Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 45


__ADS_3

Peristiwa kecelakaan lalu lintas (laka lantas) terjadi di kawasan Pasir Putih Wisata Pantai Panjang Kota Bengkulu, Lantaran melaju dengan kecepatan tinggi hingga diduga mengalami out control, tepat di bundaran pasir putih motor yang seharusnya berbelok ke arah kiri namun melaju lurus hingga langsung menghantam salah satu pepohonan hingga terpelanting ke arah gerbang Taman Wisata Alam (TWA) Pasir Putih.


Motor juga di duga mengalami rem blong, sehingga menyebabkan motor terpental dan terbakar. Dugaan motor menabrak sebuah batang kecil di sekitar pantai. Peristiwa ini sempat membuat kemacetan kendaraan yang melintas. Aparat kepolisian yang tiba di lokasi kejadian langsung melakukan evakuasi terhadap kendaraan yang terlibat laka tunggal.


Rohim mendengar polisi menjelaskan kronologis kejadian berdasarkan riset mereka. Lelaki usia kepala 5 itu pun cuma bisa manggut-manggut saja. Sementara Edo meminta izin pulang karena takut istrinya menunggu di rumah.


"Bang, ambo ndak balik bulih dak? kelak kalau ado apo-apo kabari ajo. Dak enak kek bini aku nunggu, tadi la di kecek ambo nginap di rumah sakit. Tapi nyo nelpon terus."


(Bang, saya pulang dulu boleh kan? nanti kalau ada apa-apa kabari saja. Nggak enak sama istri di rumah, sudah di bilang menginap di rumah sakit. Masih aja telepon terus).


"Aku jugo nak balik. Kan Kito la bawak korban ke rumah sakit. Kini pacaklah polisi yang nangani. Tadi la sudah di kasih keterangan panjang lebar. Litak nian badan, maklum lah tuo."


(Saya juga mau pulang. kita sudah bawa korban ke rumah sakit. biarlah urusan balik ke polisi. Tadi sudah banyak beri penjelasan sama polisi. Mereka juga sudah mempersilahkan kita pulang. Capek sekali badan, maklum sudah tua).


Setelah pamit pada petugas setempat, Rohim pun meninggalkan area rumah sakit. Bayang-bayang tempat tidur pun sudah menari-nari di pikirannya. Sudah pasti anak-anaknya cemas karena semalaman tidak pulang. Truk pun melaju meninggalkan rumah sakit.


"Ayah darimana?" tanya Sarah mendapati ayahnya baru pulang pagi ini.


Rohim baru saja pulang setelah mengurus korban kecelakaan yang dia temukan. Masih dalam pengusutan polisi tentang jati diri korban tersebut. Korban tanpa identitas itu mengalami luka bakar di bagian kaki dan tangannya. Tentu akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.


"Semalam ayah menemukan orang kecelakaan. Kalau dari pakaiannya dia seorang pengantin. Tapi tidak tahu juga kalau mungkin dia sehabis dari pesta. Kasihan kakinya terancam amputasi karena luka bakar yang parah."


"Kasihan, ya. Ayah mau Sarah buatkan teh apa kopi?" Tanya Sarah yang hendak melangkah ke dapur. Sarah, Mila dan Lala sekarang satu kamar. Sementara Rohim sekarang menempati kamar nenek Seruni. Karena di rumah tersebut hanya ada dua kamar.


"Kakakmu mana?" tanya Rohim.


Sarah mengendurkan nafasnya, baru sampai saja ayahnya langsung mencari Mila. Bukan dirinya ataupun Lala. Sarah teringat kata nenek Seruni.


"Bagi ayah kalian anaknya ya cuma Mila." kata nenek Seruni saat itu.


"Kak Mila mengantar Lala ke sekolah. Hari ini dia libur jualan dulu." Jelas Sarah masuk ke kamar.


"Kamu tidak kuliah, Sarah?"

__ADS_1


"Nanti jam sepuluh pagi." sahut Sarah dari dalam kamar.


"Yasudah, ayah istirahat dulu. Badan rasanya capek sekali." Rohim langsung masuk ke kamar.


