Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 7


__ADS_3

"Tante, Kak Ammar kecelakaan! sekarang lagi di rumah sakit raflesia."


"Kecelakaan bagaimana, Vika?" tanya Diana saat mendengar kabar putra sulungnya.


"Tadi ada barang yang jatuh di gudang. Dan Kak Ammar sedang ada di sana." adu Vika.


"Cuma Ammar atau ada pegawai yang lain?" Diana menanyakan hal itu sebagai antipasi kalau nanti pegawainya yang terluka.


"Pokoknya Tante ke rumah sakit dulu. Nanti biar Vika jelaskan."


"Ada apa, ma?" tanya Ardo yang baru saja datang.


"Abangmu kecelakaan di toko. Kita langsung ke Raflesia,Do.


Ya Allah, jangan sampai terjadi sesuatu pada anakku." Lirih Diana dalam Isak tangisnya.


"Mama tenang saja, doakan yang baik untuk bang Ammar." Diana mengangguk.


"Do, kamu kasih tahu sama Vika suruh mamanya ke rumah sakit."


"Ma, please. Jangan bahas perjodohan itu dulu. Tunggu bang Ammar sehat dulu. Nggak usah undang keluarga Vika. Cukup Vikanya saja,ma." kata Ardo.


"Yuk," Ardo sudah siap dengan mobilnya.


Diana dan Ardo sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit Raflesia. Rasa cemas menyelimuti wanita berusia 55 tahun tersebut. Tidak ada firasat apapun tentang putra sulungnya. Sepanjang perjalanan dia hanya terdiam.


Ardo tahu perasaan mamanya. Orangtua mana yang tidak cemas tentang anaknya. Ardo berusaha menenangkan sang mama yang terus gelisah.


Mobil sudah sampai di pelataran rumah sakit. Ardo memarkirkan mobilnya di depan pintu rumah sakit. Dia pun meminta sang mama turun terlebih dahulu. Sementara dia mencari tempat yang pas untuk meletakkan mobilnya.


Diana memasuki rumah sakit langsung di sambut Vika. Dua wanita beda generasi itu saling berpelukan karena memang saling mengenal satu sama lain. Vika menuntun Diana masuk ke ruangan di mana Ammar di rawat.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Vika?"


"Anu, Tante, kak Ammar nolongin teman kami yang hampir tertimpa kardus besar." cerita Vika.


"Laki-laki atau perempuan?"


"Perempuan, tante." cerita Vika.


Mereka tiba di ruang rawat Ammar. Tampak lelaki itu masih terbaring disana. Diana langsung berhambur mendekati putranya.


"Ya Allah, nak. Kenapa seperti ini!"


Mila yang duduk di tak jauh dari tempat Ammar berbaring pun menoleh. Dia ingin cerita tentang kejadian yang sebenarnya. Tapi di urungkannya. Mila melihat situasi dulu baru bercerita.


Diana menoleh kearah Mila. Siratan matanya tampak tak begitu suka dengan kehadiran Mila. Mila menyadari hal itu langsung meninggalkan ruangan Ammar.


"Mila, bisa bantu aku buat gagalkan perjodohan dengan pak Ammar. Aku yakin dia pasti mau menolong aku. Aku sudah punya Ilham, jadi tidak mungkin menerima perjodohan ini." batin Vika.


Dokter datang memeriksa keadaan Ammar. Diana langsung memberondong pertanyaan pada dokter tentang kondisi anaknya.


"Anak saya kenapa, Dok?"


"Saudara Ammar mengalami patah tulang di kaki. Dan mungkin ada sedikit geger otak di kepalanya. Mungkin hantaman benda yang jatuh sangat kuat. Jadi perlu di istirahatkan selama beberapa hari." jelas Dokter.


"Tapi nggak parah, kan, dok?"


"Enggak, kok. Dia hanya perlu istirahat saja."


"Alhamdulillah" seru semua yang ada di ruangan.

__ADS_1


"Vika, Tante ingin tahu siapa yang di selamatkan Ammar?"


"Sarmila, Tante. Yang tadi duduk di sini."


"Owh, boleh saya minta bertemu."


"Dia ada di luar. Apa perlu saya panggilkan?"


"Panggilkan dia saya mau bicara empat mata."


Vika mendatangi Mila terkait dengan permintaan Diana. Sedikit takut-takut Mila pun masuk ke kamar rawat. Terbayang di benaknya kemarahan wanita itu karena sudah membuat anaknya celaka.


"Kamu tahu kenapa saya minta bicara berdua?"


Mila menggeleng. Mana dia tahu apa yang akan di bicarakan ibu dari atasannya.


