
Lelaki beranjak dari sebuah kamar rawat inap di Rumah sakit Swasta Tiara Sella. Lelaki itu berjalan dari satu lorong ke lorong lainnya. Lalu menuruni tangga karena kamar inap berada di lantai dua.
Lokasi rumah sakit berada di jalan besar. Berjejer di antara beberapa gedung perkantoran bank dan ruko-ruko. Kakinya sudah turun dan menapaki lantai dasar rumah sakit. Seperti tujuan awalnya adalah menghirup udara segar juga mencari sarapan.
Rumah Sakit Tiara Sella Bengkulu merupakan sebuah rumah sakit swasta yang berkarya di wilayah Bengkulu dan beroperasi di bawah naungan PT. Graha Bernoza.
Merupakan hospital (rumah sakit) yang berada di Kota Bengkulu. Rumah sakit ini melayani pasien baik dari Kota Bengkulu maupun dari luar daerah karena merupakan jenis rumah sakit umum. Tiara Sella Hospital menerima pasien-pasien untuk disembuhkan dengan dukungan dokter ahli dan perawat berkualitas. Pelayanan juga berkualitas dengan alat-alat medis yang modern dan lengkap. Terdapat kamar rumah sakit bagi pasien rawat inap. Jam jenguk pasien Tiara Sella Hospital juga diatur dengan baik agar pasien baik anak dan dewasa dapat istrahat maksimal.
Baru setapak dia melangkah meninggalkan pelataran parkir rumah sakit deringan telepon membuatnya berhenti sejenak.
"Abang dimana?" itu suara Ando, adik bungsunya.
"Masih di rumah sakit. Kau sudah pulang dari Linggau, Do?"
"Sudah,bang subuh tadi. Mama kenapa sampai masuk rumah sakit?"
"Mama kena DBD, ini baru tadi malam di rujuk ke Tiara Sella. Tadinya mau ke M. Yunus tapi Vika malah membawa ke Tiara Sella."
"Ehmmm... kayaknya kakak nurut saja. Berarti sudah klop, ya?"
"Kamu istirahat saja dulu, Do. Kalau dirasa sudah segar datang ke rumah sakit. Abang mau sarapan dulu." Ammar mengalihkan pembicaraan.
"Mama sama siapa?"
"Sama Tante Ida." jawab Ammar.
Telepon akhirnya di tutup. Ammar memasukkan handphonenya di kantong. Kaki jangkungnya kembali melangkahkan ke pinggiran jalanan kota. Mencari lapak yang menjual sarapan.
Biasanya jam segini banyak sekali yang menjajakan makanan seperti nasi uduk, lontong, lotek, gorengan, Dan sebagainya. Kakinya terhenti saat melihat sosok yang dia kenal sedang duduk menikmati secangkir kopi.
"Tulang?" sapa Ammar.
"Kamu bukannya,.." Tulang Boro sedikit lupa dengan lelaki di depannya.
"Iya, saya Ammar kekasihnya Mila." Ammar memperkenalkan diri.
"Oh, bukannya kalian sudah putus?" kata tulang Boro.
__ADS_1
"Jadi Mila mengatakan kami sudah putus." batin Ammar.
"Padahal aku ingin mempertahankan Mila, tapi dengan ucapan dia seperti itu. Apakah aku harus berpikir ulang?" Ammar masih membatin.
"Ayuk, kopinya satu." pesan Ammar.
"Tulang jauh juga ngopi sekitar sini." Ammar memulai obrolan.
"Nenek Seruni di rawat di Tiara Sella. Sementara sebelum Mila pulang dari Kaur, saya dan Eva yang jaga nenek."
"Nenek sakit apa?"
"Sakit orang tua, Mar. Kamu sendiri kena di sekitar sini. Apa rumah kamu dekat sini?"
"Rumah saya di Lingkar barat, Tulang. Daerah Citarum bisa tembus di Balai Buntar. Ibu saya di rawat di Tiara Sella karena kena DBD. Tadi malam baru di rujuk." jelas Ammar.
"Semoga ibu kamu cepat sembuh, nak. Saya duluan, gantian sama Danu, kasihan semalam sudah repot ngurusin nenek."
Mendengar nama Danu, jantung Ammar langsung berdetak kencang. Sepertinya Danu sudah masuk dalam keluarga Mila. Jika seperti itu, apakah kesempatan dirinya memperjuangkan Mila semakin sempit. Apalagi sejak kejadian di rumah Vika, Mila sudah tak bisa di hubungi lagi. Dia pun belum sempat keluar rumah karena mamanya jatuh sakit.
