Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 86


__ADS_3

"Assalamualaikum," sapaan kembali terdengar dari depan pintu.


Mila masih berusaha membujuk suaminya yang enggan menemui ibu Rubiah. Kekerasan hati Danu masih di maklumi Mila. Karena tanpa pertanda apa-apa tiba-tiba ada yang datang mengaku sebagai ibu kandung suaminya.


"Waalaikumsalam, ibu Nurmala," Mila menyalami ibu asuh suaminya. Bu Nurmala pun membalas salam Mila dengan sun pipi kiri dan kanan.


Bak seperti ibu dan anak mereka pun melenggang santai. Keakraban mereka tak jauh dari pantauan Rubiah dan juga Ammar.


"Mila, bukannya dia pernah main ke sini saat nenek kamu meninggal dunia?" Bu Nurmala seperti mengenali Ammar.


"Iya, Bu. Dia .... mantan saya, sekarang dia adalah saudara mas Danu, Bu," ucap Mila hati-hati.


"Oh, Yasudah yang lewat biarin lewat saja, suami kamu mana?"


"Di dalam, Bu. Masih belum fit benar," kata Mila.


"Bu Rubiah, apa kabar?" sapa Bu Nurmala.


"Alhamdulillah baik, Bu Nurmala, ibu kesini sendirian?"


"Iya saya sendirian, mau ajak anak panti tadi, kendaraan panti malah ada masalah sama mesinnya. Jadi saya naik angkot berangkat sendiri saja. Lagian dekat kok dari kampung Bali ke Sawah Lebar,"


"Emang tidak ada kendaraan penunjang yang lainnya. Seperti motor gitu? biasanya setahu saya setiap lembaga atau yayasan seperti panti asuhan, biasanya di berikan fasilitas termasuk kendaraan baik roda empat ataupun roda dua,"


"Ada tapi Danu yang sering pakai untuk berangkat kerja. Sejujurnya saya tidak bisa bawa motor,Bu. Untung anak-anak pada bisa, kalau nggak ya bakal kelimpungan deh,


maaf, Bu, saya mau ke dapur dulu bantu Mila menyiapkan...." Rubiah menahan Bu Nurmala agar menemaninya mengobrol daripada membantu Mila.

__ADS_1


"Biarkan saja, Bu. Kita ini tamu, sudah sepatutnya di layani. Apalagi status kita mertua, harus jaga wibawa,"


Bu Nurmala hanya menggelengkan kepalanya ketika mendengar ucapan Rubiah. Seharusnya seorang mertua memberikan contoh yang baik untuk menantunya. Memberikan kenyamanan untuk hubungan mertua dan menantu. Bukan malah merasa senior, hingga mempertahankan gengsi. Bu Nurmala meninggalkan Rubiah di ruang tamu. Tampak Danu ikut membantu Mila di dapur. Mempersiapkan makan siang untuk keluarga ibu Rubiah.


"Kalian berdua saling melengkapi ternyata. Tidak ada gengsi untuk saling membantu. Seharusnya memang seperti itu, suami istri tidak ada jarak untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Saling tolong menolong, ibu bangga sama kamu, Danu," batin Bu Diana.


"Mas, coba panggil mereka untuk kumpul di meja makan,"


"Baik tuan putri," Danu bergaya hormat membuat Mila mencubitnya karena gemas.


Adegan itu tak lepas dari pantauan sepasang mata coklat. Mata yang sedari tadi memperhatikannya keduanya pasangan halal tersebut. Entah kenapa ada bara panas bercakar di hatinya. Dia juga tak paham hal itu, padahal dia merasa baru ketemu sekarang. Tapi seperti sudah kenal lama.


"Do, aku mau menenangkan diri di teras depan. Kalau kamu mau makan nggak apa-apa," Ammar merasa minder berbaur dengan Mila dan juga Danu.


"Ada apa, Bang? apa Abang merasa sesuatu dengan mereka termasuk kak Mila?"


"Lebih bagus kalau di jelaskan nanti di rumah, bang. Kita disini mau menemani Makwo Rubiah bertemu anak kandungnya. Mereka sudah susah payah menjamu kita, masa di tolak. Ayo, bang kita ke dalam," Ando mendorong kursi roda Ammar untuk ikut makan malam.


Siang ini semua keluarga besar pihak Danu berkumpul di kediaman Sarmila. Tepatnya sekitar jam sebelas siang tadi kedatangan ibu Rubiah dan dua keponakannya. Di susul ibu Nurmala yang datang sendirian tanpa membawa salah satu anak panti. Biasa kalau mau berkunjung ke tempat Mila, ibu Nurmala mengajak Meta atau Sari. Karena setelah Danu menikah, Meta yang menjadi anak tertua di panti. Walaupun usianya masih 16 tahun.


