
Waktu demi waktu pun berjalan dengan cepat. Dari pagi sekarang bertemu lagi dengan pagi kembali. Suasana pagi di rumah sakit masih tampak lenggang. Belum ada aktivitas para perawat ataupun pasien yang masuk. Mila, ibu Dahlia, Danu dan juga ayah Rohim masih berada di kamar rawat Sarah.
Mila sudah terjaga terlebih dahulu. Suara adzan terdengar menggema di area sekitar jalan mahoni. Tampak sang suami memberikan pahanya sebagai pengganti bantal.
"Mila aku hari ini mau berangkat. Aku minta maaf jika selama ini punya salah sama kamu." pesan singkat dari Ammar.
"Selamat jalan, Mar. Semoga kamu selamat sampai tujuan." balas Mila.
"Terimakasih,"
Mila duduk di samping Sarah yang masih terlelap. Di bagian kiri ada Anjas yang tertidur di pinggir ranjang Sarah.
"Kamu beruntung punya suami seperti Anjas. Biarpun dia pernah menyakiti aku, tapi aku akui kalau Anjas memang lelaki yang baik." ucap Mila sambil membelai pucuk kepala adiknya.
Mila akan berbalik keluar ruangan, saat akan melintas dia melihat tangan Sarah sedikit bergerak. Dia kembali memperjelas penglihatannya. Apakah benar tangan Sarah bergerak? atau hanya halusinasi saja.
"Ya Allah, benar!" Mila bersorak gembira.
Suara monitor deteksi jantung pun tenggelam beriringan dengan kehebohan Mila. Berusaha membangunkan orang sekitar memberitahukan apa yang dia lihat.
Beberapa saat mata itu terbuka pelan-pelan. Pemandangan pertama yang dia lihat orang-orang yang menyayanginya berkumpul. Dari ayah, budenya, kakak-kakaknya, sepupunya, semua ada menatap dirinya.
"Sayang," suara pertama yang Sarah dengar. Tampak seseorang duduk di sampingnya dengan berurai air mata. Seseorang yang masih menerima dirinya setelah apa yang dia perbuat selama menjadi istri seorang Anjas.
"Abang," ucapnya lirih.
"Iya, sayang. Ini aku suamimu. Alhamdulillah sayang, Alhamdulillah kamu sudah sadar."
"Ini dimana?" pandangan Sarah mengedar ke sekeliling kamar.
__ADS_1
"Kenapa aku di rumah sakit?" tanya Sarah.
"Kamu keguguran, Sayang. Ternyata kamu hamil."
"Hamil?" Sarah tak kalah kaget.
"Maafkan aku, sayang. Aku kurang peka atas apa yang terjadi di rumah. Karena kamu tidak protes dengan sikap mama. Aku tidak berpikir kalau Mama ...."
"Mama kenapa?" Sarah masih bingung.
"Mama masuk penjara karena terlibat saat kamu keguguran di tempat Bu Siti. Baik Bu Siti dan mama Melani sudah mempertanggungjawabkan perbuatan, mereka." ucap Anjas dengan lirih.
"Penjara?" Sarah masih bingung.
"Iya, Bu Siti sudah cerita semuanya. Aku tidak tahu kalau mama ternyata seperti itu. Ya, aku tahu mama masih marah sama kamu, tapi sampai membuat kamu keguguran itu sudah keterlaluan." ucap Anjas seperti menahan amarah.
"Tapi ini juga salahku, Bang. Karena bukan istri idaman buat mama. Aku jauh dari ekspektasi buat mama sebagai menantu. Aku nya saja yang tidak tahu diri." Sarah melemparkan pandangan ke arah lain. Ada rasa bersalah yang membuat keluarga suaminya seperti itu.
"Iya, saking pemberani aku malah jadi kualat sama kak Mila. Padahal ..."
"Sudah. Jangan di ungkit yang itu. Ambil hikmah atas semua yang kita lakukan dan apa yang kita alami saat ini." Anjas dan Sarah saling berpelukan.
"Maaf, jas. Bisakah Sarah istirahat di rumah kami saja." usul Mila.
