
Untuk pertama kalinya Mila memasuki bandara. Meskipun dia dulu sering ke bandara Padang Kemiling ( sekarang sudah ganti namanya Bandara Fatmawati). Dari rumah menggunakan mobil sewaan Ammar. Bukan hanya Mila saja yang berangkat, tapi bude Lia juga ikut. Katanya dia rindu kampung halamannya. Mila tidak mungkin menolak keinginan bude Lia, uang transportasi saja dari bude Lia.
Dulu saat kecil dia pernah ke bandara setiap ibunya berangkat ke Hongkong. Dan itu satu tahun sekali. Mila masih ingat saat ayahnya masih bersama mereka. Dimana mereka diajak jalan-jalan keliling kota Bengkulu.
Kalau dia bisa pilih, Mila ingin naik mobil seperti Bus SAN kemarin. Hanya saja saat itu dia kan bersama Ammar. Dan sepertinya dia akan pulang tanpa Ammar. Bukan berharap bisa bareng sama lelaki itu. Hanya saja Mila masih segan dekat sama Ammar. Dia sebisa mungkin jaga jarak.
Mobil melajukan membelah jalanan kota Lampung. Mila tadinya mau duduk di belakang biar bisa santai. Tapi nyatanya bude Lia malah minta dirinya duduk di samping sopir.
Fera dan Intan ikut untuk sekedar mengantarkan keduanya. Sementara Ammar rencananya mengambil bus berangkat sore.
"Mila, kamu pulang ke Lampung lagi, kan?" tanya Fera.
"Lihat sikon, mbak. Kalau nenek saya sudah sehat insyaallah pulang kesini lagi."
Fera beralih ke lelaki yang mengendalikan perjalanan mereka.
"Mar, kamu masih disini, kan?" tanya Fera.
"Kenapa, masih kangen sama aku?"
"Mar, aku nanya serius." Fera kesal Ammar susah diajak bicara serius.
"Eh, iya. Aku nanti sore pulang ke Bengkulu." kata Ammar.
"Kok mendadak?" Bude Lia ikut nimbrung.
"Ada urusan keluarga." jawab Ammar.
"Ammar mau nikah bude." jawab Mila.
"Oh ya, sama siapa?" Fera terdengar penasaran.
"Ada deh. nanti kalau sudah jadi undangannya."
"Yaelah, paling ceweknya di cariin sama emaknya. Dia kan anak mama." Ledek Fera.
"Seorang ibu pasti tahu yang terbaik untuk anaknya. Kalau memang pilihan ibuku memang yang terbaik aku ikut saja, Fera. Bukankah kita harus melakukan sesuatu dengan ridho ibu." kata Ammar.
"Iya, kamu mah pinter ngeles dari dulu." Imbuh Fera.
"Tapi kenapa kamu sewot kalau aku mau di jodohkan? nah kan, ada yang panas kayaknya. Dulu aku ajak nikah kamu nolak terus."
"Sudah kamu fokus nyetir saja."
Fera dan Ammar terus berdebat tiada ujung.
"Dari dulu kalian selalu begitu. Tiap ketemu ada saja yang kalian ributin. Kalian ini sudah besar. Sudah tua. Malu sama intan." kata Bude Lia.
"Dia yang mulai duluan, Tante." Ammar tidak mau di salahkan.
"Sudah pak Ammar, nyetir yang benar. Nanti kalau saya tidak sampai ke Bengkulu malah sampai ke alam lain. Situ yang pertama saya gentayangin." Mila tadinya diam, kini ikut bicara.
Mila, sedari tadi kamu dingin sekali sama saya. Apa karena tadi malam? aku yakin Mila dengar apa yang aku bicarkakan di depan jendela.
__ADS_1
Mila, kalau kamu memang tidak punya rasa padaku. Kenapa sikapmu jadi seperti ini? kenapa tidak bersikap biasa saja? Kamu juga cinta sama aku, kan Mila." Batin Ammar.
Setelah perjalanan panjang, akhirnya mobil pun berhenti di bandar udara Radin Inten II. Setelah Ammar memindahkan barang Mila dan Bude Lia. Fera sebenarnya ingin sekali ikut. Akan tetapi mengingat Intan masih harus sekolah. Dia juga baru saja dapat pekerjaan. Sedangkan tujuan mereka bukan jalan-jalan.
"Fera mama berangkat dulu, ya. Doakan mama semoga bertemu dengan keluarga yang bertahun-tahun hilang."
"Iya, ma. Mama harus jaga diri. Jaga kesehatan. Mila aku titip mamaku ya." Mila mengangguk sambil berjalan masuk ke dalam bandara.
...****...
Salahkah jika dira jatuh cinta pada tunangan sahabatnya? Sekalipun dia harus memendam perasaan itu bertahun-tahun. Sekalipun orang-orang terdekatnya tahu dengan perasaan yang dialaminya.
