
Tidak ada orang yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat subuh dan shalat isya .seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatangi nya walau merangkak" ( H.r.bukhari ).
Setiap orang pasti memiliki masalah dalam hidupnya. Hanya saja berbeda-beda masalah yang dihadapinya. Ada yang memiliki masalah dalam pendidikannya, masalah dalam keuangannya, masalah dalam keluarganya, masalah dalam pekerjaannya, dan berbagai masalah lainnya.
Setiap orang tidak sama dalam menghadapi, mensikapi, serta menuntaskan setiap masalah yang di hadapi. Ada yang karena suatu masalah menjadikan orang tersebut terpuruk, lemah dan bahkan merasa kehilangan harga dirinya.
Tetapi, ada juga yang karena mendapatkan masalah menjadikan orang tersebut menjadi lebih baik dan bahkan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.Ketika cobaan dalam hidup seperti datang bertubi-tubi tanpa kenal ampun, jangan dulu menyerah.
Pukul 04.55
Mila sudah bangun pagi terlebih dahulu. Mengingat dia sudah kembali bekerja di salah satu toko retail terdekat. Dia juga harus mempersiapkan sarapan untuk kedua adiknya dan juga untuk neneknya. Sambil menunggu air masak di cerek besar. Mila pun menyiapkan bahan lain, seperti lemea, telur ayam dan juga pisang.
Mila sudah bangun lebih cepat dari jam subuh. Membereskan kamarnya, mengecek keadaan nenek Seruni yang masih terlelap. Sesaat Mila duduk memandang wanita paruh baya itu. Kesehatan nenek berkembang pesat.
Sejak nenek sakit dua bulan yang lalu, beberapa kali bolak-balik rumah sakit. Apalagi Eva bilang nenek sangat membenci bude Lia. Mila tahu kalau Bude Lia Kakak tiri ibu Aminah. Dia sempat mendengar pembicaraan antara bude Lia dan Tulang Boro. Tapi Mila melihat bude Lia tidak pernah mencoba mengatakan hal itu. Di matanya, wanita paruh baya itu masih jaga jarak dengan keluarganya.
Bukankah tujuan bude Lia ke Bengkulu adalah mencari keluarganya. Tapi kenapa saat bertemu kami, dia malah menghindar? apa karena hubungannya dengan nenek Seruni tidak baik.
Atau ....
Ah, entahlah. Aku merasa bude Lia bukan orang jauh. Aku merasa dekat dengannya.
Mila mengambil ikan nila dan terong hijau di dalam kulkas. Rasanya akan mantap kalau masak lemea di padu dengan dua bahan itu.
Lemea adalah makanan khas daerah Bengkulu. Setelah cincangan rebung yang dicampur dengan ikan tersebut diaduk-aduk, maka adonan disimpan ke dalam wadah yang dilapisi dengan daun pisang dan ditutup rapat.Lemea merupakan makanan khas Rejang yang berasal dari bambu muda yang dicincang dan dicampur ikan air tawar, seperti ikan mujair, sepat, maupun ikan-ikan kecil yang hidup di air tawar.
Bahan:
1/2 ons cabai merah yang sudah digiling
4 siung bawang merah
1/2 kg ikan laut atau ikan yang lain sesuai dengan selera
1/4 kg lemea (bambu muda yang sudah diiris dan dicincang)
Air
Cara Memasak:
Goreng ikan terlebih dahulu. Tumis 4 siung bawang merah. Masukan cabai giling merah 1 ons (pedas sesuai selera).
Masukan lemea 1/4 kg. Tambahkan air secukupnya. Masukan ikan yang sudah digoreng. Tunggu hingga mendidih. Lemea siap dihidangkan.
__ADS_1
Apalagi di temani dengan nasi panas. Rasanya mantap.
Selesai memasak, Mila menyiapkan menu yang lain. Terdengar lantunan suara orang mengaji dari mushola. Lokasi mushola lumayan dekat dengan rumah.
Mendengar hal itu Mila masuk ke kamar kedua adiknya. Tentu membangunkan keduanya untuk melaksanakan sholat subuh. Lala melihat kakaknya sudah sibuk dengan aktivitas pagi. Gadis remaja itu bangkit dari peraduan malamnya, memasuki kamar mandi yang terletak di dekat dapur untuk berwudhu.
"Kak Sarah bilang dia sedang haid. Nggak usah di bangunkan, kak. Tadi malam dia teleponan sama kak Anjas sampai larut malam." kata Lala sambil memasangkan mukena ke tubuhnya.
Mila memandang Sarah yang masih terlelap. Kepalanya menggeleng melihat kelakuan sang adik. Dia saja dulu tidak segitunya. Baik Anjas maupun Ammar pun juga tidak pernah mengajaknya telepon sampai larut malam. Bukan dia iri, akan tetapi dia juga kurang suka dengan segala sesuatu yang berlebihan.