Ammar pun menghubungi Ando agar cepat-cepat ke rumah sakit. Ammar beralasan akan pergi ke suatu tempat. Setelah menghubungi Ando, Ammar kembali ke rumah sakit. Saat berjalan menuju ruang rawat mama Diana, Ammar melihat Danu baru saja keluar. Dia menebak itu pasti kamarnya nenek Seruni.
"Danu," panggil Ammar.
"Ammar," Danu mencoba sesantai mungkin bicara dengan rivalnya.
"Bisa kita bicara?"
"Bisa. Di bawah saja." ajak Danu.
BUUUUUGH!
Sebuah bogem menghantam wajah pemuda itu. Danu kaget saat Ammar melayangkan tinjunya ke wajah tampannya.
"Bangun! Buktikan kalo kamu bisa dapatin Mila dengan gentleman" teriak Ammar
"Apa hak anda mengatur Mila dekat dengan siapa? Mila sendiri yang bilang kalian sudah selesai. Jadi kamu tidak berhak mengatur dengan siapa Mila dekat."
__ADS_1
"Hak saya karena dia masih kekasih saya!"
"Heh! kekasih katamu? Kekasih mana yang mau menikah dengan wanita lain? Kamu itu Maruk Ammar!" Danu bangkit tapi dia tidak melawan Amar, dia pergi dengan motornya. Karena bagi Danu percuma melawan orang yang lagi emosi.
Ammar menatap Danu bersama motornya dengan perasaan kesal. Sepertinya ketakutannya pada kedekatan Danu dan Mila menjadi kenyataan. Apalagi kalau melihat kedekatan Danu dengan keluarga nenek Seruni.
"Kenapa semua jadi begini Mila? secepat itu kamu melupakannya soal kita. Kamu bahkan tidak mengaktifkan ponselmu."
Ammar meringkuk di depan pintu rumah sakit. Dadanya terasa sesak setelah meluapkan perasaannya.
"Aku tidak akan menyerah Mila! aku tidak akan menyerah! aku akan perjuangkan kita sampai titik penghabisan." kata Ammar lirih.
****
"Bagaimana keadaan ibu saya, Dokter?" tanya tulang Boro kepada dokter.
Dokter senior itu langsung menepuk pundak Tulang Sepertinya kesempatan sembuh buat nenek Seruni sangat tipis. Sekitar kondisi medis serius, saat suplai darah ke bagian otak terputus. Penyebab utamanya adalah ketika pembuluh darah tersumbat atau karena perdarahan otak. Itu yang dia lihat pada pasiennya.
"Karena usia ibu Seruni sudah termasuk rentan dalam menghadapi penyakit. Termasuk resiko stroke pada lansia seperti Bu Seruni. Jadi dia hanya bisa mengandal kursi roda pada tubuhnya. Kalau dilihat dari persen kesembuhannya hanya 30%. Tapi saya bukan Tuhan, kalau di tunjang dengan pengobatan yang baik. Insyaallah dia bisa sembuh."
"Untuk sementara ini, Bu Seruni hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Karena pengaruh dari stroke.
lansia lebih berisiko mengalami stroke adalah karena semakin banyak penyakit kronis yang dialami. Misalnya, diabetes, hipertensi, penyakit jantung, atau kolesterol tinggi. Belum lagi, fungsi tubuh yang semakin menurun juga turut menyumbang naiknya risiko penyakit kronis."
Boro hanya terdiam mendengar penjelasan dokter. Untungnya Mila sempat menitipkan tabungan milik Aminah untuk urusan neneknya. Tapi tetap saja dia merasa speechless dengan semua ini.
Boro kembali duduk di samping nenek Seruni yang masih terbaring lemah. Ada Eva yang ikut menjaga nenek Seruni.
"Sudah kabari Mila?"
"Saya kabari Sarah, Tulang. Mila kan handphone dan dompetnya hilang."
"Apa kata Sarah?"
"Mereka akan secepatnya pulang, tulang." lapor Eva.
Tulang Boro duduk di kursi kamar rawat. Sesekali mengusap wajahnya. Di pandanginya wajah ibu angkatnya.
__ADS_1
"Ya Allah sembuhkan ibu angkat hamba. Kasih kesempatan dia buat bertobat. Ketuklah pintu hatinya.
Ibu harus sembuh. Ibu mau lihat Sarah menikah, Sarah jadi sarjana. Lala tumbuh dewasa. Mila pun berkumpul dengan kedua orangtuanya. Ibu harus sembuh agar bisa melihat kebahagiaan cucu ibu."