Nyatanya sekarang lelaki itu malah datang kepadanya untuk melamarnya. Meskipun ada sosok lain yang akan menikahinya dan mendapat restu dari keluarganya.
Mau tahu kelanjutannya
Yuk mampir ke kisah Dira yang dilanda kegalauan ketika dua pria menyatakan keseriusannya.
Sedikit cuplikan :
"Jadi gimana?" Ucap Juna saat mereka makan siang di kantin kantor.
Dira bingung harus menjawab dari mana. Pasalnya dia tidak terlalu dekat dengan Juna. Dia tahu kalau Juna suka sama Delia. Dia juga tahu, kalau Delia suka sama Juna, sayangnya Delia tidak diperbolehkan pacaran supaya fokus S2 nya.
Dan dirinya?
Hanya terpaku dengan permintaan Juna yang mengajaknya menikah. Tak ada angin dan tak ada hujan.
"Jadi mama kamu mau nyariin kamu jodoh?"
"Iya, kak Juna. Nyebelin banget, kan? Dikira anaknya nggak laku apa!"
Juna terkikih mendengar keluhan Dira "Itu namanya sayang anak, Dira." Juna mengacak rambut sahabat adiknya.
"Sayang sih sayang, tapi jangan ngopor anaknya dong. Kayak gimana gitu"
"Tapi kok Tante Dewi nggak nawarin ke aku, ya?" sahut Juna.
"Manalah dia mau punya mantu kayak situ!" Kikik Dira.
"Emang saya nggak ganteng, ya? Gini-gini yang antri banyak Lo."
"Hhaaahahaa... kalau banyak yang antri kenapa sampai sekarang belum nikah. Hmmm... tapi demi nyenengin mama Kak Juna mau kan...?"
"Mau aku mau jadi suami kamu..."
PLETAAAK!
"Jangan ge-er, deh. Maksud aku kak Juna mau kan cariin aku pasangan."
Juna mengedipkan matanya kearah Dira "Hmmm ... Aku mau cariin buat Ayu."
Dira menjitak kepala Juna "Ayu kan sudah punya Tio. Gimana sih!"
__ADS_1
"Ya kan kamu cuma buat aku!"
Tangan Dira masih terasa gatal ingin menimpuk Juna dengan tas jellynya. "Kak Juna, please."
"Please Medhira....will you Marry me."
Dira terdiam
Oke dia pasti becanda kan, seperti biasanya kak Juna kan suka jahil. Hmmm, Dikira aku kepancing kali ya. Aku ikuti permainannya dulu.
Dira mengalihkan perhatiannya kearah box laci mobil. Disana dia menemukan sebuah photo.
"Terus dia bagaimana?" Dira mengayunkan photo tersebut.
Siapa yang tidak kenal dengan Delia Shahab? Gadis cantik berdarah arab. Gadis cantik yang dikenal supel oleh geng-nya Dira. Dira, Ayu, Eka dan Delia bersahabat sejak masih taman kanak-kanak. Dira yang gampang berbaur dengan oranglain, Ayu yang kalem, Delia dan Dira memiliki karakter yang mirip. Hanya Eka yang rada jutek diantara semua gengnya.
Bukan rahasia umum kalau Delia dan Arjuna pernah saling suka. Hanya saja, Delia punya prinsip tidak mau pacaran sebelum tamat kuliah. Makanya saat Arjuna nembak Delia, gadis itu menolak dengan alasan fokus dengan pendidikan.
"Hey, kita lagi bahas soal kamu dan aku." sahut Arjuna mencoba merebut photo Delia dari tangan Dira.
Adegan rebut-rebutan di mobil membuat tubuh Arjuna terpaku diatas dada sintal Dira. Tatapan Arjuna yang membuat Dira salah tingkah. Dengan cepat gadis itu mendorong tubuh lelaki itu.
"Jadi kamu mau kan?" Lagi-lagi pertanyaan itu keluar dari bibir lelaki itu.
"Medhira Utami?"
"Kak... maaf..."
"Kenapa?"
Dira masih dalam kegugupannya.
"Aku tidak mencintai kakak? aku juga tidak mau dibilang menikung Delia."
Arjuna tersenyum menatap Dira.
"Lama-lama kamu akan bisa mencintaiku, Dira."
"Soal Delia?"
"Dia hanya masalalu, Dira." Jawab Juna.
"Tapi kak Juna masih menyimpan photonya. Itu berarti..."
"Oke, nanti aku buang photo Delia."
Nggak gitu juga konsepnya, bambang!
"Kamu mau bukti? biar aku daftar jadi kandidat sayembara jodohmu."
Weeeellll, aku harus bagaimana menolaknya?
__ADS_1