Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 88


__ADS_3

Ando dan Ammar sudah sampai di cafe daerah jalan Soeprapto. Cafe yang dulu nya adalah counter milik Ammar. Ando mendorong kursi roda kakaknya memasuki cafe yang bernuansa Minangkabau.


"Ini tempatnya?" Ammar masih asing.


"Iya, Bang. Ini dulu tempat usaha kita, karena ada masalah ya jadi nya di ganti menjadi cafe, tapi tetap dengan harga yang terjangkau di kantong masyarakat,"


"Baguslah, emang masalah apa?"


"Bangkrut, bang. Untung ada Makwo Rubiah, kalau tidak kita tidak punya matapencaharian. Apalagi sejak usaha mama di tutup sejak mama sakit. Aku juga sudah resign dari pekerjaan," jelas Ando.


"Emang dulu usaha apa,Do?"


"Dulu abang punya counter besar disini. Lumayan sukses, bang. Tapi ya itu tadi, ada kejadian besar yang membuat kita berbalik seratus delapan puluh derajat. Kita yang sekarang beda dengan yang dulu, bang,"


"Jadi konternya di ganti sama cafe, Do? kenapa aku kurang cocok dengan penempatan lokasinya. Ini kan di tengah kota dengan berbagai macam kuliner. Orang akan melihat cover cafe yang terkesan elegan dan menganggap ini tempat yang mahal. Di tambah di sekitar sini banyak warung yang murah meriah,"


"Kita masuk ke dalam, Do. Aku juga pengen tahu dalamnya" ajak Ammar.


"Oke, bang,"


Ammar masuk ke dalam cafe, suasana cafe yang masih sepi membuatnya leluasa memantau. Beberapa karyawan hanya duduk santai di belakang bilik resepsionis.


Salah satu karyawan melihat ada orang masuk pun menyapa. "mau pesan apa, pak?"


" Saya mau pesan ..."


Ammar belum menyelesaikan ucapannya, karyawan tersebut langsung mengenali dirinya.


"Pak Ammar? ini benar pak Ammar? bapak masih hidup?


Dion! Dewi!" karyawan yang bername tag Memi pun memanggil teman yang lainnya. Tentu saja mereka terkejut, selama ini tidak ada yang tahu tentang kondisi atau keberadaan Ammar. Walaupun mereka bekerja sama Makwo nya bos mereka.

__ADS_1


"Ya, Allah pak amar. Bapak masih hidup." ucap Dion.


" Kalian kenal saya?"


"Kami yang disini adalah pegawai bapak di konter handphone Ammar Cell," kata salah satu dari mereka.


"Ini dulu camp Kita pak. Bapak masa lupa,sih?"


"Iya pak. Bapak nembak Mila disini dulu di depan trotoar itu."


"Mila? Siapa dia?"


"Istrinya Danu," bisik Ando.


"Atau mbak Vika. Bapak kan dulu Hampir menikah dengan mbak Vika."


"Vika??? Siapa lagi itu?"


Dewi menarik temannya dan berbisik," Aku rasa ini bukan pak Ammar, ini hanya mirip saja,"


"Tapi dia tidak membantah saat kita memanggilnya pak Ammar? buktinya dia bertanya apa kita mengenalinya.


Wajar kalau dia datang ke sini. Soalnya ini punya Mas Ando. Dia yang mengelola cafe ini bersama ibu Rubiah,"


"Tapi, kok dia nggak kenal sama Mila dan Vika. Padahal dulu pak Ammar jadi rebutan mereka berdua."


"Vika doang yang merasa di rebut. Mila nya nggak. Lagian kamu tidak lupa dulu yang comblangin Mila sama pak Ammar adalah Vika. Eh, ujungnya merasa di tikung," Dewi dan kawan kawan kembali ke dapur, mereka kecewa Amar tidak mengenali teman temannya.


Ando mendekati Ammar, lalu menanyakan apa ada yang diingat abangnya. Ammar masih asyik memandang keluar, mencoba melihat arah trotoar. Seperti yang di bilang para karyawan cafe tadi. Cuma Ammar heran kenapa mereka menyebut Mila dan Vika. Ammar tidak mengenal dua nama itu.


"Mila itu ....????

__ADS_1


Wanita yang pernah abang lamar tapi malah bertunangan dengan Vika"


"Terus apa aku menikah dengan Vika?"


"Tidak. Abang meninggalkan Vika di hari pernikahan kalian."


"Aku???"


Ammar terdiam. Sejahat itukah dirinya. Ammar memandang sekelilingnya. Ammar menggeser kursinya sendiri. Ando yang masih sibuk memilih pesanan tiba tiba pamit ke WC.


Amar meminta salah satu karyawan membawanya keluar, lalu meminta meninggalkannya sendirian di pinggir jalan. Tentu saja karyawan tersebut menolak. Kalau terjadi sesuatu pada Ammar dialah yang akan kena getahnya.


"Tolong tinggalkan saya sendiri di sini," bentak Ammar.


Orang-orang melihat langsung bergegas menolong. Mereka mengira kalau amar mau menyebrang, padahal Ammar cuma merasa seperti tidak asing dengan tempat ini.


"Mi.. "


Ammar melihat seperti bayangan seorang wanita yang berjalan di zebra cross dan seorang pria yang mengatakan.


"WILL YOU MARRY ME"


Kepala Ammar mendadak pusing. Ando melihat amar di pinggir jalan besar langsung membawa Ammar masuk ke dalam.


"Do, aku melihat wanita seperti tidak asing disini"


"Abang pucat sekali, kita ke dalam, bang,"


"Tidak, Do. Antar aku pulang!"


Ammar merasa kepalanya semakin sakit. Entah apa yang terjadi, dia hanya mendengar suara orang-orang memanggil namanya. Ammar merasa penglihatannya semakin gelap. Dan akhirnya benar-benar gelap.

__ADS_1


__ADS_2