"Nama kamu siapa?"


"Sarmila, Bu."


"Oh, oke Sarmila. Ini buat kamu." amplop kuning di berikan pada Mila.


"Ini apa, Bu?"


"Pesangon terakhir kamu. Kamu saya pecat dan tidak usah kerja di tempat anak saya lagi."


"Saya dipecat, Bu?"


"Iya kamu saya pecat karena sudah membuat anak saya celaka. Saya tidak mau anak saya kembali sial kalau ada kamu."


"Tapi maaf, Bu. itu murni kecelakaan bukan disengaja."


Mila pun meninggalkan rumah sakit sambil membawa amplop tersebut. Ada rasa sesak karena dia di pecat mendadak. Memang tadinya dia mau mengundurkan diri. Tapi kejadian tadi membuat Mila merasa hutang budi pada Ammar.


"Eh, maaf, pak. Saya tidak tahu ada kamar mayat di sekitar sini."


"Nggak apa-apa. Nama saya ..."


"Maaf, Pak saya buru-buru." Mila teringat akan ke rumah Eva. Toh, dia sudah di pecat. Jadi nggak ada alasan tetap di dekat teman-temannya.


Mila berjalan dari rumah sakit. Melewati sekolah SMUNDA yang terkenal pencetak anak pintar. Kakinya terhenti sejenak di depan gedung perpustakaan nasional. Apakah ini menandakan dia akan ke Lampung mencari ayahnya. Sekali lagi dia menatap amplop tersebut. Ada kemantapan yang di yakininya jalan terbaik.


Malam ini Mila pergi ke rumah nenek Seruni. Tentu saja ingin menengok keadaan adiknya, Lala. Soal Sarah, dia malas berkomentar.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Nenek Seruni ketus


"Saya mau ketemu Lala nek."


"Owh, silahkan. Tapi ingat jam delapan kamu sudah harus pulang. Saya tidak menerima tamu asing."


"Nek,"


"Ada apa?"


"Sarah dimana tinggalnya?"


"Bukannya kalian tinggal bersama?"


"Kak Sarah kost di rumah kak Anjas, Nek." jawab Lala dengan polosnya.


Pov Sarah

__ADS_1


Sudah 6 bulan aku keluar dari rumah nenek. Sikap nenek yang otoriter membuat aku tidak tahan. Dulu ibu tidak begitu, paling kak Mila yang rada cerewet.


sembari mencari kostan. Ternyata Kak Anjas punya kost di rumahnya.


Sudah pasti langsung dapat kamar secara Bu Melanie sangat baik. Bukankah dia sudah memintaku jadi calon menantunya. Ya aku tahu kalau kak Anjas, mantan kak Mila. Tapi kan sudah mantan. Tidak ada urusan lagi.


Beberapa malam yang lalu kak Anjas mengajakku jalan-jalan. Katanya mau beli cctv untuk kantornya.


Aku baru saja mau merebahkan tubuh di kasur. Pintu kamar kostku di ketuk.


"Sar,"


Aku bisa menebak dari suaranya adalah kak Anjas. Bergegas aku langsung membuka pintu.


"Ada apa, Kak?"


"Mau temani aku?"


"Kemana?"


"Ke Informa, mau cari alat cctv."


"Emang ada? bukannya Informa isinya produk rumah tangga."


"Makanya cari dulu. siapa tahu ada."


Sesampainya di mall kami berjalan-jalan sampai lantai 3.


"Sar, kamu laper nggak?"


Pasti laperlah,ih kak gimana sih, nggak peka banget


" Iya,nih,kak."


" Diatas dekat arena bermain anak banyak tempat makan." Katanya


"Yang dekat dekat ajalah kak" kataku


Setelah naik satu lantai kami menemukan restoran yang bisa makan di ruangan luar. Suasananya romantis. Duh, kok aku jadi deg degan, ya.


Kriiiiing kriiiiing


Hp ku berbunyi. Ini no siapa, ya.


"Halo, assalamualaikum" sapaku


"Assalamualaikum,dek apa kabar?"


Kak Mila!


Moodku hilang saat menerima telpon kakak sulungku itu.


" waalaikumsalam kakak,Alhamdulillah baik." Jawabku


Dulu meninggalkan kami selama 6 bulan, sekarang dia muncul. Padahal Sama-sama di Bengkulu, apa salahnya sesekali pulang.


"Lala apa kabar dek, kakak kangen kalian?"


Nafsu makanku hilang jadinya


" Sudah,ya kak. Aku lagi sama teman."ku tutup telponnya.

__ADS_1


Ganggu aja!!!!


__ADS_2