Anjas mengalihkan pandangan ke arah istrinya. Dia ingin bawa pulang Sarah ke rumah. Apalagi Mama Melani sudah di penjara. Tidak ada yang harus di takutkan lagi.
"Kalau kalian takut Sarah bertemu mama Melani tenang saja. Mama sekarang di tahan atas kesalahan yang dia buat pada Sarah. Jadi aku akan tetap membawa Sarah untuk pulang ke rumah Rawamakmur." jawab Anjas tegas.
"Maaf, tadi kami takut Sarah trauma pulang kesana. Kalau kamu tidak mau ikut kami, biar Sarah saja yang kami bawa. Selama ini saya sudah cukup diam melihat perlakuan kalian pada Sarah. Terutama kamu, Anjas! ibu tidak akan mentolerir lagi. Sarah butuh ketenangan."
__ADS_1
"Bu, maafkan Sarah sudah merepotkan kalian. Tapi Sarah harus nurut sama suami. Hanya aku tidak mau pulang ke Rawamakmur, aku mau pulang ke kandang Limun saja." ucap Sarah lirih.
"Tidak kali ini kamu harus ikut kami. Ini untuk kebaikan kamu juga, Sarah. Ibu mohon kamu tetap bersama kami sampai waktu yang tidak di tentukan." Desak ibu Dahlia.
"Bu, kalau menurut aku biar Sarah yang kasih keputusan. Ini kan rumah tangga dia, kita sudah menyarankan untuk pulang ke rumah. Tapi kalau Sarah memilih ikut suaminya berarti kita harus dukung juga. Mila percaya Anjas bisa menjaga Sarah. Cuma aku kurang setuju kalau harus pulang ke Rawamakmur. Lebih bagus kalian pulang ke rumah kandang Limun." Mila ikut bersuara.
Semua yang ada di kamar rawat Sarah pun merasa terharu. Anjas berjanji akan meninggalkan rumah milik mamanya. Membuka lembaran baru.
"Kak Fera, aku pamit ya. Tadi Revo bilang mau datang ke rumah untuk ketemu sama mama. Jadi aku harus siap-siap." Vika muncul di tengah keharuan mereka.
"Ka, bisa kita bicara di luar?" Fera menarik Vika jauh dari ruang rawat.
"Ada apa?" Mereka sudah berada di dekat pintu rumah sakit.
"Aku harap kamu ke Bandara pagi ini. Ini permintaan aku yang pertama dan terakhir, Ka."
"Permintaan? Bandara? siapa yang berangkat?" tanya Vika masih belum paham.
"Ammar akan ke Singapura untuk pengobatan kakinya. Sejak beberapa kali dia mau bertemu dengan kamu. Tapi kamu selalu menolak kedatangannya. Dia cuma mau bertemu kamu karena belum pasti kapan dia akan kembali ke Indonesia."
"Tapi aku belum siap, Kak." cicit Vika.
"Harus siap, Ka. Karena kemungkinan terburuk kakinya tidak bisa sembuh kemungkinan buruk pun kakinya di amputasi. Selama ini dia pakai alat bantu supaya bisa berdiri, sebenarnya otot kakinya sarafnya sudah mati. Tapi ada kerabat kaki bantuan di kirim dari Hongkong." jelas Fera.
"Ammar pernah bilang jika suatu saat terjadi sesuatu. Dia lega karena sudah minta maaf sama kamu. Beberapa hari yang lalu kami datang ke rumah. Tapi mama kamu mengusir Ammar tanpa mendengar penjelasan terlebih dahulu. Kunci nya sama kamu, Ka."
"Aku tahu, Ka. Masih sedikit ada rasa cinta sama Ammar." Vika langsung memeluk Fera melepaskan sesak yang berbulan-bulan mendera.
"Aku sudah coba, kak. Tapi kenapa rasa sakit bisa kalah, kenapa harus pada orang yang sudah menyakiti perasaanku dan keluargaku."
__ADS_1
Dari jauh tampak sepasang mata memandang kearah Vika dan Fera. Tatapan penuh arti setelah mendengar percakapan keduanya.
"Aku pulang, kak. Sepertinya aku tidak bisa memenuhi permintaannya Ammar. Sampaikan salamku pada Mila dan keluarga yang lain." Vika pamit meninggalkan rumah sakit.