"Yah, minum dulu teh nya. Tadi Sarah mau bikinkan ayah kopi. Tapi kalau ayah minum kopi, tidak bisa istirahat nantinya."


...*****...


Setelah gagalnya resepsi yang dialami Vika cukup menghebohkan. Ketidak hadiran Ammar dalam pernikahan.


"Eh, itu resepsi temannya Mila gagal,ya"


"Iya, katanya sih cowoknya nggak datang"


"Dengar dengar cowoknya itu pernah dekat sama Mila"


"Emang,ya kalau keturunan pelakor begitu"


"Siapa yang pelakor?"


"Lah, Mila kan anak Bu Aminah"


"Bukan, kata emak gue Mila anak bapaknya dengan wanita lain"


"Aje gile, serius nih"


"Serius lah, emak kan dulu tetangga ama nenek Seruni di Curup."


Desas desus tentang pernikahan Vika dan amar yang gagal telah sampai di telinga tetangga Mila. Banyak yang mengaitkan masa lalu Rohim dengan yang terjadi selama ini terhadap Mila.


Mereka menganggap karma nya Rohim dan perempuannya karena punya anak di belakang Aminah.


Omongan itu ternyata sampai di telinga Sarah yang kesal para tetangga yang tak henti menjelekkan Mila.

__ADS_1


Ingin rasanya Sarah melabrak pemilik lidah tak bertulang itu. Tapi percuma, buang buang tenaga untuk meladeni mereka yang bermulut zholim.


Sarah menelpon Anjas untuk membicarakan fiting baju pengantin untuk pernikahan mereka Minggu depan lagi. Tapi telponnya tak di respon Anjas.


" Mungkin lagi banyak kerjaan"


Sudah dua hari Anjas jarang mengabarinya. Entah mungkin Karena kesibukan atau mungkin gara gara omongan Danu, padahal dia yakin Danu cuma bercanda. Kenapa Anjas sekarang jadi sensi ya, sama kayak kakaknya Mila.


Mila semenjak masalah gagalnya pernikahan Vika dan amar, mencoba menutup diri. Dia jadi jarang berbaur dengan para tetangga. Tapi emang dari dulu Mila tidak pernah berbaur sama mereka.


Siang ini Danu mengajaknya jalan jalan ke alun-alun kota Bengkulu, alasannya pengen cari hiburan saja.


Sepulang dari mengantarkan Lala ke sekolah. Danu menghubungi dirinya minta bertemu. Mila pun tancap gas ke alun-alun kota Bengkulu. Disana tampak Danu sudah menunggu di dekat kumpulan para rusa.


"Ada apa?" Mila terkesan dingin menanggapi Danu.


"Kok gitu, sih. Nggak kayak biasanya?"


"Emang biasanya bagaimana, Danu? Aku mau pulang." Mila merasa tangannya tertahan.


"Iya, aku tahu kamu sibuk. Sama aku juga sibuk cuma aku mau bilang sama kamu."


"Minggu depan aku akan ke rumah sama ibu Nurmala."


"Hah! ngapain?"


"Melamar kamu!" Danu berjalan meninggalkan Mila yang masih syok.


"Perasaan dari kemarin dia ngomong gitu mulu. Omong doang, actionnya nggak ada.


Ih Mila, ngapain kamu mikir seperti itu? kesannya ngarep banget. Please ya, kamu sekarang fokus ke adikmu. Fokus untuk membantu perekonomian keluarga." batin Mila.


Danu mengajak ke salah satu warung Padang di dekat alun-alun kota. Ternyata Danu suka masakan Padang juga, Mila sebenarnya nggak terlalu suka masakan Padang, apalagi yang berbau santan. Mila ingat dulu, Ammar kalo jalan jalan suka nongkrong di sate Padang atau makanan berbau Minang. Kalo Mila ajak ke warung Sunda Ammar cuma memesan lalapan daun singkong sama sambal ijo.

__ADS_1


" Kok mereka sama,ya" gumamnya dalam hati


Mila tak mau memikirkan kesamaan mereka. Mila berharap Ammar bisa kembali ke keluarganya, agar nama baik Mila bisa di bersihkan.


__ADS_2