"Kak," suara Lala mengagetkan Mila dari lamunannya.
"Eh, Iya. Lala mau ke mushola ya?" Lala mengangguk.
Setiap subuh baik Lala maupun Mila ikut pengajian setelah sholat subuh di mushola terdekat.
Mereka berjalan menuju mushola. Keduanya sudah membalutkan tubuhnya dengan mukena.
"Kak, Lala mau nanya?"
"Apa, dek?"
"Kakak cinta sama kak Ammar."
"Kenapa nanya begitu?"
"Iya, kakak cinta sama dia. Ya walaupun orangnya nyebelin sih. Tapi melihat keseriusan dia, kakak yakin dia bukan seperti Anjas."
"Tapi aku, kak Sarah dan yang lainnya lebih suka sama kak Danu. Dia orangnya sopan, humble. Bukan kak ammar yang datang pas ada kak Mila. Nggak mendekatkan diri sama kami. Kalau kak Danu dia selalu care sama nenek.
Maaf, Lala bukannya menggurui kakak. Tapi ini pendapat Lala selama mengenal kak Ammar. Kak Ammar memang baik, apalagi dia banyak bantu kita untuk pengobatan nenek yang biayanya tidak sedikit. Hanya saja, sepertinya dia seperti itu karena suka sama Kakak. Bukan ikhlas."
Obrolan mereka terhenti saat suara qomat sebagai tanda di laksanakannya sholat subuh. Mila dan Lala berada di barisan belakang bersiap-siap untuk sholat subuh.
Beberapa orang sudah memenuhi mushola. Mushola yang memuat orang lebih dari 20 orang. Tampak seorang lelaki yang berpakai koko putih dan bersarung motif senada dengan bajunya. Lelaki itu memimpin sholat subuh. Ada Eva yang berdiri di samping Mila. Saat Mila sampai Eva sudah ada di dalam mushola.
Selesai sholat Mila meninggalkan Lala yang akan ikut mengaji bersama. Biasanya Mila ikut mengaji, tapi mengingat nenek yang belum bangun dan juga Sarah yang harus mempersiapkan kuliahnya. Mila harus pulang lebih cepat.
Sampai di rumah Mila pun menyimpan mukenanya. Dia menyiapkan sarapan baik makanan maupun minuman. Sesekali mengecek handphonenya.
Banyak sekali panggilan tak terjawab dari Ammar. Mila memilih mengabaikan. Bukan karena tidak peduli sama Ammar. Tapi dia masih ingin menenangkan diri setelah kejadian semalam. Dimana Vika melabraknya karena merasa di tikungan.
Ucapan Lala tadi lumayan mencubit dirinya. Ada benarnya kata Lala tadi, selama ini dia belum melihat Ammar mencoba berbaur dengan keluarganya. Setiap datang kerumah Ammar lebih sering mendatangi dirinya ketimbang berbaur dengan yang lain. Beda dengan Anjas yang mau berbaur dengan ibunya. Bahkan dia mau mengantar ibu nya belanja ke pasar.
Ting!
Danu
__ADS_1
Mila aku boleh minta tolong.
Mila
Kalau aku bisa, nanti aku bantu.
Danu
Di daerah tanah patah, kami mau mengadakan posyandu. Jadi tadi ada seorang staf kami yang harusnya ikut tapi ternyata dia berhalangan hadir. Karena itu kamu mau tolong saya untuk gabung di rombongan kami. tugas kamu cuma mencatat apa saja hasil kegiatan posyandu.
Mila
Aduh gimana, ya? aku bisa saja. Tapi nanti yang jaga nenek siapa?
Danu
Acara nya habis lohor di balai desa tanah patah. Nanti aku bicara sama Sarah supaya dia mau gantikan kamu di rumah.
Mila
Nanti aku saja yang bicara sama Sarah. Nggak enak kamu yang ngomong sama dia.
Danu
Nggak apa-apa. Kayaknya Sarah nurut sama aku. Kemarin aku nasehatin dia jangan sering berduaan sama Anjas. Dia nurut.
Mila
Yasudah, kamu saja yang jadi kakaknya.
Danu
jadi kakaknya apa jadi sama kakaknya?
Mila hanya mengirimkan emot tertawa pada Danu. Mereka pun menutup pesan singkatnya. Selepas itukah dia sama Danu, Mila menyadari kalau dia dan Danu lebih cocok berteman saja.
...******...
Assalamualaikum selamat pagi.
Maaf ya kalau aku sering lama up nya. Maklum ibu rumah tangga, banyak kegiatan di dunia nyata yang menyita.
Mila akan sering up jam sore atau malam. Soalnya ada Novel sebelah yang tidak bisa up jam segitu.
Tetap terus pantengin kisah sederhana ini. Jangan lupa dukung karya othor dengan like, Vote dan komen. Supaya othor tetap semangat nulisnya.
Mari sarapan
__ADS_1