
Kelahiran buah hati tentu merupakan momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh setiap orang tua. Dalam agama Islam, sebagai bentuk rasa syukur orang tua atas kelahiran tersebut. Maka orangtua disunnahkan untuk menggelar aqiqah anak perempuan atau laki-laki, sesuai dengan jenis kelamin buah hati.
Aqiqah anak perempuan dan laki-laki biasanya ditandai dengan penyembelihan hewan ternak untuk kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada saudara dan tetangganya. Aqiqah merupakan salah satu ajaran yang wajib dijalankan setiap muslim ketika memiliki anak.
Orang-orang sudah meramaikan kediaman baru milik Mila dan Danu. Beberapa orang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ada yang atur dekorasi, ada yang menata kamar bayi untuk Sada. Ada juga yang sudah berkutat di dapur.
Ada apa di sana? akan ada acara syukuran menyambut bayi cantik yang masih belum genap seminggu. Bayi yang di beri nama "SADA CAMELLIA" itu bak seorang pengantin wanita yang akan melangsungkan pernikahan. Rubiah membawa seorang ahli syaraf untuk mengurut bayi. Konon katanya biar tidak gampang lelah selama acara.
Mila dan Danu awalnya keberatan menggunakan acara. Mereka lebih menyumbangkan kambing ke mesjid. Cara itu di nilai lebih efisien bagi mereka. Tapi namanya orangtua ingin berbagi kebahagiaan pada cucu nya. Mereka pun tidak bisa melarang asal tidak keluar dari nilai acara tersebut.
"Itu bagusnya letak disana!" perintah Lala saat menata kamar keponakannya.
"Kak Cakra coba bonekanya di banyakin tapi yang kecil-kecil saja." Lala masih memandori dekorasi kamar Sada.
"Posisi tempat tidurnya bagaimana, La?" tanya Aris.
"Bentar!" Lala membuka handphone. Membuka kata kunci di google "Fengsui". Gayanya berlagak seperti mandor menunjukkan arah bagus untuk kamar Sada.
"Jendelanya itu harus menghadap keluar di mana angin bisa membuat suasana kamar alirannya bagus. Posisi baik untuk tempat tidur bayi menghadap barat. Di mana saat bangun pagi bayi ...
Aaaaaaw! Aris apaan sih! Suhu lagi menjelaskan di larang mengganggu konsentrasi!" Lala mengacak pinggang memarahi temannya.
"Suhu! Suhu! Yang dari tadi kamu bahas untuk diri sendiri bukan untuk bayi! Mana ada bayi tahu cahaya sinar matahari."
"Cahaya matahari itu bagus untuk kulit bayi, Aris! makanya jangan main game mulu kalau buat tugas. Buka internet bukan malah curhat lebay di sosmed! Banyak pengetahuan di google." Lala masih tidak terima di bantah ucapannya.
Sementara Cakra dan anak panti yang lain hanya menggelengkan kepala melihat perdebatan Aris dan Lala. Di akhiri Lala keluar dari kamar Sada. Aris pun menyusul meninggalkan kamar Sada.
"Dasar anak kecil!" rutuk Cakra.
"Emangnya kamu dah gede, Kra?" sahut Neta sedang menyedot karpet bulu kamar bayi.
"Iya, aku kan sudah SMA. Sama kayak kamu sudah SMA. Sudah dewasa sudah boleh cari pasangan. Siapa tahu... Awwww!"
"Ingat kata ibu Nurmala, selama masih sekolah. Tidak boleh pacaran! mau sama anak panti ataupun teman sekolah juga tidak boleh! Paham!"
"Ngomong sama tangan!" Cakra meninggalkan Neta sendirian di kamar bayi.
__ADS_1
Setelah selesai berbenah para keluarga besar dulu di ruang tengah berkumpul bersama. Saling bertukar cerita. Ibu Rubiah dan beberapa wanita beda generasi datang ke ruang tengah membawa cemilan yang mereka buat di dapur tadi. Ada bakwan, agar-agar dan es timun Marjan.
"Ayo di cicipi makanannya. Ini yang buat Sarah, Lo." sapa Rubiah pada para tamu.
"Ibu bisa saja, padahal masaknya sama-sama."
