu?" sapa tetangganya.


"Ah, tidak usah Bu Dini, saya masih bisa mengerjakan sendiri," kata Sarah.


"Nggak apa-apa, tempat saya sudah beres karena semalam tidak menginap di pengungsian. Soalnya tadi malam sudah surut airnya,"

__ADS_1


"Terimakasih, Bu Dini,"


Sarah membersihkan lumpur yang memenuhi lantai ubin rumahnya. Lumpur yang begitu tebal membuatnya sedikit kesulitan. Tapi dia tidak menyerah, sebisa mungkin dia membersihkan tempat tinggalnya. Di bantu Bu Dini serta beberapa tetangganya termasuk Bu Retno.


Sarah terharu melihat kekompakan tetangganya. Padahal selama ini dia tidak pernah berbaur dengan mereka.


Hampir satu jam para tetangga bahu membahu menolong Sarah. Selebihnya Sarah kembali meneruskan pekerjaannya sendirian. Matanya beralih pada benda pipih yang menyudutkan di lantai belakang. Lantai yang dekat dengan dapur.


"Ya Allah, memang benar kata orang. Jika barang tersebut hilang dia akan kembali atas restunya. Sepertinya handphone ku mati. Ah, tidak apa-apa, nanti bisa di benerin lagi. Kalau memang rusak, ya mungkin belum rejeki aku,"


"Assalamualaikum," suara bariton terdengar dari depan pintu.


Sarah berharap kalau itu adalah suaminya. Dengan hati-hati Sarah pun pergi ke depan pintu.


"Kak Danu?" sapa Sarah menelan kekecewaan.


"Iya, tadi Ratna mengabari kalau kamu terkepung banjir, makanya kami kesini," kata Danu.


"Anjas mana?" tanya Danu.


"Bang Anjas tadi malam di rumah Mama. Ada keluarga jauh yang datang. Mungkin dia tidak tahu kalau tempat kami banjir, masalahnya handphonenya aku sepertinya rusak kena rendaman banjir," Sarah memperlihatkan handphonenya masih tertutup lumpur.


Sarah tidak mungkin cerita masalah rumah tangganya.


"Do, kamu antar Sarah ke rumah dulu. Nanti biar dia istirahat di rumah saja. Tidak usah ke rumah sakit. Kamu puasa, Sarah?"


"Iya, kak. Aku puasa," jawab Sarah lirih.


"Terimakasih, kak Danu. Aku minta maaf kalau selama ini ..."'

__ADS_1


"Tidak apa. Itulah gunanya saudara. Mila itu istriku jadi kamu dan Lala adalah adikku juga. Jadi anggap saja kamu punya Abang laki-laki," Danu mengusap rambut adik iparnya.


__ADS_2