Setelah selesai jamuan makan yang sederhana. Mereka pun berkumpul di ruang depan. Sementara Mila hendak mencuci piring. Danu pun membantu istrinya ikut membersihkan meja makan.


"Nanti saja cuci piring, kita temui mereka dulu," kata Danu.


"Mas, duluan saja. Aku mau ke WC dulu," Danu pun meninggalkan Mila di belakang. Sementara Mila harus merasakan perutnya tidak enak. Berusaha memuntahkan isi perutnya namun tidak seheboh orang muntah pada umumnya.


Sementara di ruang depan semuanya sudah berkumpul. Bu Nurmala sebenarnya mau menjelaskan soal siapa yang membawa Danu ke panti. Dia pun sudah menghubungi beberapa orang yang pernah mengurus panti. Tidak di sangka ada keluarga Rubiah, sehingga menjadi momen yang pas menceritakan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Danu ini sejak kecil sudah tangguh, kenapa saya bilang begitu? semasa saya menjadi pengurus panti, dia yang paling mandiri. Menjadi panutan adik-adiknya di panti, Saya memang baru mengenal Danu saat usianya sudah empat tahun. Saya sendiri tidak tahu kenapa nama Abdi di ganti dengan Danu. Sebab saat saya disana namanya sudah menjadi Danu," cerita Bu Nurmala.


"Apakah saya di sana sudah sejak bayi?" tanya Danu.


"Kalau yang ibu tahu dari Bu Mutia, kamu di titipkan oleh sepasang suami istri. Katanya orangtua kamu sudah meninggal dunia, terus suami istri itu tidak bisa mengurusi kamu karena sedang hamil. Kebetulan saya membawa berkas penyerahan kamu atas nama .... Tamrin dan Azizah," Bu Nurmala menyerahkan berkas yang dia temukan di arsip milik panti.


"Azizah itu istri simpanan ayah kamu, Danu. Ibu tidak pernah meninggalkan kamu, Nak. Saat kamu sedang sakit, Diana dan suaminya menawarkan untuk menjaga kamu. Ibu sedang sibuk mengurusi perceraian dengan ayahmu, karena dia menikah lagi. Ibu tidak mau di madu.


Azizah adalah teman Diana dan juga saudara jauh Farida, mamanya Vika. Saat itu usia Azizah masih belia sudah jadi istri kedua ayahmu. Diana dan Azizah serta Hasna, nenek kalian sekongkol dalam hal.


Jujur saya kaget saat tahu yang meletakkan Danu adalah Bang Tamrin, ayah kandungnya sendiri. Apakah dia tidak tergerak untuk merawat anaknya sendiri? Maafkan ayah kamu, nak. Sekarang dia sudah meninggal dunia.


Saat semuanya sudah beres mereka tanpa bersalah mengopor kamu entah kemana. Ibu sudah mencoba bertahan mencari kamu, tapi apalah daya. Uang ibu terkuras ibu mengurus semua itu,


Lelaki yang meletakkan kamu di panti adalah ayahmu sendiri. Maafkan ibu, nak," Rubiah langsung bersujud di kaki Danu.


Ando dan Ammar mendengar cerita Makwo Rubiah langsung terdiam. Mereka tidak menyangka kalau mama yang sangat di hormati bertindak sejauh itu. Memisahkan ibu dan anak yang masih kecil.


"Makwo," panggil Ammar.


Rubiah menoleh kearah keponakannya. Sembari menyeka air matanya dia pun melemparkan pandangan ke lain arah. Rasa sesak yang mendera di dadanya, mengingat apa yang pernah dia alami.


"Maafkan mama dan papa kami," kata Ammar.


"Kami tidak menyangka ada keterlibatan mereka dalam hal ini. Memisahkan ibu dan anak serta malah di pihak yang salah, maafkan mama kami dan juga papa kami," Ando bersujud di kaki Makwo Rubiah. Kedua keponakan dari pihak suaminya pun menangis.


"Ibu," Danu tiba-tiba bersuara.

__ADS_1


Kakinya langsung bertekuk lutut di hadapan ibu Rubiah. Ibu yang selama ini dia benci karena membuangnya. Sejak kecil dia hanya tahu hidupnya cuma di panti. Sama seperti anak yang lainnya, tidak punya orangtua, apakah memang mereka yatim-piatu atau mungkin di buang orangtuanya.


__ADS_2