"Kamu banyak kemajuan Sarah. Sudah bisa masak kue. Padahal kata Mila kamu paling anti masuk dapur." Sarah melempar pandangan ke arah kakaknya. Mila hanya mengangkat tangan berbentuk V. Menandakan rasa bersalah karena sudah cerita sama mertuanya.
"Danu.." sapa ibu Rubiah pada putra semata wayangnya.
Danu yang asyik di teras bersama para tamu memilih ke dalam menyambangi ibunya.
"Ada apa, Bu?"
"Ini," Rubiah menyerahkan map kuning pada Danu.
"Ini apa? surat wasiatkah?"
"Aaaawwww!" Danu merasa indera pendengarannya terasa panas. "Sakit, Bu" rengeknya.
"Kamu itu, Lo. Ucapan adalah doa."
"Ibu masih sehat wal Afiat. Nggak ada wasiat!"
"Terus itu apa?"
"Danu, ini akta kelahiran kamu. Dulu nama kamu Abdi Putra Chaniago. Kenapa kamu di kasih nama itu. Karena permintaan Datuk kamu, apak dari ibu yang berasal dari Chaniago. Dan sekarang nama kamu bukan Abdi lagi. Tapi Danu Putra Chaniago. Dan kalau nanti Sada sudah berusia 1 tahun. Akan ada acara persembahan di kampung kita. Seperti janji ibu sama kamu. Setelah Sada lahir kamu tetap harus melanjutkan pengobatan di Padang."
"Apa aku membawa Mila kesana, Bu?"
"Iya, Nak. Ibu butuh penerus usaha. Kamu dan Mila andalan ibu saat ini." ucap Rubiah.
"Terimakasih, Bu. Terimakasih tidak berusaha memisahkan kami lagi." Danu dan Rubiah saling berpelukan.
"Karena ibu tahu rasanya sakit sekali terpisah dengan orang yang kita sayang. Seperti saat ibu kehilangan jejak kamu. Dan ibu tidak ingin kamu merasakannya juga."
"Mama kenapa?" tanya Fera di dapur.
__ADS_1
"Mama nggak tahu dari kemarin kepikiran Ida. Ada rasa bersalah kita sudah bantu Vika kabur dari pernikahannya." ucap Dahlia.
"Ya kalau dia kenapa-kenapa juga udah karmanya jahat sama anaknya sendiri. Masa anaknya nikah bangkotan demi apa demi harta, Ma."
"Kamu jangan ngomong gitu. Itu Buklikmu, adik papamu. Masih keluarga kandung kamu, Fera. Kalau mama tidak ada kamu hanya punya Ida dan Vika." kata Dahlia.
"Yasudah, Ma. Nanti aku ke rumah mereka." Fera meninggalkan mamanya dan kembali berbaur bersama yang lain.
Acara aqiqah cuma diadakan dengan pengajian bersama anak panti Kasih Ibu. Rencananya akan di gelar sehabis Isya.
Waktu menunjukkan akan magrib, Mila yang hendak menutup pintu tertahan pada sosok berdiri di depan pintu.
"Ammar," sapanya.
"Iya, ini aku. Kamu apa kabar? Selamat ya anakmu sudah lahir."
"Terimakasih, Mar. Kamu masuk dulu lah. Magrib nggak bagus di luar."
"Mila,"
"Iya, masuklah, Mar."
"Apa kamu memaafkan aku?"
"Kan sudah beberapa kali aku bilang kamu sudah ku maafkan. Kenapa di .... Mar, Ammar!" Mila kaget Ammar sudah tidak ada di hadapannya. Dia berlari keluar mencari keberadaan Ammar.
"Ya Allah perasaan apa ini?"
Mila kembali ke rumah mendapati semua yang ada di sana berubah tegang.
"Ada apa?"
Danu mendekati istrinya. Kepalanya menunduk terdengar isakan kecil.
"Ada apa, Uda?"
"Barusan Wisnu menelepon. Katanya Ammar mendadak kejang dan akhirnya meninggal dunia. Aku tidak tahu apa yang membuat Ammar berbaring di rumah sakit. Tapi kenapa Tuhan secepat itu mengambilnya."
__ADS_1
"Innalilahi wa innailaihi rojiun."