
Malam ini Dahlia mendatangi kembali kediaman nenek Seruni. Tentu dia ingin pamit untuk pulang ke kota Lampung. Meskipun dia tahu Mila pasti belum bisa memaafkannya. Tapi paling tidak Dahlia bisa melihat anaknya. Paling tidak dia bisa bertemu dengan Mila untuk terakhir kalinya.
Dahlia berdiri di depan rumah ibu tirinya. Bersama Fera minus Intan. Dahlia dan Fera terpaksa menitipkan intan pada Ida. karena gadis kecil itu sudah tidur. Dahlia memutar teras rumah dengan pekarangan bunga-bunga serta tanaman obat.
Lia ingat kalau Aminah sangat sayang sama tanaman itu. Kadang Lia suka heran sama Aminah dengan kesukaannya. Dimana kebanyak wanita muda sibuk dengan aktivitas gadis seusianya. Beda dengan Aminah yang memang anak rumahan, beda dengan dirinya yang memang suka kelayapan. Tapi itu sebagai bentuk protesnya pada kedua orangtuanya, ayahnya dan ibu Seruni. Dahlia merasa Aminah lebih di sayang ketimbang dirinya.
"Aminah sangat sayang pada tanamannya. Setelah Aminah tiada, Mila yang menggantikan merawat tanaman ini. Aku melihat Mila seperti Aminah, dia cekatan dalam urusan rumah tangga. Dia juga sayang sama kedua adiknya. Walaupun beda ibu." Dahlia merasa ada seseorang berbicara padanya. Wanita itu menoleh kearah lelaki yang berdiri di hadapannya.
"Kamu tahu, Lia. Saat aku tahu kamu sudah punya anak dariku. Ada rasa sesal yang mendalam saat itu. Bagaimana mungkin aku tidak tahu kalau kamu akan hamil? dulu sudah pernah bilang sama kamu, ayo kita kawin lari. Dan kamu menolakku.
Tiba-tiba kamu datang saat aku dan Aminah hidup bahagia. Yang jadi pertanyaanku saat itu, apa iya Mila anakku. Hingga aku beranikan diri untuk tes DNA, hasilnya positif,"
Rohim ingat benar saat dia diminta menikahi Aminah. Orangtuanya sangat suka dengan Aminah ketimbang Dahlia. Entah seperti apa Dahlia di mata kedua orangtuanya, Rohim tidak sempat mempertanyakan hal itu. Di samping Dahlia juga menolak kabur bersamanya.
Membuat pria itu akhirnya menerima pilihan orangtuanya. Berat memang, dia juga sudah beberapa kali mewanti-wanti Dahlia, jika terjadi sesuatu pada kekasihnya. Karena hubungan terlarang mereka. Namun nyatanya, di hari pernikahan dirinya dan Aminah, Dahlia sudah pergi dari rumah. Membuat hati Rohim patah. Tentu saja rencananya untuk membatalkan pernikahan gagal seketika.
"Maafkan aku Rohim. Jujur saat aku tahu tengah mengandung Alia, adalah masa sulit saat itu. Aku melahirkan Alia di tengah kepahitan hidup. Tinggal di kontrakan sempit. Belum lagi aku meninggalkan Alia bekerja. Menitipkan pada tetangga, untungnya mereka mau menampung Alia. Hingga aku sadar Alia butuh sosok ayah. Apalagi melihat Aminah sangat sayang sama Alia," Dahlia menyusutkan hidungnya.
Rasanya dia belum mau pergi dari Bengkulu. Dia masih ingin memperbaiki hubungannya dengan Mila. Tapi rumah di Lampung tidak bisa dia lupakan.
__ADS_1
"Aku ingin bertemu Mila sebelum besok pulang ke Lampung. Aku juga minta maaf kalau selama disini ada sikapku yang menyinggung kalian baik sengaja ataupun tidak di sengaja,"
"Mila menginap di panti malam ini. Karena suaminya besar di panti. Mungkin nanti akan aku sampaikan sama dia. Soal kamu akan pulang ke Lampung. Tapi bisakah kamu bertahan sebentar untuk memperbaiki hubungan kalian berdua," Rohim seperti menahan Dahlia untuk pergi.
"Aku juga akan kembali ke Lampung. Karena meninggalkan usahaku disana. Sementara rumah ini akan tetap di tempati Mila dan Lala," jelas Rohim.
...****...
Malam ini Mila duduk di ruang tamu panti asuhan Kasih Ibu. Panti yang berada di daerah kampung Bali. Lokasi yang berdekatan dengan universitas Muhammadiyah Bengkulu. Suasana area jalanan panti yang sepi dan gelap. Tidak ada penerangan kecuali dari panti.
Setelah membantu Sari untuk memasak menu makan malam anak panti. Mila berjalan memasuki ruang tamu. Berjejer photo keberhasilan anak-anak. Ada pula piala-piala yang di berikan oleh gubernur Bengkulu.
"Aku tampan kan," suara lembut di sertai balutan tangan memenuhi pinggang Mila.
"Iya, suamiku sangat tampan. Dia terlihat hebat di balik jas putih yang selalu di kenakannya, terimakasih, mas. Kamu datang dalam hidupku," kata Mila.
Danu langsung menyembunyikan Mila di balik dadanya. Mendekap erat tubuh istrinya. Meskipun dia merasa sesak mengingat penyakit yang di deritanya sejak kecil. Mila merasa ada yang basah mengenai wajahnya.
"Kamu nangis, Mas? kenapa? apa aku ada salah?"
__ADS_1
Danu menggelengkan kepalanya. Istrinya tidak pernah salah. Selama ini Mila adalah perempuan terbaik yang pernah dia temui. "Aku terharu, sayang. Punya istri istimewa seperti kamu," Danu menjentik hidung Mila.
"Istimewa apanya, Mas. Aku ini cuma perempuan biasa. Masih banyak kelemahan dalam diriku, Justru ibu Nurmala yang hebat. Mendidik anak-anak hebat seperti mereka," ucap Mila menunjuk beberapa photo anak-anak panti yang berprestasi di bidang agama.
"Mas, tadi aku main sama Rara. Sepertinya dia memang butuh orang dewasa untuk turun tangan mendidiknya. Rara belum lancar bicara sementara umurnya sudah dua tahun setengah. Itu si Kara yang seumuran dari dia sudah pintar berceloteh.
Mas jika kamu mengizinkan, aku mau kita mengadopsi Rara. Jujur aku sudah jatuh cinta sama anak itu,"
"Kalau soal adopsi Rara aku bicarakan sama ibu Nurmala, karena Rara adalah anak dari keponakan ibu. Aku tidak bisa ambil keputusan begitu saja. Kecuali kalau anak lain yang jelas yatim-piatu."
Danu sebenarnya setuju dengan keinginan Mila untuk mengadopsi Rara. Tapi yang menjadi kendala bahwa Rara masih punya ibu kandung yang berkerja di Malaysia. Rara di titipkan saat masih berumur satu minggu oleh ibu kandungnya. Karena harus bekerja sementara suaminya sudah kabur dengan wanita lain.
Rara masih punya kakek dan nenek di linggau tepatnya di Merasi. Kakeknya Rara adalah adik dari ibu Nurmala. Danu dan Bu Nurmala bergantian merawat Rara saat itu.
"Namanya aslinya Tiara Andini Rahmadanti," kata Danu pada istrinya.
"Nama yang cantik, Mas. Secantik anaknya." jawab Mila.
"Sudah malam, kita istirahat, yuk." ajak Danu.
__ADS_1